Share

Bab 3

Author: Ungu
Mulan seperti seekor kelinci yang ketakutan. Dia berbalik dan langsung lari masuk ke dalam kamar, lalu membanting pintu sampai terdengar bunyi "gedebuk".

Di ruang tamu kini hanya tersisa aku dan Sindy. Udara di sekitar terasa menjadi sangat gerah dan canggung.

Sebaliknya, Sindy sama sekali tidak terlihat panik. Dia malah menyandarkan punggungnya di sofa, sambil menyilangkan kedua kakinya dan menggoyang-goyangkannya pelan.

Hari ini dia memakai rok pendek bermotif bunga-bunga. Saat dia mengangkat kaki seperti itu, ujung roknya tersingkap sampai ke pangkal paha. Pemandangan kulit putih mulus itu membuat mataku pening.

Aku segera memalingkan wajah, pura-pura sibuk merapikan gelas di atas meja tamu.

“Aduh, Paman Joni, nggak usah repot-repot, duduk dulu sebentar.” Suaranya terdengar penuh canda sambil menepuk sisi sofa di sebelahnya.

Aku memberanikan diri untuk duduk, sengaja memberi jarak sekitar setengah meter di antara kami.

Tiba-tiba Sindy mencondongkan tubuhnya ke arahku. Tercium aroma harum yang tipis tetapi sangat menggoda dari tubuhnya.

“Dengar-dengar kemarin di kebun jagung ... Paman lagi semangat-semangatnya ya?”

Dia mengedipkan mata, seolah memberi isyarat tertentu.

Kulit kepalaku terasa kesemutan. Aku pura-pura nggak mengerti dan menjawab, “Sinar matahari seterik itu, panen jagung itu kalau nggak bikin lelah, ya kepanasan. Semangat apanya?”

“Maksudku bukan semangat yang itu.”

Dia tertawa cekikikan. Kaki kanannya tiba-tiba diangkat dan diletakkan di atas lutut kirinya.

Gerakan ini membuat pemandangan di balik roknya terlihat samar-samar. Pinggiran celana dalam berwarna merah muda yang ketat itu terlihat menekan kulitnya, membuat darahku terasa mendidih.

“Aduh, Paman Joni sepertinya mulai bersemangat?” kata Sindy sambil memiringkan kepalanya, tatapannya langsung tertuju ke arah selangkanganku.

Aku merasa sangat malu sampai ingin masuk ke lubang tanah saja. Pantas saja Sindy dijuluki "Cabai Rawit", wanita ini memang luar biasa "pedas"!

Aku buru-buru menutupi bagian depan selakanganku dengan tangan.

Pintu kamar tiba-tiba terbuka sedikit. Mulan melongokkan separuh kepalanya dan bertanya dengan nada panik, “Sindy, kamu nggak pulang?”

“Kenapa buru-buru? Aku mau temani Paman Joni mengobrol sebentar,” kata Sindy. Wanita itu mengedipkan mata genit padaku, lalu menoleh ke arah Mulan dan berkata, “Siang ini aku makan di rumahmu ya!”

Mulan hanya bergumam "oh" sambil menatapku dan Sindy bergantian, sebelum akhirnya menggigit bibir dan menarik kembali kepalanya ke dalam kamar.

Sindy mendekat ke arahku dan berbisik, “Paman Joni, di umur segini Paman masih bisa sehebat itu, benar-benar langka.”

Embusan napasnya menerpa daun telingaku. “Si brengsek di rumahku itu cuma pulang enam bulan sekali, dan pas pulang pun dia sudah loyo ....”

“Kamu ini, benar-benar nggak punya sopan santun. Nggak usah ngobrol dengan Paman!” kataku berlagak marah, padahal hatiku luar biasa panik.

Setelah bicara begitu, aku langsung kabur masuk ke kamarku dengan jantung yang berdebar kencang.

Siang harinya, kami bertiga duduk melingkar di meja makan.

Suasananya terasa canggung. Mulan menunduk sambil menyendok nasinya tanpa suara sedikit pun. Jelas dia masih merasa malu soal kejadian tadi pagi.

Sedangkan Sindy tampak santai saja. Sambil mengambil lauk, dia mengajakku mengobrol. Matanya sesekali melirik ke arahku dengan senyuman yang penuh arti.

“Paman Joni, coba terong ini, masakan Mulan enak banget lho!”

Sambil berkata begitu, Sindy meletakkan sepotong terong ke mangkukku. Namun, di bawah meja, kakinya perlahan mengusap tulang keringku.

Aku tersentak. Dengan jantung berdebar, aku menatapnya.

Sudut bibir Sindy sedikit terangkat, dia berlagak seolah tidak terjadi apa-apa dan terus makan. Namun, kakinya tidak mau diam. Perlahan kaki itu naik ke atas, ujung jarinya menggores paha bagian dalamku di balik celana.

