Share

Lune Et Pain

Penulis: LOVEBITES
last update Tanggal publikasi: 2026-06-03 12:24:37

Beberapa menit kemudian, Mercedes-Benz hitam itu akhirnya memasuki area parkir yang menghadap langsung ke danau kota.

Lune et Pain.

Sebuah coffee and pastry house berukuran tidak terlalu besar yang berdiri di salah satu sudut paling strategis di pusat kota Jakarta.

Bangunannya didominasi kaca-kaca tinggi dengan sentuhan kayu hangat dan pencahayaan kekuningan yang nyaman. Dari teras belakang, pengunjung bisa menikmati pemandangan danau kota yang memantulkan cahaya lampu malam seperti ribuan bintang yang jatuh ke permukaan air.

Tempat itu tidak pernah dirancang untuk menjadi jaringan bisnis besar. Tidak seperti Eve Group. Tidak seperti hotel-hotel mewah milik keluarga Vance. Lune et Pain dibangun untuk alasan yang jauh lebih sederhana. Karena seseorang pernah bermimpi memiliki tempat yang dipenuhi aroma kopi dan roti hangat. Dan seseorang itu adalah Kaluna.

Sayangnya, hidup membawanya ke arah yang berbeda. Karena itulah selama lima tahun terakhir, tempat ini dikelola oleh orang yang paling ia percayai.

Jane, Sahabatnya, Keluarganya, kakaknya.

Saat Kaluna dan Emily masuk, aroma kopi yang baru digiling langsung menyambut mereka.Di balik meja barista, seorang wanita berusia akhir tiga puluhan sedang sibuk meracik espresso.

Rambut hitamnya diikat asal. Kemeja putihnya tergulung hingga siku. Wajahnya cantik dengan cara yang hangat dan menenangkan. Jane bahkan belum sempat mengangkat kepala ketika suara langkah cepat Kaluna mendekat.

"Mana Aldrich?"

Jane berkedip. Lalu perlahan mengangkat kepalanya. Tatapannya berpindah dari Kaluna ke Emily. Lalu kembali ke Kaluna.

"Selamat malam juga untukmu."

"Jane."

Kaluna menyilangkan tangan.

"Di mana Aldrich?"

Jane memicingkan mata. Sudah dua puluh tahun mengenal Kaluna membuatnya tahu satu hal. Kaluna sedang marah. Dan sangat marah. Namun karena itu juga, Jane sama sekali tidak terintimidasi.

"Tempat ini kecil." Jane kembali melanjutkan pekerjaannya. "Cari saja sendiri."

"Jane!"

"Apa?"

Kaluna mendengus kesal. Namun sebelum sempat mengomel lebih jauh, telinganya menangkap suara yang sangat familiar. Suara tawa kecil cekikikan.

Aldrich.

Refleks Kaluna menoleh ke arah sudut belakang ruangan. Dan di sana, di area sofa dekat jendela yang menghadap danau. Aldrich sedang duduk bersila di atas sofa empuk sambil menggambar. Naya sang baby sitter duduk di sampingnya. Sesekali membantu mengambilkan pensil warna yang terjatuh.

Kaluna langsung berjalan ke sana tanpa berkata apa-apa lagi. Sedangkan Emily melangkah menuju meja barista. Begitu Kaluna menjauh, Jane langsung menatap Emily.

"Something happened?"

Emily menjatuhkan kepalanya ke atas meja barista. "Sebentar saja."

Jane langsung tertawa. "Kali ini apalagi?"

Emily mengangkat wajahnya sedikit.

"Menurut Kakak bagaimana?"

Jane berpikir sesaat. "Hm..."

"Tiga direktur mengundurkan diri?"

Emily menggeleng.

"Lebih parah."

"Investor kabur?"

Emily kembali menggeleng dan Jane mulai tertarik. "Baiklah."

"Kamu dipecat?"

" Kak Jane."

"Oke, oke."

Jane tertawa lagi. "Lalu apa?"

Emily menghela napas panjang. "Kami baru dari kediaman Tuan Ethan."

Jane langsung mengangguk paham. "Ah."

"Mereka bertengkar."

Emily membuka tablet di tangannya. "Lebih buruk."

Jane mengangkat sebelah alis. "Benarkah?"

Emily menatapnya datar. "Tuan Ethan meminta Miss Vance menikah."

Jane membeku. "...Apa?"

Emily mengangguk. "Menikah."

