แชร์

BAB 6

ผู้เขียน: Imamah Nur
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-12-25 00:30:04

Ketika Haidar keluar dari kamar mandi, Zola masih berlutut di lantai. Haidar menghela napas berat. Pria itu memejamkan mata sebelum akhirnya kembali bersuara, "Lusa ulang tahun Kirana, aku minta kamu menyiapkan seperti sebelum-sebelumnya."

Zola mendongak seraya menahan rasa yang bergejolak dalam dada. "Kenapa tidak minta Raisa saja? Dia lebih mengerti tentang Kirana."

Haidar mendengus. "Jangan mulai lagi, lagipula malam ini Raisa harus kembali ke luar kota, jadi dia pasti capek harus bolak-balik dan menyiapkan pesta."

Zola tersenyum sinis melihat kepedulian Haidar terhadap mantan istrinya, sementara dirinya terlalu sering diabaikan.

"Lagipula bukankah dulu aku yang sering mengurusi Zelin? Jadi anggap ini sebagai balas budi."

Zola menghela napas panjang, matanya memejam kuat. Ternyata Haidar mulai mengungkit perihal pengorbanannya untuk adik Zola.

Zola membuka mata dan menatap Haidar dengan tatapan datar. "Baik." Zola berdiri dan membawa sobekan kertas ke tempat sampah. Benar kata Haidar dirinya harus move on.

Zola teringat dengan Kirana yang lama ditinggal. Jadi dia bergegas keluar. Ia mengernyit tatkala dari atas tangga melihat Kirana sedang bertelepon dengan seseorang.

"Ayah ada di kamar, Ibu. Tadi dia panggil Tante Zola, jadi Kirana terpaksa makan sendirian," ujar Kirana dengan wajah murung.

"Enggak apa-apa, Kirana memang sudah waktunya belajar mandiri, jangan mengandalkan Tante Zola terus. Nanti kalau dia lelah bisa marah dan kesal sama Kirana. Kalau marahnya memuncak dia bisa jahat sama Kirana."

Kirana menggeleng. "Tante Zola tidak jahat kok, dia baik sama Kirana."

Raisa tertawa di ujung telepon. "Itu hanya topeng, Kirana."

"Topeng?" Kirana tidak mengerti.

"Kirana Sayang, kamu terlalu polos, Nak. Kamu tahu enggak kenapa dulu Ibu sama ayah berpisah?"

Kirana terdiam sejenak, otaknya berpikir, namun tidak sampai.

"Enggak tahu, Ibu. Memang kenapa?"

"Itu karena Tante Zola yang merebut Ayah dari Ibu. Kalau enggak, pasti kita bertiga menjadi keluarga yang utuh dan bahagia."

Kirana terperangah, satu tangannya membekap mulut. Ia tidak menyangka, Zola yang terlihat baik ternyata seorang yang licik.

"Selama ini dia hanya pura-pura baik, Sayang. Nanti kalau kamu punya adik dari dia, dia pasti akan jahatin kamu."

Wajah Kirana terlihat tegang, tangannya yang memegang tablet gemetar.

"Makanya jangan dekat-dekat dengan Tante Zola, yang namanya ibu tiri itu pasti jahat."

Zola melihat ada yang aneh dengan perubahan sikap Kirana, dia bergegas menuruni tangga. "Telepon dari siapa Sayang?"

Kirana tersentak, langsung menutup panggilan telepon.

"Dari... dari nenek, Tante." suaranya gugup dan takut.

"Oh." Zola duduk di samping Kirana. "Belum Makannya Sayang? Mau Tante suapin lagi?"

Kirana menggeleng cepat, piring yang disentuh Zola ditariknya kembali. "Tidak usah Tante, Kirana mau makan sendiri aja, kan Kirana sebentar lagi udah 8 tahun." Kirana mencoba tersenyum untuk menyamarkan kegugupannya.

Zola tersenyum, tangannya terulur mengusap rambut Kirana. "Enggak nyangka ya, Sayang, kamu cepat besar. Rasanya baru kemarin kamu masih pakai popok." Ia teringat kejadian tadi, jika benar dirinya bercerai dengan Haidar, dia pasti akan merindukan Kirana. Gadis seumuran mendiang adiknya ini sangat dicintainya. Zola sudah kehilangan Zelin, dia tidak ingin lagi kehilangan Kirana.

