Share

BAB 7

Author: Imamah Nur
last update Last Updated: 2025-12-25 23:27:41

Otak Raisa bergerak liar mencari hal jahat yang bisa membuat Zola celaka. Ia sama sekali tidak menginginkan Haidar kembali perhatian dan menyayangi istrinya karena alasan anak dalam perut Zola.

"Ibu, tolong bangunkan Ayah. Kirana enggak tahu harus bagaimana?" kepanikan di wajah Kirana sangat kentara. Raisa tidak suka melihat putrinya begitu peduli pada istri baru suaminya. Ia menghela napas panjang sebelum akhirnya berkata, "Tenang Kirana, Tante Zola enggak akan kenapa-kenapa." Ucapan dan hati Raisa berbanding terbalik.

"Tapi Ibu, Tante Zola tidak bernapas." Kata-kata Raisa sama sekali tidak bisa menenangkan Kirana.

"Mungkin Tante Zola kelelahan dan pingsan, nanti paling sadar sendiri, jadi kamu enggak usah khawatir. Sekarang sudah jam berapa, sana mandi dan pergi sekolah. Minta antar sama pak sopir di luar aja, enggak usah nunggu Tante Zola." Tanpa menunggu jawaban Kirana, Raisa menutup panggilan.

Kirana termenung, dia lama menatap Zola hingga akhirnya mengingat kejadian saat dirinya kedinginan. Zola membalurkan minyak kayu putih lalu menarik selimut untuknya.

"Minyak kayu putih!" Kirana berlari keluar dan kembali ke kamarnya sendiri. Beberapa saat kemudian kembali duduk di sisi ranjang Zola sembari mengusapkan minyak kayu putih seperti yang sering Zola lakukan.

"Bangun Tante," ucap Kirana seraya menggenggam tangan Zola, suhunya benar-benar sedingin es. Gurat khawatir dan rasa takut sangat kentara di wajah Kirana.

Setengah jam berlalu, perlahan Zola membuka mata. Ia mendapati Kirana sedang berlinang air mata di sampingnya. "Kamu... kamu kenapa, Sayang?"

Kirana terperanjat, lalu menatap wajah Zola tak percaya.

"Kamu kenapa Sayang, kok nangis?"

"Tante!" Kirana langsung memeluk Zola. "Kirana takut Tante meninggalkan Kirana."

Zola tersenyum, semakin sayang pada Kirana. Dia jadi semakin takut untuk berpisah dengan gadis kecil itu. Permintaan pisahnya pada Haidar tadi melintas kembali di benaknya.

"Lagipula, aku enggak mungkin minta cerai dalam keadaan hamil begini." Ia tersenyum kecut merasa takdir benar-benar mempermainkan dirinya.

"Tante janji ya, jangan tinggalin Kirana." Rasa takut yang muncul akibat hasutan yang sempat di lontarkan Raisa lenyap seketika, berganti dengan takut akan kehilangan. Lagipula, Zola selama ini memang tidak pernah menjahati dirinya.

Sesaat Zola dia, namun akhirnya mengangguk ragu. "Bisa minta tolong ambilin air minum, Sayang?"

Kirana mengangguk, buru-buru turun dari ranjang dan mendekati dispenser. "Tante mau air panas?"

"Campur saja biar hangat," jawab Zola.

Kirana mengangguk dan melakukan yang diminta Zola.

"Tante belum sempat masak Sayang, Tante pesenin online saja ya?"

Kirana menggeleng dengan cepat. "Gak usah Tante, sekali-kali Kirana pengen makan di kantin sekolah."

Zola hanya mengangguk dan tersenyum pada Kirana.

Seperti yang pernah dikatakan Kirana, dia ingin mandiri, pagi ini dia mandi dan mengenakan seragam tanpa bantuan Zola. Zola menelpon sopir di luar agar mengantar Kirana sebab kondisi tubuhnya tidak memungkinkan menyopir.

