登入Beberapa menit kemudian, Mercedes-Benz hitam itu akhirnya memasuki area parkir yang menghadap langsung ke danau kota.
Lune et Pain. Sebuah coffee and pastry house berukuran tidak terlalu besar yang berdiri di salah satu sudut paling strategis di pusat kota Jakarta. Bangunannya didominasi kaca-kaca tinggi dengan sentuhan kayu hangat dan pencahayaan kekuningan yang nyaman. Dari teras belakang, pengunjung bisa menikmati pemandangan danau kota yang memantulkan cahaya lampu malam seperti ribuan bintang yang jatuh ke permukaan air. Tempat itu tidak pernah dirancang untuk menjadi jaringan bisnis besar. Tidak seperti Eve Group. Tidak seperti hotel-hotel mewah milik keluarga Vance. Lune et Pain dibangun untuk alasan yang jauh lebih sederhana. Karena seseorang pernah bermimpi memiliki tempat yang dipenuhi aroma kopi dan roti hangat. Dan seseorang itu adalah Kaluna. Sayangnya, hidup membawanya ke arah yang berbeda. Karena itulah selama lima tahun terakhir, tempat ini dikelola oleh orang yang paling ia percayai. Jane, Sahabatnya, Keluarganya, kakaknya. Saat Kaluna dan Emily masuk, aroma kopi yang baru digiling langsung menyambut mereka.Di balik meja barista, seorang wanita berusia akhir tiga puluhan sedang sibuk meracik espresso. Rambut hitamnya diikat asal. Kemeja putihnya tergulung hingga siku. Wajahnya cantik dengan cara yang hangat dan menenangkan. Jane bahkan belum sempat mengangkat kepala ketika suara langkah cepat Kaluna mendekat. "Mana Aldrich?" Jane berkedip. Lalu perlahan mengangkat kepalanya. Tatapannya berpindah dari Kaluna ke Emily. Lalu kembali ke Kaluna. "Selamat malam juga untukmu." "Jane." Kaluna menyilangkan tangan. "Di mana Aldrich?" Jane memicingkan mata. Sudah dua puluh tahun mengenal Kaluna membuatnya tahu satu hal. Kaluna sedang marah. Dan sangat marah. Namun karena itu juga, Jane sama sekali tidak terintimidasi. "Tempat ini kecil." Jane kembali melanjutkan pekerjaannya. "Cari saja sendiri." "Jane!" "Apa?" Kaluna mendengus kesal. Namun sebelum sempat mengomel lebih jauh, telinganya menangkap suara yang sangat familiar. Suara tawa kecil cekikikan. Aldrich. Refleks Kaluna menoleh ke arah sudut belakang ruangan. Dan di sana, di area sofa dekat jendela yang menghadap danau. Aldrich sedang duduk bersila di atas sofa empuk sambil menggambar. Naya sang baby sitter duduk di sampingnya. Sesekali membantu mengambilkan pensil warna yang terjatuh. Kaluna langsung berjalan ke sana tanpa berkata apa-apa lagi. Sedangkan Emily melangkah menuju meja barista. Begitu Kaluna menjauh, Jane langsung menatap Emily. "Something happened?" Emily menjatuhkan kepalanya ke atas meja barista. "Sebentar saja." Jane langsung tertawa. "Kali ini apalagi?" Emily mengangkat wajahnya sedikit. "Menurut Kakak bagaimana?" Jane berpikir sesaat. "Hm..." "Tiga direktur mengundurkan diri?" Emily menggeleng. "Lebih parah." "Investor kabur?" Emily kembali menggeleng dan Jane mulai tertarik. "Baiklah." "Kamu dipecat?" " Kak Jane." "Oke, oke." Jane tertawa lagi. "Lalu apa?" Emily menghela napas panjang. "Kami baru dari kediaman Tuan Ethan." Jane langsung mengangguk paham. "Ah." "Mereka bertengkar." Emily membuka tablet di tangannya. "Lebih buruk." Jane mengangkat sebelah alis. "Benarkah?" Emily menatapnya datar. "Tuan Ethan meminta Miss Vance menikah." Jane membeku. "...Apa?" Emily mengangguk. "Menikah." "Yang benar saja." "Aku juga bereaksi