Share

ULTIMATUM

Author: LOVEBITES
last update publish date: 2026-06-02 14:27:52

Pintu ruang kerja itu tertutup pelan.

Klik.

Keheningan langsung mengambil alih ruangan.

Kaluna menyilangkan kedua tangannya di dada. "Baik." Tatapannya tidak pernah lepas dari Ethan. "Apa yang sebenarnya Papa inginkan?"

Ethan tidak langsung menjawab. Pria itu justru bangkit dari kursinya dan berjalan menuju jendela besar yang menghadap taman belakang kediaman keluarga Vance. Usianya sudah hampir enam puluh tahun, namun punggungnya masih tegak. Wibawanya masih cukup untuk membuat sebagian besar orang memilih diam. Namun Kaluna bukan sebagian besar orang.

"Aku tidak meragukan kemampuanmu."

Kaluna mengangkat alis. "Kalau begitu berhenti mengatur hidupku."

"Aku tidak sedang mengatur hidupmu." Jawab Ethan cepat. "Aku sedang mempersiapkanmu."

Kaluna tertawa pendek. "Terdengar sama saja."

"Dalam beberapa tahun terakhir aku masih bisa mengawasi banyak hal."

Kaluna tidak menjawab.

"Aku masih bisa memastikan tidak ada seorang pun yang menyentuh keluargaku."

"Aku masih bisa memastikan tidak ada seorang pun yang berani bermain kotor terhadap Vance group dan Eve group."

Tatapan Ethan beralih ke jendela. "Namun itu tidak akan berlangsung selamanya."

Kaluna mulai memahami arah pembicaraan itu. Dan ia tidak menyukainya.

"Aku akan memiliki tanggung jawab yang lebih besar."

Kaluna hanya menghela napas panjang.

"Kau tahu aku sedang mempersiapkan pencalonan menteri. Papa belum memutuskan apa pun tapi banyak orang yang berharap aku mengambil langkah berikutnya"

Kaluna mengangguk singkat. Tentu saja ia tahu. Sudah berbulan-bulan media membicarakannya. Nama Ethan Vance bahkan disebut sebagai salah satu kandidat terkuat untuk mengisi kursi kementerian pada kabinet berikutnya.

Hening.

"Dan ketika hari itu tiba..." Tatapan Ethan kembali padanya. "...aku tidak bisa terus berdiri di depanmu setiap kali seseorang mencoba menyerang."

Kaluna mengatupkan rahangnya. "Aku bisa menjaga diriku sendiri."

"Aku tahu. Kau selalu bisa."

"Lalu?"

"Semakin tinggi posisi seseorang, semakin banyak musuh yang muncul."

Kaluna mendecakkan lidah.

"Aku tidak punya banyak waktu untuk membicarakan ini, aku tidak tertarik dengan dunia politik papa."

Ethan berbalik. Tatapannya lurus pada putrinya. "Aku memanggilmu karena kau adalah titik terlemahku."

Hening.

Untuk pertama kalinya sejak memasuki ruangan itu, Kaluna benar-benar terdiam.

Ethan melanjutkan.

"Kau pemilik Eve Group."

"Kau pewaris keluarga Vance."

"Kau seorang ibu tunggal dan Sekaligus wanita yang hidup sendirian."

Tatapan Kaluna mulai mengeras. "Aku tidak melihat masalahnya."

"Itulah masalahnya." Jawab Ethan cepat. "Kau selalu berpikir bisa menghadapi semuanya sendiri."

"Karena memang bisa."

"Tidak selamanya."

Kaluna tertawa hambar. "Jadi ini tentang citra politik yang akan papa bangun?"

"Tidak." Suara Ethan terdengar lebih berat kali ini. "Ini tentang perlindungan."

Kaluna menggeleng. "Aku tidak membutuhkan perlindungan."

"Kau membutuhkannya."

"Sudah ku katakan, Aku tidak membutuhkannya."

"Kau membutuhkannya, Kaluna." Untuk pertama kalinya nada suara Ethan meninggi. Ruangan langsung kembali hening. Pria itu menarik napas panjang sebelum melanjutkan.

"Aku mengenal dunia ini lebih lama darimu, Aku tahu bagaimana cara kerja kekuasaan, Aku tahu bagaimana orang-orang menyerang. Dari bisnis, dari politik bahkan dari keluarga sendiri."

