LOGIN"Mas... Ahhh!" Perempuan 25 tahun itu tersentak kaget saat Rhevan meremas bukit kembarnya dengan kasar. Pijatan itu tak memberikan rasa nikmat namun sebaliknya. "Pelan-pelan, Mas!"
"Ssst! Aku sudah nggak tahan!" Tanpa banyak basa-basi, Rhevan menarik gaun tidur istrinya sampai ke atas. Ia mulai mempersiapkan miliknya yang tegang ke liang wanita itu. Dan— "Ughh..." Tubuh Nadine mengejang sesaat ketika milik sang suami masuk ke liangnya yang bahkan belum basah sekali. "Mas..." Ia mengernyit perih. Ia tangannya mencengkram sprei di bawahnya, liangnya sakit karena ulah kasar sang suami. "Akh! Nadine... Hhh... Ughhh!" Tak sampai lima menit, cairan kental itu meleleh di dalam Nadine yang bahkan baru setengah nikmat. "Akhh... Leganya..." Nadine melirik ke arah sang suami yang langsung berdiri dari atas tubuhnya. Ia melemparkan tisu ke arah Nadine untuk membersihkan bekas cairan yang meleleh dari pusatnya. Dan tau apa yang dilakukan Rhevan selanjutnya, pria itu langsung tidur setelah memakai kembali bajunya. Dengan posisi membelakangi Nadine. Jangan ditanya bagaimana perasaan Nadine sekarang ini. Hatinya sakit? Jelas. Hancur? Sudah pasti. Dia tak ubahnya seperti seorang pelacur yang habis dipakai lalu ditinggal begitu saja. Bedanya, dia punya status SAH di mata agama. Nadine menurunkan gaun tidurnya dan melangkah lemas menuju kamar mandi. Sampai di dalam sana, tumpahlah air mata yang sejak beberapa menit yang lalu coba ia tahan. "Apa yang salah pada diriku, Mas? Kenapa kamu memperlakukanku seperti itu?" "Kapan kamu bisa mengerti perasaanku. Kapan kamu bisa paham kalau istrimu ini juga manusia biasa, bukan boneka seks yang bisa kamu pakai sesuka hati." Hati Nadine nelangsa. Sakit bukan main. Selama lima tahun pernikahannya dengan Rhevan inilah yang ia dapatkan. Sikap dingin, acuh, dan tak pernah mendapatkan nafkah batin yang ia inginkan. "Apa aku kurang cantik? Apa aku kurang menarik di mata kamu, Mas? Makanya kamu jadi cepat klimaks?" tanya wanita itu pada pantulan dirinya di depan cermin. Mencari jawaban yang tak kunjung ia temukan. Tubuhnya bergetar ketika ingatan tentang belaian yang seharusnya ia dapatkan justru tak pernah datang dari Rhevan. Setiap kali hubungan intim terjadi, Nadine selalu berakhir kosong, tak puas, bahkan sering merasa dipaksa. Napasnya memburu. Dengan berat hati ia mengunci pintu kamar mandi. Tubuhnya bersandar pada pintu, lalu perlahan melorot duduk di lantai dingin. “Aku nggak kuat kalau terus-terusan gini…” desahnya pelan. Tangan halusnya yang tadi ia remas, kini bergerak ke arah perutnya sendiri, turun perlahan. Matanya terpejam, air mata masih jatuh membasahi pipi. Di satu sisi ia membenci harus melakukan ini, tapi di sisi lain ia tahu—hanya dengan cara inilah ia bisa merasa puas. Sambil menahan isak, Nadine membelai dirinya, mencoba meraih kenikmatan yang tak pernah diberikan sang suami. Setiap gerakan terasa seperti pengkhianatan, tapi juga seperti pelepasan dari perasaan kosong yang tak terjamah. “Aaaah...” desahnya lirih, nyaris tak terdengar, sebelum tubuhnya kembali bergetar dalam kepuasan pahit yang ia ciptakan sendiri. Hening memenuhi kamar mandi. Hanya suara isakan tertahan yang