Share

Bab 2

Author: Ungu
Aku tidak pernah membayangkan akan ada momen sekonyol ini, mendengarkan menantuku memanggil "Ayah Mertua" saat berada di bawah tubuh anakku sendiri.

“Panggil lebih keras lagi,” kata Soni menggoda.

“Ayah Mertua, ah!” Suara Mulan tiba-tiba meninggi, terdengar seperti sedang merintih.

Tiba-tiba, terdengar suara erangan dari Soni di dalam kamar, disusul desahan kecewa dari Mulan, “Begini lagi? Baru juga tiga menit ....”

“Akhir-akhir ini aku terlalu capek, Sayang, maaf ya.”

Aku agak terpana, tidak menyangka anakku selemah itu. Bukankah itu berarti menantuku selama ini tidak pernah merasa puas?

Aku berjinjit kembali ke kamarku sendiri, berbaring di tempat tidur, tetapi tidak bisa tenang untuk waktu yang lama.

Pikiranku dipenuhi bayangan kemeja Mulan yang basah keringat di kebun jagung, dan suara desahan kecewanya tadi.

Keesokan paginya, Soni berangkat kerja sangat pagi.

Setelah selesai menyiram sayur di kebun, aku kembali dan mendengar Mulan sedang mengobrol dengan sahabatnya, Sindy, di ruang tamu.

Sindy adalah sosok yang dikenal sebagai “cabai rawit” di desa ini. Suaminya bekerja di luar kota sepanjang tahun, dia mengurus anak sendirian, dan sifatnya sangat blak-blakan.

“Suamiku jarang pulang, sekalinya pulang juga tiga menit langsung selesai,” kata Sindy terdengar nyaring. “Biarpun gaji Soni nggak seberapa, setidaknya dia bisa menemani kamu tiap hari, malam-malam juga bisa bikin kamu puas.”

“Puas apanya?” keluh Mulan. “Kamu nggak tahu saja, dia belakangan ini makin aneh.”

Jantungku seperti akan meledak, aku melangkah lebih pelan.

“Aneh bagaimana?” tanya Sindy mulai tertarik.

Mulan merendahkan suaranya dan membisikkan beberapa kalimat. Aku sayup-sayup mendengar kata “kebun jagung” dan “Ayah Mertua”.

Sindy tiba-tiba tertawa terbahak-bahak dan berkata, “Nggak kusangka Soni punya selera begitu, main peran segala. Tapi Paman Joni oke juga ya! Sudah umur segitu, tapi masih segarang singa!”

“Pelankan suaramu!” kata Mulan panik.

“Kamu takut apa? Paman Joni ‘kan nggak di rumah,” kata Sindy tampak tak peduli. “Jujur ya, Paman Joni waktu muda itu salah satu pemuda paling tampan di desa kita. Sekarang pun badannya masih kekar begitu.”

Suaranya tiba-tiba berubah menggoda. “Kalau urusan ‘itu’ dia memang sekuat itu, nggak ada salahnya juga ‘kan kalau dicoba!”

“Sindy! Kamu mau mati ya!” kata Mulan, lalu tertawa sambil memaki, “Kamu gatal banget sih, apa perlu aku comblangkan kamu sama Ayah Mertuaku?”

“Boleh!” jawab Sindy malah langsung setuju. “Lagi pula suamiku di rumah nggak berguna, mending aku coba yang segar sama Paman Joni.”

Mereka berdua tertawa dan bercanda ria. Aku berdiri di luar pintu, jantungku berdebar kencang.

Tiba-tiba terdengar Sindy berkata, “Aduh, dadamu makin besar ya.”

Diikuti oleh pekikan kecil Mulan, “Jangan pegang! Ah!”

Desahan antara kesakitan dan kenikmatan itu terasa seperti hantaman keras di dadaku.

Seolah dirasuki sesuatu, aku melangkah maju dan melongok ke dalam dari balik kusen pintu.

Suara gaduh di ruang tamu itu seketika berhenti total.

Aku mendongak dan langsung bertemu dengan mata Mulan yang panik bukan main. Dua kancing kemejanya terbuka, dan tangan Sindy masih berada di balik pakaian di bagian dadanya.

Kami bertiga saling pandang, suasana seolah membeku.