"Yasudah makan, habis itu istirahat ke kamar." Zola mengambil nasi dan menaruh di atas piringnya sendiri. Pertengkaran dengan Haidar tadi membuatnya kehabisan banyak energi.

"Aku pergi sebentar." Entah pamit pada Kirana ataukah pada Zola, yang pasti Haidar pergi dengan terburu-buru. Zola hanya diam, tak ada keinginan sedikitpun untuk bertanya meskipun tidak dapat dipungkiri dalam hatinya ada rasa penasaran.

"Kirana duluan Tante. Malam ini Kirana mau tidur sendiri aja, gak usah ditemani." Gadis kecil itu tersenyum getir.

Zola menatap lamat-lamat wajah Kirana, sepertinya ada yang berubah, anak itu terlihat aneh di matanya. "Kamu baik-baik saja kan, Sayang? Gak sakit kayak kemarin?" Zola menyentuh dahi Kirana, tapi suhunya normal.

Kirana menggeleng, lalu merosot dari kursi dan melangkah menapaki anak tangga. Zola menatap punggung Kirana lalu membereskan meja makan. Setelah itu ia kembali ke kamar. Ketika duduk di tepi ranjang ia mendengar alarm pengingat menstruasi di ponselnya. Zola memeriksa, dahinya mengkerut.

"Sudah 2 bulan aku belum menstruasi lagi. Apa aku hamil kali ini?" Ia termenung, rasa takut menelusup hatinya. Jika dulu dia sangat menginginkan kehamilan tapi tidak dengan sekarang. Dia belum siap menjadi ibu ditengah kekacauan keluarganya.

"Ah tidak-tidak, ini pasti karena aku stres." Zola menggeleng, menepis pikirannya sendiri. "Tapi kalau memang iya?" Ia bangkit dengan gelisah, mondar-mandir di dalam kamar. Akhirnya, meski berat Zola memutuskan keluar membeli tespek.

Setengah jam kemudian Zola kembali. Ia buru-buru ke kamar mandi, tak sabar ingin melihat hasilnya. Ketika garis biru mulai muncul di tespek, Zola nampak tegang.

"Semoga tidak." Suaranya nyaris berbisik, hanya terdengar di telinga sendiri. Tatapan Zola tidak beralih sedikit pun dari benda di tangannya. Ketika hasilnya keluar lututnya terasa lemas.

"Garis dua?" Ia menutup mulut, tespek di tangan jatuh membentur lantai. Zola syok tubuhnya mundur membentur dinding, kepalanya terasa berat. Ia berjalan sempoyongan kembali ke ranjang. Ia menutup mata dan tertidur hingga pagi.

Jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi, Kirana masuk ke kamar mandi dan mendapati keran air di kamar mandinya macet. Gadis kecil itu cemberut dan mendesah kesal. Sesaat kemudian memutuskan untuk menemui Zola di kamarnya. Ia memanggil-memanggil nama Zola, namun Zola tidak bereaksi.

"Tante, Kirana mau mandi di sini ya." Gadis kecil itu mendekat walaupun agak ragu. "Tante, hari ini kata Bu guru Kirana masuk lebih pagi." Kirana mengguncang tubuh Zola, namun Zola tetap tidak merespon. Kirana meraba tubuh Zola dan merasakan tubuh ibu tirinya sedingin es.

Kirana panik, ia berlari ke kamar mandi. Kakinya tersandung sesuatu. Ia menunduk dan mendapati tespek di atas lantai. Dahi Kirana mengernyit, ia menyentuh benda itu. "Apa ini?" ia menggaruk kepala bingung.

"Jangan-jangan gara-gara ini Tante Zola begitu, mending aku tanya ayah deh sekaligus bilang kalau Tante Zola tidak bergerak." Ia kembali ke kamar dan melakukan video call dengan Haidar. Sayangnya Raisa yang mengangkat.

"Ada apa, Kirana?"

Pertama kali melihat Raisa di layar, Kirana langsung kaget. "Ibu bersama Ayah? Ayah mana?"

"Ayahmu lagi tidur, dia capek banget. Jadi jangan diganggu."

"Tapi–"

"Katakan saja pada Ibu apa yang ingin kamu sampaikan."

