MasukUpon discovering her fiance cheating on her and her company being snatched right under her nose. Veena was thrown into a mental hospital due to being 'unstable'. Finally freed from three years of imprisonment in a mental hospital. Veena swears to destroy the people who ruined her life. She seeks support from the wealthiest and strongest man of Geneva City, Lois Rossenov. He agrees to her offer but in exchange for a marriage arrangement. Not only that, the deal also involves intimacy.
Lihat lebih banyakChapter 1 Perkenalan
Ini adalah hari pertamaku menginjakkan kaki di rumah sakit milik Ayah, yang termasuk salah satu rumah sakit terbesar di Bali. Tak banyak yang mengenalku di tempat ini, hanya segelintir orang kepercayaan Ayah saja. Karena Ayah memang tidak pernah mau memperkenalkan kami ke publik. Entah mengapa? Tapi tiap kali aku mempertanyakan soal itu, beliau hanya menjawab,
"Ada privasi keluarga yang harus Ayah jaga, dan memperkenalkan kalian di depan publik tanpa tujuan pasti hanya akan mempersulit Ayah menjaga hal itu, akan ada saatnya kamu akan dikenal tanpa harus Ayah perkenalkan.''Ya, aku bisa memahami maksud dan tujuan Ayah. Di sisi lain selama 10 tahun terakhir ini aku menghabiskan waktuku untuk menyelesaikan study di luar negeri, sehingga tempat ini benar benar semakin terasa asing.
"Adelio Mahendra" itulah nama yang Ayah dan Bunda sematkan padaku saat aku lahir 28 tahun lalu. Bunda selalu bercerita, bahwa Ayahlah yang memberikan nama itu untukku.
Aku terus berjalan menuju ruangan Ayah, hari ini adalah hari peresmianku menggantikan posisi Ayah di rumah sakit ini. Ya, Ayah bilang inilah saatnya ia mempercayakan tanggung jawab ini kepadaku sebagai putra semata wayangnya. Dan Ayah hanya akan memantau perkembanganku dari jauh, dengan menikmati masa tuanya bersama Bunda.
Berbicara tentang Ayah dan Bunda, sungguh mereka adalah pasangan yang serasi, bahkan tiap hari aku panjatkan doa agar kelak bisa berpasangan seperti mereka berdua.
Aku melangkahkan kaki dengan penuh keyakinan dan percaya diri menuju ruangan Ayah, yang tentunya tak lama lagi akan menjadi ruanganku. Semua karyawan dan tenaga medis banyak berlalu lalang di hadapanku, tetapi tak satupun dari mereka yang menyapaku, bahkan hanya sekedar memandang pun tidak. Itu wajar, karena mereka tidak mengenalku. Begitulah sejatinya manusia, ia hanyalah makhluk biasa yang tidak ada nilainya, yang menentukan nilai dirinya hanyalah kualitasnya. Ia akan dihormati berdasarkan status sosialnya.
Kakiku terus melangkah maju sampai kemudian terhenti karena pemandangan kurang menyenangkan yang tak sengaja aku lihat di depanku.
Aku melihat seorang wanita berparas cantik tengah tersungkur dengan berkas di tangannya yang berserakan di lantai. Sedangkan di hadapannya tengah berdiri tegak seorang lelaki dengan penampilan rapi sembari memandang wanita itu membereskan berkas-berkasnya.
Aku mempercepat langkah dan membantunya membereskan berkas-berkasnya. Tak sengaja aku melihat tulisan "Nama : Adelia Maharani" tertera di salah satu lembaran yang aku pungut. Sepertinya itu adalah CV lamaran kerja, apalagi dengan melihat dia mengenakan atasan putih dan bawahan hitam membuat aku semakin yakin bahwa ia datang kesini untuk melamar kerja.
"Namanya cantik, secantik orangnya,'' gumamku dalam hati sembari memandang wajahnya yang terbalut hijab berwarna putih, tampak teduh dan menenangkan.
"Ehm …," terdengar ia berdehem pelan, membuatku tersadar dari lamunan.
"Astaghfirullah," gumamku pelan lalu menyerahkan berkas kepadanya.
"Terima kasih," ucapnya tulus setelah menerima berkasnya dari tanganku. Kemudian ia berdiri cepat sebelum sempat aku menjawab ucapan terima kasihnya.
Ia lalu menghadap lelaki yang masih berdiri di hadapannya seraya berucap,
"Saya minta maaf, Pak, saya tidak sengaja tadi karena buru-buru." Tampak ia menunduk tanda penyesalan. "Sopan sekali,'' batinku."Makanya punya mata tuh dipakai!" bentak lelaki itu kasar. Membuatku terhentak geram lalu bangkit dari posisi semula. Bisa bisanya lelaki ini membentak perempuan dengan tanpa belas kasihan seperti itu.
Di luar dugaan. Aku melihat Adelia mengangkat wajahnya tegas seraya menjawab, "Pak, saya tahu saya salah, tapi kan saya sudah minta maaf sama bapak? saya tidak sengaja."
"Waw, tegas juga dia," batinku melihat sikapnya yang berlawanan dengan wajah kalemnya.
"Ooh, berani kamu ya sama saya? Kamu nggak tau saya siapa? Asal kamu tau ya, saya direktur di rumah sakit ini. Baru mau ngelamar kerja aja udah songong ya kamu berani ngelawan direktur?" ucap lelaki dengan name tag "Wiraguna" di dadanya itu.
"Sombong sekali," batinku.
Ku lirik sekilas ke arah Adelia, tampak ia menunduk tanpa perlawanan. Namun, aku tahu ia begitu geram sebab tangannya tampak terkepal erat meremas berkas-berkasnya.