menyisakan luka paling nyata—bahwa seorang istri sah harus mencari kehangatan bukan dari pelukan suaminya, tapi dari dirinya sendiri. *** "Apa kamu bahagia dengan pernikahanmu?" Pertanyaan singkat yang meluncur dari bibir Dirga itu membuat Nadine tersentak kecil. Tidak ada angin, tidak ada hujan tiba-tiba pria itu bertanya sesuatu yang diluar dugaan. Setelah seminggu sikap keduanya di penuhi rasa canggung, kini mereka sudah lebih santai layaknya teman lama. Tadinya Nadine ingin pergi ke swalayan untuk membeli beberapa kebutuhan, tapi motor miliknya rusak dan ia tidak tau harus bagaimana. Dan di saat itulah, Dirga muncul sebagai pahlawan. "Kenapa kamu nanya kayak gitu?" balas Nadine sedikit ketus. "Penasaran." "Aku bahagia. Sangat bahagia malah." Dirga menghentikan gerakan tangannya yang sedang sibuk mengecek mesin motor Nadine. Seringai tipis terlihat di bibirnya. "Oh. Begitu?" "Kenapa? Kamu pikir aku bohong?" Pria itu terkekeh. "Aku baru tau kalau bahagiamu itu pas diacuhin dan dikasarin sama suami sendiri." DEG! Perempuan itu semakin kaget. "Kamu—" "Kan kita tetangga. Aku bisa tau semuanya." Nadine terlihat tak terima dengan jawaban Dirga. Mana bisa ia percaya begitu saja dengan ucapan pria itu. Pasti lelaki itu diam-diam mengintipnya. "Jangan GR ya, Nadine! Aku gak ngintip kok." Seakan bisa membaca pikirannya, Dirga kembali bersuara. Namun Nadine makin dongkol dibuatnya. "Aku buatin minum dulu." Tanpa menunggu jawaban Dirga, ia langsung masuk ke dalam rumah. Ia berhenti di depan meja makan. Napasnya berat, dadanya sesak. Pertanyaan Dirga tadi menggema di kepalanya. ["Apa kamu bahagia dengan pernikahanmu?"] Bahagia? Sungguh, ia bahkan lupa kapan terakhir kali ia merasa seperti itu? Lima tahun ia berpura-pura kuat. Lima tahun ia bertahahan demi orang tuanya, demi status istri yang tak bisa ia lepas. Namun, satu kalimat dari Dirga—mantan kekasihnya dulu, sudah berhasil membuatnya goyah. Yah! Dia tidak bahagia. Pernikahannya terasa hampa. Ia muak. Ia benci posisinya ini. Tapi dia bisa apa? Dia terlalu mencintai Rhevan hingga mengorbankan diri sendiri. "Nadine, kamu ada kunci inggris nggak? Aku—" Dirga diam di tempatnya. Niatnya untuk menyusul Nadine karena butuh alat yang dia sebutkan barusan, justru berakhir dengan dirinya yang tak sengaja memergoki— Nadine sedang menangis sendirian di dapur. "D- Dirga?!" Nadine tampak terkejut dan buru-buru mengusap air mata di pipinya. "Nadine? Ada apa? Kenapa kamu nangis?" Ia mendekati Nadine. Ekspresi wajah duda tampan bermata tajam itu terlihat khawatir. "Aku enggak nangis. Mataku cuma kemasukan debu," dustanya. "Kamu pikir aku anak kecil yang gampang dibodohi?" Dirga melipat kedua tangannya di dada. "Aku serius, Dirga. Aku gak apa-apa," balasnya singkat. Nadine bahkan buru-buru memalingkan wajahnya. Ia berjalan ke arah kulkas dan mencari jus buah untuk dia sajikan pada Dirga. Dirga menatapnya lama. Ia bisa membaca jelas kebohongan di balik sikap pura-pura Nadine. Tapi ia juga tahu—memaksa hanya akan membuat wanita itu semakin menutup diri. “Kalau kamu bilang begitu, aku juga gak akan maksa," Dirga menarik napas dalam, lalu menghela pelan. Ia menatap lekat ke arah punggung Nadine, "Tapi, kalau suatu hari kamu butuh teman cerita, aku dengan senang hati akan mendengarkan." Kalimat itu sukses membuat tangan Nadine berhenti bergerak. Gelas di tangannya nyaris terlepas karena tubuhnya bergetar. Hatinya mendadak hangat, tapi juga perih. Kenapa Dirga yang justru lebih peka terhadap keadaannya saat ini? Kenapa harus dia dari sekian banyak orang yang dia kenal?