Mag-log in“Itu suaminya Erinka?” tanya Benny pada istrinya.“Iya, namanya Marlon. Suaminya itu menantu belian di keluarganya, alias hidup menumpang di rumah Erinka,” jelas Jasmin.“Pantas saja seperti gembel, aku lihat pakaiannya enggak banget, kayak orang kampung aja. Apa si Erin enggak kasihan melihat penampilan suaminya menyedihkan begitu ya?” ujar Benny merasa ada yang tidak kena dengan Marlon. “Namanya juga suami pengangguran, mana mau Erin membelikan suaminya pakaian. Makanya jarang sekali dia mau keluar dengan suaminya, apalagi ke mall. Aku jadi penasaran, mau apa mereka ke sini?” ucap Jasmin yang sudah lama tidak suka Erinka. Selain Erinka memang lebih cantik dan memikat dari dirinya, istri Marlon itu juga bisnis fashion dan make upnya kian maju, sehingga bisnis Jasmin merasa tersaingi, bahkan pelanggannya banyak yang beralih pada Erinka.Seperti yang diharapkan Jasmin, akhirnya dia bertemu Erinka di depan pintu masuk mall. Marlon langsung merasa risih dengan tingkah Jasmin dan suaminy
Setelah menghabiskan sebatang rokok, Marlon kembali ke kamarnya. Erinka tampak sudah tertidur pulas di dalam selimut. Marlon tidak ingin mengusiknya, pasti istrinya itu lelah karena sudah melayaninya dua kali permainan di bathub dan juga di atas ranjang. Marlon merasa bagian bawahnya kembali menegang, mengingat bagian dada wanita penggoda yang tadi dengan brutal ditunjukkan padanya. Sebagai lelaki normal, tentu saja tidak mudah baginya melupakan bayangan dua bulatan besar itu, ditambah dirinya diiming-imingi akan diberi pelayanan pijat oleh wanita, apalagi badannya memang mulai terasa pegal setelah pertempuran dua ronde dengan istrinya. Selain itu, dia juga ingin tahu dari mana wanita itu mengenal namanya.Setan pun mulai menghantui pikiran Marlon yang masih duduk termenung di tepi tempat tidur, bagian bawahnya yang sensitif mulai menegang saat membayangkan yang bukan-bukan. Daya tarik wanita bergincu tebal itu rupanya terlalu kuat, sehingga dia tak mampu menahan gejolak di hatinya.
“Empuknya...” gumam Marlon merasakan nyamannya tidur di atas kasur.Tidak lama saling memandangi langit-langit kamar, Erinka memiringkan badannya ke arah Marlon, “Sayang... malam ini aku ingin membahagiakan kamu, apa saja yang kamu inginkan aku bersedia...” ucap Erinka lirih sambil menatap lekat ke wajah suaminya yang masih terbaring di sampingnya. Merasa diberi angin oleh istrinya, Marlon pun memiringkan badannya ke arah Erinka, kini mereka saling berhadapan dan bertatapan mata.“Serius, apa saja boleh?” tegas Marlon sambol tersenyum.“Iya, Sayang... aku kan milik kamu, mau diapain aja malam ini aku mau... yang penting kamu seneng...” jawab Erinka balas tersenyum.“Minta lebih dari tiga kali boleh enggak?” tanya Marlon sambil menatapi wajah Erinka.“Bolehh... sebanyak yang kamu mampu... hehehe...” canda Erinka.“Jangan nantangin aku, Beb...” ucap Marlon sambil mencubit hidung istrinya yang bangir.Marlon kembali terlentang lalu menarik lengan Erinka untuk duduk di atas tubuhnya. Eri
“Kenapa tidak menggunakan Black Card-ku saja, Beb?” tanya Marlon saat melihat Erinka mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan untuk membayar kamar hotel dengan uang cash yang dimilikinya.“Karena aku ingin membahagiakan kamu hari ini, maka aku yang harus membayarnya pakai uangku sendiri,” jelas Erinka beralasan, Marlon hanya tersenyum mendengarnya.“Silakan Pak, ini kunci kamarnya, di lantai 10,” jelas receptionist memberi kunci pada Marlon.Erinka pun menggandeng tangan suaminya dengan mesra menuju lift, lalu menunggu sebentar ada lift yang turun. Saat sedang menunggu lift itulah datang seorang wanita berpakaian seksi yang tempo hari menggoda Marlon datang ikut menunggu lift.Melihat kehadiran lelaki yang sangat diidam-idamkannya itu berada di dekatnya, dia langsung tersenyum bahagia, jantungnya pun mendadak berdetak tak karuan. Begitulah jika wanita menyukai seorang pria, berada di dekatnya saja bisa membuatnya mabuk kepayang. Marlon yang juga menyadari kehadiran wanita be