"Yang benar saja."

"Aku juga bereaksi seperti itu."

Jane meletakkan milk pitcher yang sedang dipegangnya. Wajahnya benar-benar tidak percaya.

"Kaluna? Menikah? Secara sukarela?"

"Aku rasa bukan bagian sukarelanya yang menjadi masalah."

Jane langsung tertawa keras.

"Oke. Itu benar."

Emily menyandarkan dagunya di meja. "Aku bahkan tidak tahu bagaimana menghadapi mood Miss Vance besok."

Jane menggeleng geli. "Kamu mau apa?"

Emily menunjuk menu. "Matcha latte."

Jane mengangguk. "Pilihan yang bagus."

Beberapa menit kemudian, Jane mulai meracik minuman, Matcha latte untuk Emily. Namun ketika tangannya hendak meraih biji kopi untuk Kaluna, Emily langsung menggeleng.

"Jangan kopi."

Jane menoleh. "Kenapa?"

"Miss Vance bahkan belum makan apa pun hari ini."

Jane langsung berhenti. "Benarkah?"

Emily mengangguk. Jane terdiam beberapa detik. Lalu perlahan tersenyum tipis. "Oh, Aku punya ide."

Ia mengembalikan biji kopi ke tempatnya. Kemudian mulai mengambil susu hangat, madu, sedikit kayu manis, dan ekstrak vanila. Emily memperhatikan dengan penasaran.

"Itu apa?"

Jane tersenyum."Minuman darurat."

**

Kaluna berhenti tepat di belakang sofa besar yang menghadap danau. Aldrich masih sibuk dengan buku gambarnya. Kepala kecilnya menunduk serius. Tangannya bergerak cepat mewarnai sesuatu menggunakan krayon biru. Kaluna memperhatikan beberapa detik. Lalu mengangkat satu alis.

"Apa itu?"

Aldrich langsung menoleh. Mata bulatnya membesar. "Mama!"

Anak laki-laki itu segera melompat turun dari sofa dan berlari menghampirinya. Kaluna refleks membuka kedua tangannya.

Bruk.

Tubuh kecil Aldrich langsung menabrak pelukannya. Kaluna memejamkan mata sesaat. Entah kenapa, pelukan kecil itu selalu berhasil meredakan amarahnya jauh lebih baik daripada terapi apa pun.

"Mama lama."

Kaluna mengusap rambut putranya.

"Mama kerja."

"Mama selalu kerja."

Kaluna terdiam.

Naya yang duduk tidak jauh dari sana langsung pura-pura sibuk melihat ponselnya. Tidak berniat ikut campur. Karena ia tahu percakapan ini sering terjadi. Kaluna akhirnya menarik napas.

"Kedengarannya seperti keluhan."

"Itu memang keluhan."

Kaluna langsung menatap putranya. Aldrich balas menatap tanpa rasa bersalah sedikit pun. Membuat Kaluna hampir tertawa.

"Hari ini ngapain saja?"

Aldrich langsung bersemangat. "Aku gambar."

"Boleh lihat?"

"Boleh."

Aldrich kembali naik ke sofa lalu menyerahkan buku gambarnya. Kaluna duduk di sampingnya. Membuka halaman demi halaman. Ada gambar roti. Ada gambar kucing yang bentuknya lebih mirip kentang. Ada gambar danau. Ada gambar Lune et Pain.

Kaluna mengangguk pelan. "Bagus."

"Aku tahu."

Kaluna langsung melirik. "Percaya diri sekali."

Aldrich mengangkat dagunya.

"Itu turunan."

Kaluna mengernyit. "Turunan dari siapa?"

Aldrich menunjuknya tanpa ragu.

Kaluna langsung terdiam, sedangkan Naya buru-buru menunduk untuk menyembunyikan senyumnya.

"Tante Jane yang bilang."

Kaluna mendecakkan lidah. "Tante Jane mengajarimu hal yang salah."

"Aku dengar itu."

Suara Jane terdengar dari balik meja barista. Kaluna bahkan tidak perlu menoleh. "Kalau dengar kenapa tidak diam saja?"

Jane langsung tertawa dan Aldrich ikut tertawa.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, sudut bibir Kaluna benar-benar terangkat. Tidak banyak. Namun cukup untuk membuat wajahnya terlihat jauh lebih ringan dibanding satu jam yang lalu.

Aldrich kemudian menunjuk salah satu gambarnya. "Yang ini paling bagus."