Kaluna membeku sesaat. Karena mereka berdua tahu siapa yang dimaksud Ethan. Paman-pamannya. Orang-orang yang sejak dulu diam-diam mengincar pengaruh dalam keluarga Vance.

"Kau pikir mereka menerima Eve Group karena menghormatimu?" Ethan menatap putrinya tajam. "Mereka menerimanya karena aku masih berdiri di belakangmu."

Hening. Kaluna tidak langsung membantah.

Ethan kembali ke kursinya. Lalu membuka map hitam yang sejak tadi berada di atas meja. "Kau tahu apa yang akan terjadi jika aku pensiun?"

Kaluna diam.

"Atau jika aku berhasil masuk kabinet?"

Pria itu mendorong map tersebut ke tengah meja. "Aku membutuhkan seseorang yang bisa berdiri di sisimu."

Kaluna mengernyit.

"Aku tidak membutuhkan pengawal."

"Bukan pengawal."

Ethan membuka map itu dan mengeluarkan beberapa lembar berkas. "Seseorang yang cukup kuat untuk menjadi pasanganmu."

Kaluna langsung memahami arah pembicaraan itu. Wajahnya seketika mengeras. "Papa serius?"

Ethan menggeser berkas pertama ke arahnya. "Jonathan Hale. Pewaris Hale Corporation."

Kaluna bahkan tidak meliriknya. "Tidak."

Ethan mengambil berkas kedua. "Damien Roth. Keluarga Roth memiliki pengaruh besar di parlemen."

"Tidak."

Berkas ketiga. "Leonard Pierce. Mantan perwira militer, sekarang memimpin grup keamanan internasional."

Kaluna tertawa sinis. "Tidak."

Ethan menghela napas panjang. "Kau bahkan belum melihat profil mereka."

"Aku tidak perlu."

"Kaluna."

"Aku tidak akan menikah dengan pria yang dipilihkan orang lain."

Hening.

Tatapan ayah dan anak itu saling bertabrakan. Ethan akhirnya menutup map tersebut.

"Baik."

Kaluna sedikit terkejut. Ia tidak menyangka ayahnya akan menyerah secepat itu. "Baik?" ulangnya.

"Ya."

Ethan menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Aku tidak akan memilihkan suami untukmu."

Kaluna menyipitkan matanya dengan curiga. Ia mengenal ayahnya terlalu baik untuk percaya bahwa pembicaraan ini akan berakhir semudah itu.

"Kalau begitu apa maumu?"

Ethan menatapnya lurus. "Pilih sendiri."

Kaluna membeku. "Apa?"

"Pilih sendiri pria yang menurutmu layak."

"Papa bercanda."

"Aku tidak pernah bercanda soal hal seperti ini."

Hening.

Ethan melanjutkan dengan suara tenang. "Kau benar. Kau bukan anak kecil, Kau cukup cerdas untuk membangun Eve Group. Kau cukup kuat untuk membesarkan Aldrich sendirian. Jadi pilih sendiri pria yang kau anggap mampu berdiri di sampingmu."

Kaluna menyilangkan tangan di dada. "Dan kalau aku tidak mau?"

Tatapan Ethan berubah lebih tajam. "Kalau kau tidak mau, berarti kau memilih tetap sendiri."

"Aku baik-baik saja sendiri."

"Itu yang selalu kau katakan."

Suara Ethan terdengar lebih berat kali ini. "Tapi aku tidak akan selalu ada, Kaluna."

Hening.

"Aku adalah alasan banyak orang masih berpikir dua kali sebelum menyentuhmu."

"Aku adalah alasan keluarga ini tetap menghormatimu."

"Aku adalah alasan para investor dan lawan bisnismu menjaga jarak."

Kaluna mengepalkan tangannya. Karena sebagian dari ucapan itu benar. "Aku tidak meminta semua itu."

"Tidak." Ethan mengangguk pelan. "Tapi aku tetap harus memikirkan apa yang terjadi setelah aku tidak bisa lagi melindungimu."

Ruangan kembali sunyi. Lalu Ethan membuka map lain yang berada di sampingnya. Kali ini bukan berisi profil pria-pria pilihan. Melainkan dokumen perusahaan. Jantung Kaluna langsung berdegup lebih cepat.

"Eve Group." Suara Ethan tenang. "Seseorang harus memastikan perusahaan itu tetap aman."

Tatapan Kaluna menajam. "Apa maksud Papa?"

"Jika dalam tiga bulan kau tidak bisa menunjukkan bahwa ada seseorang yang mampu berdiri di sisimu..." Ethan berhenti sejenak. "...maka aku akan menunjuk Xander sebagai CEO Eve Group."

