공유

Apa Ini?

last update 게시일: 2025-12-14 20:29:12

“Satu hal lagi ya, Nadine!” Clara berbalik, tatapannya masih setajam sebelumnya. Dan itu membuat Nadine harus menelan ludah beberapa kali saking gugupnya.

“Iya, Mba?”

“Awas aja kalau kamu bolos lagi kayak hari ini. Dan buat yang lain keteteran lagi. Aku gak akan nerima kamu lagi di team. PAHAM?!”

Nadine mengangguk mantap. “Iya, Mba. Sekali lagi maafkan saya.”

Clara tak membalas pernyataan maaf Nadine dan berbalik meninggalkan wanita itu begitu saja. Sedangkan Nadine hanya bisa mengusap wajahnya
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터
댓글 (1)
goodnovel comment avatar
Theresia Rumagit
pembaca dulu sebelum saya mengalaminya, say selalu berpikir bahwa perempuan yg pacaran dgn suami orang pasti sembunyi2 malu kalau ketahuan orang. Egh....ternyata tdk persis kek di bab ini.....
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Happy End

    Hari yang dinanti pun tiba dengan segala debarannya. Di usia kehamilan 37 minggu lebih 2 hari, perjalanan panjang itu akhirnya mencapai puncaknya. Nadine telah dilarikan ke rumah sakit saat fajar baru saja menyingsing, membawa rasa sakit yang mulai datang dan pergi secara teratur. Di dalam ruang rawat, suasana terasa begitu emosional. Nadine mencoba mengatur napasnya yang mulai tersengal. Ia tampak bingung sekaligus tegang menghadapi gelombang cinta yang semakin hebat menghantam tubuhnya. Rasa sakit itu asing, namun ia tahu ini adalah bahasa tubuhnya untuk menyambut kehidupan. Raut wajah Dirga tak bisa menyembunyikan kecemasan yang mendalam. Meski hatinya bergemuruh, ia tetap berusaha menjadi karang yang kokoh bagi Nadine. Ia terus berada di sisi istrinya, membisikkan kata-kata penguat, dan mengusap keringat di kening Nadine dengan jemari yang sedikit gemetar. Tak lama, kedua ibu mereka datang membawa kehangatan. Mama mertua dan Mama kandung Nadine segera membanjiri ruangan d

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Hamil Muda

    Mama menggeleng sambil tertawa kecil. "Orang mual begini jangan langsung dikasih asam, Dirga. Perutnya masih kosong. Sayang... ini Mama buatkan wedang jahe geprek sama biskuit gandum. Sedikit-sedikit saja ya, buat ganjel perutnya." Mama Nadine kemudian menyuapi anaknya ini dengan sangat sabar. Ia tidak memaksa, hanya membimbing Nadine perlahan. "Dulu Mama waktu hamil kamu juga begini, bahkan lebih parah. Ini namanya tanda cinta dari si Adik. Dinikmati saja ya, Sayang." Melihat betapa tenangnya sang Mama menangani situasi, Dirga akhirnya bisa bernapas lega. Ia baru sadar bahwa dalam urusan ini, pengalaman Mama jauh lebih berharga daripada semua artikel kehamilan yang ia baca di ponsel. Nadine perlahan membuka matanya, menatap Mamanya dengan rasa terima kasih yang mendalam. "Makasih ya, Ma. Rasanya lebih enakan kalau Mama yang pegang." "Sama-sama, Sayang. Tugas Dirga itu jaga semangat kamu dan tugas Mama itu jaga supaya kamu tetap bisa makan enak," sahut Mama sambil mengus

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Kejutan

    "Oh iya, Ma, Pa... sebenarnya ada satu hal kecil yang ingin kami kasih ke kalian," ujar Dirga sambil meletakkan dua kotak kado kecil yang identik di depan kedua ibu mereka. "Lho, ada apa ini? Kok pakai kado-kadoan segala?" tanya Mama Nadine heran, namun tangannya mulai membuka pita kado itu dengan antusias. Kedua ibu itu membuka kotak secara bersamaan. Di dalamnya, terletak sepasang sepatu bayi rajut berwarna putih bersih dan sebuah foto hitam putih berukuran kecil—hasil USG transvaginal tadi pagi. Hening sejenak. "Ini... ini maksudnya apa, Nadine?" tanya Mama Mertua, suaranya mulai bergetar. Matanya menatap lekat titik kecil di dalam foto yang diberi tanda panah oleh dokter. "Itu cucu Mama," jawab Nadine dengan suara serak karena menahan tangis. "Usianya sudah empat minggu. Penantian kita semua akhirnya terjawab, Ma..." Seketika, suasana pecah. Mama Nadine langsung menutup mulutnya dengan tangan, air matanya tumpah seketika. Ia bangkit dari kursi dan langsung memeluk Nadi