Setelah Kirana pergi, Zola melirik tablet Kirana yang tertinggal di kamarnya. Saat ia ingin meraih, ponselnya sendiri berdering. Ia segera memeriksa dan ternyata panggilan dari Haidar.

Senyuman Zola mengembang merasa Haidar kembali perhatian padanya. Kalau nanti Haidar meminta maaf, rencananya Zola ingin mengatakan tentang kehamilannya. Ia segera mengangkat telepon.

"Halo, Mas!"

"Ini aku bukan Haidar." Suara perempuan di seberang sana membuat senyuman Zola memudar.

"Ada apa?" tanya Zola ketus, malas berhadapan dengan wanita yang tidak tahu diri seperti Raisa.

"Kamu ternyata enggak becus ya, Zola."

Zola mengerutkan kening, tidak tahu arah pembicaraan Raisa kemana. Mungkinkah perihal Kirana yang dibiarkan melakukan persiapan sekolah sendiri tadi.

"Punya suami enggak diurus."

Zola terperanjat. "Apa maksudmu Raisa? Enggak usah bikin gaduh pagi-pagi."

"Aku bukan mau bikin gaduh tapi mau menunjukkan betapa tidak bergunanya kamu sebagai seorang istri."

Deg.

Jantung Zola berdetak kencang. Apa sekiranya yang akan dikatakan Raisa padanya? Tiba-tiba panggilan telepon berubah menjadi video call.

"Lihat ini!" Raisa mengarahkan kamera pada ranjang. "Gara-gara kamu gak bisa jadi istri yang baik, Haidar sampai mencari kehangatan pada mantan istrinya."

Zola membekap mulut, syok melihat suaminya berada di ranjang hotel dengan bertelanjang dada ditemani mantan istri.

"Kamu–" Suara Zola bergetar. Ia tak pernah menduga hubungan mereka sudah sejauh itu.

"Ya, kami memadu kasih semalam. Aku kagum, Haidar semakin liar di ranjang. Dia bilang selama ini enggak pernah puas dengan kamu."

Zola menggeleng. "Tidak mungkin."

"Apanya yang tidak mungkin? Kamu pikir seorang pria dewasa dan wanita dewasa menginap di hotel dalam satu kamar mau ngapain? Haidar bukan orang kere yang enggak bisa menyewa kamar hotel."

Dada Zola sesak, terasa seperti ada benda besar yang menghantamnya secara bertubi-tubi.

"Kalau kamu tidak percaya silahkan datang ke sini dan buktikan. Aku akan mengirim alamat hotelnya." Raisa menutup video call lalu mengirimkan alamat pada Zola.

Zola hanya menatap alamat di ponsel dengan hampa. Seharian dia berbaring dengan lemas. Dilema antara ingin bercerai atau tidak membuatnya malas melakukan apapun. Mengingat bayi dalam kandungannya dia jadi kepikiran untuk mempertahankan pernikahannya dengan Haidar, terlebih dia tidak ingin kalah dengan Raisa. Jika dirinya ngotot meminta cerai, Raisa akan merasa menang dengan mudah.

"Apakah aku harus bertahan? Meskipun sakit hati?" tanyanya pada diri sendiri. Zola mencoba berdamai, barangkali hubungannya dengan Haidar masih dapat diperbaiki.

Malam harinya, Haidar baru kembali ke rumah. Dari depan pintu baunya menusuk hidung Zola. Zola mual hingga berlari ke wastafel.

"Kamu kenapa sih?" tanya Haidar seraya melonggarkan kemejanya. Zola tidak menjawab, kepalanya berdenyut hebat. Rasa sakit itu menjalar dari pelipis hingga ke belakang leher, seolah ada paku-paku tak kasat mata yang ditancapkan ke dalam tengkoraknya. Setiap suara, bahkan deru pendingin ruangan, terasa seperti hantaman palu. Ia memijat pelipisnya perlahan.

Haidar masuk ke kamar mandi, lalu berjalan ke sisi ranjang usai mandi. Aroma sabun maskulin yang dulu menenangkan, kini terasa asing di indra penciuman Zola.

