LOGIN"Kenapa? Apa karena kamu naik jabatan?" tebak Nadine sekenanya. Dirga melihat ke arah perempuan itu sebelum berkata, "Sebenarnya ada beberapa hal yang aku rencanakan dan berjalan sesuai apa yang aku inginkan." Nadine menatapnya penuh tanya. “Terus?” Dirga kembali fokus ke jalan di depan. “Semua ini masih berhubungan dengan Rhevan.” Nama itu langsung membuat Nadine sedikit mengernyit. “Aku sudah mulai jalankan langkahku dari beberapa waktu lalu,” lanjut Dirga tenang. “Dan sekarang, semuanya mulai kelihatan hasilnya.” Nadine diam, mendengarkan. Dirga melanjutkan, “Hari ini dia menghubungi banyak orang.” “Hm?” ulang Nadine. “Rekan bisnis. Pengacara. Kenalan lama,” jawab Dirga. “Semua yang dia pikir bisa bantu dia keluar dari masalah ini.” Nadine sedikit terkejut. Namun tak ingin menyela. Dirga tersenyum tipis. “Sayangnya, nggak ada satu pun yang bantu.” Nadine menatapnya. “Serius?” "Hm." Dirga mengangguk. “Semuanya menolak.” Beberapa detik Nadine terdiam. Ia mencoba mencern
Dirga berdiri di dekat jendela besar, satu tangan dimasukkan ke dalam saku celana. Sementara tatapannya lurus ke luar, melihat hamparan kota dari ketinggian. Pintu ruangan terbuka pelan. “Pak Dirga,” suara Pak Rusli terdengar formal. Dirga tidak langsung menoleh. “Silahkan masuk, Pak!” Pak Rusli melangkah mendekat. Di tangannya ada tablet yang sejak tadi ia pegang. Wajahnya terlihat serius, tapi tidak tegang. “Ada perkembangan terbaru, Pak,” katanya. Dirga akhirnya menoleh sedikit. “Tentang Rhevan ya?” Pak Rusli mengangguk. “Iya.” Dirga berjalan santai kembali ke kursinya, lalu duduk dengan tenang. "Ada apa lagi sekarang Pak?" Pak Rusli membuka data di tabletnya. “Sejak satu jam terakhir, Pak Rhevan menghubungi beberapa pihak.” Dirga mendengarkan Pak Rusli bicara tanpa niat menyela. “Dia juga sudah menghubungi beberapa rekan bisnis. Bahkan ada beberapa nama besar yang beliau coba mintai tolong." "Tapi..." Pak Rusli menatapnya sebentar sebelum menjawab, “Semuanya menolak.” B
Rhevan berdiri diam beberapa detik di depan mejanya. Napasnya masih berat, tapi pikirannya terus bekerja. “Kalau hukum tidak bisa,” gumamnya pelan, “berarti aku butuh seseorang yang dapat membantuku.”. Tangannya kembali meraih ponsel. Kali ini ia tidak lagi menelpon pengacaranya. Melaikan para relasinya. Orang-orang yang dulu sering duduk satu meja dengannya. Rekan bisnis. Partner lama. Orang-orang yang pernah ia bantu. Rhevan membuka kontak pertama. Nama yang cukup besar di dunia bisnis. Ia langsung menekan tombol panggil. Tersambung. “Pak Rhevan? Wah, lama tidak dengar kabar anda,” suara di seberang terdengar ramah. Rhevan tidak berbasa-basi. “Aku butuh bantuan.” Nada suaranya langsung serius. “Bantuan?” pria itu terdengar sedikit ragu. “Aku sedang ada masalah dengan kerja sama perusahaan. Aku butuh dukungan. Minimal intervensi dari pihak luar.” Beberapa detik hening. Lalu— “Maaf, Pak Rhevan,” suara itu berubah hati-hati. “Kalau ini berkaitan dengan Meghantara…” Rhevan lan
Sementara itu, di tempat lain. Ruang kerja Rhevan terasa sunyi. Terlalu sunyi.Pria itu duduk di kursinya dengan tubuh sedikit membungkuk. Jasnya masih rapi, tapi ekspresinya jauh dari kata tenang. Tatapannya kosong, tertuju ke meja di depannya tanpa benar-benar melihat apa pun.Kata-kata Pak Andrew tadi masih terngiang jelas di kepalanya.[“Turunkan ego Anda, Pak. Temui Pak Dirga. Minta maaf dan negosiasi ulang.”]Rhevan mengepalkan tangannya pelan.“Mustahil…” gumamnya rendah. "Meminta maaf? Kepada Dirga?""Nama itu saja sudah cukup membuat rahangnya mengeras. Pria yang dulu ia anggap remeh. Pria yang bahkan tidak pernah ia anggap setara.Sekarang harus ia datangi dan minta maaf?Rhevan menyandarkan tubuhnya ke kursi dengan kasar. Satu tangannya menutup wajahnya sendiri.Napasnya terdengar berat.“Gila…” bisiknya. Pikirannya mulai berputar.Jika ia tidak melakukan apa-apa maka semuanya akan benar-benar berakhir.Perusahaan itu bukan hanya sekadar bisnis. Itu warisan. Nama keluargany