Seluruh tubuhku menegang. Aku melirik Mulan diam-diam, dia sedang menunduk menyeruput sup dan sepertinya tidak menyadari keanehan ini.

“Paman Joni, badan Paman kekar banget ya, biasanya bagaimana Paman olahraga?”

Sindy bertanya dengan senyum manis, sementara telapak kakinya mulai mengusap paha dalamku secara perlahan.

Tenggorokanku terasa sangat kering karena rangsangan itu. Aku memaksakan diri menjawab beberapa kata, “Cuma ... kerja kasar saja, nggak ada yang spesial.”

Mulan akhirnya merasa ada suasana yang nggak beres. Dia mendongak dan menatap kami, “Kalian sedang bahas apa?”

“Sedang bahas Paman Joni yang badannya masih oke,” jawab Sindy sambil tertawa penuh arti. Tiba-tiba, jempol kakinya menekuk dan tepat menekan ke arah kemaluanku.

Seluruh tubuhku gemetar. Aku menatap Sindy dengan rasa tidak percaya.

Mulan mengernyitkan dahi dan berkata, “Ayah, kenapa muka Ayah merah banget? Apa Ayah kena sengatan panas matahari?”

“Mungkin ... agak gerah saja.” Aku tertawa hambar dengan dahi yang sudah bercucuran keringat.

Sindy pura-pura perhatian dan mengulurkan tangan untuk menyentuh dahiku. Dia berkata, “Aduh, benar, agak panas.”

Sambil mengatakan hal itu, gerakan kakinya tidak berhenti. Malah dia semakin berani, seluruh telapak kakinya menempel di bagian celanaku. Lalu menekan dan meremasnya pelan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Masalah di Kebun Jagung   Bab 10

    Aku merasa sangat malu sampai tidak tahu harus menaruh muka di mana. "Ma-maaf, Ayah nggak sengaja."Di luar dugaan, Mulan tidak menghindar. Dia menggigit bibir bawahnya, matanya yang basah menatapku tajam. Tatapan itu membuat jantungku berdegup kencang seperti genderang perang.Tiba-tiba, dia mengulurkan tangannya dan perlahan membuka resleting celanaku."Mulan!" Aku terkejut dan mencengkeram pergelangan tangannya. "Apa yang kamu lakukan?""Ayah," kata Mulan dengan suaranya yang selembut bulu. "Ayah tadi bilang ... mau menikahiku. Apa itu serius?"Aku baru teringat kata-kata yang kuucapkan saat panik tadi. Wajah tuaku terasa panas membara. "A-aku tadi bilang kalau kamu dan Soni cerai ....""Aku mau." Dia tiba-tiba memotong perkataanku. Jari-jarinya yang ramping sudah mulai merayap masuk ke dalam. "Sebenarnya, aku merasa Ayah jauh lebih dewasa, lebih punya jiwa pria. Kadang di malam hari pun aku bermimpi tentang Ayah ...."Seluruh tubuhku gemetar. Tali akal sehatku putus seketika. Per

  • Masalah di Kebun Jagung   Bab 9

    Aku buru-buru menjejalkan foto-foto itu ke dalam laci. Baru saja aku berbalik, anakku sudah menghadang di pintu kamar.Bau alkohol menyengat dari tubuhnya, matanya merah padam, dan tangannya masih menenteng setengah botol arak putih."Wah, Ayah dan Menantu sedang curhat?" Dia tertawa sinis, tatapannya beralih antara aku dan Mulan dengan penuh kecurigaan.Mulan refleks bersembunyi di belakang punggungku. Gerakan itu benar-benar menyulut amarah Soni. Dia langsung membanting botol araknya dan berkata, "Dasar jalang! Teman kerjaku bilang malam ini kamu datang ke proyek? Kenapa, masih nggak percaya sama aku?"Mata Mulan sembab dan merah, dia menggigit bibirnya erat-erat sambil menatap Soni tanpa mengucapkan sepatah kata pun.Aku melangkah maju dan membentaknya, "Soni! Jaga mulutmu!""Ayah, nggak usah pura-pura jadi orang baik," kata Soni sambil tertawa dingin. "Ayah pikir aku nggak tahu kejadian di bioskop tadi sore?"Aku dan Mulan seketika mematung.Soni mengeluarkan ponselnya dengan gera