Kirana ragu sejenak, tetapi kemudian mengangkat benda di tangan ke atas. Kirana menemukan benda ini di kamar mandi ayah dan Tante Zola tidak bergerak. Ibu, Kirana takut Tante Zola bunuh diri dan meninggal."

Kata-kata polos Kirana membuat Raisa ingat tertawa. Namun benda di tangan Kirana membuat amarah dalam dirinya memuncak.

"Zola hamil? Ini enggak bisa dibiarkan!"

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
ความคิดเห็น (2)
goodnovel comment avatar
Daun Singkong
karena Raisa masih belum move on. dia cemburu
goodnovel comment avatar
Seputar Cerbung
kenapa raisa ikut campur banget?
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Mas, Ayo Bercerai!   BAB 31

    "Aku ada dimana?" Zola mengerjap dan mendapati samar-samar cahaya menyentuh retina matanya. Ia hendak mengucek, tapi tangannya seolah tertahan sesuatu. Ia mencoba membuka mata lebar-lebar dan mendapati selang infus terpasang di lengannya. "Aku di rumah sakit?" lirihnya.Dokter Gamal yang menelungkupkan wajah di atas kedua tangan mengangkat wajahnya dan menatap pada Zola. "Ka ... mu sudah sadar?" Dokter Gamal segera berdiri dan memeriksa Zola. "Ka ... mu, pria di bengkel kayu itu, kan?" Zola mengerutkan kening, tidak paham kenapa ada di ruangan yang sama dengan dokter Gamal. Namun, ia langsung tersadar bahwa pria di sampingnya ini juga merupakan seorang dokter. "Ya," jawab dokter Gamal. "Kamu mengalami kecelakaan tiga hari yang lalu dan sekarang baru sadar." Zola menganga mendengar penjelasan dokter Gamal. "Aku pingsan selama tiga hari?" Ia menggeleng, hal itu sangat tidak masuk akal di telinganya. "Ya. Kamu mengalami cedera otak dan kehilangan banyak darah." Zola terdiam,

  • Mas, Ayo Bercerai!   BAB 30

    Haidar sedang menatap layar laptopnya, di mana laporan mingguan detektif swasta terpampang dengan statistik yang menyedihkan. Ia membiarkan laporan itu terbaca, tetapi perhatiannya terfokus pada selembar kertas yang ia pegang, hasil printout dari bank. “Ini benar-benar yang terakhir?” tanya Haidar, suaranya serak karena kurang tidur. Di depannya duduk Pak Jaya, detektif swasta berwajah datar yang sudah ia sewa selama satu bulan. Ya, Haidar memutuskan untuk menyewa detektif setelah merasa semua suruhannya tidak ada yang becus mencari Zola. “Betul, Tuan Haidar,” jawab Pak Jaya tanpa basa-basi. “Penarikan tunai terakhir, dua minggu lalu. Di ATM Bank Mandiri cabang Maribaya. Jumlahnya hanya 4 jutaan saja, mungkin hanya sekedar untuk kebutuhan menyambung hidup." Haidar memicingkan mata pada alamat kota kecil di tepi pantai yang tertera di kertas itu. “Maribaya? Jauh sekali. Ini kota mana?” “Sebuah kota pelabuhan yang lumayan sepi, Tuan. Tapi itu adalah petunjuk fisik pertama yang kita

  • Mas, Ayo Bercerai!   BAB 29.

    Sore hari, hujan menggantung di langit. Langit yang seharusnya berwarna merah dan oranye, kini berwarna abu-abu dan gelap. Semakin lama awan-awan hitam bertebaran di atas sana, menunggu waktunya terjatuh. "Pak Karto, sepertinya saya harus pulang sekarang. Cuacanya tidak mendukung untuk tetap bertahan di sini," ujar Zola sembari membereskan peralatan kemudian mencuci tangan dan mengelapnya. "Ya, Nak. Kamu harus pulang sekarang. Jangan sampai terjebak hujan," sahut Pak Karto, lalu menatap sekitar yang mulai gelap. Zola mengangguk dan segera bersiap-siap. Ia mengeluarkan motor seken yang ia beli dengan uang Haidar dari salah satu ATM yang tidak sengaja terbawa. Zola pikir tidak masalah, anggap saja itu sebagai pesangon atas dirinya yang selama ini telah mengabdi dan melayani segala macam tuntutan Haidar dalam rumah tangganya. Toh Zola hanya mengambil sebagian isi dari ATM itu saat dirinya masih belum bekerja dan tinggal di rumah kosan, sebelum akhirnya pindah ke rumah Ibu Anwar.