“Pa-Paman Joni,” kata Sindy bereaksi lebih dulu. Dia menarik tangannya seolah tidak terjadi apa-apa, tapi wajahnya memerah. “Kami cuma main-main kok!”

Mulan mengancingkan bajunya dengan tergesa-gesa. Wajahnya merah padam seperti tomat matang, matanya sama sekali tidak berani menatapku.

Tenggorokanku kering. Aku ingin bicara, tapi suaraku tidak mau keluar.

Bagian bawah tubuhku mulai bergejolak lagi, aku segera memiringkan badan untuk menutupinya.

Mata Sindy justru menatap tajam ke arah celanaku, sudut bibirnya melengkung membentuk senyum yang penuh arti.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Masalah di Kebun Jagung   Bab 10

    Aku merasa sangat malu sampai tidak tahu harus menaruh muka di mana. "Ma-maaf, Ayah nggak sengaja."Di luar dugaan, Mulan tidak menghindar. Dia menggigit bibir bawahnya, matanya yang basah menatapku tajam. Tatapan itu membuat jantungku berdegup kencang seperti genderang perang.Tiba-tiba, dia mengulurkan tangannya dan perlahan membuka resleting celanaku."Mulan!" Aku terkejut dan mencengkeram pergelangan tangannya. "Apa yang kamu lakukan?""Ayah," kata Mulan dengan suaranya yang selembut bulu. "Ayah tadi bilang ... mau menikahiku. Apa itu serius?"Aku baru teringat kata-kata yang kuucapkan saat panik tadi. Wajah tuaku terasa panas membara. "A-aku tadi bilang kalau kamu dan Soni cerai ....""Aku mau." Dia tiba-tiba memotong perkataanku. Jari-jarinya yang ramping sudah mulai merayap masuk ke dalam. "Sebenarnya, aku merasa Ayah jauh lebih dewasa, lebih punya jiwa pria. Kadang di malam hari pun aku bermimpi tentang Ayah ...."Seluruh tubuhku gemetar. Tali akal sehatku putus seketika. Per

  • Masalah di Kebun Jagung   Bab 9

    Aku buru-buru menjejalkan foto-foto itu ke dalam laci. Baru saja aku berbalik, anakku sudah menghadang di pintu kamar.Bau alkohol menyengat dari tubuhnya, matanya merah padam, dan tangannya masih menenteng setengah botol arak putih."Wah, Ayah dan Menantu sedang curhat?" Dia tertawa sinis, tatapannya beralih antara aku dan Mulan dengan penuh kecurigaan.Mulan refleks bersembunyi di belakang punggungku. Gerakan itu benar-benar menyulut amarah Soni. Dia langsung membanting botol araknya dan berkata, "Dasar jalang! Teman kerjaku bilang malam ini kamu datang ke proyek? Kenapa, masih nggak percaya sama aku?"Mata Mulan sembab dan merah, dia menggigit bibirnya erat-erat sambil menatap Soni tanpa mengucapkan sepatah kata pun.Aku melangkah maju dan membentaknya, "Soni! Jaga mulutmu!""Ayah, nggak usah pura-pura jadi orang baik," kata Soni sambil tertawa dingin. "Ayah pikir aku nggak tahu kejadian di bioskop tadi sore?"Aku dan Mulan seketika mematung.Soni mengeluarkan ponselnya dengan gera

  • Masalah di Kebun Jagung   Bab 8

    Dia tersentak dan mundur setengah langkah. “Ayah sedang apa! Ayo cepat bangun!”Lantai semen itu membuat lututku terasa sakit, tapi aku tidak berani bangun. “Ayah tahu Ayah bersalah padamu. Kalau kamu beri tahu Soni, keluarga ini bisa hancur!”“Aku nggak akan bilang kok.” Dia menggigit bibirnya dan membantuku berdiri. “Ayah jangan begini. Aku, aku cuma mau mengantarkan baju ganti untuk Soni.” Aku baru berdiri dengan gemetar. Aku melihatnya merapikan bungkusan baju, lalu menuntun motor listriknya keluar dari gerbang halaman. Angin malam meniup ujung bajunya, bayangan tubuhnya yang ramping itu segera menghilang di kegelapan.Tak terasa tiga jam sudah berlalu, aku masih saja berjalan mondar-mandir di halaman. Sampai akhirnya terdengar suara motor listrik dari kejauhan, aku bergegas lari untuk membuka gerbang.Mulan masuk dengan langkah gontai, ternyata wajahnya sudah penuh dengan bekas air mata.Ada apa ini?Aku mengulurkan tangan hendak menolongnya, tapi dia menghindar seperti kelinci

