Beranda / Romansa Pria / Marlon Menantu Terhebat / BAB 8: DIIKUTI WANITA PENGGODA

Share

BAB 8: DIIKUTI WANITA PENGGODA

Penulis: Langit Berawan
last update Tanggal publikasi: 2026-06-01 05:17:16

“Kenapa kamu sejak tadi diam saja sih, Beb? Apa kamu masih belum yakin dengan Black Card yang aku miliki bisa membayar semua makanan yang dipesan teman-temanmu,” ucap Erinka saat terlihat kurang berselera menikmati makan siangnya di meja terpisah dengan teman-temannya. 

“Aku percaya kok, pasti kamu sudah menyimpan uang di dalam kartumu itu lama kan, dan hanya menggunakannya pada saat benar-benar diperlukan,” jelas Erinka.

“Tuh, kamu ngerti... terus ada apa lagi kamu seperti memikirkan sesuatu?”

“Seharusnya acara reuni ini aku bisa berbaur dengan teman-temanku, tapi...”

“Lho, tadi kamu kan yang minta duduk terpisah?”

“Iya, karena aku tidak ingin mereka mengejekmu,”

“Santai aja kali, Beb... aku enggak akan berpengaruh apa-apa dengan ucapan mereka. Ya udah, habis makan ini kita gabung bersama mereka lagi ya...,” jelas Marlon coba menenangkan hati istrinya.

Dari kejauhan Erinka melihat Albert menjadi kebanggaan teman-temannya sebagai seorang pemuda yang hidupnya paling sukses dan disukai semua teman-temannya, berbeda sekali dengan Marlon, yang selalu dibanjiri hinaan dan cibiran.

“Nah, gitu dong... reuni kok duduknya misah-misah?” ucap Wenny mengomentari kedatangan Erinka setelah selesai makan.

“Aku makannya banyak, jadi malu kalau harus satu meja dengan kalian... hehehe...” ucap Marlon coba beralasan.

“Memang rata-rata kalau pengangguran itu makannya banyak kok,” timpal si lelaki kurus menyindir Marlon. 

Apa yang Erinka risaukan memang terjadi, teman-temannya tidak henti menyindir Marlon, membuatnya ingin pergi saja dari tempat itu.

“Aku juga pernah dengar kalau orang kurus itu rata-rata orangnya pelit, soalnya untuk makan dirinya sendiri saja perhitungan apalagi sama orang lain,” balas Marlon pada si lelaki kurus. Erinka dan beberapa temannya jadi tersenyum mendengarnya.

“Maaf ya teman-teman, bill makan semua ini aku saja yang bayar, masak sih kalian tega dibayarin sama orang yang enggak bekerja dan hanya berdiam diri di rumah. Secara diantara kita semua kerjaku yang paling besar penghasilannya, maka sudah seharusnya aku saja yang traktir kalian makan,” jelas Albert sambil menyombongkan dirinya.

“Enggak usah repot-repot, Al... biar aku saja yang bayar, aku punya simpanan, kok... ya kan, Beb?” ucap Marlon sambil meminta dukungan istrinya.

“Iya, Al, sesuai keinginan teman-teman, biar aku dan Marlon saja yang bayar,” ujar Erinka menyetujui keinginan suaminya.

“Simpan saja uangmu itu, Erinka, pasti kamu lebih membutuhkannya, setidaknya untuk biaya makan suamimu di rumah agar tidak menjadi beban orang tuamu. Iya, kan?” ucap Albert sambil tersenyum untuk menyindir Marlon.

“Tapi, teman-teman gimana... tadi kan kalian yang minta ditraktir sama Marlon,” tanya Erinka pada teman-temannya yang lain.

“Kami tadi hanya bercanda kok..., ya tentu saja Albert yang paling sesuai untuk mentraktir kita. Dia kan orangnya paling murah hati dan yang terpenting yang paling tebal dompetnya. Kalau Marlon yang traktir malu dong kita, masak ditraktir pengangguran... hehehe...” ucap Wenny ujung-ujungnya menyindir Marlon.

“Ya udah deh, terserah kalian aja... yang penting aku udah berniat baik mau traktir kalian, kalau kalian enggak mau ya udah..., benar kata Albert uangnya lebih baik aku kasih ke mertuaku, untuk beli beras...” ucap Marlon sambil tersenyum. 

Antara suka dan tidak suka Erinka menerima saja keputusan teman-temannya yang lebih memilih ditraktir oleh Albert, membuat sahabatnya itu makin disukai dan disanjung oleh teman-temannya, sedangkan Marlon kian terpinggirkan.

