Share

SEPIRING PASTA

Author: LOVEBITES
last update publish date: 2026-06-26 13:11:51

Penthouse pribadi Kaluna berada di lantai paling atas salah satu gedung milik Eve Group. Suasana nya terlalu sunyi meskipun di dalamnya terlihat sangat mewah. Malam sudah hampir pukul sepuluh ketika Kaluna akkhirnya berhasil membawa Aldrich pulang. Anak itu tertidur bahkan sebelum mobil meninggalkan area parkir Lune et Pain. Dan kini anak itu sudah terlelap di kamarnya.

Kaluna menggendong putranya perlahan menuju kamar. Ia membaringkannya dengan hati-hati di atas tempat tidur kecil, menarik selimut hingga menutupi tubuh mungilnya, lalu menyibakkan beberapa helai rambut yang jatuh menutupi dahinya. Sebuah kecupan singkat mendarat di kening Aldrich. "Selamat tidur, Sayang."

Lampu kamar dipadamkan. klik, begitu pintu kamar tertutup, seluruh penthouse kembali di selimuti keheningan. Kaluna berjalan menuju jendela kaca setinggi langit-langit. Segelas air putih berada di tangannya. Dari sana, gemerlap lampu Jakarta terbentang begitu indah, tetapi malam ini ia sama sekali tidak mampu menikmatinya.

Yang terus berputar di kepalanya hanyalah percakapan sore tadi.

"Tiga bulan."

"Menikah... atau Eve Group akan berpindah tangan." Kaluna mengembuskan napas panjang. "Sial..."

Tatapannya mengeras. "Menyebalkan sekali pria tua itu."

Ia meletakkan gelas di atas meja, lalu berjalan menuju ruang kerja kecil di sudut penthouse. Laptopnya segera menyala, menampilkan laporan keuangan Eve Group yang biasanya mampu menenangkan pikirannya.

Namun malam ini berbeda. Setiap angka yang ia baca justru berubah menjadi suara Ethan Vance. "Aku akan mengalihkan posisi CEO Eve Group."

Brak! Laptop itu tertutup jauh lebih keras dari yang ia inginkan. Kaluna memejamkan mata, menyandarkan tubuh pada kursi, lalu memijat pelipisnya perlahan.

Ting tong.

Matanya langsung terbuka. Jam menunjukkan pukul 22.30. Emily tidak mungkin datang semalam ini. Jane lebih tidak mungkin lagi.

Ting tong. Bel berbunyi sekali lagi. Kaluna mengembuskan napas kesal sebelum berjalan menuju pintu utama. Kalau itu salah satu direksi Eve Corp, Mereka benar-benar memilih waktu yang salah.

Klik.

Pintu terbuka. Dan Kaluna langsung membeku. Seorang pria tinggi berdiri di hadapannya, masih mengenakan kemeja yang sama seperti sore tadi. Xander. Refleks, Kaluna hendak menutup pintu.

Namun kali ini Xander tidak menahan daun pintu seperti yang ia lakukan beberapa jam lalu. Ia hanya berdiri tenang sambil menatap adiknya. "Luna,"

"Pergi."

"Aku bahkan belum mengatakan kenapa aku datang."

"Aku juga tidak ingin mendengarnya."

Xander menghela napas pelan. "Lima menit."

"Tidak."

"Tiga menit."

"Sudah kubilang tidak."

"Kalau begitu... dua menit?"

Kaluna memijat pelipisnya. "Xander."

"Ya?"

"Kau menyebalkan."

"Aku tahu."

Hening.

Untuk beberapa detik mereka hanya saling menatap.

"Aku berharap kita bisa duduk bicara di dalam," ucap Xander akhirnya.

"Aku berharap kau pulang."

"Sayangnya harapanmu kali ini tidak akan terkabul."

Kaluna mendengus pelan. Pria itu sama keras kepalanya dengan Ethan. Namun entah kenapa, ia tidak benar-benar tega mengusir kakaknya malam itu. Tanpa berkata apa-apa lagi, Kaluna berbalik memasuki penthouse. Xander tersenyum tipis. Ia mengenal adiknya cukup lama untuk memahami arti diam itu. Pintu pun tertutup di belakang mereka.

Klik.

Tatapan Xander berkeliling ruangan. Semua masih sama seperti terakhir kali ia datang. Interior elegan bernuansa hangat. Rapi tanpa cela, namun terlalu sunyi. Tidak ada satu pun foto keluarga Vance. Hanya beberapa foto Aldrich. Dan sebuah foto lama yang terpajang di sudut ruang tamu. Foto Kaluna kecil bersama ibu mereka. Tatapan Xander berhenti di sana. Sampai suara Kaluna mematahkannya. "Aku tidak punya banyak waktu."

