Share

Marriage With Benefits
Marriage With Benefits
Author: LOVEBITES

KALUNA

Author: LOVEBITES
last update publish date: 2026-06-02 14:25:31

Jika seseorang bertanya siapa wanita paling berpengaruh di Indonesia saat ini, nama Kaluna Evelyn Vance hampir selalu masuk dalam daftar teratas. Di usia tiga puluh lima tahun, ia berhasil melakukan sesuatu yang bahkan dianggap mustahil oleh banyak orang. Membangun Eve Group dari nol. Hanya dalam lima tahun.

Lima tahun lalu, saat perceraian itu mengancurkan hidupnya, sebagian besar orang mengira Kaluna Evelyn akan tenggelam bersama skandal yang menyeret namanya. Namun, mereka salah. Alih-alih menghilang, Kaluna justru membangun Eve Group dari nol tanpa campur tangan Ayahnya.

Perusahaan yang awalnya dianggap sebagai proyek ambisius seorang janda muda kini menjelma menjadi salah satu grup bisnis terbesar di Indonesia. Dalam lima tahun, Eve Group berhasil memperluas bisnisnya ke berbagai sektor strategis dan menjadi salah satu kekuatan ekonomi yang tidak bisa lagi dipandang sebelah mata.

Dan pagi itu, seperti biasa, kaluna sedang memimpin rapat direksi.

"Proyeksi kuartal ketiga?"

Seorang direktur segera berdiri. "Naik sebelas persen dari target awal, Bu."

"Kurang."

Satu kata namun terdengar datar dan tegas. Membuat seluruh ruangan langsung hening. Kaluna menutup map di depannya., tatapan coklatnya menyapu seluruh peserta rapat. "Saya tidak membangun perusahaan ini untuk puas dengan angka yang bahkan tidak sempurna."

Tidak ada yang berani menyela, karena semua orang tahu satu hal. Kaluna mungkin terlihat elegan dengan blazer putih dan rambut cokelat gelap yang tertata rapi, namun di ruang rapat, ia jauh lebih berbahaya daripada sebagian besar CEO pria yang menjadi kompetitornya.

Ketukan pelan terdengar dari pintu.

Tok.

Tok.

Tok.

Kaluna mengangkat kepalanya, "Masuk."

Pintu terbuka, dan seorang wanita muda melangkah masuk sambil membawa tablet kerjanya. Emily, asisten oribadi sekaligus sekretaris yang sudah bekerja bersamanya selama hampir lima tahun ini.

"Miss Vance, " Emily mendekat, "Maaf menganggu."

Kaluna mengangguk kecil, "Ada apa?"

Emily terlihat ragu selama beberapa detik, hal yang jarang terjadi dan itu langsung membuat Kaluna curiga. "Ada apa Emily?"

"Tuan Ethan ingin bertemu."

Ruangan mendadak sunyi. Beberapa direksi refleks menundukkan kepala, kaluna sendiri hanya menghela napas pelan.

"Katakan padanya, aku akan datang malam nanti."

"Tapii..."

Emily kemudian menyerahkan tabletnya, "beliau meminta Anda datang sekarang."

"Katakan pada Ethan, aku sedang ada pertemuan dengan direksi."

Emily terlihat mulai kesal, memberitahu Kaluna tentang ayahnya sama aja dengan menguji kesabarannya. Dia kemudian sedikit menunduk dan berbisik tepat di telinga Kaluna.

"Saya bahkan sudah mengatakan anda sangaaat sangaaat sangaat sibuk miss, tapi sayangnya Tuan Ethan mengancam akan..."

Kaluna langsung membanting tabletnya sendiri, "Sekian untuk hari ini."

Dan tidak ada yang berani memprotesnya.

Beberapa menit kemudian, mobil hitam miliknya sudah melaju meninggalkan kantor pusat Eve Group menuju kawasan elite Menteng. Kaluna duduk diam di kursi belakang, sementara Emily berada di sampingnya.