“Beb, aku mau keluar sebentar ya...,” ucap Marlon saat dirinya merasa jadi nyamuk di tempat itu, juga karena dia ingin memberikan kesempatan pada Erinka untuk ngobrol lebih bebas bersama teman-temannya tanpa kehadiran dirinya.

“Mau kemana sih?” tanya Erinka.

“Cari smoking area, mumpung lagi di luar aku bisa bebas merokok,” jelas Marlon beralasan.

Di rumah Kemala memang melarang keras dirinya merokok, jadi setiap ada kesempatan keluar rumah tak pernah luput digunakannya untuk menghisap rokok kretek.

 “Cukup sebatang saja ya... sini bungkus rokokmu!” ucap Erinka yang memang tidak suka melihat suaminya merokok, tapi dia tidak berani untuk melarangnya, caranya cuma dengan membatasi jumlah rokok yang dihisap Marlon. Semua demi kesehatan suaminya, bukan hal lain. 

“Kasihan kau, Marlon... merokok saja dibatasi istri, menghemat pengeluaran ya... makanya kerja... kerja...” ucap si kurus mengomentari tindakan yang dilakukan Erinka pada Marlon.

“Istriku bukan menghemat, tapi dia tidak mau aku banyak merokok karena takut badanku yang gempal ini jadi sebesar lidi seperti badanmu itu... paham...” tegas Marlon membalas ucapan si kurus. 

Erinka dan beberapa teman yang lainnya ikut menertawai ucapan Marlon. Kalau soal ngeles-mengeles Marlon memang bisa diandalkan, pada dasarnya dia memang seorang lelaki pemberani yang tidak takut dengan apa pun atau siapapun.

Marlon melangkahkan kakinya keluar restoran hotel sambil menjepit sebatang rokok di tangannya. Setelah bertanya pada seorang sekuriti, dia pun berjalan menuju smoking area yang letaknya di sebuah balkon di ruangan terbuka. Saat melewati depan lift, salah satu dari tiga lift itu terbuka. Dari dalam lift keluar seorang wanita berpakain merah yang ketat dan seksi. Wanita itu merasa terkejut melihat pemandangan indah dari seorang lelaki tampan bertubuh gempal yang tadi sempat ditemuinya ketika dia akan keluar hotel. Siapa sangka kini dia bertemu kembali.

Wanita berbibir menor itu menebar senyumnya pada Marlon yang tanpa sengaja memang melihat ke arahnya, tentu saja spontan Marlon balas tersenyum mempertontonkan barisan giginya yang putih dan menjadi daya magnet setiap wanita yang memandang.

Kejadian saling melempar senyum dengan wanita berdada besar itu hanya terjadi sekian detik saja, selanjutnya Marlon terus berjalan menuju balkon smoking area. Si wanita bergincu tebal itu semakin penasaran dengan si tampan yang berlalu begitu saja, hatinya terbersit untuk menggoda Marlon, apalagi dia hanya sendirian tanpa istrinya.

“Aku harus bisa menjerat si tampan itu masuk ke dalam kamarku,” guman wanita nakal itu lalu berjalan membuntuti langkah Marlon sambil memikirkan beberapa trik untuk menjerat seorang lelaki agar bisa bercinta dengannya.

Marlon yang memiliki insting tajam, langsung bisa merasakan gerak langkah wanita itu membuntutinya. Dia hanya menyungging senyum membayangkan bahwa pesonanya belum pudar walaupun sudah tiga tahun mendekam di rumah mertua sebagai menantu belian.

Di dalam restoran hotel, Erinka dan teman-temannya masih terlibat obrolan yang menyenangkan, sesekali terdengar tawa mereka yang membahana di dalam restoran yang luas itu. Sampai akhirnya, datang seorang wanita bertubuh tinggi dan berbadan padat yang berpakain serba hitam mendekati meja mereka. Dia adalah Meygi, wanita yang memiliki tatapan yang setajam pisau. 

“Maaf mengganggu waktunya, aku ingin bertemu Pramudya, dia itu dulu pernah berjasa dalam hidupku, mana dia ya?” ucap Meygi dengan tegas tapi sopan menghentikan obrolan Erinka dan teman-temannya.

“Iya, Kak, ada apa? Kakak cari saya?” ucap Albert yang sudah terlanjur mengakui kalau dirinya berasal dari keluarga Pramudya. 

“Jangan berbohong kamu, aku tidak suka ada orang membohongi aku,” ucap Meygi dengan mata membulat menatap ke arah Albert yang berada persis di depannya.

“I-iya... aku tidak bohong, aku lah yang kamu cari,” ucap Albert, tapi dia merasa ngeri melihat sorot mata wanita yang tiba-tiba menatap marah padanya itu setelah dia mengakui dirinya sebagai Pramudya.

