LOGINPintu ruang kerja Ethan masih tertutup rapat. Sementara di luar koridor lantai dua yang sunyi itu, Xander berdiri di dekat jendela besar yang menghadap taman belakang mansion. Tangannya masuk ke saku celana. Tatapannya sesekali melirik ke arah pintu ruang kerja ayahnya. Sudah hampir tiga puluh menit. Dan itu bukan pertanda baik. Suara langkah kaki terdengar dari ujung koridor. Xander menoleh.
Emily. Wanita muda itu baru saja naik dari lantai bawah setelah salah satu pelayan mempersilahkannya menunggu di area keluarga. Begitu melihat Xander, Emily langsung membungkukkan kepala sedikit. "Tuan Xander." Xander tersenyum tipis. "Emily." Mereka sudah cukup sering bertemu selama lima tahun terakhir. Bagaimanapun juga, Emily adalah orang yang hampir selalu berada di sisi Kaluna. "Masih menunggu?" tanya Emily pelan. Xander mengangguk. "Sudah berapa lama?" "Hampir setengah jam." Emily meringis kecil. "Kalau sudah selama itu..." "Mereka sedang bertengkar." Emily tidak menyelesaikan kalimatnya. Namun keduanya sama-sama tahu. Kaluna dan Ethan memiliki bakat luar biasa untuk mengubah percakapan sederhana menjadi perang dingin keluarga. Xander menghela napas pelan. "Bagaimana kondisinya akhir-akhir ini?" Emily terlihat berpikir sesaat. "Maksud Anda?" "Kaluna." Hening. Emily langsung memahami pertanyaan itu. Xander tidak sedang bertanya tentang pekerjaan. Ia sedang bertanya sebagai kakak laki-laki. "Miss Vance baik-baik saja." Xander mengangkat sebelah alis. "Itu klise." Emily langsung tertawa kecil. Dan untuk pertama kalinya malam itu, ekspresi tegang di wajah Xander sedikit mencair. "Baiklah." Emily menyerah. "Kalau sebagai orang yang melihatnya setiap hari..." Wanita itu menghela napas. "Dia kelelahan." Tatapan Xander langsung berubah. Emily melanjutkan. "Dua minggu terakhir hampir tidak ada hari libur. Dia tidur paling cepat jam dua pagi. Dan bangun lagi sebelum jam enam." Xander mengusap rahangnya pelan. Itu terdengar sangat seperti Kaluna. "Tapi dia tidak akan mengakuinya." "Tentu saja tidak." Emily mengangguk setuju. "Kalau saya bilang dia harus istirahat, biasanya saya yang diusir dari ruangan." Xander terkekeh pelan. Ya. Itu juga sangat Kaluna. "Bagaimana mood-nya?" Emily terdiam beberapa saat. Lalu menjawab jujur. "Lebih buruk dari biasanya." "Seberapa buruk?" Emily memiringkan kepala sedikit. "Minggu lalu seorang direktur hampir menangis saat keluar dari ruang rapat." Xander langsung tertawa. Tawa pertama yang benar-benar terdengar malam itu. "Itu cukup buruk." "Sangat buruk." Keduanya kembali terdiam. Lalu Emily menatap pintu ruang kerja Ethan. "Apakah Tuan Ethan benar-benar akan melakukannya?" Pertanyaan itu membuat senyum Xander perlahan menghilang. Beberapa detik berlalu sebelum ia menjawab. "Aku harap tidak." Dan untuk pertama kalinya... Emily melihat sesuatu yang jarang terlihat di wajah Xander Vance. Kekhawatiran. Karena jika Ethan benar-benar menjalankan rencananya, maka orang yang paling terluka bukanlah dirinya. Melainkan adik perempuan yang selama lima tahun terakhir telah mempertaruhkan seluruh hidupnya untuk membangun Eve Group. Tepat saat itu. Klik. Pintu ruang kerja Ethan terbuka. Emily dan Xander langsung menoleh bersamaan. Dan di sana, Kaluna berdiri di ambang pintu. Dengan wajah yang terlalu tenang. Yang