Share

BAB 5

Author: Imamah Nur
last update publish date: 2025-11-19 10:31:57

Setelah semua bersih, Zola terduduk di lantai, memeluk lututnya, berusaha mengumpulkan kepingan hatinya yang terasa ikut pecah bersama piring tadi. Teror yang baru ia rasakan, kekerasan Haidar yang pertama kali melampaui batas verbal, telah meninggalkan luka yang dalam, jauh lebih dalam dari goresan pecahan piring di hatinya.

Tiga hari berlalu dalam kabut keheningan yang menyesakkan. Zola bergerak seperti robot, melakukan tugas rumah tangga tanpa semangat, tanpa gairah. Haidar bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, tetap pulang larut, pergi pagi, dan menghindari kontak mata. Jika terpaksa berinteraksi, hanya ada kalimat-kalimat singkat dan dingin. Zola merasa seperti hidup di neraka, sendirian di antara dinding-dinding yang dulu ia sebut rumah. Ia butuh bicara, butuh seseorang untuk mendengarkan sementara Kirana setiap kali melihat Zola hanya menunduk, seakan takut untuk bicara apapun.

Malam harinya, Haidar pulang lebih awal dari biasanya. Zola sedang berada di dapur, menyiapkan makanan untuk Kirana. Haidar masuk ke kamar, dan tak lama kemudian, terdengar suara gemerisik kertas dari dalam. Zola mengabaikannya, ia sudah terlalu lelah untuk peduli. Tapi kemudian, suara Haidar memanggilnya, nadanya datar, tanpa emosi.

“Zola, kamu di mana?”

Zola berjalan ke ambang pintu kamar. Haidar berdiri di tengah ruangan, memegang setumpuk kertas yang sudah usang di tangannya. Kertas-kertas itu… Zola tahu persis apa itu. Itu adalah surat-surat cinta mereka, surat-surat yang mereka tulis satu sama lain di awal pernikahan, janji-janji manis yang kini terasa begitu pahit.

“Itu… itu apa, Mas?” Zola bertanya, jantungnya berdebar kencang. Firasat buruk menyelimutinya.

Haidar menatap tumpukan surat itu dengan pandangan jijik. “Ini? Ini sampah. Aku nemu di laci meja di kamar. Kenapa masih kamu simpan, sih? Kekanakan banget.”

Zola merasa napasnya tercekat. “Itu… itu kenangan kita, Mas. Surat-surat yang dulu Mas tulis buat aku.”

Haidar mendengus. “Kenangan apa? Itu kan cuma tulisan orang-orang bodoh yang lagi dimabuk cinta. Sekarang aku sudah dewasa, Zola. Enggak butuh lagi hal-hal kayak gini.”

“Mas… kenapa Mas ngomong gitu?” Zola melangkah maju, tangannya terulur ingin mengambil surat-surat itu. “Itu penting buat aku, Mas.”

Haidar menarik tangannya ke belakang. “Penting buat kamu? Buat aku sih enggak. Ini cuma bikin sempit tempat. Udah, buang aja sana.”

“Jangan, Mas! Jangan dibuang!” Zola memohon, air matanya sudah siap tumpah. “Itu… itu bagian dari sejarah kita.”

Haidar menatapnya dengan tatapan kosong, seolah Zola adalah orang asing yang memohon hal tak masuk akal. “Sejarah apa? Udahlah, Zola. Kamu ini selalu saja drama. Aku capek liat kamu gini terus.”

Tiba-tiba, Haidar mulai merobek surat-surat itu.

Sret! Sret!

Suara kertas terkoyak itu menusuk telinga Zola, lebih menyakitkan daripada pecahan piring. Setiap robekan terasa seperti pisau yang mengiris hatinya. Ia melihat tulisan tangan Haidar, janji-janji cintanya, kini terpecah belah menjadi potongan-potongan kecil.

“Mas! Stop!” Zola berteriak, berusaha meraih tangan Haidar, tapi Haidar menghindarinya.

“Ini cuma kertas, Zola. Enggak ada artinya,” kata Haidar dingin, terus merobek tanpa jeda. Wajahnya tidak menunjukkan emosi apa pun, hanya kekosongan yang menakutkan.

“Bukan cuma kertas, Mas! Itu janji Mas! Itu cinta Mas!” Zola memekik, air mata membanjiri wajahnya.

Haidar tertawa hambar. “Cinta? Kamu pikir aku masih anak remaja yang percaya sama cinta-cintaan di kertas kayak gini? Aku udah dewasa, Zola. Aku punya tanggung jawab. Aku punya Kirana. Hal-hal kekanakan kayak gini udah enggak relevan lagi.”

