Share

SELALU BUKAN AKU

Penulis: LOVEBITES
last update Tanggal publikasi: 2026-06-02 14:52:30

Pintu ruang kerja Ethan masih tertutup rapat. Sementara di luar koridor lantai dua yang sunyi itu, Xander berdiri di dekat jendela besar yang menghadap taman belakang mansion. Tangannya masuk ke saku celana. Tatapannya sesekali melirik ke arah pintu ruang kerja ayahnya. Sudah hampir tiga puluh menit. Dan itu bukan pertanda baik. Suara langkah kaki terdengar dari ujung koridor. Xander menoleh.

Emily.

Wanita muda itu baru saja naik dari lantai bawah setelah salah satu pelayan mempersilahkannya menunggu di area keluarga. Begitu melihat Xander, Emily langsung membungkukkan kepala sedikit. "Tuan Xander."

Xander tersenyum tipis. "Emily."

Mereka sudah cukup sering bertemu selama lima tahun terakhir. Bagaimanapun juga, Emily adalah orang yang hampir selalu berada di sisi Kaluna.

"Masih menunggu?" tanya Emily pelan.

Xander mengangguk.

"Sudah berapa lama?"

"Hampir setengah jam."

Emily meringis kecil. "Kalau sudah selama itu..."

"Mereka sedang bertengkar."

Emily tidak menyelesaikan kalimatnya. Namun keduanya sama-sama tahu. Kaluna dan Ethan memiliki bakat luar biasa untuk mengubah percakapan sederhana menjadi perang dingin keluarga.

Xander menghela napas pelan.

"Bagaimana kondisinya akhir-akhir ini?"

Emily terlihat berpikir sesaat. "Maksud Anda?"

"Kaluna."

Hening.

Emily langsung memahami pertanyaan itu. Xander tidak sedang bertanya tentang pekerjaan. Ia sedang bertanya sebagai kakak laki-laki.

"Miss Vance baik-baik saja."

Xander mengangkat sebelah alis. "Itu klise."

Emily langsung tertawa kecil. Dan untuk pertama kalinya malam itu, ekspresi tegang di wajah Xander sedikit mencair.

"Baiklah." Emily menyerah.

"Kalau sebagai orang yang melihatnya setiap hari..." Wanita itu menghela napas. "Dia kelelahan."

Tatapan Xander langsung berubah.

Emily melanjutkan.

"Dua minggu terakhir hampir tidak ada hari libur. Dia tidur paling cepat jam dua pagi. Dan bangun lagi sebelum jam enam."

Xander mengusap rahangnya pelan. Itu terdengar sangat seperti Kaluna. "Tapi dia tidak akan mengakuinya."

"Tentu saja tidak."

Emily mengangguk setuju. "Kalau saya bilang dia harus istirahat, biasanya saya yang diusir dari ruangan."

Xander terkekeh pelan. Ya. Itu juga sangat Kaluna.

"Bagaimana mood-nya?"

Emily terdiam beberapa saat. Lalu menjawab jujur. "Lebih buruk dari biasanya."

"Seberapa buruk?"

Emily memiringkan kepala sedikit.

"Minggu lalu seorang direktur hampir menangis saat keluar dari ruang rapat."

Xander langsung tertawa. Tawa pertama yang benar-benar terdengar malam itu.

"Itu cukup buruk."

"Sangat buruk."

Keduanya kembali terdiam.

Lalu Emily menatap pintu ruang kerja Ethan.

"Apakah Tuan Ethan benar-benar akan melakukannya?"

Pertanyaan itu membuat senyum Xander perlahan menghilang. Beberapa detik berlalu sebelum ia menjawab. "Aku harap tidak."

Dan untuk pertama kalinya... Emily melihat sesuatu yang jarang terlihat di wajah Xander Vance. Kekhawatiran.

Karena jika Ethan benar-benar menjalankan rencananya, maka orang yang paling terluka bukanlah dirinya. Melainkan adik perempuan yang selama lima tahun terakhir telah mempertaruhkan seluruh hidupnya untuk membangun Eve Group.

Tepat saat itu.

Klik.

Pintu ruang kerja Ethan terbuka. Emily dan Xander langsung menoleh bersamaan. Dan di sana, Kaluna berdiri di ambang pintu. Dengan wajah yang terlalu tenang. Yang justru membuat Xander tahu bahwa situasinya jauh lebih buruk daripada yang ia bayangkan.