  • Masalah di Kebun Jagung   Bab 8

    Dia tersentak dan mundur setengah langkah. “Ayah sedang apa! Ayo cepat bangun!”Lantai semen itu membuat lututku terasa sakit, tapi aku tidak berani bangun. “Ayah tahu Ayah bersalah padamu. Kalau kamu beri tahu Soni, keluarga ini bisa hancur!”“Aku nggak akan bilang kok.” Dia menggigit bibirnya dan membantuku berdiri. “Ayah jangan begini. Aku, aku cuma mau mengantarkan baju ganti untuk Soni.” Aku baru berdiri dengan gemetar. Aku melihatnya merapikan bungkusan baju, lalu menuntun motor listriknya keluar dari gerbang halaman. Angin malam meniup ujung bajunya, bayangan tubuhnya yang ramping itu segera menghilang di kegelapan.Tak terasa tiga jam sudah berlalu, aku masih saja berjalan mondar-mandir di halaman. Sampai akhirnya terdengar suara motor listrik dari kejauhan, aku bergegas lari untuk membuka gerbang.Mulan masuk dengan langkah gontai, ternyata wajahnya sudah penuh dengan bekas air mata.Ada apa ini?Aku mengulurkan tangan hendak menolongnya, tapi dia menghindar seperti kelinci

  • Masalah di Kebun Jagung   Bab 7

    Sindy berjalan dari barisan belakang. Begitu melihat ekspresi kami, dia bertanya dengan bingung, “Ada apa?”Aku membuka mulut, tapi tidak satu kata pun yang bisa keluar.Mulan tiba-tiba berdiri dan langsung lari keluar tanpa menoleh sedikit pun.“Mulan!” teriak Sindy sambil mengejarnya.Aku terduduk lemas di kursi, lalu refleks mengusap tanganku. Di ujung jariku masih tertinggal aroma tubuh menantuku. Kenyataan ini membuatku merasa malu sekaligus sangat bergairah secara terlarang.Saat melangkah keluar dari bioskop, matahari senja sudah hampir tenggelam. Mulan duduk di dalam bak kosong motor roda tiga, dia benar-benar tidak mau menatapku sama sekali.“Paman Joni, sebenarnya ada apa dengan kalian?” tanya Sindy sambil menarikku ke samping dan bertanya dengan suara rendah.Karena dia terus-menerus mendesak, aku yang sedang kalut akhirnya menceritakan kejadian tadi secara singkat.Sindy tertegun mendengarnya, lalu sedetik kemudian, dia malah menunjukkan senyum yang aneh. “Wah, Paman Joni

  • Masalah di Kebun Jagung   Bab 6

    "Jangan ...." Aku mencengkeram pergelangan tangannya, tapi dia malah semakin parah. Kuku jarinya menggores bagian sensitifku dengan lembut.Aku mengerang tertahan dan terpaksa melepaskan genggamanku. Di layar sedang berlangsung adegan baku tembak, suara tembakan yang bertubi-tubi menutupi suara napas beratku.Gerakan Sindy semakin cepat. Aku mencengkeram sandaran kursi dengan kuat, punggungku basah kuyup oleh keringat.Tepat saat aku hampir kehilangan kendali, Mulan tiba-tiba berdiri dan berkata, "Sindy, temani aku ke kamar mandi sebentar.""Pergi saja sendiri." Sindy mendadak menarik tangannya dan berkata dengan nada bicara yang agak keberatan.Aku pun segera merapikan celanaku. Untungnya, di dalam studio hampir tidak ada lampu dan kami duduk di barisan belakang yang gelap. Jadi menantuku sama sekali tidak melihat apa pun.Selagi Mulan menarik Sindy ke toilet, aku bergegas memasang sabuk kulitku kembali. Jantungku berdebar sangat kencang.“Cabai rawit” ini benar-benar kelewat berani,

  • Masalah di Kebun Jagung   Bab 5

    "Eungh!"Satu desahan lembut yang sangat menggoda itu keluar dari mulut Sindy, membuatku merasa seluruh tulangku menjadi lemas.Saat ini, Sindy sudah bersandar lemas di bahuku. Embusan napas panasnya menerpa daun telingaku. Tubuhku kaku seketika. Meskipun terhalang kain pakaian, rasanya kami sudah mencapai area yang sangat sensitif.Napas Sindy memburu, wajah cantiknya merah padam, dan tatapannya padaku terlihat begitu mendamba, seolah ada percikan gairah di sana. Raut wajahnya sangat menggoda, seolah-olah dia bisa meledak kapan saja.Siluman penggoda ini benar-benar membuat nyawaku serasa di ujung tanduk. Kalau saja menantuku tidak duduk di samping kami, aku benar-benar ingin menghajar Sindy habis-habisan di pinggir jalan raya ini.Namun saat ini, Mulan mulai menyadari ada yang tidak beres. Dia menatap kami dengan pandangan aneh. Sepertinya dia mulai menebak sesuatu. Wajahnya ikut memerah, dia menggigit bibir lalu bertanya, "Kalian sebenarnya sedang apa?"Tubuh Sindy sudah lunglai

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status