Kaluna memperhatikan. Gambar Lune et Pain. Dengan jendela besar menghadap danau. Ada beberapa orang di dalamnya. Dan di tengah gambar itu terdapat sosok perempuan berambut panjang.

"Itu Mama."

Kaluna mengangkat alis. "Kenapa Mama ada di sini?"

Aldrich terlihat bingung.

"Karena Mama suka tempat ini."

Kaluna terdiam sesaat. Aldrich melanjutkan dengan polos. "Kalau Mama di sini..."

Anak itu menunjuk gambar tersebut, "Biasanya Mama tidak marah."

Hening.

Kaluna menatap gambar itu cukup lama. Lalu menoleh ke putranya.

"Kata siapa Mama marah?"

Aldrich langsung menunjuk Jane.

"Tante Jane."

"Itu bohong."

Jane yang sedang menyusun pastry langsung tertawa keras. Sedangkan Aldrich ikut cekikikan tanpa rasa bersalah. Dan untuk pertama kalinya sejak meninggalkan kediaman keluarga Vance, Kaluna benar-benar merasa bisa bernapas lagi.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Marriage With Benefits   Janji makan Siang

    Mobil Kaluna berhenti tepat di depan pintu utama gedung perkantoran Vance Group yang menjulang tinggi dan megah. Langkah Kaluna mantap dan berwibawa saat melangkah masuk menyambut sapaan para karyawan yang menunduk hormat ke arahnya. Emily berjalan selangkah di belakangnya, tangan memeluk tablet tipis, wajahnya tenang dan profesional. Sesampainya di ruangan kerja Kaluna yang luas, berlantai marmer dan dinding kaca menghadap pemandangan kota, Kaluna meletakkan tas kerjanya di meja lalu duduk di kursi besarnya. Emily berdiri di hadapannya, membuka catatan di layar tablet. "Jadwal hari ini, Nyonya. Pukul sepuluh rapat dengan tim keuangan. Pukul sebelas pertemuan dengan pengembang proyek baru. Pukul dua belas tiga puluh..." Emily berhenti sejenak. "Lanjutkan," perintah Kaluna sambil menandatangani berkas di depannya. "Makan siang dengan Tuan Sean Wiratama di restoran Sapphire Dining," ucap Emily tenang. Pena di tangan Kaluna berhenti bergerak. Ia mendongak menatap Emily. "Maksudmu..

  • Marriage With Benefits   Sebuah janji Temu

    Pintu penthouse terbuka lebar. Kaluna melangkah keluar lebih dulu, menuntun tangan kecil Aldrich yang berjalan rapi di sampingnya. Penampilannya hari ini memancarkan wibawa seorang pemimpin sekaligus kelembutan seorang ibu: balutan setelan jas berwarna krem yang pas di badan, sepatu hak tinggi yang berkilau, dan rambut hitamnya disusun rapi menonjolkan garis wajahnya yang tegas namun cantik. Aura dingin dan berkelas langsung menyelimuti setiap langkahnya.Aldrich berjalan dengan senyum ceria, mengenakan seragam sekolah yang rapi dan tas punggung kecil berwarna biru tua di punggungnya. Sesekali ia mendongak menatap ibunya, lalu meremas tangan Kaluna sedikit lebih erat.Tepat di belakang mereka berjalan beriringan. Emily dengan tablet di tangan kanannya, matanya tak pernah lepas dari Kaluna sedangkan Naya yang membawa perlengkapan tambahan Aldrich dan dua orang pengawal berbadan tegap dengan setelan gelap yang berjalan dengan langkah tenang namun siap siaga, menjaga jarak aman di sisi k

  • Marriage With Benefits   Pagi yang Manis

    Pagi itu cahaya matahari masih lembut menyelinap lewat jendela kaca besar. Kaluna berjalan pelan keluar kamar, matanya masih sedikit kabur karena baru bangun tidur. Di ruang tengah, Aldrich duduk tenang di atas karpet empuk, sedang serius membaca buku tebal berisi gambar-gambar planet, sementara Naya berdiri di belakangnya dengan sisir di tangan, merapikan rambut anak itu. Di sudut dapur, koki pribadi sudah sibuk menyiapkan aroma sarapan yang menggugah selera.Kaluna berjalan mendekat lalu menepuk pelan bahu Naya."Biar aku saja," katanya lembut."Baik, Nyonya," jawab Naya sopan sambil menyodorkan sisir, lalu berjalan menuju dapur membantu koki.Kaluna mengangguk, lalu mencium puncak kepala Aldrich dengan penuh kasih sayang.Aldrich langsung menoleh cerah, matanya berbinar senang."Selamat pagi Mami ku yang cantikkk!""Selamat pagi, sayang," balas Kaluna sambil tersenyum lebar. "Wangi sekali anak Mami hari ini.""Iyaaa dong! Anak Mami harus selalu wangi," jawab Aldrich bangga.Kaluna

