Share

BAB 5

Author: LOVEBITES
last update publish date: 2026-06-03 12:51:15

Jane memperhatikan Kaluna beberapa detik dari balik meja barista. Wajah itu sudah terlalu ia kenal. Dan wajah seperti itu biasanya berarti seseorang baru saja membuat Kaluna ingin membakar satu gedung penuh.

Jane mengambil sebuah cangkir. Lalu mulai meracik sesuatu.

Tidak lama kemudian, ia berjalan mendekati sofa tempat Kaluna duduk bersama Aldrich. Sebuah cangkir hangat diletakkannya tepat di depan Kaluna.

"Minum."

Kaluna melirik isi cangkir itu. Lalu mengernyit. "Aku pesan kopi."

"Tidak."

"Jane."

"Tidak."

Kaluna menatap sahabatnya datar. Jane balas menatapnya tanpa takut sedikit pun. Emily yang duduk tidak jauh dari sana langsung menahan senyum. Sudah bertahun-tahun. Dan hanya Jane satu-satunya manusia di bumi yang berani memperlakukan Kaluna Vance seperti anak kecil.

"Aku tidak suka ini."

"Makanya aku yang pilih."

Kaluna mendengus, Jane kemudian ikut duduk di hadapannya.

"Kau belum makan."

"Aku tidak lapar."

"Kau marah."

"Aku tahu."

"Kau juga keras kepala."

"Aku juga tahu."

Jane mengangguk puas. "Bagus. Setidaknya kesadaran dirimu masih berfungsi."

Emily langsung menunduk sambil menahan tawa. Kaluna melirik tajam. "Kalian berdua bersekongkol?"

"Selalu." Jawaban Jane terlalu cepat.

Kaluna memejamkan mata sesaat. Merasa hidupnya semakin sulit dari menit ke menit. Jane menyandarkan tubuhnya ke kursi, tatapannya mengamati Kaluna beberapa saat "Keluarga Vance?"

Kaluna membuka satu mata. Jane mengangkat bahunya, "Aku menebak."

Hening.

Beberapa detik berlalu.Lalu Kaluna mengambil cangkir itu. Meneguk sedikit. Jane langsung tersenyum kecil. Karena itu berarti pertahanan Kaluna mulai turun.

"Papa ingin aku menikah." Kalimat itu keluar begitu saja, Datar dan tenang. Namun berhasil membuat Jane membeku.

"...Apa?"

Kaluna kembali meneguk minumannya, sedangkan Emily langsung menunduk. Seolah tidak ingin terlibat.

Jane berkedip beberapa kali. "Maaf, sepertinya aku salah dengar."

Kaluna menatapnya. "Papa ingin aku menikah."

Jane menoleh ke Emily. Emily mengangguk pelan lalu Jane kembali menoleh ke Kaluna.

"Tunggu, Sekarang aku ingin kopi."

Kaluna hampir tersedak, Emily tertawa pelan. Bahkan Aldrich yang tidak mengerti apa pun ikut tertawa karena melihat ekspresi Jane yang terlihat seperti baru mendengar kiamat akan datang.

Jane menunjuk Kaluna. "Aku serius."

"Aku juga."

"Keluarga kalian benar-benar tidak pernah mengecewakan." Jane membeku.

Kaluna kembali meneguk minumannya dengan tenang. Sedangkan Emily langsung menunduk, pura-pura sibuk membuka tablet. Seolah tidak ingin terlibat. Padahal jelas-jelas ia sudah mendengar semuanya sejak awal. Jane berkedip beberapa kali.

"Tunggu, Aku yakin pendengaranku masih bagus."

Kaluna mengangkat sebelah alis. "Selamat."

"Jangan bercanda."

"Apakah aku terlihat lelucon sekarang?"

"Baik." Jane menarik napas panjang. "Mulai dari awal."

Kaluna menyandarkan tubuhnya ke sofa. Tatapannya beralih ke danau yang mulai dipenuhi pantulan lampu kota.

"Papa memberiku waktu tiga bulan."

Jane mengernyit. "Tiga bulan untuk apa?"

"Mencari suami."

Hening. Jane hanya berkedip. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Lalu ia menatap Emily.

"Katakan padaku aku sedang bermimpi."

Emily menggeleng. "Sayangnya tidak."

Jane menatap Kaluna lagi. "Dan kalau kau menolak?"

Senyum tipis Kaluna perlahan menghilang. "Eve Group."

Kali ini bahkan Jane tidak langsung menjawab. Kini, wanita itu terlihat benar-benar serius. "Dia akan mengambilnya?"