justru membuat Xander tahu bahwa situasinya jauh lebih buruk daripada yang ia bayangkan. Kaluna melangkah keluar dari ruang kerja tanpa menoleh ke belakang. "Miss Vance..." Emily langsung mendekat. Namun Kaluna hanya mengangkat satu tangan kecil. Isyarat agar tidak bertanya apa pun. Emily langsung diam. Sedangkan Xander memperhatikan wajah adiknya selama beberapa detik. Terlalu tenang. Terlalu dingin. Dan itu tidak pernah menjadi pertanda baik. "Kaluna." Langkah wanita itu berhenti. Hanya sesaat. Lalu kembali berjalan. Xander menghela napas pelan sebelum menyusul. "Aku perlu bicara denganmu." "Tidak." Jawab kaluna cepat. Terlalu cepat. Seolah ia bahkan tidak membutuhkan waktu untuk berpikir. "Kaluna." "Aku sedang tidak ingin mendengar apa pun." Suara sepatu hak tinggi Kaluna terus menggema di sepanjang koridor. Tok. Tok. Tok. Terdengar cepat, tegas dan marah. "Aku baru tahu soal ini." Kalimat itu akhirnya berhasil membuat Kaluna berhenti. Perlahan wanita itu berbalik. Tatapan coklatnya langsung menghantam Xander. Dingin. Tajam. Menusuk. "Kau baru tahu?" Xander mengangguk. "Aku tidak tahu Papa akan membawa Eve Group ke dalam ini." Kaluna tertawa kecil. Tawa yang sama sekali tidak terdengar lucu. "Tentu." "Aku serius." "Dan aku harus percaya?" Hening. Xander menatap adiknya tanpa berkedip. "Aku tidak berbohong." Kaluna menggeleng pelan. Entah kenapa. Justru itu yang membuat dadanya semakin sesak. "Kau tahu bagian yang paling menyebalkan dari semua ini, Xander?" Xander tidak menjawab. "Aku selalu jadi orang terakhir yang tahu." Hening. Tatapan Kaluna mulai memerah. Bukan karena menangis. Karena marah. "Papa tahu." "Paman-paman tahu." "Kau tahu." "Aku tidak tahu." "Kaluna," "Tidak." Kaluna memotong. Suara wanita itu akhirnya meninggi. Untuk pertama kalinya sejak keluar dari ruang kerja Ethan. "Tidak kali ini." Dada Kaluna naik turun. Lima tahun. Lima tahun ia membangun Eve Group. Lima tahun ia mengorbankan hampir seluruh hidupnya. Dan sekarang, Ayahnya menjadikan perusahaan itu sebagai alat untuk memaksanya menikah. "Apa kau tahu rasanya?" Suara Kaluna mulai bergetar. "Bekerja siang malam. Membangun sesuatu dari nol." "Lalu melihat semuanya bisa diambil hanya karena aku tidak mengikuti keinginan keluarga?" Xander terdiam. Karena ia tidak memiliki jawaban untuk itu. Kaluna tertawa hambar. "Aneh ya." Tatapannya bertemu dengan mata kakaknya. "Sekeras apa pun aku berusaha..." Senyumnya perlahan menghilang. "...Papa tetap memilihmu." Hening. Koridor itu mendadak terasa jauh lebih sunyi. Emily yang berdiri tidak jauh dari sana bahkan tidak berani bergerak. Xander menelan ludah. "Kaluna, Aku tidak pernah meminta semua ini." Dan kalimat itu, entah kenapa justru membuat Kaluna semakin terluka. "Tapi kau selalu mendapatkannya." Jawabannya pelan. Sangat pelan. Namun terasa jauh lebih menyakitkan daripada teriakan apa pun. "Kau mendapatkan kepercayaan Papa." "Kau mendapatkan tempat yang selalu ingin aku miliki." "Kau mendapatkan semua hal yang bahkan tidak pernah diberi kesempatan untuk kuperjuangkan." Wajah Xander mengeras. Ia benar-benar mendengar luka yang selama ini disimpan adiknya. Sejak kematian ibu mereka. Sejak bertahun-tahun lalu. Dan mungkin... Sejak mereka masih anak-anak. "Aku tidak pernah bersaing denganmu, Luna." Kaluna