seperti itu." Jane meletakkan milk pitcher yang sedang dipegangnya. Wajahnya benar-benar tidak percaya. "Kaluna? Menikah? Secara sukarela?" "Aku rasa bukan bagian sukarelanya yang menjadi masalah." Jane langsung tertawa keras. "Oke. Itu benar." Emily menyandarkan dagunya di meja. "Aku bahkan tidak tahu bagaimana menghadapi mood Miss Vance besok." Jane menggeleng geli. "Kamu mau apa?" Emily menunjuk menu. "Matcha latte." Jane mengangguk. "Pilihan yang bagus." Beberapa menit kemudian, Jane mulai meracik minuman, Matcha latte untuk Emily. Namun ketika tangannya hendak meraih biji kopi untuk Kaluna, Emily langsung menggeleng. "Jangan kopi." Jane menoleh. "Kenapa?" "Miss Vance bahkan belum makan apa pun hari ini." Jane langsung berhenti. "Benarkah?" Emily mengangguk. Jane terdiam beberapa detik. Lalu perlahan tersenyum tipis. "Oh, Aku punya ide." Ia mengembalikan biji kopi ke tempatnya. Kemudian mulai mengambil susu hangat, madu, sedikit kayu manis, dan ekstrak vanila. Emily memperhatikan dengan penasaran. "Itu apa?" Jane tersenyum."Minuman darurat." ** Kaluna berhenti tepat di belakang sofa besar yang menghadap danau. Aldrich masih sibuk dengan buku gambarnya. Kepala kecilnya menunduk serius. Tangannya bergerak cepat mewarnai sesuatu menggunakan krayon biru. Kaluna memperhatikan beberapa detik. Lalu mengangkat satu alis. "Apa itu?" Aldrich langsung menoleh. Mata bulatnya membesar. "Mama!" Anak laki-laki itu segera melompat turun dari sofa dan berlari menghampirinya. Kaluna refleks membuka kedua tangannya. Bruk. Tubuh kecil Aldrich langsung menabrak pelukannya. Kaluna memejamkan mata sesaat. Entah kenapa, pelukan kecil itu selalu berhasil meredakan amarahnya jauh lebih baik daripada terapi apa pun. "Mama lama." Kaluna mengusap rambut putranya. "Mama kerja." "Mama selalu kerja." Kaluna terdiam. Naya yang duduk tidak jauh dari sana langsung pura-pura sibuk melihat ponselnya. Tidak berniat ikut campur. Karena ia tahu percakapan ini sering terjadi. Kaluna akhirnya menarik napas. "Kedengarannya seperti keluhan." "Itu memang keluhan." Kaluna langsung menatap putranya. Aldrich balas menatap tanpa rasa bersalah sedikit pun. Membuat Kaluna hampir tertawa. "Hari ini ngapain saja?" Aldrich langsung bersemangat. "Aku gambar." "Boleh lihat?" "Boleh." Aldrich kembali naik ke sofa lalu menyerahkan buku gambarnya. Kaluna duduk di sampingnya. Membuka halaman demi halaman. Ada gambar roti. Ada gambar kucing yang bentuknya lebih mirip kentang. Ada gambar danau. Ada gambar Lune et Pain. Kaluna mengangguk pelan. "Bagus." "Aku tahu." Kaluna langsung melirik. "Percaya diri sekali." Aldrich mengangkat dagunya. "Itu turunan." Kaluna mengernyit. "Turunan dari siapa?" Aldrich menunjuknya tanpa ragu. Kaluna langsung terdiam, sedangkan Naya buru-buru menunduk untuk menyembunyikan senyumnya. "Tante Jane yang bilang." Kaluna mendecakkan lidah. "Tante Jane mengajarimu hal yang salah." "Aku dengar itu." Suara Jane terdengar dari balik meja barista. Kaluna bahkan tidak perlu menoleh. "Kalau dengar kenapa tidak diam saja?" Jane langsung tertawa dan Aldrich ikut tertawa. Dan untuk pertama kalinya malam itu, sudut bibir Kaluna benar-benar terangkat. Tidak banyak. Namun cukup untuk membuat wajahnya terlihat jauh lebih ringan dibanding satu jam yang lalu. Aldrich kemudian menunjuk salah satu gambarnya. "Yang ini paling bagus." Kaluna memperhatikan. Gambar