  • Mas, Ayo Bercerai!   BAB 28

    Setelah beberapa hari Zola keluar dari rumah sakit, ia kembali beraktivitas meskipun sempat dilarang oleh Ibu Anwar. Ia tidak ke kafe melainkan ke tempatnya mengikuti kursus. Ia menggesekkan amplas kasar ke permukaan kayu jati daur ulang. Aroma kayu yang hangat dan debu halus yang beterbangan terasa menenangkan, jauh lebih menenangkan daripada aroma maskulin Haidar yang selalu menyelimuti rumah lamanya dan menjadi candu di awal-awal pernikahan mereka. Sudah dua minggu sejak ia memulai kursus singkat membuat perabotan kayu di bengkel kecil milik seorang tukang kayu tua. “Lana, kamu harus lebih sabar dengan seratnya,” tegur Pak Karto, instruktur kursus, yang sedang mengawasi dari balik kacamatanya. “Kayu ini sudah tua, dia punya cerita. Kamu tidak bisa memaksanya mulus dalam satu hari.” Zala tersenyum tipis. “Saya tahu, Pak. Tapi rasanya kalau saya tidak cepat selesai, cerita itu akan terus menghantui saya.” “Justru. Kamu harus dengarkan ceritanya, Nak. Kayu yang retak bukan berar

  • Mas, Ayo Bercerai!   BAB 27

    “Kenapa kamu tiba-tiba kembali ke sini? Kenapa kamu harus muncul di sekolah Kirana, di depan Mama?” Haidar bangkit, suaranya pelan tapi penuh ancaman. “Kamu bilang kamu hanya ingin melihat Kirana bahagia. Tapi kenapa kamu harus membuat Zola merasa tidak nyaman sampai dia lari?” Raisa berdiri, mencoba mempertahankan ketenangannya. “Tunggu dulu, Haidar. Jangan salahkan aku. Zola itu terlalu sensitif. Dia yang tidak bisa menerima kenyataan bahwa aku ini ibu kandung Kirana. Dia cemburu, Dar! Wajar kalau dia lari, dia memang tidak punya mental sekuat itu.” “Mental sekuat apa? Mental yang harus menahan fitnah dari ibu kandung anakku sendiri?” Haidar melangkah mendekat. “Zola tidak pernah cemburu dengan Kirana tapi kamu yang selalu membuatnya cemburu. Dia mencintai Kirana lebih dari dirinya sendiri. Dia pergi karena dia takut padaku, Raisa. Dan kenapa dia takut? Karena kamu terus memanipulasiku. Kamu terus mengisi kepalaku, membuatku berpikir Zola adalah penghalang kebahagiaan Kirana!”

  • Mas, Ayo Bercerai!   Bab 26

    Nyonya Sinta mengerutkan keningnya melihat gestur tubuh Raisa yang tidak biasa. "Punya siapa, Raisa? Kamu tahu pemiliknya? Punya Zola, bukan?" Nyonya Sinta mencoba menebak. "Ah, ah, ini ... bukan punya Zola, Ma," jawab Raisa gugup. Nyonya Sinta mengerutkan kening. "Terus punya siapa? Punya Bik Inang?" Nyonya Sinta meraih tespek dari tangan Raisa dan memeriksanya. Raisa dan Nyonya Sinta sama-sama melihat ke arah pembantu Haidar. Wajahnya Bik Inang pucat seketika. Rasa takutnya kembali menyeruak. Ia takut Raisa memfitnah dirinya dan berakhir pada pemecatan oleh Haidar ataupun Nyonya Sinta langsung. Otak Bik Inang langsung merespon pada ucapan Raisa tadi yang masih melekat di kepalanya. 'Kamu akan aku pecat.' Bik Inang menunduk, kedua tangannya yang terkepal, lemah dan gemeter. Seluruh badannya tampak tegang. "Bukan Ma." Jawaban Raisa membuat Bik Inang menghela napas lega. Raisa melirik pada wanita itu dan tersenyum licik. "Terus punya siapa?" cerca Nyonya Sinta, tidak tahan den

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status