登入“Ya ampun, Beb, kok banyak banget sih ambil bajunya...?” tanya Marlon saat melihat Erinka mengambil 5 potong pakaian.“Soalnya semuanya aku suka sih... hehehe...” jawab Erinka sambil senyum-senyum. “Enggak apa-apa, kan, Pak Walfred?” tanya Erinka pada Walfred yang berdiri di samping suaminya.“Ya boleh saja, Bu Erin... kalau mau tambah lagi juga silakan saja,” jawab Walfred sambil mengangguk merasa tidak keberatan.“Enggak usah, Beb... sudah banyak itu...” ucap Marlon menegasi istrinya.“Tapi, kata Pak Walfred masih boleh kan ambil lagi kok...” balas Erinka sambil tersenyum. “Enggak kok... cuma bercanda, ini saja sudah cukup,” jelas Erinka.Walfred pun mengajak Marlon dan Erinka ke kasir menyerahkan pakaian yang dipilih Erinka pada petugas, lalu memasukannya dalam paper bag tanpa membayar sepeser pun karena Walfred benar-benar memberinya secara gratis sebagai hadiah perkenalan.Di tengah kegembiraan mendapat berbagai pakaian yang disukainya, Erinka sebenarnya sedang berpikir keras, si
“Ini jaketnya, Pak...” ucap salah satu sekuriti menyerahkan jaket Jawi Jangkep pada Walfred.“Bagus kerja kalian, sekarang aku ingin kalian usir kedua orang brengsek ini dari mall-ku ini,” perintah Walfred setelah menerima jaket berwarna cokelat itu dan memegang barang bernilai itu dengan erat.Walfred pun bergegas membawa jaket berwarna cokelat itu menuju ke restoran seafood untuk menyerahkannya pada Marlon dengan segudang rencana yang ingin dilakukannya agar bisa bekerjasama dan mengambil keuntungan yang sebesar-besarnya pada Marlon.Sementara ketiga sekuriti itu kembali mendekati Jasmin dan Benny untuk mengusir mereka dengan paksa.“Ayo cepat angkat kaki dari tempat ini...!” ucap salah seorang sekuriti pada Jasmin dan Benny.“Kalian kurang ajar, berani menyakiti suamiku... akan aku laporkan kalian semua!” ucap Jasmin dengan penuh amarah pada ketiga sekuriti itu.“Enggak ada gunanya mengancam-ngancam kami, Bu... pokoknya kami tidak mau tahu sekarang juga kalian berdua harus meningga
“Lepaskan aku...!” ucap Benny membentak kedua sekuriti yang berusaha menariknya ke luar resto.“Serahkan jaket ini...!” ucap seorang sekuriti yang berdiri di depan Benny.“Kamu pikir kamu siapa? Apa kamu pemilik jaket ini?” tegas Benny sambil meronta dari cengkeraman kedua sekuriti di samping kiri dan kanannya.“Berarti Bapak mau kami melakukan kekerasan untuk mengambil jaket itu secara paksa?” tegas sekuriti berbadan tinggi dan tegap itu. “Silakan saja, aku tidak akan segan-segan menyuruh pengacaraku menjebloskan kalian semua ke dalam penjara. Kamu enggak tahu kan sedang berhadapan dengan siapa aku ini?” ancam Benny.“Maaf, Pak... kami hanya menjalankan tugas dari Pak Walfred, tentu saja beliau akan bertanggung jawab, jadi Bapak enggak perlu menggertak kami,” balas lelaki berkulit cokelat dan berambut ikal itu.Baru saja si sekuriti itu mendekat akan merebut jaket dari tangan Benny tiba-tiba Jasmin datang menghampiri, refleks Benny melemparkan jaketnya tepat ke arah istrinya.“Tangk
“Ayo Pak, kita temui si pencuri tak berguna itu!” ucap Benny mengajak Walfred berjalan ke arah Marlon yang sedang duduk bersama Erinka tidak jauh dari mejanya.Walfred dan ketiga anak buahnya mengikuti Benny, mereka tidak tahu siapakah pencuri yang dimaksud suami Jasmin itu. “Nah, ini orangnya pencuri pakaian Sultan itu...” ucap Benny saat sudah berdiri di depan Marlon yang sedang duduk dengan istrinya.Marlon tampak santai saja sambil mengerutkan keningnya, lalu bertatapan dengan Erinka yang tampak marah dengan tindakan Benny membawa orang untuk menghakimi dirinya.“Lho, Pak Marlon masih di sini...?” ucap Walfred tampak terkejut setengah mati saat mengetahui orang yang dimaksud pencuri adalah Marlon.“Jadi, Pak Walfred juga menuduh aku mencuri pakain Sultan?” tegas Marlon yang lantas berdiri menghadapi Benny dan orang-orang yang ada di depannya.“Ma-maaf, Pak... saya tidak tahu kalau orang yang dimaksud Benny adalah Pak Marlon, kalau saya tahu tentu saja mana berani saya menyangka d