"Hm."

Kaluna mengernyit.

"'Hm' apa?"

Namun alih-alih menjawab, Xander justru berjalan menuju dapur. Ia membuka kulkas tanpa izin.

"Apa yang sedang kau lakukan?"

Tidak ada jawaban.

"Xander."

Pria itu tetap sibuk memeriksa isi lemari pendingin.

"Xander!"

"Aku bisa mendengarmu."

"Kalau begitu jawab!"

Xander akhirnya menoleh. "Aku sedang menyelamatkanmu."

Kaluna mengernyit. "Dari apa?"

"Asam lambung."

Xander mulai mengeluarkan beberapa bahan makanan. Jamur, Krim. Bacon. Pasta. "Bahkan masih ada bawang putih. Bagus."

Kaluna memandangnya seperti sedang melihat orang tidak waras. "Keluar dari dapurku."

"Tidak sekarang."

"Kau datang ke sini sebenarnya untuk apa?"

"Kita akan bicara."

"Kalau begitu bicara sekarang."

"Setelah makan."

"Aku tidak lapar."

"Tapi aku lapar." Jawab Xander dengan wajah memelas.

"Kalau kau lapar, pulang. Minta makan sama Istrimu sana."

"Tidak."

Kaluna mengembuskan napas panjang. "Kalau kau tidak berhenti sekarang, aku akan memanggil security."

Xander hanya tertawa kecil sambil mengisi panci dengan air. "Aku janji."

"Apa?"

"Setelah makan, aku akan bicara."

Kaluna memelototinya. Benar-benar pria yang menyebalkan. Tak lama kemudian, suara air mendidih memenuhi dapur. Pasta mulai direbus, bawang putih mulai ditumis dengan mentega meleleh. Aroma hangat perlahan memenuhi seluruh ruangan. Kaluna masih berdiri dengan kedua tangan terlipat di dada.

Kesal. Namun tetap tidak pergi. Xander meliriknya sekilas. "Kau mau terus berdiri di sana?"

"Ya."

"Hm..." Pria itu tersenyum tipis. "Kau benar-benar mirip Ethan Vance kalau sedang marah."

Kaluna langsung mendelik. "Kalau begitu berhenti membuatku marah."

Xander terkekeh. "Persis."

"Persis apa?"

"Kalimat itu juga pasti akan keluar dari mulut Papa."

Kaluna langsung menunjuk balkon. "Aku sedang mempertimbangkan melemparmu dari sana."

"Kalau begitu kau juga harus menanggung Victoria, Lucas, dan Cila."

"Xander!"

Pria itu kembali tertawa. Untuk pertama kalinya malam itu, sudut bibir Kaluna nyaris ikut terangkat. Beberapa menit kemudian, aroma bawang putih dan saus krim memenuhi ruangan. Kaluna diam-diam memperhatikan gerakan kakaknya. Semuanya terlalu rapi dan tampak terlalu terbiasa.

"Victoria yang mengajarimu memasak?"

Untuk pertama kalinya sejak masuk ke dapur, suara Kaluna terdengar lebih lembut. Xander menghentikan gerakannya sebentar lalu sudut bibirnya terangkat tipis. "Tidak."

Kaluna mengangkat alis. "Lalu?"

Xander kembali mengaduk saus di atas wajan. " Tentu saja Ibuku.."

Kaluna langsung mendecak. "Ck, dia juga ibuku."

Xander menoleh, lalu mengangkat alis. "Benarkah?"

Kaluna memelototinya. "Tidak lucu."

Senyum Xander perlahan memudar. Dapur kembali sunyi. Nama itu... Selalu berhasil membuat keduanya kehilangan kata-kata. Beberapa menit kemudian semangkuk creamy mushroom pasta akhirnya tersaji di atas meja. Harumnya langsung memenuhi ruangan. Harum yang begitu familiar, Harum yang pernah menjadi aroma rumah mereka.

"Duduk." Xander menarik sebuah kursi dan Kaluna tetap berdiri.

"Aku tidak lapar."

Xander hanya mengangguk pelan. Ia menarik kursinya sendiri, lalu mulai makan tanpa memaksa sedikit pun. Seolah ia benar-benar datang hanya untuk menikmati semangkuk pasta.

Kaluna memelototinya. Sungguh pria yang menyebalkan. Namun beberapa detik kemudian... Ia tetap menarik kursi di hadapan kakaknya. Xander tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menggeser piring itu ke arah Kaluna. "Makanlah."

