Home / Romansa / Masih Menjadi Milikku / Bab 4 - Driver ojol

Share

Bab 4 - Driver ojol

Author: Delf
last update Last Updated: 2025-07-16 16:53:13

Bukannya marah setelah ditampar Olivia, Ivan malah semakin mendekat dan membuat tubuh Olivia terpojok berbenturan dengan pintu mobilnya.

“Ka..Kamu mau apa?” Olivia berusaha terlihat tenang, namun sayangnya suaranya yang bergetar tidak dapat menyembunyikan ketakutannya.

Ivan tersenyum licik, semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Olivia, membuat udara di sekitar Olivia terasa pekat, sulit untuk bernafas.

“Ja.. jangan macam-macam!!” Olivia kembali bersuara dengan mata melotot.

Ivan tidak mempedulikan perkataan Olivia, tangannya mengelus pipi halus Olivia, dan perlahan menyentuh bibir Olivia dengan ibu jarinya, dan semakin mengikis jarak di antara mereka hingga Olivia bisa merasakan hembusan nafas Ivan. Olivia memilih untuk memejamkan matanya.

“Kamu mau pulang atau mau aku cium?” suara Ivan menggema di telinga Olivia, membuatnya membelalakan matanya, dan spontan mendorong tubuh Ivan.

Ada perasaan lega namun juga kecewa bergemuruh di dalam dada Olivia. Ivan tertawa, merasa lucu melihat wajah terkejut dan malu-malu gadis tersebut. Ya dia telah berhasil membalas tamparan gadis itu dengan caranya sendiri.

Olivia seketika langsung membuka pintu mobil di bagian belakang dan masuk ke dalam dengan wajah menggerutu.

“Duduk depan, aku bukan driver ojol!” Tegas Ivan.

Kembali Olivia membuka pintu mobil dan membantingnya keras, dan kemudian membuka pintu depan dan menghempaskan tubuhnya dengan kasar, dan sekali lagi membanting keras pintu tersebut hingga tertutup.

Ivan tau Olivia sengaja memancing emosinya, tapi dia telah terbiasa dengan tingkah anak remaja, yang tidak ada bedanya dengan tingkah laku Steffany.

“Rumahku di...”

“Walaupun aku lebih tua dari kamu, bukan berarti aku pikun.” Jawab Ivan ketus.

Olivia memilih untuk diam, ya Ivan pernah mengantarnya sekali saat dia menebeng dengan Steffany.

Selanjutnya suasana hening tanpa ada yang membuka mulut. Olivia memandang keluar jendela, sibuk dengan pikirannya, apa yang akan dikatakan sang mama jika dia diantar pulang bukan oleh Randy? Dia harus beralasan apa?

Sementara Ivan diam-diam masih mengelus pipinya yang tadi ditampar oleh Olivia, gadis itu walau kecil tapi tenaganya seperti tendangan kuda.

Suara telpon berdering, Ivan melirik sekilas lalu mengangkatnya.

“Halo Sa..”

Olivia melirik ke pria di sebelahnya, dia tau bahwa Alyssa yang sedang menelpon.

“Kamu di mana? Aku tungguin dari tadi.” Ucap Alyssa kesal.

Ivan menahan tawanya, “Maaf Sa, tiba-tiba mamaku telpon minta dijemput dari rumah temannya untuk dianter pulang. Tau sendiri kan mamaku kalau lagi marah kayak beruang grizzly, imut tapi ganas. Takutnya aku ditampar kalau ga nurut.” Ucap Ivan sambil melirik ke arah Olivia. Olivia langsung melotot, tau pasti dia adalah orang yang dimaksud oleh Ivan.

Ivan meletakkan handphonenya di atas dashboard mobilnya dan kembali fokus menyetir sambil menahan tawa melihat wajah kesal Olivia. Dan tak berapa lama kemudian, gantian telpon Olivia yang berdering. Olivia menatap layar telponnya, Ivan sekilas dapat melihat nama Randy di sana. Dan entah mengapa perasaan Ivan menjadi waswas.

