Share

Kamu Di Mana?!

last update Dernière mise à jour: 2025-10-28 20:50:35

“Halo, Mas!” Suara Nadine terdengar lembut, namun ada sedikit getar di ujungnya. Jemarinya menggenggam ponsel erat—terlalu erat malah, hingga buku-buku jarinya memucat.

“Nadine, kamu di mana?” Nada suara Rhevan langsung berat seperti biasanya saat ia mulai kehilangan kendali. Penuh tekanan dan tak sabaran.

Perempuan dua puluh lima tahun itu melirik ke arah Dirga yang berdiri di sebelahnya. Pria itu menatapnya tenang, sorot matanya dalam, memberi isyarat tanpa kata: tenang saja, aku di sini.

“Aku pergi ke rumah Mama,” jawab Nadine pelan, mencoba terdengar biasa.

“Apa? Kamu pergi ke rumah Mama?” Rhevan hampir berteriak. Napasnya terdengar kasar di seberang sambungan.

“Hm.” Nadine menelan ludah. “Mama bilang dia kangen sama aku.”

“Kenapa kamu gak ngomong dulu?” nada suaranya menajam, seperti cambuk yang siap diayunkan.

“Emang harus ya, Mas, izin dulu ke kamu?” Nadine mencoba tersenyum meski tak ada yang melihat. Suaranya terdengar lembut, tapi di baliknya ada keberanian yang mulai
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Latest chapter

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Dengarkan Mama!

    Sebuah mobil berhenti di depan rumah bercat krem itu. Begitu mesin dimatikan, Nadine membuka pintu dan turun sambil menyampirkan tas kecil di pundaknya. Udara sore terasa hangat, namun langkahnya refleks melambat saat matanya menangkap sosok yang sudah berdiri di depan pintu rumah. Belum sempat Nadine memasuki area halaman, Bu Wijaya lebih dulu melangkah maju dengan senyum lebar yang langsung mengembang di wajahnya. “Nadine!” panggilnya nyaring, jelas tak bisa menyembunyikan rasa bahagia. Nadine membalas dengan senyum yang sama lebarnya. “Ma…” Tanpa ragu, Nadine berlari kecil dan langsung memeluk ibunya dengan cukup erat. Pelukan itu terasa hangat dan menenangkan. “Kirain nggak jadi datang tadi?” tanya Bu Wijaya sambil menepuk-nepuk punggung putrinya, suaranya terdengar lega. Nadine terkekeh kecil, lalu melepas pelukan. “Jadi dong, Ma. Kan aku udah janji,” jawabnya santai. Bu Wijaya menatap wajah Nadine dari jarak dekat, seolah memastikan tak ada yang kurang darinya. Senyumnya

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Syukurlah

    Bu Darma sempat duduk, lalu berdiri lagi. Langkahnya mondar-mandir di ruang tamu, sementara pikirannya dipenuhi kemungkinan-kemungkinan buruk yang membuat dadanya terasa sesak.Dan tepat saat itu, ponselnya tiba-tiba bergetar di atas meja.Bu Wijaya menghentikan langkahnya. Ia menoleh cepat, lalu meraih ponsel itu dengan tangan sedikit gemetar.“Kok dari nomor nggak dikenal?” gumamnya sambil mengerutkan kening.Sebuah pesan masuk—bukan hanya satu, tapi disertai beberapa foto.Begitu layar ponsel terbuka, wajahnya langsung memucat.“Astaga…” Bu Wijaya tercekat kaget ketika melihat foto-foto itu. Terlihat jelas potret Nadine dan Dirga yang sedang dikerubungi beberapa orang. Sudut pengambilan gambarnya acak, seolah diambil diam-diam. “I-ini ada apa?” lirihnya panik.Pesan berikutnya masuk satu per satu.[“Lihat! Saya nggak main-main.”]["Ini baru permulaan.”]["Jadi tolong bilang ke Nadine untuk segera mencabut laporannya.”]Bu Wijaya memejamkan mata sesaat. Dadanya naik turun, napasnya