“Mas…” panggil Zola lirih dari tepi ranjang.

“Hm?” Haidar menjawab tanpa menoleh, sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk.

“Kepalaku sakit banget. Dari semalam nggak hilang-hilang. Mas kemana aja dari semalam." Ketika ingat pembicaraannya dengan Raisa pagi tadi, ada kesal sekaligus jijik di hati Zola.

“Ya, minum obat, dong. Panadol ada, kan, di kotak obat?” jawabnya acuh tak acuh.

Zola menarik napas, mencoba menahan perih di hati yang lebih menyakitkan dari denyutan di kepalanya. “Sudah, Mas. Tapi nggak mempan. Mungkin aku kecapekan…”

“Makanya jangan banyak pikiran yang nggak-nggak. Kamu itu terlalu sensitif, apa-apa dipikirin. Jadinya, ya, sakit sendiri,” kata Haidar, melempar handuk basah ke keranjang cucian. Ia lalu membuka lemari, memilih kaus untuk tidur.

“Aku nggak begitu, Mas. Cuma…”

“Sudah, ah. Aku nggak mau dengar keluhan lagi malam ini,” potong Haidar cepat. Ia berbalik, menatap Zola dengan ekspresi lelah. “Oh, iya. Aku sampai lupa bilang.”

“Bilang apa?”

“Setelah ultah Kirana, aku mau ajak dia pergi. Cuma berdua.”

Zola mengerutkan kening. “Pergi ke mana?”

“Camping. Di daerah Puncak. Dia butuh udara segar. Kasihan, di rumah suasananya tegang terus. Biar pikirannya fresh lagi,” jelas Haidar, seolah Zola adalah sumber ketegangan itu.

Hati Zola mencelos. “Camping? Kenapa mendadak, Mas? Terus… aku?”

Haidar menatapnya sejenak, tatapan yang menyiratkan bahwa pertanyaan Zola adalah sesuatu yang bodoh. “Kamu di rumah saja. Istirahat. Kan lagi sakit kepala., entar di sana kambuh lagi. Lagian, ini acara buat ayah dan anak. Quality time.”

“Tapi, Mas…”

“Kenapa lagi, Zola? Kamu mau ikut? Nanti di sana kamu malah cemberut, malah bikin suasana nggak enak. Kirana jadi nggak bisa nikmatin liburannya,” tuduh Haidar tanpa jeda.

“Aku nggak akan begitu!” sanggah Zola, suaranya sedikit meninggi.

“Buktinya selama ini kamu begitu!” balas Haidar tak kalah keras. “Setiap Kirana senang karena Raisa, muka kamu langsung berubah. Aku capek lihatnya, Zola! Aku cuma mau anakku bahagia, sebentar saja, tanpa harus lihat ibunya pasang muka sedih! Apa itu salah?”

Zola terdiam. Setiap kata Haidar adalah belati yang menancap tepat di ulu hatinya. Ia dituduh sebagai perusak kebahagiaan anak yang paling ia sayangi.

“Jadi… cuma kalian berdua?” tanya Zola akhirnya, suaranya parau.

“Iya. Cuma aku sama Kirana sebagai hadiah ulang tahun untuknya,” tegas Haidar. “Aku sudah siapkan semuanya. setelah acara ultah kami akan langsung berangkat."

Haidar kemudian berbaring di sisi ranjang yang lain, memunggungi Zola, menarik selimut hingga sebatas leher. Zola hanya bisa menatap punggung suaminya dengan perasaan tak menentu.

"Sebenarnya aku lelah mempertahankan rumah tangga ini, Mas tapi terpaksa," lirih Zola.