tersenyum pahit. "Tapi aku selalu kalah darimu." Hening. terasa lebih lama dan menyakitkan. Sampai akhirnya Kaluna menarik napas panjang. Ia lelah. Terlalu lelah untuk melanjutkan pertengkaran ini. "Ayo, Emily." "Miss.." "Ayo." Emily langsung mengambil tas kerja Kaluna. Sementara Kaluna berjalan melewati Xander begitu saja. Tanpa menoleh. Tanpa pamit. Tanpa memberi kesempatan bagi pria itu untuk menjelaskan apa pun. Xander hanya bisa berdiri diam. Memperhatikan punggung adiknya yang semakin menjauh. Dengan perasaan kalah yang bahkan tidak pernah bisa ia jelaskan kepada siapa pun.Mobil Kaluna berhenti tepat di depan pintu utama gedung perkantoran Vance Group yang menjulang tinggi dan megah. Langkah Kaluna mantap dan berwibawa saat melangkah masuk menyambut sapaan para karyawan yang menunduk hormat ke arahnya. Emily berjalan selangkah di belakangnya, tangan memeluk tablet tipis, wajahnya tenang dan profesional. Sesampainya di ruangan kerja Kaluna yang luas, berlantai marmer dan dinding kaca menghadap pemandangan kota, Kaluna meletakkan tas kerjanya di meja lalu duduk di kursi besarnya. Emily berdiri di hadapannya, membuka catatan di layar tablet. "Jadwal hari ini, Nyonya. Pukul sepuluh rapat dengan tim keuangan. Pukul sebelas pertemuan dengan pengembang proyek baru. Pukul dua belas tiga puluh..." Emily berhenti sejenak. "Lanjutkan," perintah Kaluna sambil menandatangani berkas di depannya. "Makan siang dengan Tuan Sean Wiratama di restoran Sapphire Dining," ucap Emily tenang. Pena di tangan Kaluna berhenti bergerak. Ia mendongak menatap Emily. "Maksudmu..
Pintu penthouse terbuka lebar. Kaluna melangkah keluar lebih dulu, menuntun tangan kecil Aldrich yang berjalan rapi di sampingnya. Penampilannya hari ini memancarkan wibawa seorang pemimpin sekaligus kelembutan seorang ibu: balutan setelan jas berwarna krem yang pas di badan, sepatu hak tinggi yang berkilau, dan rambut hitamnya disusun rapi menonjolkan garis wajahnya yang tegas namun cantik. Aura dingin dan berkelas langsung menyelimuti setiap langkahnya.Aldrich berjalan dengan senyum ceria, mengenakan seragam sekolah yang rapi dan tas punggung kecil berwarna biru tua di punggungnya. Sesekali ia mendongak menatap ibunya, lalu meremas tangan Kaluna sedikit lebih erat.Tepat di belakang mereka berjalan beriringan. Emily dengan tablet di tangan kanannya, matanya tak pernah lepas dari Kaluna sedangkan Naya yang membawa perlengkapan tambahan Aldrich dan dua orang pengawal berbadan tegap dengan setelan gelap yang berjalan dengan langkah tenang namun siap siaga, menjaga jarak aman di sisi k
Pagi itu cahaya matahari masih lembut menyelinap lewat jendela kaca besar. Kaluna berjalan pelan keluar kamar, matanya masih sedikit kabur karena baru bangun tidur. Di ruang tengah, Aldrich duduk tenang di atas karpet empuk, sedang serius membaca buku tebal berisi gambar-gambar planet, sementara Naya berdiri di belakangnya dengan sisir di tangan, merapikan rambut anak itu. Di sudut dapur, koki pribadi sudah sibuk menyiapkan aroma sarapan yang menggugah selera.Kaluna berjalan mendekat lalu menepuk pelan bahu Naya."Biar aku saja," katanya lembut."Baik, Nyonya," jawab Naya sopan sambil menyodorkan sisir, lalu berjalan menuju dapur membantu koki.Kaluna mengangguk, lalu mencium puncak kepala Aldrich dengan penuh kasih sayang.Aldrich langsung menoleh cerah, matanya berbinar senang."Selamat pagi Mami ku yang cantikkk!""Selamat pagi, sayang," balas Kaluna sambil tersenyum lebar. "Wangi sekali anak Mami hari ini.""Iyaaa dong! Anak Mami harus selalu wangi," jawab Aldrich bangga.Kaluna