"Bukan mengambil." Kaluna tertawa hambar. "Memindahkan posisi CEO."

Tatapan Jane langsung berubah. Ia mengenal Kaluna lebih dari siapa pun. Ia tahu apa arti Eve Group bagi sahabatnya. Itu bukan sekadar perusahaan. Itu lima tahun hidupnya. Lima tahun tidur hanya beberapa jam. Lima tahun membuktikan kepada seluruh dunia bahwa dirinya mampu berdiri sendiri.

Dan sekarang, semua itu dijadikan alat tawar-menawar.

"Dia serius?"

"Sangat."

Hening kembali turun. Di sisi lain sofa, Aldrich masih sibuk menggambar tanpa menyadari dunia orang dewasa yang sedang runtuh di sekelilingnya. Jane memperhatikan bocah itu beberapa detik. Lalu kembali menatap Kaluna.

"Aku benci keluargamu."

Kaluna langsung tertawa kecil. "Itu bukan hal baru."

"Tidak." Jane menggeleng. "Kali ini aku lebih serius."

Emily kembali menahan tawa. Jane menunjuk Kaluna dengan wajah datar.

"Ayahmu ada di daftar orang yang ingin kuteriaki minggu ini."

"Minggu ini saja?"

"Mungkin bulan ini."

Kaluna akhirnya tertawa sungguhan. Kecil, namun cukup untuk membuat Jane merasa sedikit lega. Karena sejak Kaluna masuk ke Lune et Pain satu jam lalu, itu adalah tawa pertama yang benar-benar terdengar tulus.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Marriage With Benefits   SEPIRING PASTA

    Penthouse pribadi Kaluna berada di lantai paling atas salah satu gedung milik Eve Group. Suasana nya terlalu sunyi meskipun di dalamnya terlihat sangat mewah. Malam sudah hampir pukul sepuluh ketika Kaluna akkhirnya berhasil membawa Aldrich pulang. Anak itu tertidur bahkan sebelum mobil meninggalkan area parkir Lune et Pain. Dan kini anak itu sudah terlelap di kamarnya. Kaluna menggendong putranya perlahan menuju kamar. Ia membaringkannya dengan hati-hati di atas tempat tidur kecil, menarik selimut hingga menutupi tubuh mungilnya, lalu menyibakkan beberapa helai rambut yang jatuh menutupi dahinya. Sebuah kecupan singkat mendarat di kening Aldrich. "Selamat tidur, Sayang." Lampu kamar dipadamkan. klik, begitu pintu kamar tertutup, seluruh penthouse kembali di selimuti keheningan. Kaluna berjalan menuju jendela kaca setinggi langit-langit. Segelas air putih berada di tangannya. Dari sana, gemerlap lampu Jakarta terbentang begitu indah, tetapi malam ini ia sama sekali tidak mampu menik

  • Marriage With Benefits   BAB 5

    Jane memperhatikan Kaluna beberapa detik dari balik meja barista. Wajah itu sudah terlalu ia kenal. Dan wajah seperti itu biasanya berarti seseorang baru saja membuat Kaluna ingin membakar satu gedung penuh. Jane mengambil sebuah cangkir. Lalu mulai meracik sesuatu. Tidak lama kemudian, ia berjalan mendekati sofa tempat Kaluna duduk bersama Aldrich. Sebuah cangkir hangat diletakkannya tepat di depan Kaluna. "Minum." Kaluna melirik isi cangkir itu. Lalu mengernyit. "Aku pesan kopi." "Tidak." "Jane." "Tidak." Kaluna menatap sahabatnya datar. Jane balas menatapnya tanpa takut sedikit pun. Emily yang duduk tidak jauh dari sana langsung menahan senyum. Sudah bertahun-tahun. Dan hanya Jane satu-satunya manusia di bumi yang berani memperlakukan Kaluna Vance seperti anak kecil. "Aku tidak suka ini." "Makanya aku yang pilih." Kaluna mendengus, Jane kemudian ikut duduk di hadapannya. "Kau belum makan." "Aku tidak lapar." "Kau marah." "Aku tahu." "Kau juga keras k