Malam itu, ia tidur dengan denyut sakit di kepala dan kehampaan yang membekukan di dada.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Daun Singkong
memangnya kenapa kalau hamil tanpa suami, Zola? lebih baik sendiri daripada bertahan dalam rumah tangga yang menghancurkan mental
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Mas, Ayo Bercerai!   BAB 31

    "Aku ada dimana?" Zola mengerjap dan mendapati samar-samar cahaya menyentuh retina matanya. Ia hendak mengucek, tapi tangannya seolah tertahan sesuatu. Ia mencoba membuka mata lebar-lebar dan mendapati selang infus terpasang di lengannya. "Aku di rumah sakit?" lirihnya.Dokter Gamal yang menelungkupkan wajah di atas kedua tangan mengangkat wajahnya dan menatap pada Zola. "Ka ... mu sudah sadar?" Dokter Gamal segera berdiri dan memeriksa Zola. "Ka ... mu, pria di bengkel kayu itu, kan?" Zola mengerutkan kening, tidak paham kenapa ada di ruangan yang sama dengan dokter Gamal. Namun, ia langsung tersadar bahwa pria di sampingnya ini juga merupakan seorang dokter. "Ya," jawab dokter Gamal. "Kamu mengalami kecelakaan tiga hari yang lalu dan sekarang baru sadar." Zola menganga mendengar penjelasan dokter Gamal. "Aku pingsan selama tiga hari?" Ia menggeleng, hal itu sangat tidak masuk akal di telinganya. "Ya. Kamu mengalami cedera otak dan kehilangan banyak darah." Zola terdiam,

  • Mas, Ayo Bercerai!   BAB 30

    Haidar sedang menatap layar laptopnya, di mana laporan mingguan detektif swasta terpampang dengan statistik yang menyedihkan. Ia membiarkan laporan itu terbaca, tetapi perhatiannya terfokus pada selembar kertas yang ia pegang, hasil printout dari bank. “Ini benar-benar yang terakhir?” tanya Haidar, suaranya serak karena kurang tidur. Di depannya duduk Pak Jaya, detektif swasta berwajah datar yang sudah ia sewa selama satu bulan. Ya, Haidar memutuskan untuk menyewa detektif setelah merasa semua suruhannya tidak ada yang becus mencari Zola. “Betul, Tuan Haidar,” jawab Pak Jaya tanpa basa-basi. “Penarikan tunai terakhir, dua minggu lalu. Di ATM Bank Mandiri cabang Maribaya. Jumlahnya hanya 4 jutaan saja, mungkin hanya sekedar untuk kebutuhan menyambung hidup." Haidar memicingkan mata pada alamat kota kecil di tepi pantai yang tertera di kertas itu. “Maribaya? Jauh sekali. Ini kota mana?” “Sebuah kota pelabuhan yang lumayan sepi, Tuan. Tapi itu adalah petunjuk fisik pertama yang kita

  • Mas, Ayo Bercerai!   BAB 29.

    Sore hari, hujan menggantung di langit. Langit yang seharusnya berwarna merah dan oranye, kini berwarna abu-abu dan gelap. Semakin lama awan-awan hitam bertebaran di atas sana, menunggu waktunya terjatuh. "Pak Karto, sepertinya saya harus pulang sekarang. Cuacanya tidak mendukung untuk tetap bertahan di sini," ujar Zola sembari membereskan peralatan kemudian mencuci tangan dan mengelapnya. "Ya, Nak. Kamu harus pulang sekarang. Jangan sampai terjebak hujan," sahut Pak Karto, lalu menatap sekitar yang mulai gelap. Zola mengangguk dan segera bersiap-siap. Ia mengeluarkan motor seken yang ia beli dengan uang Haidar dari salah satu ATM yang tidak sengaja terbawa. Zola pikir tidak masalah, anggap saja itu sebagai pesangon atas dirinya yang selama ini telah mengabdi dan melayani segala macam tuntutan Haidar dalam rumah tangganya. Toh Zola hanya mengambil sebagian isi dari ATM itu saat dirinya masih belum bekerja dan tinggal di rumah kosan, sebelum akhirnya pindah ke rumah Ibu Anwar.

