LOGINAku merasa sangat malu sampai tidak tahu harus menaruh muka di mana. "Ma-maaf, Ayah nggak sengaja."Di luar dugaan, Mulan tidak menghindar. Dia menggigit bibir bawahnya, matanya yang basah menatapku tajam. Tatapan itu membuat jantungku berdegup kencang seperti genderang perang.Tiba-tiba, dia mengulurkan tangannya dan perlahan membuka resleting celanaku."Mulan!" Aku terkejut dan mencengkeram pergelangan tangannya. "Apa yang kamu lakukan?""Ayah," kata Mulan dengan suaranya yang selembut bulu. "Ayah tadi bilang ... mau menikahiku. Apa itu serius?"Aku baru teringat kata-kata yang kuucapkan saat panik tadi. Wajah tuaku terasa panas membara. "A-aku tadi bilang kalau kamu dan Soni cerai ....""Aku mau." Dia tiba-tiba memotong perkataanku. Jari-jarinya yang ramping sudah mulai merayap masuk ke dalam. "Sebenarnya, aku merasa Ayah jauh lebih dewasa, lebih punya jiwa pria. Kadang di malam hari pun aku bermimpi tentang Ayah ...."Seluruh tubuhku gemetar. Tali akal sehatku putus seketika. Per
Aku buru-buru menjejalkan foto-foto itu ke dalam laci. Baru saja aku berbalik, anakku sudah menghadang di pintu kamar.Bau alkohol menyengat dari tubuhnya, matanya merah padam, dan tangannya masih menenteng setengah botol arak putih."Wah, Ayah dan Menantu sedang curhat?" Dia tertawa sinis, tatapannya beralih antara aku dan Mulan dengan penuh kecurigaan.Mulan refleks bersembunyi di belakang punggungku. Gerakan itu benar-benar menyulut amarah Soni. Dia langsung membanting botol araknya dan berkata, "Dasar jalang! Teman kerjaku bilang malam ini kamu datang ke proyek? Kenapa, masih nggak percaya sama aku?"Mata Mulan sembab dan merah, dia menggigit bibirnya erat-erat sambil menatap Soni tanpa mengucapkan sepatah kata pun.Aku melangkah maju dan membentaknya, "Soni! Jaga mulutmu!""Ayah, nggak usah pura-pura jadi orang baik," kata Soni sambil tertawa dingin. "Ayah pikir aku nggak tahu kejadian di bioskop tadi sore?"Aku dan Mulan seketika mematung.Soni mengeluarkan ponselnya dengan gera
Dia tersentak dan mundur setengah langkah. “Ayah sedang apa! Ayo cepat bangun!”Lantai semen itu membuat lututku terasa sakit, tapi aku tidak berani bangun. “Ayah tahu Ayah bersalah padamu. Kalau kamu beri tahu Soni, keluarga ini bisa hancur!”“Aku nggak akan bilang kok.” Dia menggigit bibirnya dan membantuku berdiri. “Ayah jangan begini. Aku, aku cuma mau mengantarkan baju ganti untuk Soni.” Aku baru berdiri dengan gemetar. Aku melihatnya merapikan bungkusan baju, lalu menuntun motor listriknya keluar dari gerbang halaman. Angin malam meniup ujung bajunya, bayangan tubuhnya yang ramping itu segera menghilang di kegelapan.Tak terasa tiga jam sudah berlalu, aku masih saja berjalan mondar-mandir di halaman. Sampai akhirnya terdengar suara motor listrik dari kejauhan, aku bergegas lari untuk membuka gerbang.Mulan masuk dengan langkah gontai, ternyata wajahnya sudah penuh dengan bekas air mata.Ada apa ini?Aku mengulurkan tangan hendak menolongnya, tapi dia menghindar seperti kelinci
Sindy berjalan dari barisan belakang. Begitu melihat ekspresi kami, dia bertanya dengan bingung, “Ada apa?”Aku membuka mulut, tapi tidak satu kata pun yang bisa keluar.Mulan tiba-tiba berdiri dan langsung lari keluar tanpa menoleh sedikit pun.“Mulan!” teriak Sindy sambil mengejarnya.Aku terduduk lemas di kursi, lalu refleks mengusap tanganku. Di ujung jariku masih tertinggal aroma tubuh menantuku. Kenyataan ini membuatku merasa malu sekaligus sangat bergairah secara terlarang.Saat melangkah keluar dari bioskop, matahari senja sudah hampir tenggelam. Mulan duduk di dalam bak kosong motor roda tiga, dia benar-benar tidak mau menatapku sama sekali.“Paman Joni, sebenarnya ada apa dengan kalian?” tanya Sindy sambil menarikku ke samping dan bertanya dengan suara rendah.Karena dia terus-menerus mendesak, aku yang sedang kalut akhirnya menceritakan kejadian tadi secara singkat.Sindy tertegun mendengarnya, lalu sedetik kemudian, dia malah menunjukkan senyum yang aneh. “Wah, Paman Joni
"Jangan ...." Aku mencengkeram pergelangan tangannya, tapi dia malah semakin parah. Kuku jarinya menggores bagian sensitifku dengan lembut.Aku mengerang tertahan dan terpaksa melepaskan genggamanku. Di layar sedang berlangsung adegan baku tembak, suara tembakan yang bertubi-tubi menutupi suara napas beratku.Gerakan Sindy semakin cepat. Aku mencengkeram sandaran kursi dengan kuat, punggungku basah kuyup oleh keringat.Tepat saat aku hampir kehilangan kendali, Mulan tiba-tiba berdiri dan berkata, "Sindy, temani aku ke kamar mandi sebentar.""Pergi saja sendiri." Sindy mendadak menarik tangannya dan berkata dengan nada bicara yang agak keberatan.Aku pun segera merapikan celanaku. Untungnya, di dalam studio hampir tidak ada lampu dan kami duduk di barisan belakang yang gelap. Jadi menantuku sama sekali tidak melihat apa pun.Selagi Mulan menarik Sindy ke toilet, aku bergegas memasang sabuk kulitku kembali. Jantungku berdebar sangat kencang.“Cabai rawit” ini benar-benar kelewat berani,
"Eungh!"Satu desahan lembut yang sangat menggoda itu keluar dari mulut Sindy, membuatku merasa seluruh tulangku menjadi lemas.Saat ini, Sindy sudah bersandar lemas di bahuku. Embusan napas panasnya menerpa daun telingaku. Tubuhku kaku seketika. Meskipun terhalang kain pakaian, rasanya kami sudah mencapai area yang sangat sensitif.Napas Sindy memburu, wajah cantiknya merah padam, dan tatapannya padaku terlihat begitu mendamba, seolah ada percikan gairah di sana. Raut wajahnya sangat menggoda, seolah-olah dia bisa meledak kapan saja.Siluman penggoda ini benar-benar membuat nyawaku serasa di ujung tanduk. Kalau saja menantuku tidak duduk di samping kami, aku benar-benar ingin menghajar Sindy habis-habisan di pinggir jalan raya ini.Namun saat ini, Mulan mulai menyadari ada yang tidak beres. Dia menatap kami dengan pandangan aneh. Sepertinya dia mulai menebak sesuatu. Wajahnya ikut memerah, dia menggigit bibir lalu bertanya, "Kalian sebenarnya sedang apa?"Tubuh Sindy sudah lunglai