“Jujur saja ya, Manda,” ucap Bu Wijaya akhirnya dengan nada lelah. Tatapannya kosong, menembus kaca depan mobil yang terus melaju. “Tante juga nggak nyangka Nadine sekeras kepala itu. Padahal dulu dia termasuk istri penurut. Makanya Tante berani minta tolong ke dia supaya bebaskan Rhevan.” Amanda yang duduk di kursi belakang menyandarkan tubuhnya santai. Bibirnya melengkung tipis, matanya justru menyiratkan sesuatu yang lain—bukan simpati, melainkan perhitungan. “Ya Tante kan cuma tahu luarnya saja,” balas Amanda pelan, namun tajam. Nada suaranya terdengar seolah bijak. “Tapi dalam hatinya, kita nggak pernah tahu Nadine itu seperti apa.” Bu Wijaya mengernyit, lalu menoleh ke belakang. “Maksud kamu gimana?” Amanda sedikit mencondongkan tubuh ke depan, suaranya direndahkan, seolah takut ada orang lain yang mendengar. “Nadine itu perempuan yang suka membantah, tahu, Tan,” ucapnya penuh keyakinan. “Nggak mau denger nasihat Mas Rhevan. Munafik. Dan… nggak pernah bikin Mas Rhevan puas
“Nadine…” panggil Bu Wijaya dengan begitu lesu.Nadine mengamati wanita di depannya dengan ekspresi yang sedikit gelap. Sorot matanya nampak tegas, seolah ia tidak mudah digoyahkan oleh apa pun.“Mama,” panggil Nadine akhirnya. Suaranya tenang, meski matanya masih basah. “Aku mau Mama dengar baik-baik.”Bu Wijaya mengangkat wajahnya. Harapan kecil kembali menyala di matanya.“Aku nggak akan mencabut laporan itu,” lanjut Nadine tegas. “Keputusanku sudah bulat.”“Nadine—” Bu Wijaya kembali mendekat, suaranya nyaris memohon. “Mama mohon…”Nadine menggeleng pelan, memotong ucapan itu. “Bukan karena aku dendam sama Mas Rhevan,” katanya, suaranya bergetar tipis tapi jelas, “atau mau menghancurkan hidupnya.”Ia menatap Bu Wijaya lurus, tanpa menghindar.“Tapi karena aku mau keadilan, Ma.”Bu Wijaya terisak lebih keras. “Tapi Rhevan—”“Mama sayang kan sama Mas Rhevan?” sahut Nasine cepat. “Kalau memang Mama sayang sama dia, biarkan saja dia menjalani hukuman ini. Itu untuk memberinya pelajara
Nadine terkejut saat melihat Dirga justru tertidur di sofa ruang tamu. Langkahnya terhenti sesaat. Ia berdiri mematung, menatap tubuh pria itu yang terlelap dengan posisi setengah menyamping, satu lengan menutupi wajahnya.Perlahan, Nadine mendekat. Gerakannya nyaris tak bersuara, seolah takut mengganggu ketenangan yang jarang Dirga miliki.Niatnya membangunkan pria itu langsung menguap begitu ia benar-benar menyadari—Dirga sudah terlalu banyak berkorban untuknya.Dari sejak ia terbaring lemah di rumah sakit.Menemaninya bertemu pengacara. Mencarikan rumah agar ia punya tempat tinggal yang aman. Hingga sekarang.Bibir Nadine melengkung tipis. Senyumnya pahit, matanya justru terasa panas. Ia berjongkok di samping sofa, menatap wajah Dirga yang terlihat begitu tenang saat tidur—berbanding terbalik dengan hari-harinya yang selalu sibuk memikirkan Nadine.“Maaf ya, Ga…” gumamnya lirih, suaranya hampir tak terdengar. “Aku udah terlalu banyak bikin kamu repot.”Tak ada jawaban. Dirga tetap
