แชร์

BAB 15: KENIKMATAN YANG TERTUNDA

ผู้เขียน: Langit Berawan
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-18 23:15:34

“Siapa mereka?” tanya Kemala saat Marlon dan Erika menapakan kaki di teras rumahnya.

“Hmm..., teman-teman di reuni tadi, Mah?” jawab Erinka.

“Lalu kenapa kamu menumpang mobil Alphard temanmu? Malah mobilmu sendiri dibawa orang lain,” tegas Kemala langsung mengintrogasi Erinka dan Marlon.

“Erm, tadi aku penasaran kepingin nyobain naik mobil mewah mereka, Mah, rupanya teman Erin itu baik hati mau mengabulkan keinginanku, makanya mereka sekalian mengantar kami pulang,” jelas Marlon beralasan.

“Nor
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 188: DUKUNGAN PENUH SANG ISTRI 

    "Marlon, apakah kamu tahu seberapa besar arti keputusanmu ini bagiku?" tanya Erinka dengan nada suara yang bergetar pelan, menghentikan langkah kakinya tepat di koridor luar paviliun VIP yang sunyi, jauh dari pintu kamar perawatan Kakek Hardiyata.Marlon menghentikan langkahnya, lalu membalikkan tubuh untuk menghadap sang istri secara penuh di bawah temaram lampu selasar rumah sakit. "Aku tahu, Sayang. Ini adalah tentang kedamaian hidup kita. Harta melimpah tidak akan pernah sebanding dengan senyuman lepasmu yang sempat hilang karena tekanan keluarga."Mendengar penjelasan suaminya, Erinka tersenyum lembut dengan mata yang berkaca-kaca karena haru. Rasa hangat dan lega yang luar biasa seketika membubung di dalam dadanya, meruntuhkan seluruh sisa-sisa ketakutan yang sempat mengkristal di dalam benaknya selama beberapa jam terakhir. Tanpa ragu sedikit pun, Erinka menggenggam erat tangan Marlon dan menyatakan dukungan penuh atas keputusan itu. Ia memilih melepas status sebagai putri pem

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 187: KEKECEWAAN SANG KAKEK

    "Apakah uang dan kekuasaan yang Kakek kumpulkan sepanjang hidup ini benar-benar tidak ada harganya di mata kalian, Marlon?" tanya Kakek Hardiyata dengan suara yang terdengar sangat parau, bergetar oleh kombinasi rasa haru, penyesalan, dan kesedihan yang mendalam. Kedua matanya yang mulai kabur oleh usia menatap lurus ke arah sepasang suami istri muda yang berdiri bergandengan tangan di hadapannya.Marlon menatap sang kakek dengan sorot mata yang tetap tenang, penuh rasa hormat namun tidak goyah sedikit pun oleh tekanan emosional tersebut. "Harta memiliki nilai untuk membangun kesejahteraan fisik, Kakek. Namun, ia tidak pernah bisa menjadi fondasi bagi kedamaian jiwa yang telah runtuh akibat ketamakan. Kami menghargai kerja keras Kakek, tetapi kami memilih untuk tidak menjadi budak dari apa yang Kakek bangun."Erinka mempererat genggaman tangannya pada jemari Marlon, memberikan kekuatan yang menegaskan bahwa keputusan mereka sudah bulat dan tidak dapat diganggu gugat lagi oleh retor

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 186: MENOLAK LINGKARAN KORPORASI

    "Kakek, Papa, tolong dengarkan ini sebagai sebuah keputusan akhir yang tidak akan pernah saya ubah lagi," ujar Marlon dengan nada suara yang teramat tenang, namun mengandung getaran ketegasan yang sanggup mengunci seluruh perdebatan di dalam ruang perawatan VIP tersebut.Sugalih menatap menantunya dengan dahi berkerut, masih berusaha mencerna arah pemikiran pemuda jenius di hadapannya. "Marlon, apakah kamu benar-benar sudah memikirkan dampaknya? Menjadi penasihat eksternal mungkin melindungimu dari beberapa aturan direksi, tetapi menarik diri sepenuhnya dari lingkaran operasional akan membuatmu kehilangan kendali langsung atas Megah Hardiyata Group."Marlon tersenyum tipis, sebuah lengkungan bibir yang tidak menyiratkan rasa angkuh, melainkan sebuah kedamaian jiwa yang sangat murni. "Papa, kendali sejati tidak pernah terletak pada ruangan megah di lantai atas gedung pusat atau pada kartu nama bertuliskan jabatan tinggi. Kendali saya atas keselamatan keluarga ini ada pada kekuatan fo

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 185: KEPUTUSAN BESAR MARLON