Kaluna langsung berdiri. "Kau tidak bisa melakukan itu."

"Aku bisa."

"Itu perusahaanku."

"Aku tahu."

"Aku yang membangunnya."

"Aku tahu."

"Jadi jangan gunakan Eve Group untuk memaksaku menikah."

Ethan menatap putrinya tanpa berkedip. "Aku tidak memaksamu menikah."

Hening.

"Aku memberimu pilihan."

Kaluna membeku.

"Pilih salah satu pria yang tadi aku tunjukkan, Atau cari pria pilihanmu sendiri."

"Siapa pun dia, aku tidak peduli."

"Asalkan dia cukup kuat untuk berdiri di sampingmu."

"Asalkan dia mampu melindungi Aldrich."

"Asalkan dia mampu menghadapi dunia yang akan datang."

Hening panjang memenuhi ruangan. Lalu Ethan menjatuhkan ultimatum terakhirnya. "Tiga bulan, Kaluna."

Tatapan mereka bertabrakan.

"Jika setelah tiga bulan kau tetap memilih sendirian..." Ethan menutup map di depannya.

"...maka Xander yang akan mengambil alih Eve Group."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Marriage With Benefits   SEPIRING PASTA

    Penthouse pribadi Kaluna berada di lantai paling atas salah satu gedung milik Eve Group. Suasana nya terlalu sunyi meskipun di dalamnya terlihat sangat mewah. Malam sudah hampir pukul sepuluh ketika Kaluna akkhirnya berhasil membawa Aldrich pulang. Anak itu tertidur bahkan sebelum mobil meninggalkan area parkir Lune et Pain. Dan kini anak itu sudah terlelap di kamarnya. Kaluna menggendong putranya perlahan menuju kamar. Ia membaringkannya dengan hati-hati di atas tempat tidur kecil, menarik selimut hingga menutupi tubuh mungilnya, lalu menyibakkan beberapa helai rambut yang jatuh menutupi dahinya. Sebuah kecupan singkat mendarat di kening Aldrich. "Selamat tidur, Sayang." Lampu kamar dipadamkan. klik, begitu pintu kamar tertutup, seluruh penthouse kembali di selimuti keheningan. Kaluna berjalan menuju jendela kaca setinggi langit-langit. Segelas air putih berada di tangannya. Dari sana, gemerlap lampu Jakarta terbentang begitu indah, tetapi malam ini ia sama sekali tidak mampu menik

  • Marriage With Benefits   BAB 5

    Jane memperhatikan Kaluna beberapa detik dari balik meja barista. Wajah itu sudah terlalu ia kenal. Dan wajah seperti itu biasanya berarti seseorang baru saja membuat Kaluna ingin membakar satu gedung penuh. Jane mengambil sebuah cangkir. Lalu mulai meracik sesuatu. Tidak lama kemudian, ia berjalan mendekati sofa tempat Kaluna duduk bersama Aldrich. Sebuah cangkir hangat diletakkannya tepat di depan Kaluna. "Minum." Kaluna melirik isi cangkir itu. Lalu mengernyit. "Aku pesan kopi." "Tidak." "Jane." "Tidak." Kaluna menatap sahabatnya datar. Jane balas menatapnya tanpa takut sedikit pun. Emily yang duduk tidak jauh dari sana langsung menahan senyum. Sudah bertahun-tahun. Dan hanya Jane satu-satunya manusia di bumi yang berani memperlakukan Kaluna Vance seperti anak kecil. "Aku tidak suka ini." "Makanya aku yang pilih." Kaluna mendengus, Jane kemudian ikut duduk di hadapannya. "Kau belum makan." "Aku tidak lapar." "Kau marah." "Aku tahu." "Kau juga keras k