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Jangan Capek-capek

    "Mulai detik ini, kamu enggak boleh capek sedikit pun. Titik!” perintah itu layaknya gombalan maut Dirga. Nadine hanya cekikikan mendengarnya. Sesampainya di tepi ranjang, ia merebahkan Nadine dengan gerakan yang sangat pelan. Dirga kemudian berlutut di lantai, sejajar dengan perut Nadine. Ia menarik selimut hingga sebatas dada istrinya, lalu mengecup perut Nadine yang masih rata itu. "Terima kasih sudah mampir ke sini, Sayang. Ayah tunggu ya," bisiknya lirih di depan perut Nadine, membuat mata Nadine kembali berkaca-kaca. Dirga kemudian naik ke ranjang, berbaring di samping Nadine dan menarik istrinya ke dalam dekapannya. Ia menggenggam tangan Nadine, menautkan jemari mereka di atas perut. "Sayang nanti kita USG transvaginal, ya?" ujar Nadine saat mereka tengah bercerita. Dirga mengerutkan kening, tampak sedikit bingung. "Transvaginal? Bedanya apa dengan USG biasa yang di perut, Sayang?" Nadin

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Ayo Periksa

    “Kita ke IGD aja yuk, Sayang? Aku enggak tenang liat kamu begini," tawar Dirga, suaranya terdengar sangat khawatir. Nadine berusaha memberikan senyum tipis, mencoba menenangkan kegelisahan suaminya. “Enggak usah. Aku baik-baik aja kok. Aku cuman perlu istirahat, Sayang,” terang Nadine berusaha mencairkan rasa khawatir Dirga. “Kamu yakin? Perlu aku antar?” Dirga kembali menawarkan, kali ini sedikit memaksa. “Enggak apa-apa, Sayang. Beneran. Aku kuat kok. Aku juga udah pesen taxi online, mungkin 5 menit lagi sampai. Kamu hari ini ada survey kan ke tempat client?” Dirga menghela nafas panjang. Ia menatap istrinya ini dalam-dalam. “Sayang… masalah kerjaanku bisa dihandle Gio dan Clara. Kesehatan kamu lebih penting,” debat Dirga tegas. Nadine terdiam, kehilangan kata-kata untuk mendebat lagi. Sementara itu, Dirga tetap diam di sisinya. Pun matanya tak membiarkan lepas sedikit pun dari Nadine.

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Nggak Enak Badan

    Merasa itu adalah sebuah petunjuk, sore harinya Nadine sudah berkemas lebih dulu. Diikuti sang Mama kini mereka sudah siap menunggu Dirga yang masih berbenah. Tak jauh dari rumah, hanya berjarak beberapa meter saja merekapun sampai di tempat tujuan. Nadine mengulas senyumnya. Seolah ia sudah berdamai dengan rasa pedihnya. Angin sore di pemakaman itu terasa sejuk, membawa aroma tanah basah yang menenangkan. Di depan pusara sang papa, Nadine bersimpuh. Suaranya serak saat menceritakan semua beban yang akhirnya terangkat, tentang rumah yang kini siap mereka tempati kembali, dan tentang Dirga—pria yang berdiri tegap di belakangnya, menjaga dalam diam. "Pa, Nadine pulang ya. Kita semua pulang. Nadine janji enggak akan bikin Mama nangis lagi kaya kemarin," bisiknya lirih dengan senyum yang berat. Menyeka air mata yang jatuh ke rumput hijau. Sang mama mengusap bahu Nadine, memberikan kekuatan yang selama ini sempat hilang. “Kuat y

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Bohong

    “Dia bohong, Pak!” Nadine berdiri dari duduknya dengan gerakan tiba-tiba. Kursinya sedikit bergeser ke belakang. Suaranya bergetar, tapi matanya menatap lurus ke depan. “Dia jelas mau melecehkan saya.” Ruangan mendadak terasa lebih sempit. “Pak, demi Tuhan saya enggak ngelakuin itu. Sumpah, Pak!”

    last update최신 업데이트 : 2026-04-02
  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Mana Tahan

    Warning 21+“Aku gila ya?” desis Dirga. “Maaf deh.” Tanpa rasa bersalah, Dirga berkata begitu. Tapi alih-alih berhenti, dia kembali memijat milik Nadine.Jelas Nadine merasa kaget hingga kedua kelopak matanya melebar. Tapi protes wanita itu tak sempat keluar karena Dirga lebih dulu membukam bibirny

    last update최신 업데이트 : 2026-03-30
  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Malaikat Penolong

    Wajah sendu Nadine berubah seketika. Senyum lebar langsung mengembang di bibirnya. Tanpa pikir panjang, perempuan itu berdiri dan memeluk Dirga erat-erat.“Makasih ya, Ga,” ucapnya tulus, suaranya sedikit bergetar. “Makasih banyak udah bantuin aku. Makasih.”Sambil melompat kecil karena kegirangan,

    last update최신 업데이트 : 2026-03-30
  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Cari Kosan

    Sore harinya, Nadine sudah berdiri di depan sebuah bangunan berlantai tiga dengan tampilan modern bernuansa abu-putih.Nadine mendongak, matanya menyipit. “Mba Sarah?” panggilnya pelan.“Iya?” Sarah menjawab santai sambil membenarkan sling bag-nya.“Kamu yakin ini kosannya?” tanya Nadine ragu. “In

    last update최신 업데이트 : 2026-03-29
더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status