Ia terus merobek, tanpa ampun, tanpa sedikit pun keraguan. Potongan-potongan kertas itu berjatuhan ke lantai, seperti salju yang menghancurkan impian. Zola hanya bisa berdiri terpaku, menyaksikan kenangan mereka dirobek menjadi serpihan tak berarti.

“Mas… kenapa Mas setega ini?” Zola berbisik, suaranya parau. “Kenapa Mas menghapus semuanya?”

Haidar selesai merobek surat terakhir. Ia melihat potongan-potongan kertas itu berserakan di lantai, lalu menatap Zola. “Aku enggak menghapus apa-apa, Zola. Aku cuma menyingkirkan hal-hal yang enggak penting. Harusnya kamu juga gitu. Jangan hidup di masa lalu. Move on.”

Kata-kata itu, "move on", dari mulut Haidar, orang yang baru saja menghancurkan masa lalu mereka di depan matanya, terasa seperti pukulan telak.

"Move on katamu, Mas? Bagaimana denganmu yang enggak bisa move dari Raisa?!"

Plak!

Tamparan melayang tepat mengenai pipi Zola. Zola segera menyentuh pipinya, sakit dan kebas.

Tangan Haidar menggantung gemetar di udara. Pria itu menatapnya tak percaya, seolah apa yang dilakukan terjadi di luar kendali.

Zola tersenyum miris, tangannya diangkat menggapai tangan Haidar.

"Tampar Mas! Tampar aku sampai kau puas!" teriak Zola.

"Makanya jangan pancing amarahku Zola. Jangan sampai aku lebih kasar dari ini." Bukannya meminta maaf Haidar malah menyalahkan Zola.

"Aku menikah denganmu bukan untuk disakiti, Mas. Aku menikah denganmu untuk disayangi dan dicintai. Tapi kalau rasa itu sudah tidak ada lagi, apa lagi yang harus dipertahankan?" Zola menatap mata Haidar dengan tatapan terluka. Kedua tangannya mengepal kuat.

"Baiklah Mas, Ayo kita bercerai!"

Haidar terperanjat, sangat terkejut dengan keputusan Zola. Sejenak wajahnya terlihat panik, namun beberapa saat ekspresinya kembali tenang.

"Apa! Cerai? Jangan harap!"

Haidar berbalik, meninggalkan Zola yang berdiri di tengah kamar, dikelilingi oleh serpihan-serpihan kenangan yang baru saja ia robek . Ia pergi ke kamar mandi, meninggalkan Zola sendirian dengan kehancuran itu.

Zola berlutut di antara robekan kertas. Tangannya gemetar, ia meraih potongan-potongan kecil itu satu per satu. Ada potongan yang bertuliskan “Selamanya milikmu,” ada yang “Cintaku takkan pudar,” ada yang “Kaulah duniaku.” Kini, semua itu hanya serpihan yang tak bisa disatukan lagi. Ia mencoba merangkai kembali, menyatukan huruf demi huruf, kata demi kata, tapi hasilnya hanya kekacauan.

Ia memeluk tumpukan robekan kertas itu ke dadanya, menangis tersedu-sedu. Hatinya menjerit. Haidar telah membunuh cinta mereka, bukan hanya dengan perbuatannya, tapi dengan merobek kenangan paling berharga mereka. Ia telah secara sengaja menghapus jejak-jejak kebahagiaan yang pernah ada, memaksa Zola menghadapi kenyataan yang paling pahi.: Cintanya telah mati di mata Haidar.

Zola merasa dirinya seperti manusia yang tidak pantas dicintai, tidak pantas untuk diingat, tidak pantas untuk memiliki masa lalu yang indah. Setiap potongan kertas yang ia genggam terasa seperti pecahan jiwanya sendiri. Ia terus menangis, air mata membasahi robekan-robekan kertas itu, seolah mencoba menempelkannya kembali dengan kesedihan yang tak tertahankan…

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Seputar Cerbung
dag dig dug, sekarang zola udah lelah dan minta cerai. aku jadi tegang campur lega bacanya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Mas, Ayo Bercerai!   BAB 96. Harapan Palsu

