Aku tidak pernah membayangkan akan ada momen sekonyol ini, mendengarkan menantuku memanggil "Ayah Mertua" saat berada di bawah tubuh anakku sendiri.“Panggil lebih keras lagi,” kata Soni menggoda.“Ayah Mertua, ah!” Suara Mulan tiba-tiba meninggi, terdengar seperti sedang merintih.Tiba-tiba, terdengar suara erangan dari Soni di dalam kamar, disusul desahan kecewa dari Mulan, “Begini lagi? Baru juga tiga menit ....”“Akhir-akhir ini aku terlalu capek, Sayang, maaf ya.”Aku agak terpana, tidak menyangka anakku selemah itu. Bukankah itu berarti menantuku selama ini tidak pernah merasa puas?Aku berjinjit kembali ke kamarku sendiri, berbaring di tempat tidur, tetapi tidak bisa tenang untuk waktu yang lama. Pikiranku dipenuhi bayangan kemeja Mulan yang basah keringat di kebun jagung, dan suara desahan kecewanya tadi.Keesokan paginya, Soni berangkat kerja sangat pagi. Setelah selesai menyiram sayur di kebun, aku kembali dan mendengar Mulan sedang mengobrol dengan sahabatnya, Sindy, di ru
Read more