Kaluna melangkah keluar dari ruang kerja tanpa menoleh ke belakang.

"Miss Vance..."

Emily langsung mendekat. Namun Kaluna hanya mengangkat satu tangan kecil. Isyarat agar tidak bertanya apa pun. Emily langsung diam. Sedangkan Xander memperhatikan wajah adiknya selama beberapa detik. Terlalu tenang. Terlalu dingin. Dan itu tidak pernah menjadi pertanda baik.

"Kaluna."

Langkah wanita itu berhenti. Hanya sesaat. Lalu kembali berjalan.

Xander menghela napas pelan sebelum menyusul. "Aku perlu bicara denganmu."

"Tidak." Jawab kaluna cepat. Terlalu cepat. Seolah ia bahkan tidak membutuhkan waktu untuk berpikir.

"Kaluna."

"Aku sedang tidak ingin mendengar apa pun."

Suara sepatu hak tinggi Kaluna terus menggema di sepanjang koridor.

Tok.

Tok.

Tok.

Terdengar cepat, tegas dan marah.

"Aku baru tahu soal ini."

Kalimat itu akhirnya berhasil membuat Kaluna berhenti. Perlahan wanita itu berbalik. Tatapan coklatnya langsung menghantam Xander. Dingin. Tajam. Menusuk. "Kau baru tahu?"

Xander mengangguk. "Aku tidak tahu Papa akan membawa Eve Group ke dalam ini."

Kaluna tertawa kecil. Tawa yang sama sekali tidak terdengar lucu.

"Tentu."

"Aku serius."

"Dan aku harus percaya?"

Hening.

Xander menatap adiknya tanpa berkedip. "Aku tidak berbohong."

Kaluna menggeleng pelan. Entah kenapa. Justru itu yang membuat dadanya semakin sesak.

"Kau tahu bagian yang paling menyebalkan dari semua ini, Xander?"

Xander tidak menjawab.

"Aku selalu jadi orang terakhir yang tahu."

Hening.

Tatapan Kaluna mulai memerah. Bukan karena menangis. Karena marah. "Papa tahu."

"Paman-paman tahu."

"Kau tahu."

"Aku tidak tahu."

"Kaluna,"

"Tidak."

Kaluna memotong. Suara wanita itu akhirnya meninggi. Untuk pertama kalinya sejak keluar dari ruang kerja Ethan. "Tidak kali ini." Dada Kaluna naik turun.

Lima tahun. Lima tahun ia membangun Eve Group. Lima tahun ia mengorbankan hampir seluruh hidupnya. Dan sekarang, Ayahnya menjadikan perusahaan itu sebagai alat untuk memaksanya menikah.

"Apa kau tahu rasanya?" Suara Kaluna mulai bergetar. "Bekerja siang malam. Membangun sesuatu dari nol."

"Lalu melihat semuanya bisa diambil hanya karena aku tidak mengikuti keinginan keluarga?"

Xander terdiam. Karena ia tidak memiliki jawaban untuk itu.

Kaluna tertawa hambar. "Aneh ya."

Tatapannya bertemu dengan mata kakaknya. "Sekeras apa pun aku berusaha..." Senyumnya perlahan menghilang. "...Papa tetap memilihmu."

Hening.

Koridor itu mendadak terasa jauh lebih sunyi. Emily yang berdiri tidak jauh dari sana bahkan tidak berani bergerak.

Xander menelan ludah. "Kaluna, Aku tidak pernah meminta semua ini."

Dan kalimat itu, entah kenapa justru membuat Kaluna semakin terluka.

"Tapi kau selalu mendapatkannya." Jawabannya pelan. Sangat pelan. Namun terasa jauh lebih menyakitkan daripada teriakan apa pun.

"Kau mendapatkan kepercayaan Papa."

"Kau mendapatkan tempat yang selalu ingin aku miliki."

"Kau mendapatkan semua hal yang bahkan tidak pernah diberi kesempatan untuk kuperjuangkan."

Wajah Xander mengeras. Ia benar-benar mendengar luka yang selama ini disimpan adiknya. Sejak kematian ibu mereka. Sejak bertahun-tahun lalu. Dan mungkin... Sejak mereka masih anak-anak.