  • Marriage With Benefits   Kaluna dan Nathan

    Nathan menyetir dengan tenang, ponselnya tersambung otomatis ke sistem suara mobil. Tiba-tiba suara Celine terdengar jelas memenuhi kabin, karena Nathan lupa tidak mematikan fitur sambungan otomatis dan tidak menggunakan earphone. "Nanti aku hubungi lagi begitu sampai di apartemen ya, sayang," ucap Nathan pelan. "Hmm... aku juga baru mau pulang dari sini," jawab Celine dari seberang. "Hati-hati di jalan ya pulangnya," pesan Nathan lembut. "Kamu juga ganteng. I love you, Nath." "Iya sayang, I love you so much." Sambungan terputus. Sejak tadi Kaluna hanya bersandar lemas di jok samping, matanya terpejam rapat, padahal setiap kata percakapan itu terdengar sangat jelas di telinganya. Kaluna tertawa kecil, suaranya datar tanpa membuka mata. Nathan tersenyum tipis, lalu tangannya terulur mengacak rambut Kaluna dengan lembut—hanya dialah satu-satunya orang yang berani dan bisa melakukannya tanpa ditolak. "Sudah selesai?" tanya Kaluna pelan. "Hmm," jawab Nathan. Kaluna tertawa lagi.

  • Marriage With Benefits   Pertemuan Rahasia

    Di sudut paling tenang bar eksklusif di lantai tertinggi gedung pusat kota, cahaya lampu gantung berwarna keemasan jatuh lembut di atas meja kayu gelap. Aroma kopi arabika yang baru diseduh bercampur dengan wangi kayu cendana ruangan, menciptakan suasana hening namun terasa berat. Xander duduk santai di salah satu sofa kulit, berhadapan dengan Sean dan Arron.Sean menyandarkan punggungnya, cangkir kopi di tangannya diputar pelan tanpa diseruput sedikit pun. Wajahnya datar, tapi matanya menahan ketidaksukaan yang jelas."Aku tidak suka menjalin kerja sama dengan sesuatu yang bahkan informasinya tidak jelas," ucapnya pelan namun tegas. "Nathan?" tanya Xander seolah baru mendengar nama itu."Mungkin saja," timpal Arron sambil menyandarkan dagu di atas tangan."Kalian mengenalnya.""Benarkah?? Aku bahkan belum pernah bertemu dengannya," Arron menoleh cepat ke arah Sean. "Kau mengenalnya?""Kurasa tidak," jawab Sean singkat, matanya menatap lurus ke luar jendela menatap kerlap-kerlip lamp

  • Marriage With Benefits   Aku Akan Menikah

    Sore itu, sinar matahari mulai berwarna keemasan menyelimuti jalanan. Di dalam mobil sedan limusin paling mewah milik keluarga Vance—berkulit cokelat lembut, pencahayaan hangat, dan kedap suara sempurna—Kaluna duduk bersandar lepas di kursi belakang yang luas. Ia sama sekali tak sadar bahwa ia sudah tertidur pulas selama satu jam penuh, padahal cairan infusnya sudah habis sejak lama di rumah sakit. Perlahan Kaluna membuka mata, menatap ke luar jendela yang melaju pelan. "Kenapa tidak membangunkanku?" tanyanya pelan. "Nyonya butuh istirahat," jawab Emily tenang dari kursi depan. "Lagipula saya sudah menyusun ulang semua jadwal Nyonya sejak Nyonya masuk UGD tadi." "Kata siapa?" potong Kaluna cepat. "Kata Dokter Nathan," jelas Emily santai. "Semalam Nyonya mabuk, lalu Nyonya..." Kaluna langsung berdeham keras, sengaja memotong pembicaraan itu. "Tidak perlu diingatkan terus!" Emily tertawa kecil, lalu menoleh ke belakang sambil menyipitkan mata menatap bosnya. "Sesuatu terjadi di

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status