Home / Romansa / Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas / Jangan Sampai Ketahuan

Share

Jangan Sampai Ketahuan

last update Huling Na-update: 2025-10-29 19:16:55
Dirga menutup pintu perlahan, langkahnya pelan menapaki lantai ruang tamu yang tenang. Pandangannya langsung menyapu seisi ruangan, mencari sosok Nadine.

Ia sempat tertegun ketika melihat perempuan itu duduk di dekat jendela, tubuhnya tampak tegang dengan mata membesar ketakutan.

“Nad…” panggilnya lembut, nada suaranya menurun seperti takut mengejutkannya. “Kamu dari tadi di situ?”

Nadine menoleh cepat. Begitu melihat Dirga, ia langsung berdiri dan menghampirinya. “Dirga…” ucapnya nyaris berbisik. “Mas Rhevan beneran udah pulang kan?” Ia bertanya untuk memastikan.

Dirga mengangguk santai, menyandarkan tubuh di kusen pintu. “Iya. Baru aja. Kenapa?” Jawabnya.

Ia menyipit sedikit, menatap wajah Nadine yang tampak pucat, lalu terkekeh kecil. “Kamu kok kayaknya takut banget gitu?”

Nadine mengembuskan napas panjang sambil mengusap dadanya. “Tentu aja aku takut,” gumamnya lirih, nadanya masih bergetar.

Dirga menyeringai. “Ya baguslah. Siapa tahu karena kita ketahuan, si brengsek
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Aku Sudah Kalah

    “Nadine! Nad!” Panggilan Dirga terdengar keras di lorong gedung pengadilan. Namun Nadine justru mempercepat langkahnya, seolah ingin menjauh—atau mungkin lari—dari kenyataan yang baru saja terjadi.“Nad, tunggu!”Dirga bergerak lebih cepat. Tangannya mencengkeram pergelangan tangan Nadine dan menariknya perlahan namun tegas hingga langkah perempuan itu terhenti.“Katakan padaku!” ujar Dirga dengan nada ditekan, alisnya berkerut dan sorot matanya tajam menuntut jawaban, “apa maksud ucapan Rhevan tadi?”Nadine menarik tangannya, tapi genggaman Dirga terlalu kuat untuk diabaikan. Ia menghela napas panjang, dadanya naik turun.“Aku…” suaranya nyaris tak keluar. “Aku terpaksa.”Dirga menatapnya lebih dalam. “Terpaksa bagaimana?”“Mama yang minta, Ga,” jawab Nadine akhirnya, suaranya bergetar. “Aku terpaksa nurutin keinginan Mama.”“Gila,” desis Dirga tanpa sadar. Rahangnya mengeras.“Aku tahu,” Nadine menyahut cepat, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. “Aku tahu ini ide gila.”Ia

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Ketok Palu

    “Saya akan datang, Pak.” Suara Nadine terdengar pelan, namun tegas. Tatapannya lurus, seolah keputusan itu sudah tak bisa ditawar lagi.Pak Adrian menatapnya beberapa detik, mencoba membaca keyakinan di wajah kliennya. Setelah itu, ia mengangguk kecil. “Baik, Bu Nadine. Saya akan siapkan semuanya.”***Hari itu akhirnya tiba. Ruang sidang terasa dipenuhi atmosfer yang menekan. Udara seolah lebih berat dari biasanya, membuat napas Nadine terasa sedikit tertahan saat ia melangkah masuk.Ia mengenakan kemeja putih sederhana yang rapi, dipadukan dengan celana kain hitam. Rambutnya diikat rendah, tanpa riasan berlebih—hanya wajah pucat yang menunjukkan betapa panjang perjalanan emosinya hingga hari ini.Di sampingnya, Dirga berjalan setia menemani. Tak jauh di belakang, Bu Nana dan Bu Keke turut hadir, duduk sebagai barisan pendukung paling depan bagi Nadine.Saat hendak duduk, Dirga mencondongkan tubuhnya sedikit dan berbisik pelan, “Kamu jangan terlalu tegang. Aku di sini.”Nadine mengan