Saat perjalanan menemui klien bisnis, Bagas menanyakan keputusan ayahnya, apakah Megah Hardiyata Group benar-benar akan diserahkan pada Sugalih? Dengan senyum tipisnya Kakek Har menjawab kalau putra sulungnya itu tidak perlu panik apalagi cemas, dia punya rencana lain untuk Sugalih dan menantu kesayangannya. Bagas pun bisa bernapas lega, dia langsung menyimpulkan kalau ayahnya sedang memperalat adiknya untuk mencapai keinginannya. Bisa jadi saat ini Sugalih disanjung-sanjung dan diangkat setinggi-tingginya bisa jadi dikemudian hari malah ditendang dan dijatuhkan. Karena pada dasarnya Bagas tahu kalau ayahnya kurang suka dengan sikap Sugalih, terlalu santai dan lembut sikapnya. Jenis orang yang ayahnya sukai adalah seorang yang tegas dan cenderung kasar.Diantara anak-anaknya, sebagai putra pertama, Bagas paling dekat dengan ayahnya, tapi sudah karakter Hardiyata, bahwa dia tidak ingin kelihatan memanjakan anak-anaknya, semua anggota keluarganya harus jadi pekerja keras untuk mencapa
Baik Sugalih ataupun Erinka tidak terpengaruh sama sekali dengan ancaman keluarga Andhika, sebaliknya Erinka semakin tidak sabar ingin segera bertemu suaminya, untuk memberikan selamat karena telah diangkat sebagai seorang Technical Advisor yang selama ini jabatan itu selalu diinginkan oleh para sepupunya, Andhika dan Jayanti, tapi tidak pernah kesampaian. Selain itu, Erinka juga ingin sekali membahagiakan dan mengabulkan semua keinginan suaminya hari ini, termasuk keinginannya untuk tidur di kamar hotel bintang lima dan bercinta sepuasnya di dalam bathtub.Setelah kembali ke ruang rapat, Kakek Har kembali menegaskan mengenai proyek pembuatan Yellow Pill yang akan dipimpin oleh Sugalih dan Marlon sebagai Technical Advisor. Juga pengumuman mengenai keputusan lelaki paruh baya itu untuk menghapus Andhika dari daftar nama keluarga Haridyata, sehingga fasilitas yang selama ini dimilikinya seperti kendaraan dan rumah akan ditarik, tetapi dia masih boleh bekerja di kantor Megah Hardiyata G
“Maafkan kesalahanku, Pak Marlon...” “Iya, aku juga sama, Pak, aku minta maaf...”Ucap Hendrik dan Tony secara bergantian sambil berlutut di depan Marlon dan Erinka. Tentu saja Albert yang berada di tempat itu sangat terkejut melihat putra pimpinannya itu mau berlutut di hadapan Marlon.“Pak Hendr
“Kalau kamu tidak punya rokok kretek lagi untukku, aku siap menghisap rokokmu yang lain, aku tunggu ya di kamar 708, ini kartu namaku...” bisik wanita itu seperti desis ular di telinga Marlon, lalu dia pergi setelah memberikan sebuah nomor telepon. Tertera namanya di sana Mawar...“Sayang, kamu di
Si wanita bergincu tebal itu terus mengikuti langkah Marlon hingga ke smoking area, dia duduk tidak jauh dari tempat duduk Marlon yang saat itu hanya seorang diri di balkon hotel yang terbuka bebas itu. Ada semilir angin bertiup di siang menjelang sore itu yang mengibas rambut panjang wanita berpak
Meygi menyuruh Herru yang berdiri di belakangnya untuk memanggil si manager restoran. Tidak lama datang lah wanita berponi dan bermata sipit menghadapnya.“Iya Bu Meygi... Ibu panggil saya?” tanya si manager sambil membungkukan badan di depan Meygi untuk menunjukkan rasa hormatnya.“Tadi kamu bila