  • Mas, Ayo Bercerai!   BAB 28

    Setelah beberapa hari Zola keluar dari rumah sakit, ia kembali beraktivitas meskipun sempat dilarang oleh Ibu Anwar. Ia tidak ke kafe melainkan ke tempatnya mengikuti kursus. Ia menggesekkan amplas kasar ke permukaan kayu jati daur ulang. Aroma kayu yang hangat dan debu halus yang beterbangan terasa menenangkan, jauh lebih menenangkan daripada aroma maskulin Haidar yang selalu menyelimuti rumah lamanya dan menjadi candu di awal-awal pernikahan mereka. Sudah dua minggu sejak ia memulai kursus singkat membuat perabotan kayu di bengkel kecil milik seorang tukang kayu tua. “Lana, kamu harus lebih sabar dengan seratnya,” tegur Pak Karto, instruktur kursus, yang sedang mengawasi dari balik kacamatanya. “Kayu ini sudah tua, dia punya cerita. Kamu tidak bisa memaksanya mulus dalam satu hari.” Zala tersenyum tipis. “Saya tahu, Pak. Tapi rasanya kalau saya tidak cepat selesai, cerita itu akan terus menghantui saya.” “Justru. Kamu harus dengarkan ceritanya, Nak. Kayu yang retak bukan berar

  • Mas, Ayo Bercerai!   BAB 27

    “Kenapa kamu tiba-tiba kembali ke sini? Kenapa kamu harus muncul di sekolah Kirana, di depan Mama?” Haidar bangkit, suaranya pelan tapi penuh ancaman. “Kamu bilang kamu hanya ingin melihat Kirana bahagia. Tapi kenapa kamu harus membuat Zola merasa tidak nyaman sampai dia lari?” Raisa berdiri, mencoba mempertahankan ketenangannya. “Tunggu dulu, Haidar. Jangan salahkan aku. Zola itu terlalu sensitif. Dia yang tidak bisa menerima kenyataan bahwa aku ini ibu kandung Kirana. Dia cemburu, Dar! Wajar kalau dia lari, dia memang tidak punya mental sekuat itu.” “Mental sekuat apa? Mental yang harus menahan fitnah dari ibu kandung anakku sendiri?” Haidar melangkah mendekat. “Zola tidak pernah cemburu dengan Kirana tapi kamu yang selalu membuatnya cemburu. Dia mencintai Kirana lebih dari dirinya sendiri. Dia pergi karena dia takut padaku, Raisa. Dan kenapa dia takut? Karena kamu terus memanipulasiku. Kamu terus mengisi kepalaku, membuatku berpikir Zola adalah penghalang kebahagiaan Kirana!”

  • Mas, Ayo Bercerai!   Bab 26

    Nyonya Sinta mengerutkan keningnya melihat gestur tubuh Raisa yang tidak biasa. "Punya siapa, Raisa? Kamu tahu pemiliknya? Punya Zola, bukan?" Nyonya Sinta mencoba menebak. "Ah, ah, ini ... bukan punya Zola, Ma," jawab Raisa gugup. Nyonya Sinta mengerutkan kening. "Terus punya siapa? Punya Bik Inang?" Nyonya Sinta meraih tespek dari tangan Raisa dan memeriksanya. Raisa dan Nyonya Sinta sama-sama melihat ke arah pembantu Haidar. Wajahnya Bik Inang pucat seketika. Rasa takutnya kembali menyeruak. Ia takut Raisa memfitnah dirinya dan berakhir pada pemecatan oleh Haidar ataupun Nyonya Sinta langsung. Otak Bik Inang langsung merespon pada ucapan Raisa tadi yang masih melekat di kepalanya. 'Kamu akan aku pecat.' Bik Inang menunduk, kedua tangannya yang terkepal, lemah dan gemeter. Seluruh badannya tampak tegang. "Bukan Ma." Jawaban Raisa membuat Bik Inang menghela napas lega. Raisa melirik pada wanita itu dan tersenyum licik. "Terus punya siapa?" cerca Nyonya Sinta, tidak tahan den

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status