Mag-log inKetika Haidar keluar dari kamar mandi, Zola masih berlutut di lantai. Haidar menghela napas berat. Pria itu memejamkan mata sebelum akhirnya kembali bersuara, "Lusa ulang tahun Kirana, aku minta kamu menyiapkan seperti sebelum-sebelumnya."
Zola mendongak seraya menahan rasa yang bergejolak dalam dada. "Kenapa tidak minta Raisa saja? Dia lebih mengerti tentang Kirana." Haidar mendengus. "Jangan mulai lagi, lagipula malam ini Raisa harus kembali ke luar kota, jadi dia pasti capek harus bolak-balik dan menyiapkan pesta." Zola tersenyum sinis melihat kepedulian Haidar terhadap mantan istrinya, sementara dirinya terlalu sering diabaikan. "Lagipula bukankah dulu aku yang sering mengurusi Zelin? Jadi anggap ini sebagai balas budi." Zola menghela napas panjang, matanya memejam kuat. Ternyata Haidar mulai mengungkit perihal pengorbanannya untuk adik Zola. Zola membuka mata dan menatap Haidar dengan tatapan datar. "Baik." Zola berdiri dan membawa sobekan kertas ke tempat sampah. Benar kata Haidar dirinya harus move on. Zola teringat dengan Kirana yang lama ditinggal. Jadi dia bergegas keluar. Ia mengernyit tatkala dari atas tangga melihat Kirana sedang bertelepon dengan seseorang. "Ayah ada di kamar, Ibu. Tadi dia panggil Tante Zola, jadi Kirana terpaksa makan sendirian," ujar Kirana dengan wajah murung. "Enggak apa-apa, Kirana memang sudah waktunya belajar mandiri, jangan mengandalkan Tante Zola terus. Nanti kalau dia lelah bisa marah dan kesal sama Kirana. Kalau marahnya memuncak dia bisa jahat sama Kirana." Kirana menggeleng. "Tante Zola tidak jahat kok, dia baik sama Kirana." Raisa tertawa di ujung telepon. "Itu hanya topeng, Kirana." "Topeng?" Kirana tidak mengerti. "Kirana Sayang, kamu terlalu polos, Nak. Kamu tahu enggak kenapa dulu Ibu sama ayah berpisah?" Kirana terdiam sejenak, otaknya berpikir, namun tidak sampai. "Enggak tahu, Ibu. Memang kenapa?" "Itu karena Tante Zola yang merebut Ayah dari Ibu. Kalau enggak, pasti kita bertiga menjadi keluarga yang utuh dan bahagia." Kirana terperangah, satu tangannya membekap mulut. Ia tidak menyangka, Zola yang terlihat baik ternyata seorang yang licik. "Selama ini dia hanya pura-pura baik, Sayang. Nanti kalau kamu punya adik dari dia, dia pasti akan jahatin kamu." Wajah Kirana terlihat tegang, tangannya yang memegang tablet gemetar. "Makanya jangan dekat-dekat dengan Tante Zola, yang namanya ibu tiri itu pasti jahat." Zola melihat ada yang aneh dengan perubahan sikap Kirana, dia bergegas menuruni tangga. "Telepon dari siapa Sayang?" Kirana tersentak, langsung menutup panggilan telepon. "Dari... dari nenek, Tante." suaranya gugup dan takut. "Oh." Zola duduk di samping Kirana. "Belum Makannya Sayang? Mau Tante suapin lagi?" Kirana menggeleng cepat, piring yang disentuh Zola ditariknya kembali. "Tidak usah Tante, Kirana mau makan sendiri aja, kan Kirana sebentar lagi udah 8 tahun." Kirana mencoba tersenyum untuk menyamarkan kegugupannya. Zola tersenyum, tangannya terulur mengusap rambut Kirana. "Enggak nyangka ya, Sayang, kamu cepat besar. Rasanya baru kemarin kamu masih pakai popok." Ia teringat kejadian tadi, jika benar dirinya bercerai dengan Haidar, dia pasti akan merindukan Kirana. Gadis seumuran mendiang adiknya ini sangat dicintainya. Zola sudah kehilangan Zelin, dia tidak ingin lagi kehilangan Kirana. "Yasudah makan, habis itu istirahat ke kamar." Zola mengambil nasi dan menaruh di atas piringnya sendiri. Pertengkaran dengan Haidar tadi membuatnya kehabisan banyak energi. "Aku pergi sebentar." Entah pamit pada