Plak! Tamparan keras dari tangan wanita dengan mendarat dengan telak di pipi Albert, kacamata yang digunakan lelaki itu pun langsung jatuh dan pecah berderai di atas lantai.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Marlon Menantu Terhebat   (S2) Bab 225: Akhir Menjadi Menantu Belian (TAMAT)

    Matahari pagi mulai memancarkan sinarnya yang benderang, menembus kabut tipis dan polusi yang menggantung di atas jalanan aspal ibukota. Bagi dunia luar, hari ini hanyalah hari biasa yang dipenuhi oleh hiruk-pikuk kemacetan dan kesibukan kaum urban yang mulai memadati trotoar jalan.Namun bagi Marlon Pramudya, detik ini adalah sebuah penegasan takdir yang paling sakral di dalam bentangan panjang silsilah kehidupannya yang penuh dengan darah. Linimasa waktu seolah berputar mundur di dalam benaknya, mencatat dengan sangat rapi setiap jengkal perjalanan yang telah ia lalui selama ini.Tepat enam tahun yang lalu, ketika usianya baru menginjak dua puluh tahun, ia melangkah keluar dari sangkar emas The Shadow of Death sebagai seorang eksekutor muda. Menggunakan jaket kulit hitam andalannya dan sepasang belati titanium, ia menjelma menjadi sesosok bloody killer nomor satu yang paling ditakuti dunia bawah tanah.Nama besar dan reputasinya yang mengerikan sempat meroket tajam di sepanjang lo

  • Marlon Menantu Terhebat   (S2) Bab 223: Penyelidikan Kedai Bakpao

    Langkah pertama Marlon untuk kembali ke dunia atas dimulai dari sebuah titik yang sangat sentimental bagi masa mudanya. Di dalam mobil sport hitamnya yang terparkir di seberang jalan, mata elang Marlon menatap tajam ke arah sudut gang sempit yang dulunya menjadi saksi bisu kehancurannya.Tempat yang sembilan tahun lalu merupakan sebuah kedai bakpao sederhana, kini telah berubah menjadi deretan ruko modern yang bising oleh deru mesin kendaraan. Marlon menyandarkan tubuh tegap berototnya pada kursi kulit kemudi, membiarkan jemari tangannya mengetuk setir mobil secara ritmis penuh perhitungan.Ia tidak bisa bergerak gegabah tanpa memiliki data intelijen yang akurat mengenai kondisi lingkaran keluarga besar Hardiyata setelah sepuluh tahun berlalu sejak pengeroyokan itu. Oleh karena itu, Marlon sengaja mengerahkan sisa jaringan anak buah setianya dari divisi peretasan data untuk melakukan penyelidikan mendalam hari ini.Ponsel khusus yang diletakkan di atas dasbor mobil mendadak bergeta

  • Marlon Menantu Terhebat   (S2) Bab 222: Menghapus Jejak Diri & Hasrat Terkahir

    Proses transisi dari kegelapan menuju cahaya benderang dunia atas membutuhkan ketelitian yang jauh lebih rumit daripada sekadar menanggalkan pakaian taktis tempur. Di dalam ruang kerja pribadinya yang sunyi di puncak pent house mewah, Marlon duduk tegak di depan deretan layar monitor komputer yang memancarkan cahaya biru redup.Jemari tangannya yang kekar berotot bergerak dengan kecepatan luar biasa di atas papan ketik, menjalankan baris-baris kode enkripsi militer tingkat tinggi. Malam ini, ia fokus melakukan operasi pembersihan paling krusial dalam hidupnya: menghapus seluruh jejak digital identitas aslinya dari setiap basis data dunia bawah tanah.Nama Marlon Pramudya sebagai sang bloody killer legendaris andalan The Shadow of Death harus benar-benar lenyap, menguap tanpa menyisakan satu pun bukti fisik atau digital. Segala rekaman CCTV, manifes penerbangan jet pribadi, hingga catatan medis luka tembak sembilan tahun lalu dikikis habis sampai ke akar-akarnya."Apakah proses pen

  • Marlon Menantu Terhebat   (S2) Bab 221: Keputusan Bulat Sang Jagal

    "Aku ingin mundur dari posisi eksekutor utama lapangan dan menyerahkan kembali seluruh koin perak operasional mulai hari ini, Tante," ucap Marlon dengan nada suara yang sangat tenang namun sarat akan ketegasan mutlak.Marlon berdiri tegak laksana karang di tengah ruang kerja privat yang dilapisi dinding baja anti-peluru. Di usianya yang kini resmi menginjak dua puluh enam tahun, kegagahan fisiknya tampak begitu matang, memancarkan aura maskulin yang sangat kuat menindas udara sekitar.Tante Goldies yang sedang duduk di balik meja kerjanya seketika menghentikan gerakan jemarinya yang sedang memeriksa berkas. Ia mendongak dengan kening berkerut dalam, menatap anak angkat sekaligus pembunuh berdarah dingin terbaik yang pernah dilahirkan oleh organisasinya.Di sudut ruangan, seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan potongan rambut militer khas juga turut mengalihkan pandangannya dari layar monitor. Pria itu adalah sang Jenderal bintang tiga, suami dari Tante Goldies sekaligus pria