Nathan menyetir dengan tenang, ponselnya tersambung otomatis ke sistem suara mobil. Tiba-tiba suara Celine terdengar jelas memenuhi kabin, karena Nathan lupa tidak mematikan fitur sambungan otomatis dan tidak menggunakan earphone. "Nanti aku hubungi lagi begitu sampai di apartemen ya, sayang," ucap Nathan pelan. "Hmm... aku juga baru mau pulang dari sini," jawab Celine dari seberang. "Hati-hati di jalan ya pulangnya," pesan Nathan lembut. "Kamu juga ganteng. I love you, Nath." "Iya sayang, I love you so much." Sambungan terputus. Sejak tadi Kaluna hanya bersandar lemas di jok samping, matanya terpejam rapat, padahal setiap kata percakapan itu terdengar sangat jelas di telinganya. Kaluna tertawa kecil, suaranya datar tanpa membuka mata. Nathan tersenyum tipis, lalu tangannya terulur mengacak rambut Kaluna dengan lembut—hanya dialah satu-satunya orang yang berani dan bisa melakukannya tanpa ditolak. "Sudah selesai?" tanya Kaluna pelan. "Hmm," jawab Nathan. Kaluna tertawa lagi.
Di sudut paling tenang bar eksklusif di lantai tertinggi gedung pusat kota, cahaya lampu gantung berwarna keemasan jatuh lembut di atas meja kayu gelap. Aroma kopi arabika yang baru diseduh bercampur dengan wangi kayu cendana ruangan, menciptakan suasana hening namun terasa berat. Xander duduk santai di salah satu sofa kulit, berhadapan dengan Sean dan Arron.Sean menyandarkan punggungnya, cangkir kopi di tangannya diputar pelan tanpa diseruput sedikit pun. Wajahnya datar, tapi matanya menahan ketidaksukaan yang jelas."Aku tidak suka menjalin kerja sama dengan sesuatu yang bahkan informasinya tidak jelas," ucapnya pelan namun tegas. "Nathan?" tanya Xander seolah baru mendengar nama itu."Mungkin saja," timpal Arron sambil menyandarkan dagu di atas tangan."Kalian mengenalnya.""Benarkah?? Aku bahkan belum pernah bertemu dengannya," Arron menoleh cepat ke arah Sean. "Kau mengenalnya?""Kurasa tidak," jawab Sean singkat, matanya menatap lurus ke luar jendela menatap kerlap-kerlip lamp
Sore itu, sinar matahari mulai berwarna keemasan menyelimuti jalanan. Di dalam mobil sedan limusin paling mewah milik keluarga Vance—berkulit cokelat lembut, pencahayaan hangat, dan kedap suara sempurna—Kaluna duduk bersandar lepas di kursi belakang yang luas. Ia sama sekali tak sadar bahwa ia sudah tertidur pulas selama satu jam penuh, padahal cairan infusnya sudah habis sejak lama di rumah sakit. Perlahan Kaluna membuka mata, menatap ke luar jendela yang melaju pelan. "Kenapa tidak membangunkanku?" tanyanya pelan. "Nyonya butuh istirahat," jawab Emily tenang dari kursi depan. "Lagipula saya sudah menyusun ulang semua jadwal Nyonya sejak Nyonya masuk UGD tadi." "Kata siapa?" potong Kaluna cepat. "Kata Dokter Nathan," jelas Emily santai. "Semalam Nyonya mabuk, lalu Nyonya..." Kaluna langsung berdeham keras, sengaja memotong pembicaraan itu. "Tidak perlu diingatkan terus!" Emily tertawa kecil, lalu menoleh ke belakang sambil menyipitkan mata menatap bosnya. "Sesuatu terjadi di