Setelah obrolan ringan itu, satu per satu mereka mulai kembali ke aktivitas masing-masing.“Udah, sana kerja lagi!” ujar Clara sambil mengibas tangan ke arah Sarah dan Dea.“Siap, Bu Bos!” jawab Sarah setengah bercanda sebelum akhirnya menarik Sarah menjauh.Gio juga ikut mundur, meskipun sempat menepuk bahu Dirga pelan. “Nanti aku tagih traktirannya, Pak CEO.”Dirga hanya tersenyum tipis. “Iya.”Perlahan suasana lobi kembali seperti biasa.Dirga melirik sekilas ke arah Nadine. Tatapan mereka bertemu sebentar. Tidak ada kata-kata, tapi cukup. Nadine tersenyum kecil, lalu mengangguk pelan seolah memberi semangat.Dirga membalas dengan anggukan tipis, sebelum akhirnya berbalik dan berjalan menuju lift.Beberapa menit kemudian. Pintu lift terbuka di lantai paling atas.Dirga keluar dengan tenang. Ia menuju ruang kerja utama tanpa helm dan rompi proyek yang selalu dia bawa ke mana pun.Begitu pintu besar itu terbuka. Ruangan luas dengan interior elegan langsung menyambutnya. Meja kerja be
Nadine mengerutkan kening. “Tes? Tes gimana maksudnya?”Dea juga ikut menoleh ke arah Sarah. “Iya, maksud kamu apa sih?”Sarah sedikit mendekat, suaranya diturunkan seperti sedang membahas sesuatu yang serius tapi tetap santai. “Menurutku ya,” katanya pelan, “Pak Dirga itu mungkin dari awal pengen lihat siapa yang benar-benar tulus sama dia.”Nadine terdiam.Sarah melanjutkan, “Maksudku— dia kan punya segalanya. Jabatan, uang, posisi…” Ia mengangkat bahu kecil. “Kalau dari awal dia nunjukin itu semua, pasti banyak yang deketin dia, apa karena itu?”Dea langsung mengangguk cepat. “Iya juga sih…”“Makanya,” lanjut Sarah, “dia mungkin sengaja jadi ‘biasa aja’. Biar tahu mana orang yang nerima dia apa adanya… bukan karena ada apanya.”Nadine masih diam. Wajahnya terlihat berpikir.Dea tiba-tiba nyeletuk, “Tapi kalau tesnya kayak gitu, buat Mba Nadine itu terlalu lama nggak sih?”Sarah langsung menoleh. “Ya mungkin…”“Bayangin,” lanjut Dea sambil menoleh ke Nadine, “dari SMA sampai sekaran
Nadine berjalan berjalan pelan ke arah pintu keluar mall. Dia menenteng tas belanja berisi bahan-bahan yang sudah ia butuhkan. Di wajahnya tergambar senyum lembut, senyum yang menggambarkan jika dia sudah tak sabar menyambut kepulangan suaminya.“Aku gak sabar nunggu Mas Rhevan pulang,” gumamnya ke
Belum sempat Nadine menyelesaikan kalimatnya, suara petir menggelegar keras di langit. "Aaagh!" Nadine yang terkejut reflek menutup kedua telinganya. Tubuhnya menegang dengan mata terpejam rapat saking kagetnya. Dirga yang baru saja membuka pintu langsung menarik Nadine yang sedang meringkuk keci
"Kita duduk di sini aja!" Dirga menunjuk sofa panjang di ruang tengah, lalu menyalakan lampu emergency yang ia ambil dari lemari. Cahaya putih kekuningan dari alat itu menyebar lembut ke seluruh ruangan, menciptakan suasana temaram yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Nadine menurut. Ia duduk di
Nadine bangun dari duduknya dan berniat membereskan gelas kopi yang tadi suaminya pakai. Tapi saat baru saja ia hendak menuju wastafel, matanya tidak sengaja menemukan sesuatu yang janggal di dekat kursi."Ini kan?"Tangannya bergetar pelan saat memungut kertas kecil itu."Struk belanja?"Kertasnya