Nadine baru saja mengeluarkan beberapa ikat sayuran dari dalam kulkas ketika pandangannya menangkap sosok Dirga berdiri di ambang pintu dapur. Pria itu bersandar santai, lengannya terlipat di dada, menatapnya tanpa bicara. Nadine tersenyum kecil. “Eh, Ga?” sapanya ringan sambil mengangkat satu kantong plastik. “Daripada berdiri di situ, mending bantuin aku masak.” Dirga yang semula hanya mengamati, langsung menegakkan tubuhnya. Ia melangkah masuk ke dapur, mendekat. “Kamu mau masak apa?” tanyanya sambil melirik bahan-bahan di meja. “Sop ayam aja,” jawab Nadine singkat. Dirga mengangguk. “Oke. Aku bantuin kupas wortel sama kentangnya.” Ia mengambil alih sayuran yang Nadine pegang. Nadine menyerahkan talenan dan pisau. “Ini ya. Makasih.” “Sama-sama,” balas Dirga pelan. Mereka mulai sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Suara air mengalir, pisau memotong, dan bunyi panci sesekali bertabrakan—semuanya terasa biasa. Namun di balik itu, ada keheningan canggung yang sama-sama mereka r
“Dirga, ka— umph!” Seruan Nadine terputus saat Dirga tiba-tiba menunduk dan mengecup bibirnya. Bukan ciuman yang tergesa-gesa. Bukan pula sekadar kecupan singkat. Ciuman itu lembut—namun penuh tuntutan. Seolah Dirga menahan diri untuk tidak mengambil lebih, tapi juga enggan benar-benar melepaskan. Nadine membeku seketika. Hangat napas Dirga menyelimuti wajahnya. Tekanan pelan di bibirnya terasa nyata. Bahkan detak jantung pria itu—yang berdegup cepat dan kuat—terasa jelas menabrak dadanya. Kepalanya kosong, pikirannya seolah berhenti bekerja. “Dirga—” gumamnya teredam di antara jarak yang terlalu dekat. Refleks, Nadine mengangkat kedua tangannya dan mendorong bahu Dirga. Ia mencoba bangkit dari pangkuan itu, namun lengan Dirga yang melingkar di pinggangnya justru menahan—tidak kasar, tidak menyakitkan, tapi cukup kuat untuk membuat Nadine tak bisa ke mana-mana. “Dirga… lepas,” pintanya di sela napas yang tersengal. Dirga berhenti. Ia menarik wajahnya sedikit, menghentikan c
Nadine naik ke lantai dua setelah pamit pada Dirga. Langkahnya melambat saat ia berdiri di depan kamar yang nyaris sebulan terakhir ditempati Rhevan dan Amanda. Hanya dengan mengingatnya saja, dadanya sudah terasa sesak.Ia menghela napas kesal sebelum akhirnya mendorong pintu dan masuk. Namun langkahnya terhenti. Nadine terperangah.Kamar itu… sama sekali berbeda.Perabotan lama sudah tak ada. Lemari dipindahkan. Warna sprei diganti. Tata letaknya terasa lebih lapang—lebih bersih, lebih hangat, dan sama sekali tidak menyisakan jejak dua orang yang paling ingin ia lupakan.“I-ini?” Nadine bergumam, suaranya nyaris berbisik.“Itu aku yang ubah,” jawab sebuah suara dari belakang.Nadine refleks menoleh. Dirga berdiri di ambang pintu, kedua tangannya bersedekap santai, sorot matanya mengamati reaksi Nadine dengan saksama.“Kamu?” tanya Nadine pelan, masih belum sepenuhnya percaya.Dirga mengangguk. “Iya.”“Aku kira Amanda atau Mas Rhevan yang ganti,” ucap Nadine jujur.Dirga mendengus pe