  • Marlon Menantu Terhebat   (S2) Bab 220: Malam Perpisahan yang Liar (21+)

    "Kamu tidak bisa pergi begitu saja tanpa mengucapkan salam perpisahan yang layak kepada kami, Marlon," bisik Jessy sembari merapatkan tubuh seksinya yang hanya dibalut gaun malam minim.Marlon tidak segera menjawab, ia hanya memutar gelas wiski di tangan kanannya dengan gerakan yang sangat pelan. Di dalam ruang VIP penthouse privat yang super mewah itu, atmosfer malam terasa begitu pekat oleh aroma parfum mahal dan kabut gairah yang menggebu-gebu."Jessy benar, Marlon. Selama ini kamu selalu datang dan pergi laksana hantu malam, membuat kami semua merana karena merindukan keperkasaan tubuhmu," sahut Tamara yang duduk di sisi kirinya."Malam ini adalah malam terakhirmu di sirkel kehidupan malam kami sebelum kamu mengurus bisnis barumu itu, jadi layani kami sepuasnya," tambah Santy, sang janda kaya pengusaha berlian yang turut hadir di sana.Marlon melayangkan tatapan mata elangnya yang tajam namun kini dipenuhi oleh binar karisma sensual ke arah para wanita cantik yang berkumpul di sek

  • Marlon Menantu Terhebat   (S2) Bab 219: Pembantaian di Hutan Pinus

    Kabut tebal yang dingin menyelimuti kawasan hutan pinus di pinggiran Sektor Barat malam itu. Suara angin yang bergesek di antara rimbunnya dedaunan menciptakan simfoni alam yang mencekam, seolah menyembunyikan langkah kaki maut yang sedang mengintai. Di tengah kegelapan pekat yang terisolasi tersebut, sisa-sisa anggota kartel Kobra Hitam berlari dengan napas memburu berantakan.Mereka mengira pelarian ke dalam hutan lebat ini bisa menyelamatkan nyawa mereka dari amukan organisasi The Shadow of Death. Namun, mereka sama sekali tidak menyadari bahwa bertingkah paranoid di tengah alam liar justru mempermudah insting berburu milik Marlon Pramudya. Menggunakan pakaian tempur taktis serba hitam yang melekat erat pada tubuh kekarnya, Marlon bergerak tanpa suara di atas tumpukan daun kering."Hei, apakah kamu mendengar sesuatu di belakang kita tadi?" bisik seorang anggota kartel berkulit legam kepada temannya sembari menodongkan senapan serbu ke arah kegelapan."Jangan menakut-nakuti aku, k

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 2: BATAS KESABARAN

    Menjelang siang hari saat mengerjakan tugas rutin membersihkan rumah, menyapu dan mengepel lantai, Marlon kembali menerima sebuah pesan di ponselnya. Dia pun langsung tersenyum lebar mengetahui bahwa dirinya telah mendapat hadiah yang begitu banyak hari ini. Mulai dari uang 100 Milyar yang ditransf

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 1: MENANTU YANG TERTINDAS

    “Bagaimana rasanya, Sayang, enak enggak nasi goreng buatanku?” tanya Marlon yang berdiri di samping Erinka, setelah istrinya itu menyuap sesendok nasi goreng ke mulutnya.“Hmm... sedap... beneran ini kamu yang masak?” tanya Erinka.“Iya, dong aku... tapi bumbunya sih Bi Puri yang membuat, aku bagia

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 10: JERAT WANITA BERGINCU TEBAL

    Si wanita bergincu tebal itu terus mengikuti langkah Marlon hingga ke smoking area, dia duduk tidak jauh dari tempat duduk Marlon yang saat itu hanya seorang diri di balkon hotel yang terbuka bebas itu. Ada semilir angin bertiup di siang menjelang sore itu yang mengibas rambut panjang wanita berpak

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 9: KETAHUAN BERBOHONG

    Meygi menyuruh Herru yang berdiri di belakangnya untuk memanggil si manager restoran. Tidak lama datang lah wanita berponi dan bermata sipit menghadapnya.“Iya Bu Meygi... Ibu panggil saya?” tanya si manager sambil membungkukan badan di depan Meygi untuk menunjukkan rasa hormatnya.“Tadi kamu bila

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status