Ku langkahkan kaki mendekati Wiraguna. Dengan pelan dan penuh penekanan ku katakan padanya,
"Saya tidak peduli ya Anda direktur atau siapa lah di sini, tapi yang jelas Anda lelaki. Tak sepantasnya Anda memperlakukan perempuan dengan kasar, apapun alasannya. Apa anda tidak ingat, yang anda perlakukan dengan kasar ini adalah kaum Ibu Anda?"
.....
Tidak ada balasan.
Dengan masih memandang sinis Wiraguna, aku melangkah pergi.
"Adelia, ikut ke ruangan saya," titahku singkat namun jelas, membuat semua orang yang mendengarnya merasa keheranan.
Ah, mungkin mereka bingung ternyata orang asing ini memiliki tempat di sini. Keheranan mereka bertambah ketika aku dan Adelia memasuki lift yang tak jauh dari tempat kejadian, lalu tampak angka 5 tertera bersandingan dengan ikon panah atas. Artinya, aku menuju lantai 5 yang di sana hanya terdapat ruangan CEO dan ruang rapat.
"Shit, siapa dia sebenarnya?'' umpat Wiraguna yang samar-samar terdengar sebelum pintu lift tertutup sempurna. Kulirik sekejap Adelia di sisiku, wajahnya tampak keheranan memandangku sama seperti orang-orang yang lain. Mungkin dia juga bertanya-tanya siapakah aku.
Aku tersenyum ke arahnya, dan senyum itu sukses membuat wajahnya tertunduk malu-malu.
"Ah, manis sekali," batinku.
Ting!
Terdengar suara pintu lift terbuka, lalu aku melangkahkan kaki menuju ruangan Ayah diikuti Adelia di belakangku.
Langkah kami sampai di depan pintu bertuliskan CEO, dan sesuatu membuatku tersadar. Kenapa nama dr. Mahendra yang biasa terletak di bawah tulisan CEO itu sudah tidak ada? Apa Ayah sengaja melepasnya untuk digantikan dengan namaku? Atau mungkin semua sudah berubah? Karena seingatku, terakhir kali aku menginjakkan kaki di ruangan ini sudah 10 tahun yang lalu, tepatnya sebelum aku berangkat untuk study di USA.
"Selamat Pagi Mr. Adelio," suara bariton tiba-tiba terdengar di telingaku, membuyarkan semua pertanyaan di kepalaku.
Ashley laughed as she watched the protesters causing trouble in front of the Fontana building. Her plan worked and this is enough to destroy her sister's reputation!A company with an unhealthy working environment is the greatest embarrassment a business could ever wish for!Her phone rang and it was Stephen. "Hey, honey! I miss you so much, why did you call me? Is there something wrong? Are there issues with the wedding preparations!?" Her once bitter voice suddenly turned sweet. "What have you done now!? Grandpa is now angry because you used the Sullivan's resources to cause trouble at Fontana! Get back here now and face grandpa!" Stephen's boisterous and furious voice made her shiver with fear.She didn't think that she'll be caught too soon! That old man is really vicious and his watchful eyes is troublesome. None of the Sullivan's have high regards towards her. Making her fall short from the family's favor. But Stephen's father gave her an offer. That is to do something signif
Lois winced as Veena tended to his wounds. She was frowning all the time and hasn’t spoken a single word to her husband since the fight. She brought him immediately to the hospital and the doctor told her he needed a week of bed rest due to small broken ribs.“Love…” Lois whispered, wanting to hold her hand.But she moved away and avoided his touch. Placing the items she used to redress his wounds on a tray. She volunteered to dress his wounds instead of bothering the nurses. "Talk to me." he begged. She turned away from him at the same time someone knocked on the door. It must be the food she ordered. After thanking Felix for delivering the food, she arranged the bed tray first. Lois was silently watching her, following her every move. Soon, Lois became annoyed and pushed the bed tray out of his way. He grabbed his wife's arm, making Veena lose balance. She squeaked from the sudden surprise and fell into her husband's arms. "What are you doing? I nearly spilled the rice porridge
"Mrs. Rossenov, Ashley is outside demanding to see you," Abby reported to Veena.It is early in the morning and the pregnancy is making her emotions go everywhere and the symptoms sent her frequent visits to the toilet. The news of Ashley's arrival just ruined her peaceful breakfast. "Madam! She was able to barge through the gates with the Sullivan's security force." "Veena! Open this f*cking door right now!" Ashley's raging shout can be heard outside. Veena placed down her cup. Feeling annoyed of the disturbance. "Give her a warm welcome for me, Abby. Let my husband know of Ashley's visit." After giving instructions to Abby. Veena went to the bathroom behind the kitchen to freshen up. Her weary and sick-filled face will make her look weak in front of that screaming banshee. "Where is that b*tch!? She's so tough challenging me publicly but won't face me right now!?" The ear piercing shout rang once again. "Gosh, there is no need for you to scream like a freaking dying banshee! I
The news has spread throughout Geneva and quickly climbed into the ears of the wealthy socialites.Meanwhile, Ashley was busy talking to her wedding planner and picking the flowers for her wedding. The well-dressed who came along with her were socialites and good at buttering up to Ashley.They were whispering to one another while constantly glancing at Ashley. She noticed this and wasn't happy of their backstabbing. Slamming her hands on the table, the three socialites jumped from the sudden bang."What are you guys whispering about? Are you planning something that will ruin my wedding?"The women shook their heads and expertly caressed Ashley's ego."Oh no, of course not Ashley. We would never ever try to do something like that. Your wedding will be the biggest and grandest of all time!" The blonde socialite replied."We were talking about the latest gossip in the city. And we're not quite sure if it is about you." says the brunette."It is all over the news! Here let us show you."












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ulasan-ulasan