  • Marriage With Benefits   Lune Et Pain

    Beberapa menit kemudian, Mercedes-Benz hitam itu akhirnya memasuki area parkir yang menghadap langsung ke danau kota. Lune et Pain. Sebuah coffee and pastry house berukuran tidak terlalu besar yang berdiri di salah satu sudut paling strategis di pusat kota Jakarta. Bangunannya didominasi kaca-kaca tinggi dengan sentuhan kayu hangat dan pencahayaan kekuningan yang nyaman. Dari teras belakang, pengunjung bisa menikmati pemandangan danau kota yang memantulkan cahaya lampu malam seperti ribuan bintang yang jatuh ke permukaan air. Tempat itu tidak pernah dirancang untuk menjadi jaringan bisnis besar. Tidak seperti Eve Group. Tidak seperti hotel-hotel mewah milik keluarga Vance. Lune et Pain dibangun untuk alasan yang jauh lebih sederhana. Karena seseorang pernah bermimpi memiliki tempat yang dipenuhi aroma kopi dan roti hangat. Dan seseorang itu adalah Kaluna. Sayangnya, hidup membawanya ke arah yang berbeda. Karena itulah selama lima tahun terakhir, tempat ini dikelola oleh oran

  • Marriage With Benefits   SELALU BUKAN AKU

    Pintu ruang kerja Ethan masih tertutup rapat. Sementara di luar koridor lantai dua yang sunyi itu, Xander berdiri di dekat jendela besar yang menghadap taman belakang mansion. Tangannya masuk ke saku celana. Tatapannya sesekali melirik ke arah pintu ruang kerja ayahnya. Sudah hampir tiga puluh menit. Dan itu bukan pertanda baik. Suara langkah kaki terdengar dari ujung koridor. Xander menoleh.Emily.Wanita muda itu baru saja naik dari lantai bawah setelah salah satu pelayan mempersilahkannya menunggu di area keluarga. Begitu melihat Xander, Emily langsung membungkukkan kepala sedikit. "Tuan Xander."Xander tersenyum tipis. "Emily."Mereka sudah cukup sering bertemu selama lima tahun terakhir. Bagaimanapun juga, Emily adalah orang yang hampir selalu berada di sisi Kaluna."Masih menunggu?" tanya Emily pelan.Xander mengangguk."Sudah berapa lama?""Hampir setengah jam."Emily meringis kecil. "Kalau sudah selama itu...""Mereka sedang bertengkar."Emily tidak menyelesaikan kalimatnya. N

  • Marriage With Benefits   ULTIMATUM

    Pintu ruang kerja itu tertutup pelan.Klik.Keheningan langsung mengambil alih ruangan.Kaluna menyilangkan kedua tangannya di dada. "Baik." Tatapannya tidak pernah lepas dari Ethan. "Apa yang sebenarnya Papa inginkan?"Ethan tidak langsung menjawab. Pria itu justru bangkit dari kursinya dan berjalan menuju jendela besar yang menghadap taman belakang kediaman keluarga Vance. Usianya sudah hampir enam puluh tahun, namun punggungnya masih tegak. Wibawanya masih cukup untuk membuat sebagian besar orang memilih diam. Namun Kaluna bukan sebagian besar orang."Aku tidak meragukan kemampuanmu."Kaluna mengangkat alis. "Kalau begitu berhenti mengatur hidupku.""Aku tidak sedang mengatur hidupmu." Jawab Ethan cepat. "Aku sedang mempersiapkanmu."Kaluna tertawa pendek. "Terdengar sama saja.""Dalam beberapa tahun terakhir aku masih bisa mengawasi banyak hal."Kaluna tidak menjawab."Aku masih bisa memastikan tidak ada seorang pun yang menyentuh keluargaku.""Aku masih bisa memastikan tidak ada

  • Marriage With Benefits   KALUNA

    Jika seseorang bertanya siapa wanita paling berpengaruh di Indonesia saat ini, nama Kaluna Evelyn Vance hampir selalu masuk dalam daftar teratas. Di usia tiga puluh lima tahun, ia berhasil melakukan sesuatu yang bahkan dianggap mustahil oleh banyak orang. Membangun Eve Group dari nol. Hanya dalam lima tahun. Lima tahun lalu, saat perceraian itu mengancurkan hidupnya, sebagian besar orang mengira Kaluna Evelyn akan tenggelam bersama skandal yang menyeret namanya. Namun, mereka salah. Alih-alih menghilang, Kaluna justru membangun Eve Group dari nol tanpa campur tangan Ayahnya.Perusahaan yang awalnya dianggap sebagai proyek ambisius seorang janda muda kini menjelma menjadi salah satu grup bisnis terbesar di Indonesia. Dalam lima tahun, Eve Group berhasil memperluas bisnisnya ke berbagai sektor strategis dan menjadi salah satu kekuatan ekonomi yang tidak bisa lagi dipandang sebelah mata.Dan pagi itu, seperti biasa, kaluna sedang memimpin rapat direksi. "Proyeksi kuartal ketiga?"Seora

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status