Benny menghubungi Walfred untuk meminta bantuan mengirim beberapa orang keamanan mall untuk membantunya mendapatkan jaket Jawi Jangkep yang sudah terlanjur disukainya.“Halo, Om... aku butuh bantuan sekarang juga,” ucap Benny pada Walfred.“Ada apa, Ben?” tanya Walfred yang baru saja selesai mengantar pak gubernur dan kedua rekannya meninggalkan mall.“Aku sekarang berada di restoran seafood, ada orang yang telah melakukan pencurian barang milik Sultan, aku ingin Om Walfred mengusirnya dari mall,” jelas Benny mengarang cerita demi mencapai keinginannya. Walfred rupanya terpengaruh akan segera menemui Benny membawa beberapa orang sekuriti bersamanya.Sementara Rafael sudah kembali ke tempat duduknya saat Benny mulai menelepon Walfred, dia merasa telah salah membuat keputusan untuk bekerjasama dengan orang yang memiliki attitude tidak baik seperti Benny dan Jasmin. “Kenapa Kak Rafael? Apakah ada masalah?” tanya Erinka saat Rafael mendekatinya.“Hmm..., Benny coba mempengaruhiku, tapi
“Sayang..., katakan yang sejujurnya, milik siapa jaket ini?” tanya Erinka coba menegasi Marlon. “Jangan bikin aku malu di depan Kak Rafael,” tambahnya.“Apa yang harus aku akui, tentu saja jaket ini memang milikku, bukankah kamu tahu sendiri kalau aku sudah lama memilikinya,” jelas Marlon.“Erin, kamu jangan terpengaruh dengan omongan Jasmin dan Benny, aku tahu sekarang kalau mereka berdua jelas-jelas tidak suka dengan Marlon, tapi aku tidak tahu dengan alasan apa, itu urusan kalian berdua, walaupun terus terang aku paling enggak suka ada orang terang-terangan menghina orang lain di depanku,” tegas Rafael coba meyakinkan Erinka, sekaligus menyindir Jasmin dan Benny yang masih duduk bersebelahan dengannya.“I-iya, Kak... makasih sudah mengingatkan aku,” ucap Erinka sambil menunduk hormat pada Rafael.“Kalau aku pribadi percaya kok ini jaket milik Marlon, lihat saja jaket ini ukurannya sangat pas di tubuhnya, sudah sangat jelas, kalau jaket ini memang diukur berdasarkan lingkar badannya
“Bagaimana acara reuni tadi, Nak, apa banyak teman-teman Erin yang hadir?” tanya Sugalih setelah Marlon mengurungkan niatnya membersihkan lantai.“Lumayan banyak, Pah, kata Erin hampir semua temannya hadir,” jelas Marlon lantas duduk di kursi di samping ayah mertuanya itu.“Apa diantara mereka ada
“Siapa mereka?” tanya Kemala saat Marlon dan Erika menapakan kaki di teras rumahnya.“Hmm..., teman-teman di reuni tadi, Mah?” jawab Erinka.“Lalu kenapa kamu menumpang mobil Alphard temanmu? Malah mobilmu sendiri dibawa orang lain,” tegas Kemala langsung mengintrogasi Erinka dan Marlon.“Erm, tadi
“Apakah kamu akan berhenti menuntut Marlon di penjara, Al?” tanya Wenny pada Albert saat di lobi hotel itu hanya tinggal mereka berdua, setelah Marlon dan yang lainnya pergi.“Kamu kan sudah kenal aku lama, masak enggak tahu sifatku, Wen? Kalau aku sudah punya keinginan, apapun caranya akan aku lak
“Maafkan kesalahanku, Pak Marlon...” “Iya, aku juga sama, Pak, aku minta maaf...”Ucap Hendrik dan Tony secara bergantian sambil berlutut di depan Marlon dan Erinka. Tentu saja Albert yang berada di tempat itu sangat terkejut melihat putra pimpinannya itu mau berlutut di hadapan Marlon.“Pak Hendr







