Share

Bab 4

Author: Ungu
Napasku memburu, seluruh tubuhku terasa panas membara, dan aku sama sekali tidak berani bergerak.

Mulan menatap kami dengan tatapan penuh curiga, lalu tiba-tiba berdiri dan berkata, “Aku mau ambil sup lagi.”

Begitu dia pergi, Sindy langsung merendahkan suaranya dan berkata dengan nada menggoda, “Paman Joni, reaksi Paman ... benar-benar bersemangat ya.”

Jempol kakinya menekan sedikit lebih keras. Aku mengerang tertahan dan mencengkeram pinggiran meja dengan kuat agar tidak kehilangan kendali.

Saat Mulan kembali membawa sup, Sindy sudah menarik kakinya dan kembali makan dengan wajah polos.

Makan siang itu membuatku merasa seperti sedang duduk di atas hamparan duri. Untungnya, dia tidak berbuat usil lagi.

Setelah makan, aku memasukkan karung-karung berisi jagung kering ke bak motor roda tiga. Kemudian bersiap untuk membawanya ke kota untuk dijual.

“Ayah mau ke kota? Aku dan Sindy mau ikut menumpang, kami mau beli baju di kota,” kata Mulan. Dia berdiri di depan pintu sambil memegang tas kain motif bunga. Di belakangnya, Sindy mengedipkan mata padaku.

Bak motor sudah penuh muatan. Kursi pengemudi yang sempit itu terpaksa dipenuhi dua wanita yang berimpitan di kiri dan kananku.

Kelembutan dan wangi tubuh wanita menyeruak ke hidungku. Siku lenganku bersentuhan dengan pinggang mereka yang empuk. Aku sampai nyaris tidak bisa memegang kemudi dengan stabil.

“Duduk yang benar,” kataku sambil memutar gas, motor pun mulai berguncang melewati jalanan.

Belum jauh keluar dari desa, Sindy tiba-tiba mengeluh, “Panas banget!”

Dia menarik kerah bajunya, butiran keringat tampak mengalir turun melewati tulang selangka.

Pemandangan kulit putih yang bulat dan kenyal itu sesekali terlihat, benar-benar menggoda.

Motor menghantam lubang, membuatnya terpental dan menabrak dadaku.

“Bagaimana kalau ... aku duduk di pangkuan Paman Joni saja?” ucap Sindy sambil membalikkan badan dan duduk mengangkang di atas kakiku.

“Apa?”

Belum aku sempat bereaksi, dua gundukan empuk sudah menekan dadaku.

Mulan membelalakkan matanya dengan ekspresi tidak percaya. Dia berkata, “Sindy, kamu ....”

“Lagi pula di sini sempit, kalau begini ‘kan lebih sejuk,” kata Sindy acuh dan malah menggoyangkan pinggulnya. Pantatnya tepat menekan pangkal pahaku.

Seluruh tubuhku kaku. Aku mencengkeram stang motor lebih kuat lagi.

Siluman kecil penggoda ini, belum puas di meja makan, sekarang berulah lagi!

Meski merasa tegang karena menantuku duduk tepat di samping, rangsangan ini membuatku merasa sangat bergairah.

Jalanan tanah itu berlubang-lubang. Setiap kali motor berguncang, tubuh orang yang ada di pangkuanku akan terhempas keras ke bawah.

Belum sampai lima menit, aku sudah bereaksi dengan memalukan.

Sindy tiba-tiba memekik "aduh" dengan pipi yang mulai merona.

“Ada apa?” tanya Mulan sambil melongok.

“Nggak, nggak apa-apa,” kata Sindy sambil menggigit bibirnya. Jari-jarinya mencengkeram bahuku dengan kuat.

Aku bisa merasakan kehangatan dari celah bokongnya. Bagian lembut itu tepat menjepit bagian tubuhku yang sedang menegang.

Motor melindas lubang besar, membuat Sindy terpental lalu jatuh kembali ke posisinya.

Aku mengerang tertahan. Gesekan sesaat itu membuat kulit kepalaku terasa kesemutan karena nikmat.

Dia jelas ikut terangsang. Dia tiba-tiba merapatkan kedua kakinya, menjepitku kuat dengan daging pahanya yang lembut.

