Share

Istri Bikin Malu

last update Last Updated: 2025-10-03 18:57:38

"Aku malu! MALU! Punya istri mandul!"

Nadine membeku. Kata-kata yang keluar dari mulut Rhevan terasa seperti belati yang menusuk jantungnya berkali-kali. Ia bahkan tidak lagi bisa menahan air matanya karena terlalu sakit.

“Mas…” suaranya lirih, nyaris tak terdengar. “Kamu jahat banget."

Rhevan memalingkan wajah, tapi nada suaranya tetap keras. “GAK USAH DRAMA! Toh yang aku katakan itu fakta!"

"Udah sana! Siapin makanan buatku! Gak usah nangis-nangis begitu! Memang kalau kamu nangis, kamu bisa langsung hamil apa?!" Usai berkata begitu, Rhevan langsung bangkit dan meninggalkan ruang tamu. Ia sempat menabrak bahu Nadine hingga sang istri sedikit oleng dan nyaris jatuh.

Suasana ruang tamu hening seketika. Hanya suara isak Nadine yang terdengar sesekali.

Dengan mata masih sembab, Nadine berjalan ke dapur. Ia tidak ingin memperpanjang masalah dengan Rhevan. Hatinya sakit, sangat sakit, tapi ia terlalu lelah untuk berdebat. Baginya, yang terpenting adalah tidak membuat suasana rumah se
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Leni Desriana
kapan episode yg sesuai sama judulnya? tor Nadine nya jngn terlalu lemah Napa,kan bosan bacanya klu perempuan ditindas diam aja
goodnovel comment avatar
Yuka yuka
mending cerai aja mah klw kek gini nyakitin
goodnovel comment avatar
Aas Hasanah
di tunggu lanjutannya thor
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Tamu Tak Diundang

    Bu Darma terpaku beberapa detik ketika melihat siapa yang berdiri di depan pintunya. Bu Wijaya berdiri paling depan dengan raut wajah tenang yang dibuat-buat, sementara Amanda berdiri setengah langkah di belakangnya—tatapannya tajam, dingin, dan sama sekali tak menunjukkan penyesalan. “Kalian mau apa?” tanya Bu Darma akhirnya, suaranya terdengar waspada. Dan itu wajar, karena dua orang itu yang membuat nasib putrinya menderita. “Kami ke sini untuk membicarakan perihal Nadine dan Rhevan,” jawab Bu Wijaya lugas. Ia menatap besannya itu dengan wajah tenang. Pandangan Bu Darma langsung beralih ke Amanda. Ia mengenali wajah itu. Wajah yang sama dari video yang sempat menggemparkan media. Wajah yang juga sering diceritakan Nadine dengan nada getir. Sebenarnya ia ingin langsung menutup pintu. Namun status Bu Wijaya sebagai besannya membuat langkahnya tertahan. “Silakan masuk,” ucapnya pelan, meski hatinya menolak tapi ia mencoba untuk tetap sopan. Mereka bertiga duduk di ruang tamu. S

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Hubungan Spesial

    Sore menjelang. Langit mulai berwarna jingga ketika Nadine, Sarah, dan Dea melangkah keluar dari gedung perusahaan setelah jam kerja berakhir.Beberapa hari terakhir, Nadine memang sudah tidak lagi ditempatkan di area proyek. Ia kembali bekerja seperti biasa di kantor pusat—dan hari ini terasa jauh lebih melelahkan dari yang ia kira.“Mba! Tuh jemputan kamu udah standby,” seru Sarah sambil menunjuk ke arah depan dengan dagu terangkat.Mendengar itu, Nadine refleks mengangkat kepalanya. Pandangannya langsung tertuju ke sosok Dirga yang berdiri santai di samping mobil, punggungnya bersandar di kap, satu tangan memegang ponsel.“Dirga?” Nadine bergumam kaget.“Duh, Mba,” sahut Sarah sambil tertawa kecil. “Nggak usah pura-pura kaget deh. Kayak baru pertama kali dijemput aja.”Dea ikut mengangguk setuju, senyum jahil tersungging di wajahnya.“Kayaknya Pak Dirga suka deh sama kamu,” tambah Sarah tanpa beban.Belum sempat Nadine membantah, sebuah suara tajam menyela dari belakang.“Minggir!”