  • Marriage With Benefits   Lune Et Pain

    Beberapa menit kemudian, Mercedes-Benz hitam itu akhirnya memasuki area parkir yang menghadap langsung ke danau kota. Lune et Pain. Sebuah coffee and pastry house berukuran tidak terlalu besar yang berdiri di salah satu sudut paling strategis di pusat kota Jakarta. Bangunannya didominasi kaca-kaca tinggi dengan sentuhan kayu hangat dan pencahayaan kekuningan yang nyaman. Dari teras belakang, pengunjung bisa menikmati pemandangan danau kota yang memantulkan cahaya lampu malam seperti ribuan bintang yang jatuh ke permukaan air. Tempat itu tidak pernah dirancang untuk menjadi jaringan bisnis besar. Tidak seperti Eve Group. Tidak seperti hotel-hotel mewah milik keluarga Vance. Lune et Pain dibangun untuk alasan yang jauh lebih sederhana. Karena seseorang pernah bermimpi memiliki tempat yang dipenuhi aroma kopi dan roti hangat. Dan seseorang itu adalah Kaluna. Sayangnya, hidup membawanya ke arah yang berbeda. Karena itulah selama lima tahun terakhir, tempat ini dikelola oleh oran

  • Marriage With Benefits   SELALU BUKAN AKU

    Pintu ruang kerja Ethan masih tertutup rapat. Sementara di luar koridor lantai dua yang sunyi itu, Xander berdiri di dekat jendela besar yang menghadap taman belakang mansion. Tangannya masuk ke saku celana. Tatapannya sesekali melirik ke arah pintu ruang kerja ayahnya. Sudah hampir tiga puluh menit. Dan itu bukan pertanda baik. Suara langkah kaki terdengar dari ujung koridor. Xander menoleh.Emily.Wanita muda itu baru saja naik dari lantai bawah setelah salah satu pelayan mempersilahkannya menunggu di area keluarga. Begitu melihat Xander, Emily langsung membungkukkan kepala sedikit. "Tuan Xander."Xander tersenyum tipis. "Emily."Mereka sudah cukup sering bertemu selama lima tahun terakhir. Bagaimanapun juga, Emily adalah orang yang hampir selalu berada di sisi Kaluna."Masih menunggu?" tanya Emily pelan.Xander mengangguk."Sudah berapa lama?""Hampir setengah jam."Emily meringis kecil. "Kalau sudah selama itu...""Mereka sedang bertengkar."Emily tidak menyelesaikan kalimatnya. N

  • Marriage With Benefits   ULTIMATUM

    Pintu ruang kerja itu tertutup pelan.Klik.Keheningan langsung mengambil alih ruangan.Kaluna menyilangkan kedua tangannya di dada. "Baik." Tatapannya tidak pernah lepas dari Ethan. "Apa yang sebenarnya Papa inginkan?"Ethan tidak langsung menjawab. Pria itu justru bangkit dari kursinya dan berjalan menuju jendela besar yang menghadap taman belakang kediaman keluarga Vance. Usianya sudah hampir enam puluh tahun, namun punggungnya masih tegak. Wibawanya masih cukup untuk membuat sebagian besar orang memilih diam. Namun Kaluna bukan sebagian besar orang."Aku tidak meragukan kemampuanmu."Kaluna mengangkat alis. "Kalau begitu berhenti mengatur hidupku.""Aku tidak sedang mengatur hidupmu." Jawab Ethan cepat. "Aku sedang mempersiapkanmu."Kaluna tertawa pendek. "Terdengar sama saja.""Dalam beberapa tahun terakhir aku masih bisa mengawasi banyak hal."Kaluna tidak menjawab."Aku masih bisa memastikan tidak ada seorang pun yang menyentuh keluargaku.""Aku masih bisa memastikan tidak ada

  • Marriage With Benefits   KALUNA

    Jika seseorang bertanya siapa wanita paling berpengaruh di Indonesia saat ini, nama Kaluna Evelyn Vance hampir selalu masuk dalam daftar teratas. Di usia tiga puluh lima tahun, ia berhasil melakukan sesuatu yang bahkan dianggap mustahil oleh banyak orang. Membangun Eve Group dari nol. Hanya dalam lima tahun. Lima tahun lalu, saat perceraian itu mengancurkan hidupnya, sebagian besar orang mengira Kaluna Evelyn akan tenggelam bersama skandal yang menyeret namanya. Namun, mereka salah. Alih-alih menghilang, Kaluna justru membangun Eve Group dari nol tanpa campur tangan Ayahnya.Perusahaan yang awalnya dianggap sebagai proyek ambisius seorang janda muda kini menjelma menjadi salah satu grup bisnis terbesar di Indonesia. Dalam lima tahun, Eve Group berhasil memperluas bisnisnya ke berbagai sektor strategis dan menjadi salah satu kekuatan ekonomi yang tidak bisa lagi dipandang sebelah mata.Dan pagi itu, seperti biasa, kaluna sedang memimpin rapat direksi. "Proyeksi kuartal ketiga?"Seora

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status