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Kecurigaan

    Dirga menatap ke luar jendela mobil sejenak. Sorot matanya mengeras, rahangnya mengatup rapat seperti sedang menahan sesuatu yang mengganjal di pikirannya sejak insiden tadi.“Nad…” panggilnya pelan, namun nadanya berat.Nadine mengangkat wajahnya. Ia bisa merasakan perubahan sikap Dirga. “Iya, Ga? Kenapa?” Ia balik menatap pria itu usai menghapus air matanya.Dirga menghembuskan napas panjang, lalu menoleh menatap Nadine lurus. “Aku ngerasa, kejadian tadi itu gak wajar.”Alis Nadine langsung berkerut. “Gak wajar gimana maksudnya?”“Pengendara motor tadi,” jawab Dirga perlahan, memilih kata-kata dengan hati-hati. “Kayaknya itu sengaja.”Nadine terdiam beberapa detik, lalu menggeleng pelan. “Itu mustahil, Ga. Akunya aja yang gak nengok kanan kiri karena sibuk telfon.”“Iya. Kamu emang ceroboh,” sahut Dirga cepat. “Tapi aku juga tau bedanya orang lengah sama orang yang memang niat nabrak.”Ia sedikit memiringkan badan, tatapannya tajam penuh keyakinan. “Tapi aku yakin banget, Ga.”"Ya m

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Apa Yang Terjadi?

    Setelah Amanda dan Bu Wijaya pergi, Bu Darma hanya bisa termenung di ruang tamu yang mendadak terasa sunyi. Pandangannya kosong menatap lantai, pikirannya berkelana jauh memikirkan nasib Nadine.Beberapa menit berlalu. Ia masih duduk di posisi yang sama, jemarinya saling bertaut gelisah.“Mungkin mereka berdua cuma menggertaknya,” gumam Bu Darma lirih, lebih seperti membujuk dirinya sendiri. “Nadine pasti baik-baik saja.”Namun rasa resah itu tak kunjung reda. Jantungnya justru berdetak semakin cepat, firasat buruk terus mengusik. Akhirnya, ia meraih ponselnya dan menekan nama Nadine.Tak lama, panggilan tersambung.“Halo, Ma? Ada apa?”Begitu mendengar suara Nadine yang terdengar ringan dan normal, napas Bu Darma langsung terasa lebih lega. Bahunya yang sejak tadi tegang perlahan mengendur.“Gak ada apa-apa, Nad,” jawabnya sambil tersenyum tipis, berusaha terdengar santai. “Mama cuma mau tahu kabar kamu aja.”“Aku baik kok, Ma. Ini baru pulang kerja. Mama sendiri gimana?”“Mama juga

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Tamu Tak Diundang

    Bu Darma terpaku beberapa detik ketika melihat siapa yang berdiri di depan pintunya. Bu Wijaya berdiri paling depan dengan raut wajah tenang yang dibuat-buat, sementara Amanda berdiri setengah langkah di belakangnya—tatapannya tajam, dingin, dan sama sekali tak menunjukkan penyesalan. “Kalian mau apa?” tanya Bu Darma akhirnya, suaranya terdengar waspada. Dan itu wajar, karena dua orang itu yang membuat nasib putrinya menderita. “Kami ke sini untuk membicarakan perihal Nadine dan Rhevan,” jawab Bu Wijaya lugas. Ia menatap besannya itu dengan wajah tenang. Pandangan Bu Darma langsung beralih ke Amanda. Ia mengenali wajah itu. Wajah yang sama dari video yang sempat menggemparkan media. Wajah yang juga sering diceritakan Nadine dengan nada getir. Sebenarnya ia ingin langsung menutup pintu. Namun status Bu Wijaya sebagai besannya membuat langkahnya tertahan. “Silakan masuk,” ucapnya pelan, meski hatinya menolak tapi ia mencoba untuk tetap sopan. Mereka bertiga duduk di ruang tamu. S

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Hubungan Spesial

    Sore menjelang. Langit mulai berwarna jingga ketika Nadine, Sarah, dan Dea melangkah keluar dari gedung perusahaan setelah jam kerja berakhir.Beberapa hari terakhir, Nadine memang sudah tidak lagi ditempatkan di area proyek. Ia kembali bekerja seperti biasa di kantor pusat—dan hari ini terasa jauh lebih melelahkan dari yang ia kira.“Mba! Tuh jemputan kamu udah standby,” seru Sarah sambil menunjuk ke arah depan dengan dagu terangkat.Mendengar itu, Nadine refleks mengangkat kepalanya. Pandangannya langsung tertuju ke sosok Dirga yang berdiri santai di samping mobil, punggungnya bersandar di kap, satu tangan memegang ponsel.“Dirga?” Nadine bergumam kaget.“Duh, Mba,” sahut Sarah sambil tertawa kecil. “Nggak usah pura-pura kaget deh. Kayak baru pertama kali dijemput aja.”Dea ikut mengangguk setuju, senyum jahil tersungging di wajahnya.“Kayaknya Pak Dirga suka deh sama kamu,” tambah Sarah tanpa beban.Belum sempat Nadine membantah, sebuah suara tajam menyela dari belakang.“Minggir!”

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status