Lune et Pain. Dengan jendela besar menghadap danau. Ada beberapa orang di dalamnya. Dan di tengah gambar itu terdapat sosok perempuan berambut panjang. "Itu Mama." Kaluna mengangkat alis. "Kenapa Mama ada di sini?" Aldrich terlihat bingung. "Karena Mama suka tempat ini." Kaluna terdiam sesaat. Aldrich melanjutkan dengan polos. "Kalau Mama di sini..." Anak itu menunjuk gambar tersebut, "Biasanya Mama tidak marah." Hening. Kaluna menatap gambar itu cukup lama. Lalu menoleh ke putranya. "Kata siapa Mama marah?" Aldrich langsung menunjuk Jane. "Tante Jane." "Itu bohong." Jane yang sedang menyusun pastry langsung tertawa keras. Sedangkan Aldrich ikut cekikikan tanpa rasa bersalah. Dan untuk pertama kalinya sejak meninggalkan kediaman keluarga Vance, Kaluna benar-benar merasa bisa bernapas lagi.Penthouse pribadi Kaluna berada di lantai paling atas salah satu gedung milik Eve Group. Suasana nya terlalu sunyi meskipun di dalamnya terlihat sangat mewah. Malam sudah hampir pukul sepuluh ketika Kaluna akkhirnya berhasil membawa Aldrich pulang. Anak itu tertidur bahkan sebelum mobil meninggalkan area parkir Lune et Pain. Dan kini anak itu sudah terlelap di kamarnya. Kaluna menggendong putranya perlahan menuju kamar. Ia membaringkannya dengan hati-hati di atas tempat tidur kecil, menarik selimut hingga menutupi tubuh mungilnya, lalu menyibakkan beberapa helai rambut yang jatuh menutupi dahinya. Sebuah kecupan singkat mendarat di kening Aldrich. "Selamat tidur, Sayang." Lampu kamar dipadamkan. klik, begitu pintu kamar tertutup, seluruh penthouse kembali di selimuti keheningan. Kaluna berjalan menuju jendela kaca setinggi langit-langit. Segelas air putih berada di tangannya. Dari sana, gemerlap lampu Jakarta terbentang begitu indah, tetapi malam ini ia sama sekali tidak mampu menik
Jane memperhatikan Kaluna beberapa detik dari balik meja barista. Wajah itu sudah terlalu ia kenal. Dan wajah seperti itu biasanya berarti seseorang baru saja membuat Kaluna ingin membakar satu gedung penuh. Jane mengambil sebuah cangkir. Lalu mulai meracik sesuatu. Tidak lama kemudian, ia berjalan mendekati sofa tempat Kaluna duduk bersama Aldrich. Sebuah cangkir hangat diletakkannya tepat di depan Kaluna. "Minum." Kaluna melirik isi cangkir itu. Lalu mengernyit. "Aku pesan kopi." "Tidak." "Jane." "Tidak." Kaluna menatap sahabatnya datar. Jane balas menatapnya tanpa takut sedikit pun. Emily yang duduk tidak jauh dari sana langsung menahan senyum. Sudah bertahun-tahun. Dan hanya Jane satu-satunya manusia di bumi yang berani memperlakukan Kaluna Vance seperti anak kecil. "Aku tidak suka ini." "Makanya aku yang pilih." Kaluna mendengus, Jane kemudian ikut duduk di hadapannya. "Kau belum makan." "Aku tidak lapar." "Kau marah." "Aku tahu." "Kau juga keras k
Beberapa menit kemudian, Mercedes-Benz hitam itu akhirnya memasuki area parkir yang menghadap langsung ke danau kota. Lune et Pain. Sebuah coffee and pastry house berukuran tidak terlalu besar yang berdiri di salah satu sudut paling strategis di pusat kota Jakarta. Bangunannya didominasi kaca-kaca tinggi dengan sentuhan kayu hangat dan pencahayaan kekuningan yang nyaman. Dari teras belakang, pengunjung bisa menikmati pemandangan danau kota yang memantulkan cahaya lampu malam seperti ribuan bintang yang jatuh ke permukaan air. Tempat itu tidak pernah dirancang untuk menjadi jaringan bisnis besar. Tidak seperti Eve Group. Tidak seperti hotel-hotel mewah milik keluarga Vance. Lune et Pain dibangun untuk alasan yang jauh lebih sederhana. Karena seseorang pernah bermimpi memiliki tempat yang dipenuhi aroma kopi dan roti hangat. Dan seseorang itu adalah Kaluna. Sayangnya, hidup membawanya ke arah yang berbeda. Karena itulah selama lima tahun terakhir, tempat ini dikelola oleh oran