    "Aduh, sakit sekali." Zola meringis. Ia duduk berdiri duduk berdiri dengan gelisah. Mulutnya tidak henti-hentinya mengoceh tidak jelas. "Kenapa denganku, aduuh!" pada akhirnya Zola tidak tahan dan suaranya semakin keras. Dokter Gamal menoleh dan mendapati Zola berjongkok dengan tangan memeluk perut. "Lana!" ia segera berlari dan mendekati Zola. "Lana, kamu kenapa?" tanyanya dengan raut wajah khawatir. Zola mengangkat tangan. Dengan bibir bergetar dia berkata pelan, "Jangan mendekat, jangan pedulikan aku." Akan tetapi, dokter Gamal tidak mengindahkan. Ia tetap melangkah mendekati Zola. Tangannya terulur untuk menyentuh lengan Zola. "Jangan sentuh aku! Aku tidak sudi disentuh olehmu!" sentak Zola di tengah rasa sakit yang mendominasi perutnya. "Aduh, pinggangku juga–" "Lana, ada apa dengan perutmu? Apakah sudah kontraksi?" tanya dokter Gamal panik. Ia sama sekali tidak memikirkan kenapa Zola tiba-tiba tidak ingin disentuh olehnya. Yang harus dirinya hadapi sekarang adal

  • Mas, Ayo Bercerai!   BAB 95

    Dewi tak kalah terkejutnya. "Jadi kamu belum tahu ya Zola?" Zola. tersenyum pahit kemudian menggeleng. "Sorry, aku tidak bermaksud menyampaikan kabar yang bikin kamu sedih Tapi kabarnya Haidar menikah dengan Raisa karena terpaksa. Mungkin dia tidak ada pilihan lain karena Kirana butuh sosok ibu." "Kamu tidak salah Kok Wi, hanya saja aku berharap Raisa benar-benar tulus masuk ke keluarga Mas Haidar. Semoga Kirana bahagia bisa berkumpul dengan ibunya. Akhirnya ia merasakan keluarganya utuh kembali." Zola. menghela napas. "Ya semoga Mas Haidar berjodoh sama Raisa." Dewi mengerutkan kening. "Kamu enggak ada sedih-sedihnya gitu Zola? Kalau aku tuh jadi kamu. Ku doain keluarga mereka tidak bahagian. Enak saja, setelah berhasil menghancurkanmu, eh mereka malah hidup senang." Zola kembali tersenyum. "Untuk apa berdoa yang buruk-buruk Wi? Takutnya doa buruk itu berbalik kepada diri kita sendiri lagi pula karma bisa mencari jalannya sendiri." Dewi manggut-manggut. "Kamu benar Zola, peri

  • Mas, Ayo Bercerai!   BAB 94

    Sampai di rental, setelah selesai mengembalikan mobil, Zola menyadari ATM nya tidak ada di tas. Ia panik, tidak tahu akan mendapatkan uang dari mana untuk membayar ongkos pulang sementara uang tunai yang ada di dompet sudah diambil semua oleh ayahnya. "Aku harus menghubungi siapa ya?" tanya Zola menimbang-nimbang dalam hati. Awalnya ia ingin menghubungi dokter Gamal, tetapi ia mengurungkan diri karena pasti akan sangat merepotkan sementara dokter Gamal lagi ada kesibukan di kota lainnya. Selain itu, dia juga tidak mau dokter Gamal tahu dia pergi tanpa pamit. "Masa iya aku harus menghubungi Mas Haidar yang sama-sama ada di kota ini? Ah tidak, itu pasti memalukan. Nanti dipikir pula aku berubah pikiran ingin kembali padanya. Lagian aku malas ketemu dia langsung. "Kenapa Mbak? Ada yang masih ketinggalan di mobil?" tanya petugas rental menyadari Zola tak kunjung pergi setelah menyerahkan kunci. "Oh Tidak Mas, hanya menunggu teman saja, tapi kok lama banget," jawab Zola berbohong

  • Mas, Ayo Bercerai!   BAB 93

    Zola menghela napas lega. Ia hendak menghidupkan mesin mobil. Namun, suara seseorang di sebelah menahan gerakannya. Entah kapan orang itu masuk dan duduk dalam mobil, mungkin saat Zola fokus menatap Kirana di depan sana. "Zola, akhirnya kita ketemu juga." Suara itu, suara dari masa lalu yang sempat mengguncang dunianya. Zola syok. Tubuhnya Zola langsung merespon. Tegang, dingin, dan kaku. Peluh dingin membanjiri seluruh tubuhnya. "Ayah?" Mata Zola membelalak, tangannya membekap mulut. Pria di samping Zola tertawa kecil. "Huh, masih ingat ternyata kamu sama ayahmu." Pria itu berdecih. "Kenapa enggak pernah menjenguk Ayah selama di penjara, hah?" Zola menggeleng lemah. "Aku .... aku ....'" suaranya tercekat di tenggorokan. Oksigen di sekitar terasa menipis, dadanya sesak. "Aku kenapa, hah? Lupa sama yang sudah susah payah membesarkanku karena kamu sudah menikah dengan orang kaya, begitu?" Zola menggeleng. Lidahnya tiba-tiba terasa kelu. "Pria tadi ... Haidar Danish Azh