  • Masalah di Kebun Jagung   Bab 7

    Sindy berjalan dari barisan belakang. Begitu melihat ekspresi kami, dia bertanya dengan bingung, “Ada apa?”Aku membuka mulut, tapi tidak satu kata pun yang bisa keluar.Mulan tiba-tiba berdiri dan langsung lari keluar tanpa menoleh sedikit pun.“Mulan!” teriak Sindy sambil mengejarnya.Aku terduduk lemas di kursi, lalu refleks mengusap tanganku. Di ujung jariku masih tertinggal aroma tubuh menantuku. Kenyataan ini membuatku merasa malu sekaligus sangat bergairah secara terlarang.Saat melangkah keluar dari bioskop, matahari senja sudah hampir tenggelam. Mulan duduk di dalam bak kosong motor roda tiga, dia benar-benar tidak mau menatapku sama sekali.“Paman Joni, sebenarnya ada apa dengan kalian?” tanya Sindy sambil menarikku ke samping dan bertanya dengan suara rendah.Karena dia terus-menerus mendesak, aku yang sedang kalut akhirnya menceritakan kejadian tadi secara singkat.Sindy tertegun mendengarnya, lalu sedetik kemudian, dia malah menunjukkan senyum yang aneh. “Wah, Paman Joni

  • Masalah di Kebun Jagung   Bab 6

    "Jangan ...." Aku mencengkeram pergelangan tangannya, tapi dia malah semakin parah. Kuku jarinya menggores bagian sensitifku dengan lembut.Aku mengerang tertahan dan terpaksa melepaskan genggamanku. Di layar sedang berlangsung adegan baku tembak, suara tembakan yang bertubi-tubi menutupi suara napas beratku.Gerakan Sindy semakin cepat. Aku mencengkeram sandaran kursi dengan kuat, punggungku basah kuyup oleh keringat.Tepat saat aku hampir kehilangan kendali, Mulan tiba-tiba berdiri dan berkata, "Sindy, temani aku ke kamar mandi sebentar.""Pergi saja sendiri." Sindy mendadak menarik tangannya dan berkata dengan nada bicara yang agak keberatan.Aku pun segera merapikan celanaku. Untungnya, di dalam studio hampir tidak ada lampu dan kami duduk di barisan belakang yang gelap. Jadi menantuku sama sekali tidak melihat apa pun.Selagi Mulan menarik Sindy ke toilet, aku bergegas memasang sabuk kulitku kembali. Jantungku berdebar sangat kencang.“Cabai rawit” ini benar-benar kelewat berani,

  • Masalah di Kebun Jagung   Bab 5

    "Eungh!"Satu desahan lembut yang sangat menggoda itu keluar dari mulut Sindy, membuatku merasa seluruh tulangku menjadi lemas.Saat ini, Sindy sudah bersandar lemas di bahuku. Embusan napas panasnya menerpa daun telingaku. Tubuhku kaku seketika. Meskipun terhalang kain pakaian, rasanya kami sudah mencapai area yang sangat sensitif.Napas Sindy memburu, wajah cantiknya merah padam, dan tatapannya padaku terlihat begitu mendamba, seolah ada percikan gairah di sana. Raut wajahnya sangat menggoda, seolah-olah dia bisa meledak kapan saja.Siluman penggoda ini benar-benar membuat nyawaku serasa di ujung tanduk. Kalau saja menantuku tidak duduk di samping kami, aku benar-benar ingin menghajar Sindy habis-habisan di pinggir jalan raya ini.Namun saat ini, Mulan mulai menyadari ada yang tidak beres. Dia menatap kami dengan pandangan aneh. Sepertinya dia mulai menebak sesuatu. Wajahnya ikut memerah, dia menggigit bibir lalu bertanya, "Kalian sebenarnya sedang apa?"Tubuh Sindy sudah lunglai

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status