“Sindy, mukamu merah banget,” ucap Mulan bingung.

“Pa-panas banget soalnya.” Suara Sindy bergetar, tapi pantatnya mulai bergerak mengikuti guncangan motor.

Aku menatap lurus ke depan dengan tajam, keringat mengalir turun melalui punggungku.

Saat tikungan tajam, Sindy tiba-tiba terlempar ke belakang.

Secara refleks aku merangkul pinggangnya, membuat batang kerasku langsung meluncur masuk ke celah di antara kedua kakinya.

Seluruh tubuhnya gemetar, dari tenggorokannya keluar suara rintihan halus seperti suara kucing.

Sementara di sampingnya, menantuku melotot dengan wajah yang juga memerah padam.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Masalah di Kebun Jagung   Bab 10

    Aku merasa sangat malu sampai tidak tahu harus menaruh muka di mana. "Ma-maaf, Ayah nggak sengaja."Di luar dugaan, Mulan tidak menghindar. Dia menggigit bibir bawahnya, matanya yang basah menatapku tajam. Tatapan itu membuat jantungku berdegup kencang seperti genderang perang.Tiba-tiba, dia mengulurkan tangannya dan perlahan membuka resleting celanaku."Mulan!" Aku terkejut dan mencengkeram pergelangan tangannya. "Apa yang kamu lakukan?""Ayah," kata Mulan dengan suaranya yang selembut bulu. "Ayah tadi bilang ... mau menikahiku. Apa itu serius?"Aku baru teringat kata-kata yang kuucapkan saat panik tadi. Wajah tuaku terasa panas membara. "A-aku tadi bilang kalau kamu dan Soni cerai ....""Aku mau." Dia tiba-tiba memotong perkataanku. Jari-jarinya yang ramping sudah mulai merayap masuk ke dalam. "Sebenarnya, aku merasa Ayah jauh lebih dewasa, lebih punya jiwa pria. Kadang di malam hari pun aku bermimpi tentang Ayah ...."Seluruh tubuhku gemetar. Tali akal sehatku putus seketika. Per

  • Masalah di Kebun Jagung   Bab 9

    Aku buru-buru menjejalkan foto-foto itu ke dalam laci. Baru saja aku berbalik, anakku sudah menghadang di pintu kamar.Bau alkohol menyengat dari tubuhnya, matanya merah padam, dan tangannya masih menenteng setengah botol arak putih."Wah, Ayah dan Menantu sedang curhat?" Dia tertawa sinis, tatapannya beralih antara aku dan Mulan dengan penuh kecurigaan.Mulan refleks bersembunyi di belakang punggungku. Gerakan itu benar-benar menyulut amarah Soni. Dia langsung membanting botol araknya dan berkata, "Dasar jalang! Teman kerjaku bilang malam ini kamu datang ke proyek? Kenapa, masih nggak percaya sama aku?"Mata Mulan sembab dan merah, dia menggigit bibirnya erat-erat sambil menatap Soni tanpa mengucapkan sepatah kata pun.Aku melangkah maju dan membentaknya, "Soni! Jaga mulutmu!""Ayah, nggak usah pura-pura jadi orang baik," kata Soni sambil tertawa dingin. "Ayah pikir aku nggak tahu kejadian di bioskop tadi sore?"Aku dan Mulan seketika mematung.Soni mengeluarkan ponselnya dengan gera

  • Masalah di Kebun Jagung   Bab 8

    Dia tersentak dan mundur setengah langkah. “Ayah sedang apa! Ayo cepat bangun!”Lantai semen itu membuat lututku terasa sakit, tapi aku tidak berani bangun. “Ayah tahu Ayah bersalah padamu. Kalau kamu beri tahu Soni, keluarga ini bisa hancur!”“Aku nggak akan bilang kok.” Dia menggigit bibirnya dan membantuku berdiri. “Ayah jangan begini. Aku, aku cuma mau mengantarkan baju ganti untuk Soni.” Aku baru berdiri dengan gemetar. Aku melihatnya merapikan bungkusan baju, lalu menuntun motor listriknya keluar dari gerbang halaman. Angin malam meniup ujung bajunya, bayangan tubuhnya yang ramping itu segera menghilang di kegelapan.Tak terasa tiga jam sudah berlalu, aku masih saja berjalan mondar-mandir di halaman. Sampai akhirnya terdengar suara motor listrik dari kejauhan, aku bergegas lari untuk membuka gerbang.Mulan masuk dengan langkah gontai, ternyata wajahnya sudah penuh dengan bekas air mata.Ada apa ini?Aku mengulurkan tangan hendak menolongnya, tapi dia menghindar seperti kelinci