Kirana ataukah pada Zola, yang pasti Haidar pergi dengan terburu-buru. Zola hanya diam, tak ada keinginan sedikitpun untuk bertanya meskipun tidak dapat dipungkiri dalam hatinya ada rasa penasaran. "Kirana duluan Tante. Malam ini Kirana mau tidur sendiri aja, gak usah ditemani." Gadis kecil itu tersenyum getir. Zola menatap lamat-lamat wajah Kirana, sepertinya ada yang berubah, anak itu terlihat aneh di matanya. "Kamu baik-baik saja kan, Sayang? Gak sakit kayak kemarin?" Zola menyentuh dahi Kirana, tapi suhunya normal. Kirana menggeleng, lalu merosot dari kursi dan melangkah menapaki anak tangga. Zola menatap punggung Kirana lalu membereskan meja makan. Setelah itu ia kembali ke kamar. Ketika duduk di tepi ranjang ia mendengar alarm pengingat menstruasi di ponselnya. Zola memeriksa, dahinya mengkerut. "Sudah 2 bulan aku belum menstruasi lagi. Apa aku hamil kali ini?" Ia termenung, rasa takut menelusup hatinya. Jika dulu dia sangat menginginkan kehamilan tapi tidak dengan sekarang. Dia belum siap menjadi ibu ditengah kekacauan keluarganya. "Ah tidak-tidak, ini pasti karena aku stres." Zola menggeleng, menepis pikirannya sendiri. "Tapi kalau memang iya?" Ia bangkit dengan gelisah, mondar-mandir di dalam kamar. Akhirnya, meski berat Zola memutuskan keluar membeli tespek. Setengah jam kemudian Zola kembali. Ia buru-buru ke kamar mandi, tak sabar ingin melihat hasilnya. Ketika garis biru mulai muncul di tespek, Zola nampak tegang. "Semoga tidak." Suaranya nyaris berbisik, hanya terdengar di telinga sendiri. Tatapan Zola tidak beralih sedikit pun dari benda di tangannya. Ketika hasilnya keluar lututnya terasa lemas. "Garis dua?" Ia menutup mulut, tespek di tangan jatuh membentur lantai. Zola syok tubuhnya mundur membentur dinding, kepalanya terasa berat. Ia berjalan sempoyongan kembali ke ranjang. Ia menutup mata dan tertidur hingga pagi. Jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi, Kirana masuk ke kamar mandi dan mendapati keran air di kamar mandinya macet. Gadis kecil itu cemberut dan mendesah kesal. Sesaat kemudian memutuskan untuk menemui Zola di kamarnya. Ia memanggil-memanggil nama Zola, namun Zola tidak bereaksi. "Tante, Kirana mau mandi di sini ya." Gadis kecil itu mendekat walaupun agak ragu. "Tante, hari ini kata Bu guru Kirana masuk lebih pagi." Kirana mengguncang tubuh Zola, namun Zola tetap tidak merespon. Kirana meraba tubuh Zola dan merasakan tubuh ibu tirinya sedingin es. Kirana panik, ia berlari ke kamar mandi. Kakinya tersandung sesuatu. Ia menunduk dan mendapati tespek di atas lantai. Dahi Kirana mengernyit, ia menyentuh benda itu. "Apa ini?" ia menggaruk kepala bingung. "Jangan-jangan gara-gara ini Tante Zola begitu, mending aku tanya ayah deh sekaligus bilang kalau Tante Zola tidak bergerak." Ia kembali ke kamar dan melakukan video call dengan Haidar. Sayangnya Raisa yang mengangkat. "Ada apa, Kirana?" Pertama kali melihat Raisa di layar, Kirana langsung kaget. "Ibu bersama Ayah? Ayah mana?" "Ayahmu lagi tidur, dia capek banget. Jadi jangan diganggu." "Tapi–" "Katakan saja pada Ibu apa yang ingin kamu sampaikan." Kirana ragu sejenak, tetapi kemudian mengangkat benda di tangan ke atas. Kirana menemukan benda ini di kamar mandi ayah dan Tante Zola tidak bergerak. Ibu, Kirana takut Tante Zola bunuh diri dan meninggal." Kata-kata polos Kirana membuat Raisa ingat tertawa. Namun benda di tangan Kirana membuat amarah dalam dirinya memuncak. "Zola hamil? Ini enggak bisa dibiarkan!""Aduh, sakit sekali." Zola meringis. Ia duduk berdiri duduk berdiri