Share

BAB 38

Penulis: Imamah Nur
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-21 22:20:02

Tiga hari berlalu, tetapi rumah Ibu Anwar masih terus diawasi. Setiap kali Ibu Anwar dan suaminya pergi ke kafe, Zola ketar-ketir tinggal di rumah seorang diri. Ibu Anwar selalu berpesan tiap kali akan pergi agar Zola tidak membukakan pintu terhadap siapa pun atau menjawab panggilan apapun di luar.

"Ah, Mas Haidar. Kenapa sih kamu seolah merampas kebebasanku? Aku harus terkurung begini semenjak kamu datang. Kenapa tidak pulang saja ke Jakarta? Bukankah di sana ada mantan istrimu yang sempurna?
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Mas, Ayo Bercerai!   BAB 61

    Zola yang memang sudah lapar sedari tadi mengekor dokter Gamal dan duduk di meja makan. Tanpa banyak bicara ia langsung mengambil nasi dan menaruh di piringnya sendiri. "Sudah sangat lapar ya?" tanya dokter Gamal terkejut. Zola mengangguk malu-malu. "Iya Dok. Bayinya udah berontak ini." Dokter Gamal mengangguk."Ini dokter memang masak sendiri semua?"Dokter Gamal kembali mengangguk. "Cuma menu sederhana, aku bisa kalau cuma masak ini."Kali ini Zola yang mengangguk."Sama suami sendiri kok panggilnya Dok, sih Lana?" tanya Dewi. Ia langsung nimbrung diantara keduanya. "Enggak ada sebutan yang lebih bagus gitu?" Dewi meraih centong dan mengambil nasi. "Terserah Lana mau manggil apa, kok situ yang sewot. Lagian, siapa yang suruh kamu ikut makan?" tanya dokter Gamal, tatapan sinis tertuju untuk Dewi."Terus aku harus puasa gitu? Yaudah mending Anda izinkan aku pergi aja dari rumah ini kalau enggak boleh makan," Tantang Dewi."Hmm, mulai lagi," keluh Zola lalu mengambil ayam dan maka

  • Mas, Ayo Bercerai!   BAB 60

    "Mau kemana kamu? Mau lari dari tanggung jawab?" tanya dokter Gamal sinis. "Lepaskan!" Dewi menghempaskan tangan pria di sampingnya, tetapi tidak berhasil karena pegangan dokter Gamal begitu kuat. "Lagian apa tangung jawabku? Aku hanya bilang kalau perlu ingin menemani Lana agar dia bisa hidup dengan tenang. Tapi dia tidak mau, jadi aku tidak ada kewajiban untuk tetap tinggal di sini," ucap Dewi panjang lebar. "Sudah ngomongnya?" tanya dokter Gamal masih dengan tatapan yang intens. "Belum," jawab Dewi cepat. "Lanjut," suruh dokter Gamal. "Lepaskan tanganku. Jangan sampai istrimu melihat ini dan cemburu buta padaku. Enggak asik." Dewi kesal, ia menghempaskan tangannya hingga terlepas dari tangan dokternya Gamal. Ia kemudian beranjak pergi. "Tunggu! Kau tidak bisa kabur begitu saja setelah masuk ke rumah ini." Ucapan dokter Gamal menghentikan langkah kaki Dewi. "Kau tahu kesalahanmu apa?' tanya pria itu. Nadanya terdengar serius. Helaan napas Dewi terdengar di udara da

  • Mas, Ayo Bercerai!   Bab 59

    Dokter Gamal menganga. Dia menatap Zola dan Dewi secara bergantian lalu bertanya, "Kamu benar-benar kenal dengan wanita hantu ini?" Sekarang Dewi pun Ikut menganga. Matanya membelalak tajam. Zola melihat keduanya dengan bingung. "Kalian kenapa kompak gini sih? Sama-sama mau adain konser lalat masuk mulut?" Reflek keduanya menutup mulut. Zola tertawa lucu. "Kalian ya, kompak terus." "Apa kamu bilang tadi? Aku wanita hantu?" protes Dewi tak terima. Ia menatap tajam mata dokter Gamal. "Yasudah, wanita jelangkung aja. Datang tak dijemput dan pulang pun gak akan ada yang antar." Dokter Gamal terkekeh. Dewi mengepalkan tangan lalu mendorong pria itu dengan emosi. Tawa Zola meledak. Netranya sampai meneteskan air mata dan tubuhnya gemetar. Namun, kali ini bukan lagi getaran ketakutan melainkan kebahagiaan. "Nama saya Dewi Tuan, tolong jangan panggil yang aneh-aneh!" seru Dewi, matanya terus melotot tajam. "Kalian ya, baru kenal aja udah kayak Tom and Jerry, tapi aku lihatnya seru s