  • Mas, Ayo Bercerai!   BAB 92

    "Haidar, harus dengan apa aku membuktikan bahwa aku tulus ingin hidup bersama kamu dan Kirana. Harus bagaimana lagi agar aku bisa mendapatkan cintamu kembali? Tolong Haidar, katakan apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahanku padamu?" Raisa sampai bersimpuh di lantai untuk menarik simpati Haidar. Namun pria itu sama sekali tidak peduli. "Kalau kamu tidak mau pergi dari kamar ini biar aku yang keluar," putus Haidar lalu bergegas ke arah pintu dan menutupnya dengan kencang. Raisa tersentak dan meringis. Ia bangkit, berdiri menatap kamar utama rumah Haidar. Dulu ini adalah kamarnya tetapi setelah itu direnovasi besar-besaran dan menjadi kamar Haidar dengan Zola. "Di mana cintamu yang dulu Haidar?" Raisa terisak lalu melangkah keluar. Ia menuju salah satu ruang tamu, tetapi mendapati Haidar yang duluan berbaring di sana. "Kalau tahu begini, lebih baik aku bawa Kirana pulang saja." Raisa menuju kamar Kirana dan membuka pelan pintunya. Keheningan langsung menyambutnya. Kirana

  • Mas, Ayo Bercerai!   BAB 91

    dan hanya melihat potensi. Aku mencintai caramu mencintaiku dan caramu memperlakukan anak dalam kandunganku." “Dan aku mencintaimu, Lana. Seluruh dirimu. Bahkan bayi yang tumbuh dalam ragamu." Lana mengulurkan tangan kanannya. Dokter Gamal tersenyum lega. Ia mengambil tangan Zola, dan dengan hati-hati menyematkan cincin kayu itu di jari manis Zola. Cincin itu pas, terasa seperti takdir yang sudah lama menunggu. “Ya,” bisik Zola. “Aku akan menikah denganmu. Mari kita bangun rumah kita dengan kesetiaan dan kejujuran.” Dokter Gamal menghela napas panjang, seperti baru saja menyelesaikan proyek paling rumit dalam hidupnya. Ia mencondongkan tubuh dan mencium kening Zola, ciuman yang lambat, stabil, dan penuh janji keamanan. “Terima kasih,” bisik dokter Gamal. “Terima kasih telah memberiku kesempatan ini.” Zola menunduk, pipinya bersemu malu. Dokter Gamal tersadar dengan apa yang baru saja ia lakukan. "Lana, maafkan aku, tadi aku reflek." Dokter Gamal benar-benar merasa bersa

  • Mas, Ayo Bercerai!   BAB 35

    Haidar menghela napas. "Zola, aku cuma minta kamu bersabar. Ini akan berlalu. Raisa juga nggak selamanya berada di sini. Dia kan sibuk." "Sibuk, Mas?" Zola menyeka air matanya dengan kasar. "Dia bilang dia kerja, tapi dia bisa tiba-tiba muncul di depan sekolah Kirana? Dan kamu percaya itu?" "Su

    last updateLast Updated : 2026-03-22
  • Mas, Ayo Bercerai!   BAB 42

    Dalam keheningan yang menyiksa batin Zola, bunyi perut dokter Gamal langsung menyita perhatian keduanya. "Seorang dokter, bisa ya nyuruh pasien harus makan tepat waktu tapi dirinya sendiri perlu diingatkan oleh cacing-cacing dalam perut." Zola tertawa, dokter Gamal pun ikut ketawa. "Aku memang

    last updateLast Updated : 2026-03-23
  • Mas, Ayo Bercerai!   BAB 33

    Rudi tertegun, ada rasa syok bisa bertemu Haidar di tempat itu. "Tuan Haidar? Saya ... saya cuti beberapa hari Tuan. Mertua lelaki saya sakit parah. Jadi kami pulang ke sini untuk mengurus mertua saya di rumah sakit. Tuan sendiri sedang apa di tempat ini?" "Cari istri saya lah, si Zola. Memangnya

    last updateLast Updated : 2026-03-22
  • Mas, Ayo Bercerai!   BAB 39

    Pria tinggi besar itu masuk ke dalam mobil hingga terasa mobil itu berguncang. Zola di dalam koper gemetar. Ia masih takut kalau-kalau yang menghadang perjalanan mereka bukan polisi sungguhan melainkan orang-orang Haidar. Pria itu memandang ke segala arah, seolah mencari seseorang dalam mobil. Ia

    last updateLast Updated : 2026-03-23
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status