"Kira-kira soal apa?" Tanya Emily hati-hati.

Kaluna tersenyum tipis, "Saya bahkan tidak perlu menebaknya."

Emily langsung mengerti. Ini akan tentang keluarga, selalu permasalahan keluarga. Sudah lima tahun sejak perceraian Kaluna. Lima tahun sejak ia membangun Eve group. Lima tahun pula keluargana tidak pernah berhenti berusaha mengatur hidupnya.

Mobil akhirnya memasuki gerbang utama kediaman keluarga Vance. Bangunan megah bergaya neoklasik itu berdiri angkuh di atas lahan luas, lebih menyerupai istana dibanding rumah tinggal biasa. Kaluna turun tanpa banyak bicara, diikuti Emily.

"Saya tunggu disini, Miss."

Kaluna mengangguk, lalu melangkah masuk. Begitu pintu besar itu terbuka, ia langsung menemukan seluruh anggota keluarganya. yang sudah berkumpul di ruang kerja Ethan Vance. Paman-pamannya. Beberapa pemegang saham keluarga. Dan tentu saja, Xander. Kakak laki-lakinya.Tidak ada yang mengundangnya untuk minum teh sore. Kaluna langsung tahu itu. Ethan Vance duduk di balik meja besar dari kayu mahoni. Tatapannya tenang, terlalu tenang.

"Papa memanggilku?"

Ethan mengangguk. "Duduk."

Kaluna tidak suka nada itu, nada yang sama yang biasa digunakan ayahnya ketika hendak membuat keputusan penting atas hidup orang lain. Tetapi ia tetap duduk. Hening sesaat memenuhi ruangan. Lalu Ethan membuka sebuah map hitam di depannya.

"Usiamu tiga puluh lima tahun."

Kaluna mengangkat alis. "Aku tahu."

"Kau memiliki seorang anak."

"Aku juga tahu."

Beberapa orang di ruangan itu mulai terlihat tidak nyaman. Karena mereka tahu ke mana arah pembicaraan ini.Dan Kaluna juga tahu. Sayangnya. Ia sudah terlalu sering mendengar topik yang sama.

"Papa." Kaluna menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Kalau ini tentang perjodohan lagi, kita bisa menghemat waktu masing-masing."

Namun Ethan tidak tersenyum. Tidak juga marah, yang justru membuat Kaluna merasa tidak nyaman. Pria itu menutup map di depannya. Lalu berkata tenang, "Kali ini berbeda."

Untuk pertama kalinya, Kaluna benar-benar memperhatikan. Tatapan Ethan bertemu dengan tatapannya. Dan kalimat berikutnya membuat seluruh ruangan membeku.

"Kamu harus menikah."

Kaluna menatap ayahnya selama beberapa detik, lalu tertawa kecil. sebuah tawa yang terdengar lebih seperti lelucon dan ketidakpercayaan. namun tidak ada yang tertawa selain dirinya, dan saat itulah Kaluna menyadari sesuatu, Ayahnya memang serius. Senyum di wajahnya perlahan menghilang.

"Oh." Ia menyandarkan tubuh ke kursi. "Kita kembali ke topik ini lagi."

"Ini keputusan." suara Ethan tetap tenang.

Kaluna mendecakkan lidahnya, "Keputusan siapa? pikir baik-baik sebelum menjawab, Papa!"

Beberapa paman yang duduk di sisi ruangan langsung saling berpandangan. Mereka sangat mengenal Kaluna, dan mereka tahu nada bicara itu berarti perang sudah dimulai. Namun, Ethan sendiri tidak terlihat terganggu.

"Keputusan keluarga."

Kaluna tertawa hambar, "Aku bahkan tidak punya keluarga selain Aldrich, jadi keluarga yang mana yang papa maksud? langsung saja kali ini untuk proyek siapa?"

"Kaluna. jaga bicaramu!!!"

"Papa sudah pernah mencoba menjodohkanku,lebih dari sekali."