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Sama-sama Licik

    “Jujur saja ya, Manda,” ucap Bu Wijaya akhirnya dengan nada lelah. Tatapannya kosong, menembus kaca depan mobil yang terus melaju. “Tante juga nggak nyangka Nadine sekeras kepala itu. Padahal dulu dia termasuk istri penurut. Makanya Tante berani minta tolong ke dia supaya bebaskan Rhevan.” Amanda yang duduk di kursi belakang menyandarkan tubuhnya santai. Bibirnya melengkung tipis, matanya justru menyiratkan sesuatu yang lain—bukan simpati, melainkan perhitungan. “Ya Tante kan cuma tahu luarnya saja,” balas Amanda pelan, namun tajam. Nada suaranya terdengar seolah bijak. “Tapi dalam hatinya, kita nggak pernah tahu Nadine itu seperti apa.” Bu Wijaya mengernyit, lalu menoleh ke belakang. “Maksud kamu gimana?” Amanda sedikit mencondongkan tubuh ke depan, suaranya direndahkan, seolah takut ada orang lain yang mendengar. “Nadine itu perempuan yang suka membantah, tahu, Tan,” ucapnya penuh keyakinan. “Nggak mau denger nasihat Mas Rhevan. Munafik. Dan… nggak pernah bikin Mas Rhevan puas

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Tolong Bantu Mama

    “Nadine…” panggil Bu Wijaya dengan begitu lesu.Nadine mengamati wanita di depannya dengan ekspresi yang sedikit gelap. Sorot matanya nampak tegas, seolah ia tidak mudah digoyahkan oleh apa pun.“Mama,” panggil Nadine akhirnya. Suaranya tenang, meski matanya masih basah. “Aku mau Mama dengar baik-baik.”Bu Wijaya mengangkat wajahnya. Harapan kecil kembali menyala di matanya.“Aku nggak akan mencabut laporan itu,” lanjut Nadine tegas. “Keputusanku sudah bulat.”“Nadine—” Bu Wijaya kembali mendekat, suaranya nyaris memohon. “Mama mohon…”Nadine menggeleng pelan, memotong ucapan itu. “Bukan karena aku dendam sama Mas Rhevan,” katanya, suaranya bergetar tipis tapi jelas, “atau mau menghancurkan hidupnya.”Ia menatap Bu Wijaya lurus, tanpa menghindar.“Tapi karena aku mau keadilan, Ma.”Bu Wijaya terisak lebih keras. “Tapi Rhevan—”“Mama sayang kan sama Mas Rhevan?” sahut Nasine cepat. “Kalau memang Mama sayang sama dia, biarkan saja dia menjalani hukuman ini. Itu untuk memberinya pelajara

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Maksud Bu Wijaya

    Nadine terkejut saat melihat Dirga justru tertidur di sofa ruang tamu. Langkahnya terhenti sesaat. Ia berdiri mematung, menatap tubuh pria itu yang terlelap dengan posisi setengah menyamping, satu lengan menutupi wajahnya.Perlahan, Nadine mendekat. Gerakannya nyaris tak bersuara, seolah takut mengganggu ketenangan yang jarang Dirga miliki.Niatnya membangunkan pria itu langsung menguap begitu ia benar-benar menyadari—Dirga sudah terlalu banyak berkorban untuknya.Dari sejak ia terbaring lemah di rumah sakit.Menemaninya bertemu pengacara. Mencarikan rumah agar ia punya tempat tinggal yang aman. Hingga sekarang.Bibir Nadine melengkung tipis. Senyumnya pahit, matanya justru terasa panas. Ia berjongkok di samping sofa, menatap wajah Dirga yang terlihat begitu tenang saat tidur—berbanding terbalik dengan hari-harinya yang selalu sibuk memikirkan Nadine.“Maaf ya, Ga…” gumamnya lirih, suaranya hampir tak terdengar. “Aku udah terlalu banyak bikin kamu repot.”Tak ada jawaban. Dirga tetap

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Masak Berdua

    Nadine baru saja mengeluarkan beberapa ikat sayuran dari dalam kulkas ketika pandangannya menangkap sosok Dirga berdiri di ambang pintu dapur. Pria itu bersandar santai, lengannya terlipat di dada, menatapnya tanpa bicara. Nadine tersenyum kecil. “Eh, Ga?” sapanya ringan sambil mengangkat satu kantong plastik. “Daripada berdiri di situ, mending bantuin aku masak.” Dirga yang semula hanya mengamati, langsung menegakkan tubuhnya. Ia melangkah masuk ke dapur, mendekat. “Kamu mau masak apa?” tanyanya sambil melirik bahan-bahan di meja. “Sop ayam aja,” jawab Nadine singkat. Dirga mengangguk. “Oke. Aku bantuin kupas wortel sama kentangnya.” Ia mengambil alih sayuran yang Nadine pegang. Nadine menyerahkan talenan dan pisau. “Ini ya. Makasih.” “Sama-sama,” balas Dirga pelan. Mereka mulai sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Suara air mengalir, pisau memotong, dan bunyi panci sesekali bertabrakan—semuanya terasa biasa. Namun di balik itu, ada keheningan canggung yang sama-sama mereka r

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status