Kaluna menatap piring tersebut.

"Aku tahu kau belum makan sejak pagi."

Kaluna langsung mendecak. "Berhenti mencari tahuku dari Emily! ck.."

Xander tersenyum kecil. Kaluna akhirnya mengambil garpu. Suapan pertama masuk ke mulutnya. Dan seketika... Ia membeku. Tangannya berhenti di udara. Rasa itu. Sama persis. Tidak berubah sedikit pun. Suapan kedua, lalu ketiga.

Kaluna menundukkan kepalanya. Tenggorokannya perlahan terasa sesak. Sudah lima belas tahun. Lima belas tahun sejak terakhir kali ia mencium aroma ini. Sejak terakhir kali seseorang memasakkan makanan dengan rasa yang sama. Sejak terakhir kali rumah benar-benar terasa seperti rumah. Ibunya.

Xander memperhatikan perubahan kecil itu. "Bagaimana?"

Kaluna menggeleng pelan. Ia berusaha menelan semua emosi yang tiba-tiba menyeruak. Baru setelah beberapa saat, ia mengangkat wajahnya. Senyum tipis yang nyaris tak terlihat muncul di sudut bibirnya. "Terima kasih."

Untuk sesaat, Xander hanya menatap adiknya. "Kurasa..." Lalu ia ikut tersenyum. "Ini pertama kalinya kau mengucapkan itu padaku tahun ini."

Kaluna langsung mendecak. "Jangan senang dulu. Besok mungkin akan kutarik lagi ucapan terima kasih itu."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Marriage With Benefits   SEPIRING PASTA

    Penthouse pribadi Kaluna berada di lantai paling atas salah satu gedung milik Eve Group. Suasana nya terlalu sunyi meskipun di dalamnya terlihat sangat mewah. Malam sudah hampir pukul sepuluh ketika Kaluna akkhirnya berhasil membawa Aldrich pulang. Anak itu tertidur bahkan sebelum mobil meninggalkan area parkir Lune et Pain. Dan kini anak itu sudah terlelap di kamarnya. Kaluna menggendong putranya perlahan menuju kamar. Ia membaringkannya dengan hati-hati di atas tempat tidur kecil, menarik selimut hingga menutupi tubuh mungilnya, lalu menyibakkan beberapa helai rambut yang jatuh menutupi dahinya. Sebuah kecupan singkat mendarat di kening Aldrich. "Selamat tidur, Sayang." Lampu kamar dipadamkan. klik, begitu pintu kamar tertutup, seluruh penthouse kembali di selimuti keheningan. Kaluna berjalan menuju jendela kaca setinggi langit-langit. Segelas air putih berada di tangannya. Dari sana, gemerlap lampu Jakarta terbentang begitu indah, tetapi malam ini ia sama sekali tidak mampu menik

  • Marriage With Benefits   BAB 5

    Jane memperhatikan Kaluna beberapa detik dari balik meja barista. Wajah itu sudah terlalu ia kenal. Dan wajah seperti itu biasanya berarti seseorang baru saja membuat Kaluna ingin membakar satu gedung penuh. Jane mengambil sebuah cangkir. Lalu mulai meracik sesuatu. Tidak lama kemudian, ia berjalan mendekati sofa tempat Kaluna duduk bersama Aldrich. Sebuah cangkir hangat diletakkannya tepat di depan Kaluna. "Minum." Kaluna melirik isi cangkir itu. Lalu mengernyit. "Aku pesan kopi." "Tidak." "Jane." "Tidak." Kaluna menatap sahabatnya datar. Jane balas menatapnya tanpa takut sedikit pun. Emily yang duduk tidak jauh dari sana langsung menahan senyum. Sudah bertahun-tahun. Dan hanya Jane satu-satunya manusia di bumi yang berani memperlakukan Kaluna Vance seperti anak kecil. "Aku tidak suka ini." "Makanya aku yang pilih." Kaluna mendengus, Jane kemudian ikut duduk di hadapannya. "Kau belum makan." "Aku tidak lapar." "Kau marah." "Aku tahu." "Kau juga keras k