"Kau menolak semuanya."

"Tentu saja." Tatapan Kaluna menajam, "Aku tidak butuh suami."

"Setiap orang butuh seseorang."

"Aku tidak."

Hening.

Kaluna melanjutkan, "Aku punya Aldrich, aku punya perusahaan, Aku punya hidupku dan aku baik-baik saja."

"Tidak, kau harus punya seseorang yang mendampingimu saat ini."

"Untuk apoa? aku mampu melakukannya sendiri."

"Tidak ada yang meragukan kemampuanmu." jawab Ethan.

Kaluna memejamkan mata sesaat, percakapan ini mulai melelahkan baginya. "Sekali lagi, " ia membuka mata. " Aku tidak berniat menikah."

"Kau terlalu keras kepala, Kaluna."

Kaluna menoleh.

Salah satu pamannya menyandarkan tubuh ke kursi.

"Kau pikir karena berhasil membangun Eve Group, kau bisa mengabaikan semua nasihat keluarga?"

Kaluna tersenyum tipis.

"Bukan."

"Lalu?"

"Aku mengabaikan nasihat keluarga karena sebagian besar nasihat itu buruk."

Beberapa orang langsung menahan napas.

"Kaluna!" bentak pria itu.

Namun Kaluna tidak berhenti. "Kalian tidak pernah peduli apa yang aku inginkan. Kalian hanya peduli siapa yang bisa menguntungkan keluarga ini berikutnya."

"Kaluna." Paman lainnya ikut bicara. "Kau tidak mungkin sendiri selamanya."

Kaluna langsung tertawa, lucu sekali. Mereka berbcara seolah dirinya gadis dua puluh tahun yang baru lulus kuliah. Padahal ia sudah pernah menikah. Sudah pernah jatuh cinta. Dan sudah pernah kehilangan.

"Yang kalian khawatirkan sebenarnya apa?"

Tidak ada yang menjawab.

Kaluna mengangguk pelan. "Tepat sekali."

Tatapannya menyapu seluruh ruangan. "Bukan soal aku."

"Bukan soal kebahagiaanku, bukan soal Aldrich." Suaranya mulai mengeras. "Ini soal keluarga Vance."

Ruangan mendadak sunyi. Tidak ada yang membantah. Karena Kaluna benar.

Ethan akhirnya membuka suara. "Keluarga ini selalu menjadi tanggung jawab kita."

"Aku sudah menjalankan tanggung jawabku." Kaluna langsung membalas.

"Aku membangun Eve Group."

"Aku menjaga nama keluarga."

"Aku membesarkan putraku."

"Apa lagi yang kurang?"

Ethan terdiam beberapa detik. Lalu pria itu berkata pelan. "Kau membutuhkan seseorang yang bisa berdiri di sampingmu."

Kaluna menggeleng. "Tidak."

"Kau hanya belum menemukannya."

"Aku tidak mencarinya."

Dan kali ini... Jawaban Kaluna terdengar jauh lebih jujur. Karena memang itulah kenyataannya. Ia tidak pernah mencari. Tidak pernah membuka pintu. Tidak pernah memberi kesempatan.

Baginya... Aldrich sudah cukup. Pekerjaannya sudah cukup. Hidupnya sudah cukup. Atau setidaknya itulah yang selalu ia yakini.

Ethan menatap putrinya lama. Sebelum akhirnya menutup map di depannya.

"Semua keluar."

Kalimat itu membuat seluruh ruangan membeku. Para paman langsung saling berpandangan.

Xander mengangkat kepala. "Papa?"

"Aku ingin bicara dengan putriku." Suara Ethan terdengar datar. "Berdua."

Hening.

Tidak ada yang berani membantah. Satu per satu mereka berdiri dan Xander menjadi orang terakhir yang meninggalkan ruangan. Sebelum keluar, pria itu sempat menatap Kaluna. Seolah ingin mengatakan sesuatu. Namun urung.

Pintu perlahan tertutup.

Klik.