"Aku tidak pernah bersaing denganmu, Luna."

Kaluna tersenyum pahit. "Tapi aku selalu kalah darimu."

Hening. terasa lebih lama dan menyakitkan.

Sampai akhirnya Kaluna menarik napas panjang. Ia lelah. Terlalu lelah untuk melanjutkan pertengkaran ini. "Ayo, Emily."

"Miss.."

"Ayo."

Emily langsung mengambil tas kerja Kaluna. Sementara Kaluna berjalan melewati Xander begitu saja. Tanpa menoleh. Tanpa pamit. Tanpa memberi kesempatan bagi pria itu untuk menjelaskan apa pun. Xander hanya bisa berdiri diam. Memperhatikan punggung adiknya yang semakin menjauh. Dengan perasaan kalah yang bahkan tidak pernah bisa ia jelaskan kepada siapa pun.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Marriage With Benefits   SEPIRING PASTA

    Penthouse pribadi Kaluna berada di lantai paling atas salah satu gedung milik Eve Group. Suasana nya terlalu sunyi meskipun di dalamnya terlihat sangat mewah. Malam sudah hampir pukul sepuluh ketika Kaluna akkhirnya berhasil membawa Aldrich pulang. Anak itu tertidur bahkan sebelum mobil meninggalkan area parkir Lune et Pain. Dan kini anak itu sudah terlelap di kamarnya. Kaluna menggendong putranya perlahan menuju kamar. Ia membaringkannya dengan hati-hati di atas tempat tidur kecil, menarik selimut hingga menutupi tubuh mungilnya, lalu menyibakkan beberapa helai rambut yang jatuh menutupi dahinya. Sebuah kecupan singkat mendarat di kening Aldrich. "Selamat tidur, Sayang." Lampu kamar dipadamkan. klik, begitu pintu kamar tertutup, seluruh penthouse kembali di selimuti keheningan. Kaluna berjalan menuju jendela kaca setinggi langit-langit. Segelas air putih berada di tangannya. Dari sana, gemerlap lampu Jakarta terbentang begitu indah, tetapi malam ini ia sama sekali tidak mampu menik

  • Marriage With Benefits   BAB 5

    Jane memperhatikan Kaluna beberapa detik dari balik meja barista. Wajah itu sudah terlalu ia kenal. Dan wajah seperti itu biasanya berarti seseorang baru saja membuat Kaluna ingin membakar satu gedung penuh. Jane mengambil sebuah cangkir. Lalu mulai meracik sesuatu. Tidak lama kemudian, ia berjalan mendekati sofa tempat Kaluna duduk bersama Aldrich. Sebuah cangkir hangat diletakkannya tepat di depan Kaluna. "Minum." Kaluna melirik isi cangkir itu. Lalu mengernyit. "Aku pesan kopi." "Tidak." "Jane." "Tidak." Kaluna menatap sahabatnya datar. Jane balas menatapnya tanpa takut sedikit pun. Emily yang duduk tidak jauh dari sana langsung menahan senyum. Sudah bertahun-tahun. Dan hanya Jane satu-satunya manusia di bumi yang berani memperlakukan Kaluna Vance seperti anak kecil. "Aku tidak suka ini." "Makanya aku yang pilih." Kaluna mendengus, Jane kemudian ikut duduk di hadapannya. "Kau belum makan." "Aku tidak lapar." "Kau marah." "Aku tahu." "Kau juga keras k

  • Marriage With Benefits   Lune Et Pain

    Beberapa menit kemudian, Mercedes-Benz hitam itu akhirnya memasuki area parkir yang menghadap langsung ke danau kota. Lune et Pain. Sebuah coffee and pastry house berukuran tidak terlalu besar yang berdiri di salah satu sudut paling strategis di pusat kota Jakarta. Bangunannya didominasi kaca-kaca tinggi dengan sentuhan kayu hangat dan pencahayaan kekuningan yang nyaman. Dari teras belakang, pengunjung bisa menikmati pemandangan danau kota yang memantulkan cahaya lampu malam seperti ribuan bintang yang jatuh ke permukaan air. Tempat itu tidak pernah dirancang untuk menjadi jaringan bisnis besar. Tidak seperti Eve Group. Tidak seperti hotel-hotel mewah milik keluarga Vance. Lune et Pain dibangun untuk alasan yang jauh lebih sederhana. Karena seseorang pernah bermimpi memiliki tempat yang dipenuhi aroma kopi dan roti hangat. Dan seseorang itu adalah Kaluna. Sayangnya, hidup membawanya ke arah yang berbeda. Karena itulah selama lima tahun terakhir, tempat ini dikelola oleh oran