Pintu ruang kerja Ethan masih tertutup rapat. Sementara di luar koridor lantai dua yang sunyi itu, Xander berdiri di dekat jendela besar yang menghadap taman belakang mansion. Tangannya masuk ke saku celana. Tatapannya sesekali melirik ke arah pintu ruang kerja ayahnya. Sudah hampir tiga puluh menit. Dan itu bukan pertanda baik. Suara langkah kaki terdengar dari ujung koridor. Xander menoleh.Emily.Wanita muda itu baru saja naik dari lantai bawah setelah salah satu pelayan mempersilahkannya menunggu di area keluarga. Begitu melihat Xander, Emily langsung membungkukkan kepala sedikit. "Tuan Xander."Xander tersenyum tipis. "Emily."Mereka sudah cukup sering bertemu selama lima tahun terakhir. Bagaimanapun juga, Emily adalah orang yang hampir selalu berada di sisi Kaluna."Masih menunggu?" tanya Emily pelan.Xander mengangguk."Sudah berapa lama?""Hampir setengah jam."Emily meringis kecil. "Kalau sudah selama itu...""Mereka sedang bertengkar."Emily tidak menyelesaikan kalimatnya. N
Pintu ruang kerja itu tertutup pelan.Klik.Keheningan langsung mengambil alih ruangan.Kaluna menyilangkan kedua tangannya di dada. "Baik." Tatapannya tidak pernah lepas dari Ethan. "Apa yang sebenarnya Papa inginkan?"Ethan tidak langsung menjawab. Pria itu justru bangkit dari kursinya dan berjalan menuju jendela besar yang menghadap taman belakang kediaman keluarga Vance. Usianya sudah hampir enam puluh tahun, namun punggungnya masih tegak. Wibawanya masih cukup untuk membuat sebagian besar orang memilih diam. Namun Kaluna bukan sebagian besar orang."Aku tidak meragukan kemampuanmu."Kaluna mengangkat alis. "Kalau begitu berhenti mengatur hidupku.""Aku tidak sedang mengatur hidupmu." Jawab Ethan cepat. "Aku sedang mempersiapkanmu."Kaluna tertawa pendek. "Terdengar sama saja.""Dalam beberapa tahun terakhir aku masih bisa mengawasi banyak hal."Kaluna tidak menjawab."Aku masih bisa memastikan tidak ada seorang pun yang menyentuh keluargaku.""Aku masih bisa memastikan tidak ada
Jika seseorang bertanya siapa wanita paling berpengaruh di Indonesia saat ini, nama Kaluna Evelyn Vance hampir selalu masuk dalam daftar teratas. Di usia tiga puluh lima tahun, ia berhasil melakukan sesuatu yang bahkan dianggap mustahil oleh banyak orang. Membangun Eve Group dari nol. Hanya dalam lima tahun. Lima tahun lalu, saat perceraian itu mengancurkan hidupnya, sebagian besar orang mengira Kaluna Evelyn akan tenggelam bersama skandal yang menyeret namanya. Namun, mereka salah. Alih-alih menghilang, Kaluna justru membangun Eve Group dari nol tanpa campur tangan Ayahnya.Perusahaan yang awalnya dianggap sebagai proyek ambisius seorang janda muda kini menjelma menjadi salah satu grup bisnis terbesar di Indonesia. Dalam lima tahun, Eve Group berhasil memperluas bisnisnya ke berbagai sektor strategis dan menjadi salah satu kekuatan ekonomi yang tidak bisa lagi dipandang sebelah mata.Dan pagi itu, seperti biasa, kaluna sedang memimpin rapat direksi. "Proyeksi kuartal ketiga?"Seora