Kini hanya tersisa Ethan dan Kaluna. Dua orang paling keras kepala dalam keluarga Vance. Kaluna menyilangkan kedua tangan di dada. "Baik."

Tatapannya bertemu dengan ayahnya.

"Apa yang sebenarnya Papa inginkan?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Marriage With Benefits   SEPIRING PASTA

    Penthouse pribadi Kaluna berada di lantai paling atas salah satu gedung milik Eve Group. Suasana nya terlalu sunyi meskipun di dalamnya terlihat sangat mewah. Malam sudah hampir pukul sepuluh ketika Kaluna akkhirnya berhasil membawa Aldrich pulang. Anak itu tertidur bahkan sebelum mobil meninggalkan area parkir Lune et Pain. Dan kini anak itu sudah terlelap di kamarnya. Kaluna menggendong putranya perlahan menuju kamar. Ia membaringkannya dengan hati-hati di atas tempat tidur kecil, menarik selimut hingga menutupi tubuh mungilnya, lalu menyibakkan beberapa helai rambut yang jatuh menutupi dahinya. Sebuah kecupan singkat mendarat di kening Aldrich. "Selamat tidur, Sayang." Lampu kamar dipadamkan. klik, begitu pintu kamar tertutup, seluruh penthouse kembali di selimuti keheningan. Kaluna berjalan menuju jendela kaca setinggi langit-langit. Segelas air putih berada di tangannya. Dari sana, gemerlap lampu Jakarta terbentang begitu indah, tetapi malam ini ia sama sekali tidak mampu menik

  • Marriage With Benefits   BAB 5

    Jane memperhatikan Kaluna beberapa detik dari balik meja barista. Wajah itu sudah terlalu ia kenal. Dan wajah seperti itu biasanya berarti seseorang baru saja membuat Kaluna ingin membakar satu gedung penuh. Jane mengambil sebuah cangkir. Lalu mulai meracik sesuatu. Tidak lama kemudian, ia berjalan mendekati sofa tempat Kaluna duduk bersama Aldrich. Sebuah cangkir hangat diletakkannya tepat di depan Kaluna. "Minum." Kaluna melirik isi cangkir itu. Lalu mengernyit. "Aku pesan kopi." "Tidak." "Jane." "Tidak." Kaluna menatap sahabatnya datar. Jane balas menatapnya tanpa takut sedikit pun. Emily yang duduk tidak jauh dari sana langsung menahan senyum. Sudah bertahun-tahun. Dan hanya Jane satu-satunya manusia di bumi yang berani memperlakukan Kaluna Vance seperti anak kecil. "Aku tidak suka ini." "Makanya aku yang pilih." Kaluna mendengus, Jane kemudian ikut duduk di hadapannya. "Kau belum makan." "Aku tidak lapar." "Kau marah." "Aku tahu." "Kau juga keras k

  • Marriage With Benefits   Lune Et Pain

    Beberapa menit kemudian, Mercedes-Benz hitam itu akhirnya memasuki area parkir yang menghadap langsung ke danau kota. Lune et Pain. Sebuah coffee and pastry house berukuran tidak terlalu besar yang berdiri di salah satu sudut paling strategis di pusat kota Jakarta. Bangunannya didominasi kaca-kaca tinggi dengan sentuhan kayu hangat dan pencahayaan kekuningan yang nyaman. Dari teras belakang, pengunjung bisa menikmati pemandangan danau kota yang memantulkan cahaya lampu malam seperti ribuan bintang yang jatuh ke permukaan air. Tempat itu tidak pernah dirancang untuk menjadi jaringan bisnis besar. Tidak seperti Eve Group. Tidak seperti hotel-hotel mewah milik keluarga Vance. Lune et Pain dibangun untuk alasan yang jauh lebih sederhana. Karena seseorang pernah bermimpi memiliki tempat yang dipenuhi aroma kopi dan roti hangat. Dan seseorang itu adalah Kaluna. Sayangnya, hidup membawanya ke arah yang berbeda. Karena itulah selama lima tahun terakhir, tempat ini dikelola oleh oran