  • Marriage With Benefits   SELALU BUKAN AKU

    Pintu ruang kerja Ethan masih tertutup rapat. Sementara di luar koridor lantai dua yang sunyi itu, Xander berdiri di dekat jendela besar yang menghadap taman belakang mansion. Tangannya masuk ke saku celana. Tatapannya sesekali melirik ke arah pintu ruang kerja ayahnya. Sudah hampir tiga puluh menit. Dan itu bukan pertanda baik. Suara langkah kaki terdengar dari ujung koridor. Xander menoleh.Emily.Wanita muda itu baru saja naik dari lantai bawah setelah salah satu pelayan mempersilahkannya menunggu di area keluarga. Begitu melihat Xander, Emily langsung membungkukkan kepala sedikit. "Tuan Xander."Xander tersenyum tipis. "Emily."Mereka sudah cukup sering bertemu selama lima tahun terakhir. Bagaimanapun juga, Emily adalah orang yang hampir selalu berada di sisi Kaluna."Masih menunggu?" tanya Emily pelan.Xander mengangguk."Sudah berapa lama?""Hampir setengah jam."Emily meringis kecil. "Kalau sudah selama itu...""Mereka sedang bertengkar."Emily tidak menyelesaikan kalimatnya. N

  • Marriage With Benefits   ULTIMATUM

    Pintu ruang kerja itu tertutup pelan.Klik.Keheningan langsung mengambil alih ruangan.Kaluna menyilangkan kedua tangannya di dada. "Baik." Tatapannya tidak pernah lepas dari Ethan. "Apa yang sebenarnya Papa inginkan?"Ethan tidak langsung menjawab. Pria itu justru bangkit dari kursinya dan berjalan menuju jendela besar yang menghadap taman belakang kediaman keluarga Vance. Usianya sudah hampir enam puluh tahun, namun punggungnya masih tegak. Wibawanya masih cukup untuk membuat sebagian besar orang memilih diam. Namun Kaluna bukan sebagian besar orang."Aku tidak meragukan kemampuanmu."Kaluna mengangkat alis. "Kalau begitu berhenti mengatur hidupku.""Aku tidak sedang mengatur hidupmu." Jawab Ethan cepat. "Aku sedang mempersiapkanmu."Kaluna tertawa pendek. "Terdengar sama saja.""Dalam beberapa tahun terakhir aku masih bisa mengawasi banyak hal."Kaluna tidak menjawab."Aku masih bisa memastikan tidak ada seorang pun yang menyentuh keluargaku.""Aku masih bisa memastikan tidak ada

  • Marriage With Benefits   KALUNA

    Jika seseorang bertanya siapa wanita paling berpengaruh di Indonesia saat ini, nama Kaluna Evelyn Vance hampir selalu masuk dalam daftar teratas. Di usia tiga puluh lima tahun, ia berhasil melakukan sesuatu yang bahkan dianggap mustahil oleh banyak orang. Membangun Eve Group dari nol. Hanya dalam lima tahun. Lima tahun lalu, saat perceraian itu mengancurkan hidupnya, sebagian besar orang mengira Kaluna Evelyn akan tenggelam bersama skandal yang menyeret namanya. Namun, mereka salah. Alih-alih menghilang, Kaluna justru membangun Eve Group dari nol tanpa campur tangan Ayahnya.Perusahaan yang awalnya dianggap sebagai proyek ambisius seorang janda muda kini menjelma menjadi salah satu grup bisnis terbesar di Indonesia. Dalam lima tahun, Eve Group berhasil memperluas bisnisnya ke berbagai sektor strategis dan menjadi salah satu kekuatan ekonomi yang tidak bisa lagi dipandang sebelah mata.Dan pagi itu, seperti biasa, kaluna sedang memimpin rapat direksi. "Proyeksi kuartal ketiga?"Seora

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status