dengan gelisah. Mulutnya tidak henti-hentinya mengoceh tidak jelas. "Kenapa denganku, aduuh!" pada akhirnya Zola tidak tahan dan suaranya semakin keras. Dokter Gamal menoleh dan mendapati Zola berjongkok dengan tangan memeluk perut. "Lana!" ia segera berlari dan mendekati Zola. "Lana, kamu kenapa?" tanyanya dengan raut wajah khawatir. Zola mengangkat tangan. Dengan bibir bergetar dia berkata pelan, "Jangan mendekat, jangan pedulikan aku." Akan tetapi, dokter Gamal tidak mengindahkan. Ia tetap melangkah mendekati Zola. Tangannya terulur untuk menyentuh lengan Zola. "Jangan sentuh aku! Aku tidak sudi disentuh olehmu!" sentak Zola di tengah rasa sakit yang mendominasi perutnya. "Aduh, pinggangku juga–" "Lana, ada apa dengan perutmu? Apakah sudah kontraksi?" tanya dokter Gamal panik. Ia sama sekali tidak memikirkan kenapa Zola tiba-tiba tidak ingin disentuh olehnya. Yang harus dirinya hadapi sekarang adal
Dewi tak kalah terkejutnya. "Jadi kamu belum tahu ya Zola?" Zola. tersenyum pahit kemudian menggeleng. "Sorry, aku tidak bermaksud menyampaikan kabar yang bikin kamu sedih Tapi kabarnya Haidar menikah dengan Raisa karena terpaksa. Mungkin dia tidak ada pilihan lain karena Kirana butuh sosok ibu." "Kamu tidak salah Kok Wi, hanya saja aku berharap Raisa benar-benar tulus masuk ke keluarga Mas Haidar. Semoga Kirana bahagia bisa berkumpul dengan ibunya. Akhirnya ia merasakan keluarganya utuh kembali." Zola. menghela napas. "Ya semoga Mas Haidar berjodoh sama Raisa." Dewi mengerutkan kening. "Kamu enggak ada sedih-sedihnya gitu Zola? Kalau aku tuh jadi kamu. Ku doain keluarga mereka tidak bahagian. Enak saja, setelah berhasil menghancurkanmu, eh mereka malah hidup senang." Zola kembali tersenyum. "Untuk apa berdoa yang buruk-buruk Wi? Takutnya doa buruk itu berbalik kepada diri kita sendiri lagi pula karma bisa mencari jalannya sendiri." Dewi manggut-manggut. "Kamu benar Zola, peri
Sampai di rental, setelah selesai mengembalikan mobil, Zola menyadari ATM nya tidak ada di tas. Ia panik, tidak tahu akan mendapatkan uang dari mana untuk membayar ongkos pulang sementara uang tunai yang ada di dompet sudah diambil semua oleh ayahnya. "Aku harus menghubungi siapa ya?" tanya Zola menimbang-nimbang dalam hati. Awalnya ia ingin menghubungi dokter Gamal, tetapi ia mengurungkan diri karena pasti akan sangat merepotkan sementara dokter Gamal lagi ada kesibukan di kota lainnya. Selain itu, dia juga tidak mau dokter Gamal tahu dia pergi tanpa pamit. "Masa iya aku harus menghubungi Mas Haidar yang sama-sama ada di kota ini? Ah tidak, itu pasti memalukan. Nanti dipikir pula aku berubah pikiran ingin kembali padanya. Lagian aku malas ketemu dia langsung. "Kenapa Mbak? Ada yang masih ketinggalan di mobil?" tanya petugas rental menyadari Zola tak kunjung pergi setelah menyerahkan kunci. "Oh Tidak Mas, hanya menunggu teman saja, tapi kok lama banget," jawab Zola berbohong
Zola menghela napas lega. Ia hendak menghidupkan mesin mobil. Namun, suara seseorang di sebelah menahan gerakannya. Entah kapan orang itu masuk dan duduk dalam mobil, mungkin saat Zola fokus menatap Kirana di depan sana. "Zola, akhirnya kita ketemu juga." Suara itu, suara dari masa lalu yang sempat mengguncang dunianya. Zola syok. Tubuhnya Zola langsung merespon. Tegang, dingin, dan kaku. Peluh dingin membanjiri seluruh tubuhnya. "Ayah?" Mata Zola membelalak, tangannya membekap mulut. Pria di samping Zola tertawa kecil. "Huh, masih ingat ternyata kamu sama ayahmu." Pria itu berdecih. "Kenapa enggak pernah menjenguk Ayah selama di penjara, hah?" Zola menggeleng lemah. "Aku .... aku ....'" suaranya tercekat di tenggorokan. Oksigen di sekitar terasa menipis, dadanya sesak. "Aku kenapa, hah? Lupa sama yang sudah susah payah membesarkanku karena kamu sudah menikah dengan orang kaya, begitu?" Zola menggeleng. Lidahnya tiba-tiba terasa kelu. "Pria tadi ... Haidar Danish Azh