  • Mas, Ayo Bercerai!   BAB 58

    "Anakmu? Mana?" cecar dokter Gamal.Dewi tidak menjawab, tubuhnya menegang, bukan takut pada dokter Gamal melainkan pada respon tubuh Zola yang tidak biasa. "Jangan-jangan racun ini tidak hanya bereaksi saat diminum tapi ketika menyentuh kulit juga." Dewi ketar-ketir. Wajahnya seketika memucat."Kenapa diam? Kau lihat karena ulahmu dia ketakutan seperti ini!" Dokter Gamal menunduk membantu Zola untuk berdiri, tetapi Zola menggeleng kuat. Ia melepaskan pegangan tangan dokter Gamal."Jangan sentuh aku Mas. Setelah kamu membanting piring kau akan akan menampar aku lagi, kan?" Air mata Zola menetes, pandangannya kosong."Apa yang kamu ucapkan?" Tentu saja dokter Gamal tidak paham dengan apa yang diucapkan oleh Zola. Za seperti orang ngelindur saja."Mas pergi saja sana, aku gak akan ganggu Mas lagi. Aku gak akan ikut campur urusan Mas lagi. Tapi tolong jangan kasar lagi sama Zola."Dewi membelalak mendengar Zola menyebutkan nama aslinya. Ia baru sadar ternyata pikiran Zola berada di mas

  • Mas, Ayo Bercerai!   BAB 57

    "Bagaimana Tuan Kandar deal?" tanya dokter Gamal setelah Zola dan dirinya menentukan harga."Deal Tuan Gamal. Kami ambil semua yang tadi."Dokter Gamal mengangguk dan mengajak kedua orang itu ke meja. "San, mana minumannya!" seru dokter Gamal sembari menatap ke samping."Ada Tuan, sebentar," ucap Hasan sembari membawa nampan ke meja."Mari silahkan duduk Tuan dan Nyonya Kandar."Kedua pembeli itu mengangguk dan duduk berhadapan dengan dokter Gamal dan Zola."Tuan dan Nyonya bisa pilih mau minum yang mana," ucap Hasan sembari membungkuk hingga nampan posisinya lebih rendah. Di atas benda itu ada beberapa macam jus buah, kopi dan teh. Ya, begitulah dokter Gamal menyambut mereka yang datang ke pamerannya. Dia memperlakukan semua orang seperti tamu dan tamu itu bebas ingin minum apapun yang ditawarkan pelayan pada mereka."Terima kasih sebelumnya." Nyonya Kandar mengambil jus melon sementara suaminya mengambil kopi susu."Sama-sama. Kalau begitu saya permisi." Hasan membungkuk lagi kemud

  • Mas, Ayo Bercerai!   BAB 56

    Zola menambah kecepatan kakinya. Merasa akan terlambat ia berlari ke sisi dokter Gamal. "Nyonya Abadi!" seru dokter Gamal. Ia menggunakan nama belakang dari Lana. Zola mengembuskan napas kasar lalu menatap kesal pada dokter Gamal. Sementara orang-orang yang hadir bertepuk tangan riuh menyambut kedatangan Zola. "Hampir saja kau menunjukkan identitasku," bisik Zola di telinga dokter Gamal. "Tenang saja, aku tahu apa yang harus aku lakukan," balas dokter Gamal juga dengan setengah berbisik. Zola mengangguk. Mereka sedikit berembuk lalu sama-sama berbaur dengan pengunjung. Beberapa dari pengunjung sempat bertanya pada Zola mengenai hasil karya tangannya. Zola menjelaskan dengan tenang dan fokus serta terarah. Ia juga membantu beberapa orang yang ingin praktik membuat sesuatu. "Lana kau jangan terlalu terlibat, kamu butuh istirahat," tegur dokter Gamal tatkala Zola sampai lupa waktu. Di saat ada jeda untuk beristirahat wanita itu masih melayani pertanyaan dan membantu anak-anak

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status