LOGINJane memperhatikan Kaluna beberapa detik dari balik meja barista. Wajah itu sudah terlalu ia kenal. Dan wajah seperti itu biasanya berarti seseorang baru saja membuat Kaluna ingin membakar satu gedung penuh.
Jane mengambil sebuah cangkir. Lalu mulai meracik sesuatu. Tidak lama kemudian, ia berjalan mendekati sofa tempat Kaluna duduk bersama Aldrich. Sebuah cangkir hangat diletakkannya tepat di depan Kaluna. "Minum." Kaluna melirik isi cangkir itu. Lalu mengernyit. "Aku pesan kopi." "Tidak." "Jane." "Tidak." Kaluna menatap sahabatnya datar. Jane balas menatapnya tanpa takut sedikit pun. Emily yang duduk tidak jauh dari sana langsung menahan senyum. Sudah bertahun-tahun. Dan hanya Jane satu-satunya manusia di bumi yang berani memperlakukan Kaluna Vance seperti anak kecil. "Aku tidak suka ini." "Makanya aku yang pilih." Kaluna mendengus, Jane kemudian ikut duduk di hadapannya. "Kau belum makan." "Aku tidak lapar." "Kau marah." "Aku tahu." "Kau juga keras kepala." "Aku juga tahu." Jane mengangguk puas. "Bagus. Setidaknya kesadaran dirimu masih berfungsi." Emily langsung menunduk sambil menahan tawa. Kaluna melirik tajam. "Kalian berdua bersekongkol?" "Selalu." Jawaban Jane terlalu cepat. Kaluna memejamkan mata sesaat. Merasa hidupnya semakin sulit dari menit ke menit. Jane menyandarkan tubuhnya ke kursi, tatapannya mengamati Kaluna beberapa saat "Keluarga Vance?" Kaluna membuka satu mata. Jane mengangkat bahunya, "Aku menebak." Hening. Beberapa detik berlalu.Lalu Kaluna mengambil cangkir itu. Meneguk sedikit. Jane langsung tersenyum kecil. Karena itu berarti pertahanan Kaluna mulai turun. "Papa ingin aku menikah." Kalimat itu keluar begitu saja, Datar dan tenang. Namun berhasil membuat Jane membeku. "...Apa?" Kaluna kembali meneguk minumannya, sedangkan Emily langsung menunduk. Seolah tidak ingin terlibat. Jane berkedip beberapa kali. "Maaf, sepertinya aku salah dengar." Kaluna menatapnya. "Papa ingin aku menikah." Jane menoleh ke Emily. Emily mengangguk pelan lalu Jane kembali menoleh ke Kaluna. "Tunggu, Sekarang aku ingin kopi." Kaluna hampir tersedak, Emily tertawa pelan. Bahkan Aldrich yang tidak mengerti apa pun ikut tertawa karena melihat ekspresi Jane yang terlihat seperti baru mendengar kiamat akan datang. Jane menunjuk Kaluna. "Aku serius." "Aku juga." "Keluarga kalian benar-benar tidak pernah mengecewakan." Jane membeku. Kaluna kembali meneguk minumannya dengan tenang. Sedangkan Emily langsung menunduk, pura-pura sibuk membuka tablet. Seolah tidak ingin terlibat. Padahal jelas-jelas ia sudah mendengar semuanya sejak awal. Jane berkedip beberapa kali. "Tunggu, Aku yakin pendengaranku masih bagus." Kaluna mengangkat sebelah alis. "Selamat." "Jangan bercanda." "Apakah aku terlihat lelucon sekarang?" "Baik." Jane menarik napas panjang. "Mulai dari awal." Kaluna menyandarkan tubuhnya ke sofa. Tatapannya beralih ke danau yang mulai dipenuhi pantulan lampu kota. "Papa memberiku waktu tiga bulan." Jane mengernyit. "Tiga bulan untuk apa?" "Mencari suami." Hening. Jane hanya berkedip. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Lalu ia menatap Emily. "Katakan padaku aku sedang bermimpi." Emily menggeleng. "Sayangnya tidak." Jane menatap Kaluna lagi. "Dan kalau kau menolak?" Senyum tipis Kaluna perlahan menghilang. "Eve Group." Kali ini bahkan Jane tidak langsung menjawab. Kini, wanita itu terlihat benar-benar serius. "Dia akan mengambilnya?" "Bukan mengambil." Kaluna tertawa hambar. "Memindahkan posisi CEO." Tatapan Jane langsung berubah. Ia mengenal Kaluna lebih dari siapa pun. Ia tahu apa arti Eve Group bagi sahabatnya. Itu bukan sekadar perusahaan. Itu lima tahun hidupnya. Lima tahun tidur hanya beberapa jam. Lima tahun membuktikan kepada seluruh dunia bahwa dirinya mampu berdiri sendiri. Dan sekarang, semua itu dijadikan alat tawar-menawar. "Dia serius?" "Sangat." Hening kembali turun. Di sisi lain sofa, Aldrich masih sibuk menggambar tanpa menyadari dunia orang dewasa yang sedang runtuh di sekelilingnya. Jane memperhatikan bocah itu beberapa detik. Lalu kembali menatap Kaluna. "Aku benci keluargamu." Kaluna langsung tertawa kecil. "Itu bukan hal baru." "Tidak." Jane menggeleng. "Kali ini aku lebih serius." Emily kembali menahan tawa. Jane menunjuk Kaluna dengan wajah datar. "Ayahmu ada di daftar orang yang ingin kuteriaki minggu ini." "Minggu ini saja?" "Mungkin bulan ini." Kaluna akhirnya tertawa sungguhan. Kecil, namun cukup untuk membuat Jane merasa sedikit lega. Karena sejak Kaluna masuk ke Lune et Pain satu jam lalu, itu adalah tawa pertama yang benar-benar terdengar tulus.Mobil Kaluna berhenti tepat di depan pintu utama gedung perkantoran Vance Group yang menjulang tinggi dan megah. Langkah Kaluna mantap dan berwibawa saat melangkah masuk menyambut sapaan para karyawan yang menunduk hormat ke arahnya. Emily berjalan selangkah di belakangnya, tangan memeluk tablet tipis, wajahnya tenang dan profesional. Sesampainya di ruangan kerja Kaluna yang luas, berlantai marmer dan dinding kaca menghadap pemandangan kota, Kaluna meletakkan tas kerjanya di meja lalu duduk di kursi besarnya. Emily berdiri di hadapannya, membuka catatan di layar tablet. "Jadwal hari ini, Nyonya. Pukul sepuluh rapat dengan tim keuangan. Pukul sebelas pertemuan dengan pengembang proyek baru. Pukul dua belas tiga puluh..." Emily berhenti sejenak. "Lanjutkan," perintah Kaluna sambil menandatangani berkas di depannya. "Makan siang dengan Tuan Sean Wiratama di restoran Sapphire Dining," ucap Emily tenang. Pena di tangan Kaluna berhenti bergerak. Ia mendongak menatap Emily. "Maksudmu..
Pintu penthouse terbuka lebar. Kaluna melangkah keluar lebih dulu, menuntun tangan kecil Aldrich yang berjalan rapi di sampingnya. Penampilannya hari ini memancarkan wibawa seorang pemimpin sekaligus kelembutan seorang ibu: balutan setelan jas berwarna krem yang pas di badan, sepatu hak tinggi yang berkilau, dan rambut hitamnya disusun rapi menonjolkan garis wajahnya yang tegas namun cantik. Aura dingin dan berkelas langsung menyelimuti setiap langkahnya.Aldrich berjalan dengan senyum ceria, mengenakan seragam sekolah yang rapi dan tas punggung kecil berwarna biru tua di punggungnya. Sesekali ia mendongak menatap ibunya, lalu meremas tangan Kaluna sedikit lebih erat.Tepat di belakang mereka berjalan beriringan. Emily dengan tablet di tangan kanannya, matanya tak pernah lepas dari Kaluna sedangkan Naya yang membawa perlengkapan tambahan Aldrich dan dua orang pengawal berbadan tegap dengan setelan gelap yang berjalan dengan langkah tenang namun siap siaga, menjaga jarak aman di sisi k