    Marlon yang sejak tadi berdiri tenang di sisi Erinka, langsung mengulurkan tangannya yang hangat. Ia menggenggam jemari Erinka yang terasa dingin akibat kecemasan yang memuncak. Sentuhan fisik dari Marlon seketika mengirimkan gelombang ketenangan yang luar biasa ke dalam tubuh Erinka, seolah-olah pria itu adalah jangkar yang menahannya agar tidak tenggelam di dalam badai memori masa lalu.Marlon menatap istrinya dengan kelembutan yang teramat dalam, sepasang matanya seolah berkata bahwa apa pun keputusan yang diambil, ia akan selalu berdiri sebagai benteng pelindung terdepan. Marlon memahami betul bahwa luka hati tidak bisa disembuhkan hanya dengan menyerahkan aset miliaran rupiah atau posisi komisaris utama. Kedamaian jiwa Erinka adalah prioritas tertinggi di atas segala bentuk kejayaan materi yang ditawarkan oleh dinasti Hardiyata.Dengan kehadiran Marlon yang begitu meneduhkan di sampingnya, Erinka menarik napas dalam-dalam, berusaha mengusir bayang-bayang kelam faksi Adam dan ra

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 184: DILEMA DI HATI ERINKA 

    Erinka bergulat dengan dilema batin yang hebat antara menghormati amanah kakeknya untuk meneruskan dinasti bisnis dan rasa takut akan kembalinya trauma masa lalu akibat kelicikan anggota keluarga lainnya. Di dalam ruang perawatan VIP Rumah Sakit Pusat Megah Medika yang sunyi dan steril, tumpukan berkas pengalihan aset senilai miliaran rupiah itu justru tampak seperti sebuah monumen yang mengintimidasi. Lembar demi lembar kertas legalitas tersebut mencerminkan kekuasaan, takhta, dan kendali atas Megah Hardiyata Group yang baru saja dibersihkan dari faksi-faksi korup. Bagi sebagian besar orang di luar sana, dokumen di atas meja kaca ini adalah berkah luar biasa yang diimpikan seumur hidup. Namun, bagi Erinka, setiap huruf yang tercetak di sana terasa seperti rantai tak terlihat yang siap menyeretnya kembali ke dalam labirin penderitaan yang baru saja berhasil ia lalui dengan penuh air mata.Sementara ia bimbang, suaminya, Marlon, memberikan dukungan moral yang kuat di tengah suasana

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 183: LOGIKA BISNIS SUGALIH

    "Nak Marlon, cobalah lihat ini dari sudut pandang yang lebih luas dan objektif," ujar Sugalih sambil melangkah mendekat ke arah meja kaca, menatap menantunya dengan sorot mata yang penuh dengan keserius. "Ini bukan lagi sekadar masalah pembagian harta warisan keluarga atau hadiah atas jasa masa lalu. Ini adalah keputusan strategis yang akan menentukan hidup dan matinya korporasi kita di pasar global."Marlon melipat kedua tangannya di dada, mendengarkan dengan saksama tanpa memotong kalimat bapak mertuanya itu sedikit pun. "Saya mendengarkan, Pah. Apa yang sebenarnya sedang Papa rencanakan?”Sugalih menarik napas dalam-dalam, lalu menepuk pundak Marlon dengan penuh rasa percaya yang teramat sangat mendalam. "Sebagai CEO yang baru, aku tahu betul batasan kemampuanku dalam menghadapi serigala-serigala politik di luar sana. Megah Hardiyata Group membutuhkan sebuah benteng pertahanan yang tidak hanya cerdas secara finansial, tetapi juga memiliki kekuatan untuk mengeksekusi keputusan tanpa

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 10: JERAT WANITA BERGINCU TEBAL

    Si wanita bergincu tebal itu terus mengikuti langkah Marlon hingga ke smoking area, dia duduk tidak jauh dari tempat duduk Marlon yang saat itu hanya seorang diri di balkon hotel yang terbuka bebas itu. Ada semilir angin bertiup di siang menjelang sore itu yang mengibas rambut panjang wanita berpak

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 9: KETAHUAN BERBOHONG

    Meygi menyuruh Herru yang berdiri di belakangnya untuk memanggil si manager restoran. Tidak lama datang lah wanita berponi dan bermata sipit menghadapnya.“Iya Bu Meygi... Ibu panggil saya?” tanya si manager sambil membungkukan badan di depan Meygi untuk menunjukkan rasa hormatnya.“Tadi kamu bila

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 8: DIIKUTI WANITA PENGGODA

    “Kenapa kamu sejak tadi diam saja sih, Beb? Apa kamu masih belum yakin dengan Black Card yang aku miliki bisa membayar semua makanan yang dipesan teman-temanmu,” ucap Erinka saat terlihat kurang berselera menikmati makan siangnya di meja terpisah dengan teman-temannya. “Aku percaya kok, pasti kamu

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 7: MEMILIKI BLACK CARD 

    Setelah Albert menyetujui untuk menyampaikan permohonan maafnya pada Hendrik dan tony, Erinka kembali mengajak Marlon untuk bergabung dengan teman-temannya yang sedang asyik mengobrol. Wenny tampak berbisik-bisik dengan lelaki kurus di sebelahnya, entah apa yang direncanakannya.“Marlon, selama per

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status