  • Marriage With Benefits   SELALU BUKAN AKU

    Pintu ruang kerja Ethan masih tertutup rapat. Sementara di luar koridor lantai dua yang sunyi itu, Xander berdiri di dekat jendela besar yang menghadap taman belakang mansion. Tangannya masuk ke saku celana. Tatapannya sesekali melirik ke arah pintu ruang kerja ayahnya. Sudah hampir tiga puluh menit. Dan itu bukan pertanda baik. Suara langkah kaki terdengar dari ujung koridor. Xander menoleh.Emily.Wanita muda itu baru saja naik dari lantai bawah setelah salah satu pelayan mempersilahkannya menunggu di area keluarga. Begitu melihat Xander, Emily langsung membungkukkan kepala sedikit. "Tuan Xander."Xander tersenyum tipis. "Emily."Mereka sudah cukup sering bertemu selama lima tahun terakhir. Bagaimanapun juga, Emily adalah orang yang hampir selalu berada di sisi Kaluna."Masih menunggu?" tanya Emily pelan.Xander mengangguk."Sudah berapa lama?""Hampir setengah jam."Emily meringis kecil. "Kalau sudah selama itu...""Mereka sedang bertengkar."Emily tidak menyelesaikan kalimatnya. N

  • Marriage With Benefits   ULTIMATUM

    Pintu ruang kerja itu tertutup pelan.Klik.Keheningan langsung mengambil alih ruangan.Kaluna menyilangkan kedua tangannya di dada. "Baik." Tatapannya tidak pernah lepas dari Ethan. "Apa yang sebenarnya Papa inginkan?"Ethan tidak langsung menjawab. Pria itu justru bangkit dari kursinya dan berjalan menuju jendela besar yang menghadap taman belakang kediaman keluarga Vance. Usianya sudah hampir enam puluh tahun, namun punggungnya masih tegak. Wibawanya masih cukup untuk membuat sebagian besar orang memilih diam. Namun Kaluna bukan sebagian besar orang."Aku tidak meragukan kemampuanmu."Kaluna mengangkat alis. "Kalau begitu berhenti mengatur hidupku.""Aku tidak sedang mengatur hidupmu." Jawab Ethan cepat. "Aku sedang mempersiapkanmu."Kaluna tertawa pendek. "Terdengar sama saja.""Dalam beberapa tahun terakhir aku masih bisa mengawasi banyak hal."Kaluna tidak menjawab."Aku masih bisa memastikan tidak ada seorang pun yang menyentuh keluargaku.""Aku masih bisa memastikan tidak ada

  • Marriage With Benefits   KALUNA

    Jika seseorang bertanya siapa wanita paling berpengaruh di Indonesia saat ini, nama Kaluna Evelyn Vance hampir selalu masuk dalam daftar teratas. Di usia tiga puluh lima tahun, ia berhasil melakukan sesuatu yang bahkan dianggap mustahil oleh banyak orang. Membangun Eve Group dari nol. Hanya dalam lima tahun. Lima tahun lalu, saat perceraian itu mengancurkan hidupnya, sebagian besar orang mengira Kaluna Evelyn akan tenggelam bersama skandal yang menyeret namanya. Namun, mereka salah. Alih-alih menghilang, Kaluna justru membangun Eve Group dari nol tanpa campur tangan Ayahnya.Perusahaan yang awalnya dianggap sebagai proyek ambisius seorang janda muda kini menjelma menjadi salah satu grup bisnis terbesar di Indonesia. Dalam lima tahun, Eve Group berhasil memperluas bisnisnya ke berbagai sektor strategis dan menjadi salah satu kekuatan ekonomi yang tidak bisa lagi dipandang sebelah mata.Dan pagi itu, seperti biasa, kaluna sedang memimpin rapat direksi. "Proyeksi kuartal ketiga?"Seora

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status