  • Marriage With Benefits   Lune Et Pain

    Beberapa menit kemudian, Mercedes-Benz hitam itu akhirnya memasuki area parkir yang menghadap langsung ke danau kota. Lune et Pain. Sebuah coffee and pastry house berukuran tidak terlalu besar yang berdiri di salah satu sudut paling strategis di pusat kota Jakarta. Bangunannya didominasi kaca-kaca tinggi dengan sentuhan kayu hangat dan pencahayaan kekuningan yang nyaman. Dari teras belakang, pengunjung bisa menikmati pemandangan danau kota yang memantulkan cahaya lampu malam seperti ribuan bintang yang jatuh ke permukaan air. Tempat itu tidak pernah dirancang untuk menjadi jaringan bisnis besar. Tidak seperti Eve Group. Tidak seperti hotel-hotel mewah milik keluarga Vance. Lune et Pain dibangun untuk alasan yang jauh lebih sederhana. Karena seseorang pernah bermimpi memiliki tempat yang dipenuhi aroma kopi dan roti hangat. Dan seseorang itu adalah Kaluna. Sayangnya, hidup membawanya ke arah yang berbeda. Karena itulah selama lima tahun terakhir, tempat ini dikelola oleh oran

  • Marriage With Benefits   SELALU BUKAN AKU

    Pintu ruang kerja Ethan masih tertutup rapat. Sementara di luar koridor lantai dua yang sunyi itu, Xander berdiri di dekat jendela besar yang menghadap taman belakang mansion. Tangannya masuk ke saku celana. Tatapannya sesekali melirik ke arah pintu ruang kerja ayahnya. Sudah hampir tiga puluh menit. Dan itu bukan pertanda baik. Suara langkah kaki terdengar dari ujung koridor. Xander menoleh.Emily.Wanita muda itu baru saja naik dari lantai bawah setelah salah satu pelayan mempersilahkannya menunggu di area keluarga. Begitu melihat Xander, Emily langsung membungkukkan kepala sedikit. "Tuan Xander."Xander tersenyum tipis. "Emily."Mereka sudah cukup sering bertemu selama lima tahun terakhir. Bagaimanapun juga, Emily adalah orang yang hampir selalu berada di sisi Kaluna."Masih menunggu?" tanya Emily pelan.Xander mengangguk."Sudah berapa lama?""Hampir setengah jam."Emily meringis kecil. "Kalau sudah selama itu...""Mereka sedang bertengkar."Emily tidak menyelesaikan kalimatnya. N

  • Marriage With Benefits   ULTIMATUM

    Pintu ruang kerja itu tertutup pelan.Klik.Keheningan langsung mengambil alih ruangan.Kaluna menyilangkan kedua tangannya di dada. "Baik." Tatapannya tidak pernah lepas dari Ethan. "Apa yang sebenarnya Papa inginkan?"Ethan tidak langsung menjawab. Pria itu justru bangkit dari kursinya dan berjalan menuju jendela besar yang menghadap taman belakang kediaman keluarga Vance. Usianya sudah hampir enam puluh tahun, namun punggungnya masih tegak. Wibawanya masih cukup untuk membuat sebagian besar orang memilih diam. Namun Kaluna bukan sebagian besar orang."Aku tidak meragukan kemampuanmu."Kaluna mengangkat alis. "Kalau begitu berhenti mengatur hidupku.""Aku tidak sedang mengatur hidupmu." Jawab Ethan cepat. "Aku sedang mempersiapkanmu."Kaluna tertawa pendek. "Terdengar sama saja.""Dalam beberapa tahun terakhir aku masih bisa mengawasi banyak hal."Kaluna tidak menjawab."Aku masih bisa memastikan tidak ada seorang pun yang menyentuh keluargaku.""Aku masih bisa memastikan tidak ada

  • Marriage With Benefits   KALUNA

    Jika seseorang bertanya siapa wanita paling berpengaruh di Indonesia saat ini, nama Kaluna Evelyn Vance hampir selalu masuk dalam daftar teratas. Di usia tiga puluh lima tahun, ia berhasil melakukan sesuatu yang bahkan dianggap mustahil oleh banyak orang. Membangun Eve Group dari nol. Hanya dalam lima tahun. Lima tahun lalu, saat perceraian itu mengancurkan hidupnya, sebagian besar orang mengira Kaluna Evelyn akan tenggelam bersama skandal yang menyeret namanya. Namun, mereka salah. Alih-alih menghilang, Kaluna justru membangun Eve Group dari nol tanpa campur tangan Ayahnya.Perusahaan yang awalnya dianggap sebagai proyek ambisius seorang janda muda kini menjelma menjadi salah satu grup bisnis terbesar di Indonesia. Dalam lima tahun, Eve Group berhasil memperluas bisnisnya ke berbagai sektor strategis dan menjadi salah satu kekuatan ekonomi yang tidak bisa lagi dipandang sebelah mata.Dan pagi itu, seperti biasa, kaluna sedang memimpin rapat direksi. "Proyeksi kuartal ketiga?"Seora

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status