"Haidar, harus dengan apa aku membuktikan bahwa aku tulus ingin hidup bersama kamu dan Kirana. Harus bagaimana lagi agar aku bisa mendapatkan cintamu kembali? Tolong Haidar, katakan apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahanku padamu?" Raisa sampai bersimpuh di lantai untuk menarik simpati Haidar. Namun pria itu sama sekali tidak peduli. "Kalau kamu tidak mau pergi dari kamar ini biar aku yang keluar," putus Haidar lalu bergegas ke arah pintu dan menutupnya dengan kencang. Raisa tersentak dan meringis. Ia bangkit, berdiri menatap kamar utama rumah Haidar. Dulu ini adalah kamarnya tetapi setelah itu direnovasi besar-besaran dan menjadi kamar Haidar dengan Zola. "Di mana cintamu yang dulu Haidar?" Raisa terisak lalu melangkah keluar. Ia menuju salah satu ruang tamu, tetapi mendapati Haidar yang duluan berbaring di sana. "Kalau tahu begini, lebih baik aku bawa Kirana pulang saja." Raisa menuju kamar Kirana dan membuka pelan pintunya. Keheningan langsung menyambutnya. Kirana
dan hanya melihat potensi. Aku mencintai caramu mencintaiku dan caramu memperlakukan anak dalam kandunganku." “Dan aku mencintaimu, Lana. Seluruh dirimu. Bahkan bayi yang tumbuh dalam ragamu." Lana mengulurkan tangan kanannya. Dokter Gamal tersenyum lega. Ia mengambil tangan Zola, dan dengan hati-hati menyematkan cincin kayu itu di jari manis Zola. Cincin itu pas, terasa seperti takdir yang sudah lama menunggu. “Ya,” bisik Zola. “Aku akan menikah denganmu. Mari kita bangun rumah kita dengan kesetiaan dan kejujuran.” Dokter Gamal menghela napas panjang, seperti baru saja menyelesaikan proyek paling rumit dalam hidupnya. Ia mencondongkan tubuh dan mencium kening Zola, ciuman yang lambat, stabil, dan penuh janji keamanan. “Terima kasih,” bisik dokter Gamal. “Terima kasih telah memberiku kesempatan ini.” Zola menunduk, pipinya bersemu malu. Dokter Gamal tersadar dengan apa yang baru saja ia lakukan. "Lana, maafkan aku, tadi aku reflek." Dokter Gamal benar-benar merasa bersa
Dewi menahan napas. Beberapa saat ia mengembuskan napas ke udara. "Dan kamu tahu sendiri Zola, aku bukanlah sahabat yang seperti itu." Ketika mengucapkan kalimat ini, berarti Dewi telah mengambil keputusan terberat dalam hidupnya. Dia tidak akan pernah mengatakan memberitahu tahu keberatan Zola ter
"Lana, sepertinya kita tidak bisa membiarkan Dewi pergi dari rumah ini," ucap dokter Gamal pada suatu hari di saat ia baru pulang kerja. Ia masuk ke dalam kamar Zola dan duduk pada kursi meja rias. Melihat dokter Gamal datang, Dewi dengan kemucing di tangan buru-buru berlari dan menguping pembicara
Zola berpikir dalam jangka beberapa menit hingga akhirnya mengambil keputusan. "Baiklah kalau itu cara satu-satunya." Dokter Gamal mengangguk dan menaruh nasi di piring Zola. "Mari kita makan." Zola pun mengangguk, meraih lauk ikan pepes dan menyantap hidangan lainnya tanpa semangat. Selesai di
Wajah Zola memucat seketika. Ia menggeleng tak percaya. "Tidak mungkin, dia tidak akan seperti itu. Dewi itu sahabat terbaikku dokter Gamal." Tatapan Dewi terpaku pada dinding Suara Zola seakan menusuk telinga dan turun ke hati. Air matanya menetes di pipi. "Kamu telah mempercayaiku Zola? Aku eng