  • Masalah di Kebun Jagung   Bab 7

    Sindy berjalan dari barisan belakang. Begitu melihat ekspresi kami, dia bertanya dengan bingung, “Ada apa?”Aku membuka mulut, tapi tidak satu kata pun yang bisa keluar.Mulan tiba-tiba berdiri dan langsung lari keluar tanpa menoleh sedikit pun.“Mulan!” teriak Sindy sambil mengejarnya.Aku terduduk lemas di kursi, lalu refleks mengusap tanganku. Di ujung jariku masih tertinggal aroma tubuh menantuku. Kenyataan ini membuatku merasa malu sekaligus sangat bergairah secara terlarang.Saat melangkah keluar dari bioskop, matahari senja sudah hampir tenggelam. Mulan duduk di dalam bak kosong motor roda tiga, dia benar-benar tidak mau menatapku sama sekali.“Paman Joni, sebenarnya ada apa dengan kalian?” tanya Sindy sambil menarikku ke samping dan bertanya dengan suara rendah.Karena dia terus-menerus mendesak, aku yang sedang kalut akhirnya menceritakan kejadian tadi secara singkat.Sindy tertegun mendengarnya, lalu sedetik kemudian, dia malah menunjukkan senyum yang aneh. “Wah, Paman Joni

  • Masalah di Kebun Jagung   Bab 6

    "Jangan ...." Aku mencengkeram pergelangan tangannya, tapi dia malah semakin parah. Kuku jarinya menggores bagian sensitifku dengan lembut.Aku mengerang tertahan dan terpaksa melepaskan genggamanku. Di layar sedang berlangsung adegan baku tembak, suara tembakan yang bertubi-tubi menutupi suara napas beratku.Gerakan Sindy semakin cepat. Aku mencengkeram sandaran kursi dengan kuat, punggungku basah kuyup oleh keringat.Tepat saat aku hampir kehilangan kendali, Mulan tiba-tiba berdiri dan berkata, "Sindy, temani aku ke kamar mandi sebentar.""Pergi saja sendiri." Sindy mendadak menarik tangannya dan berkata dengan nada bicara yang agak keberatan.Aku pun segera merapikan celanaku. Untungnya, di dalam studio hampir tidak ada lampu dan kami duduk di barisan belakang yang gelap. Jadi menantuku sama sekali tidak melihat apa pun.Selagi Mulan menarik Sindy ke toilet, aku bergegas memasang sabuk kulitku kembali. Jantungku berdebar sangat kencang.“Cabai rawit” ini benar-benar kelewat berani,

  • Masalah di Kebun Jagung   Bab 5

    "Eungh!"Satu desahan lembut yang sangat menggoda itu keluar dari mulut Sindy, membuatku merasa seluruh tulangku menjadi lemas.Saat ini, Sindy sudah bersandar lemas di bahuku. Embusan napas panasnya menerpa daun telingaku. Tubuhku kaku seketika. Meskipun terhalang kain pakaian, rasanya kami sudah mencapai area yang sangat sensitif.Napas Sindy memburu, wajah cantiknya merah padam, dan tatapannya padaku terlihat begitu mendamba, seolah ada percikan gairah di sana. Raut wajahnya sangat menggoda, seolah-olah dia bisa meledak kapan saja.Siluman penggoda ini benar-benar membuat nyawaku serasa di ujung tanduk. Kalau saja menantuku tidak duduk di samping kami, aku benar-benar ingin menghajar Sindy habis-habisan di pinggir jalan raya ini.Namun saat ini, Mulan mulai menyadari ada yang tidak beres. Dia menatap kami dengan pandangan aneh. Sepertinya dia mulai menebak sesuatu. Wajahnya ikut memerah, dia menggigit bibir lalu bertanya, "Kalian sebenarnya sedang apa?"Tubuh Sindy sudah lunglai

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status