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Terpaksa

    “Nadine!” Bentakan Bu Wijaya membuat Nadine langsung bungkam. Tubuhnya menegang. Matanya membulat ketika melihat sang ibu tiba-tiba memegangi dadanya, napasnya memburu, sementara air mata menetes tanpa bisa ditahan.“Nyawa kamu jauh lebih berharga buat Mama,” ucap Bu Wijaya dengan suara bergetar, nyaris terisak. “Dibandingkan harta apa pun itu, Nak. Jadi tolong… ikhlaskan saja semuanya.”Ia menggeleng lemah, seolah menolak kenyataan yang juga melukainya.“Tutup semua lembaran buruk masa lalu kamu,” lanjutnya lirih namun penuh tekanan, “dan—mari kita fokus hidup lebih tenang di masa depan, Nak.”Nadine menggeleng perlahan. Dadanya terasa sesak. Semua perjuangannya—semua rasa sakit, semua keberanian untuk melawan Rhevan—akan menjadi sia-sia jika ia mengalah begitu saja. Dan itu bukan hal yang mudah ia terima.“Aku nggak bisa, Ma…” bisiknya hampir tak terdengar.“Nadine…”Bu Wijaya tiba-tiba berlutut di dekat kaki putrinya.Refleks, Nadine langsung bangkit setengah berdiri lalu ikut berl

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Dengarkan Mama!

    Sebuah mobil berhenti di depan rumah bercat krem itu. Begitu mesin dimatikan, Nadine membuka pintu dan turun sambil menyampirkan tas kecil di pundaknya. Udara sore terasa hangat, namun langkahnya refleks melambat saat matanya menangkap sosok yang sudah berdiri di depan pintu rumah. Belum sempat Nadine memasuki area halaman, Bu Wijaya lebih dulu melangkah maju dengan senyum lebar yang langsung mengembang di wajahnya. “Nadine!” panggilnya nyaring, jelas tak bisa menyembunyikan rasa bahagia. Nadine membalas dengan senyum yang sama lebarnya. “Ma…” Tanpa ragu, Nadine berlari kecil dan langsung memeluk ibunya dengan cukup erat. Pelukan itu terasa hangat dan menenangkan. “Kirain nggak jadi datang tadi?” tanya Bu Wijaya sambil menepuk-nepuk punggung putrinya, suaranya terdengar lega. Nadine terkekeh kecil, lalu melepas pelukan. “Jadi dong, Ma. Kan aku udah janji,” jawabnya santai. Bu Wijaya menatap wajah Nadine dari jarak dekat, seolah memastikan tak ada yang kurang darinya. Senyumnya

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Syukurlah

    Bu Darma sempat duduk, lalu berdiri lagi. Langkahnya mondar-mandir di ruang tamu, sementara pikirannya dipenuhi kemungkinan-kemungkinan buruk yang membuat dadanya terasa sesak.Dan tepat saat itu, ponselnya tiba-tiba bergetar di atas meja.Bu Wijaya menghentikan langkahnya. Ia menoleh cepat, lalu meraih ponsel itu dengan tangan sedikit gemetar.“Kok dari nomor nggak dikenal?” gumamnya sambil mengerutkan kening.Sebuah pesan masuk—bukan hanya satu, tapi disertai beberapa foto.Begitu layar ponsel terbuka, wajahnya langsung memucat.“Astaga…” Bu Wijaya tercekat kaget ketika melihat foto-foto itu. Terlihat jelas potret Nadine dan Dirga yang sedang dikerubungi beberapa orang. Sudut pengambilan gambarnya acak, seolah diambil diam-diam. “I-ini ada apa?” lirihnya panik.Pesan berikutnya masuk satu per satu.[“Lihat! Saya nggak main-main.”]["Ini baru permulaan.”]["Jadi tolong bilang ke Nadine untuk segera mencabut laporannya.”]Bu Wijaya memejamkan mata sesaat. Dadanya naik turun, napasnya

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Kecurigaan

    Dirga menatap ke luar jendela mobil sejenak. Sorot matanya mengeras, rahangnya mengatup rapat seperti sedang menahan sesuatu yang mengganjal di pikirannya sejak insiden tadi.“Nad…” panggilnya pelan, namun nadanya berat.Nadine mengangkat wajahnya. Ia bisa merasakan perubahan sikap Dirga. “Iya, Ga? Kenapa?” Ia balik menatap pria itu usai menghapus air matanya.Dirga menghembuskan napas panjang, lalu menoleh menatap Nadine lurus. “Aku ngerasa, kejadian tadi itu gak wajar.”Alis Nadine langsung berkerut. “Gak wajar gimana maksudnya?”“Pengendara motor tadi,” jawab Dirga perlahan, memilih kata-kata dengan hati-hati. “Kayaknya itu sengaja.”Nadine terdiam beberapa detik, lalu menggeleng pelan. “Itu mustahil, Ga. Akunya aja yang gak nengok kanan kiri karena sibuk telfon.”“Iya. Kamu emang ceroboh,” sahut Dirga cepat. “Tapi aku juga tau bedanya orang lengah sama orang yang memang niat nabrak.”Ia sedikit memiringkan badan, tatapannya tajam penuh keyakinan. “Tapi aku yakin banget, Ga.”"Ya m

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status