Pagi itu cahaya matahari masih lembut menyelinap lewat jendela kaca besar. Kaluna berjalan pelan keluar kamar, matanya masih sedikit kabur karena baru bangun tidur. Di ruang tengah, Aldrich duduk tenang di atas karpet empuk, sedang serius membaca buku tebal berisi gambar-gambar planet, sementara Naya berdiri di belakangnya dengan sisir di tangan, merapikan rambut anak itu. Di sudut dapur, koki pribadi sudah sibuk menyiapkan aroma sarapan yang menggugah selera.Kaluna berjalan mendekat lalu menepuk pelan bahu Naya."Biar aku saja," katanya lembut."Baik, Nyonya," jawab Naya sopan sambil menyodorkan sisir, lalu berjalan menuju dapur membantu koki.Kaluna mengangguk, lalu mencium puncak kepala Aldrich dengan penuh kasih sayang.Aldrich langsung menoleh cerah, matanya berbinar senang."Selamat pagi Mami ku yang cantikkk!""Selamat pagi, sayang," balas Kaluna sambil tersenyum lebar. "Wangi sekali anak Mami hari ini.""Iyaaa dong! Anak Mami harus selalu wangi," jawab Aldrich bangga.Kaluna
Nathan menyetir dengan tenang, ponselnya tersambung otomatis ke sistem suara mobil. Tiba-tiba suara Celine terdengar jelas memenuhi kabin, karena Nathan lupa tidak mematikan fitur sambungan otomatis dan tidak menggunakan earphone. "Nanti aku hubungi lagi begitu sampai di apartemen ya, sayang," ucap Nathan pelan. "Hmm... aku juga baru mau pulang dari sini," jawab Celine dari seberang. "Hati-hati di jalan ya pulangnya," pesan Nathan lembut. "Kamu juga ganteng. I love you, Nath." "Iya sayang, I love you so much." Sambungan terputus. Sejak tadi Kaluna hanya bersandar lemas di jok samping, matanya terpejam rapat, padahal setiap kata percakapan itu terdengar sangat jelas di telinganya. Kaluna tertawa kecil, suaranya datar tanpa membuka mata. Nathan tersenyum tipis, lalu tangannya terulur mengacak rambut Kaluna dengan lembut—hanya dialah satu-satunya orang yang berani dan bisa melakukannya tanpa ditolak. "Sudah selesai?" tanya Kaluna pelan. "Hmm," jawab Nathan. Kaluna tertawa lagi.
Di sudut paling tenang bar eksklusif di lantai tertinggi gedung pusat kota, cahaya lampu gantung berwarna keemasan jatuh lembut di atas meja kayu gelap. Aroma kopi arabika yang baru diseduh bercampur dengan wangi kayu cendana ruangan, menciptakan suasana hening namun terasa berat. Xander duduk santai di salah satu sofa kulit, berhadapan dengan Sean dan Arron.Sean menyandarkan punggungnya, cangkir kopi di tangannya diputar pelan tanpa diseruput sedikit pun. Wajahnya datar, tapi matanya menahan ketidaksukaan yang jelas."Aku tidak suka menjalin kerja sama dengan sesuatu yang bahkan informasinya tidak jelas," ucapnya pelan namun tegas. "Nathan?" tanya Xander seolah baru mendengar nama itu."Mungkin saja," timpal Arron sambil menyandarkan dagu di atas tangan."Kalian mengenalnya.""Benarkah?? Aku bahkan belum pernah bertemu dengannya," Arron menoleh cepat ke arah Sean. "Kau mengenalnya?""Kurasa tidak," jawab Sean singkat, matanya menatap lurus ke luar jendela menatap kerlap-kerlip lamp
Sore itu, sinar matahari mulai berwarna keemasan menyelimuti jalanan. Di dalam mobil sedan limusin paling mewah milik keluarga Vance—berkulit cokelat lembut, pencahayaan hangat, dan kedap suara sempurna—Kaluna duduk bersandar lepas di kursi belakang yang luas. Ia sama sekali tak sadar bahwa ia sudah tertidur pulas selama satu jam penuh, padahal cairan infusnya sudah habis sejak lama di rumah sakit. Perlahan Kaluna membuka mata, menatap ke luar jendela yang melaju pelan. "Kenapa tidak membangunkanku?" tanyanya pelan. "Nyonya butuh istirahat," jawab Emily tenang dari kursi depan. "Lagipula saya sudah menyusun ulang semua jadwal Nyonya sejak Nyonya masuk UGD tadi." "Kata siapa?" potong Kaluna cepat. "Kata Dokter Nathan," jelas Emily santai. "Semalam Nyonya mabuk, lalu Nyonya..." Kaluna langsung berdeham keras, sengaja memotong pembicaraan itu. "Tidak perlu diingatkan terus!" Emily tertawa kecil, lalu menoleh ke belakang sambil menyipitkan mata menatap bosnya. "Sesuatu terjadi di