“Ha.. Halo Randy?”

“Oliv, kamu di mana sih?” Bentak Randy, tidak dapat menahan emosinya.

“A.. aku di jalan, pulang rumah. Kepalaku tiba-tiba sakit.” alasan Olivia.

“Kamu kenapa ga bilang? Aku kan bisa anter kamu! Kamu pulang naik apa?” suara tinggi Randy terdengar hingga ke telinga Ivan.

Olivia melirik sekilas ke arah Ivan, “Aku naik ojol. Maaf aku ga ngasi tau kamu.”

Dalam hati Ivan ingin memaki Olivia, dia disamakan dengan sopir ojol, tapi apa mau dikata, dia juga menyamakan Olivia dengan beruang grizzly.

“Lain kali jangan kayak gitu lagi, aku ga suka! Kamu itu berangkat sama aku, harusnya pulang sama aku juga!”

“Iya, maaf. Uda dulu ya, aku uda mau sampai rumah.” Olivia menutup telponnya dan menaruhnya di samping kursinya sambil menarik nafas panjang. Dia tau bahwa akan ada masalah yang jauh lebih besar yang harus dia hadapi sebentar lagi.

“Kamu kenal Randy di mana?” Ivan akhirnya bertanya karena saking penasarannya.

Olivia tersenyum, “Aku rasa itu bukan urusan kamu, terima kasih sudah mengantarku, selamat malam.” Olivia turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam pekarangan rumahnya.

Ivan menatap punggung Olivia yang mulai menghilang dari hadapannya, dan entah mengapa sudut bibirnya terangkat. Dan ketika ingin kembali melajukan mobil, matanya menangkap sebuah handphone di jok kursi penumpang, handphone Olivia ketinggalan.

“Randy baru telpon dan katanya kamu menghilang!! Pulang entah dengan siapa.” suara tinggi Lisa menyambut Olivia ketika gadis itu membuka pintu rumahnya.

“Oliv sakit kepala, Ma. Jadi Oliv pulang duluan naik Ojol.”

“Kalau kamu sakit kepala kan bisa minta tolong dia antarin pulang. Sekarang kamu bilang, kamu pergi ke mana dan dengan siapa?”

“Oliv ga ke mana-mana, Ma. Oliv langsung pulang naik ojol Ma.”

“Mama bukan anak kecil yang bisa kamu bohongi, Olivia Cristy!!!”

“Ma, percuma Oliv mau jawab apa karena mama tetap tidak akan percaya dengan Oliv!”

“Kurangajar ya kamu. Uda bisa melawan orangtua ya?”

Air mata Olivia tergelincir jatuh, entah mengapa dia merasa bahwa apapun yang dia lakukan tetap salah di mata mamanya.

“Permisi..” suara pria mengagetkan dua makhluk hawa tersebut. Keduanya menoleh ke arah sumber suara.

Ketiganya sama-sama terkejut. Lisa terkejut karena tiba-tiba ada sosok pria tampan yang muncul di depan pintunya yang dia duga adalah pria yang mengantar Olivia pulang. Olivia sama terkejutnya karena Ivan muncul di depan pintu rumahnya dan akan menambah runyam masalah. Sedangkan Ivan terkejut melihat cewek paling keras kepala yang pernah ditemuinya kini wajahnya penuh dengan aliran air mata.

“Kamu siapa?” tanya Lisa ketus.

Ivan terdiam, menatap mata Olivia yang terlihat memohon penuh arti.

Ivan berdeham, “Saya sopir ojol yang barusan antar mbaknya. Ini handphone mbaknya ketinggalan di mobil Saya.”

Mbak?? Ya Tuhan, ga ada pilihan kata lain? Olivia memaki di dalam hati. Namun apapun itu, dia merasa senang, dan lega.

Olivia buru-buru menghapus air matanya, maju selangkah menerima handphone tersebut, “Terima kasih, Mas.” ucapnya tersenyum tulus.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Masih Menjadi Milikku   Bab 75 - Kita hanya teman

    “Liv, mau ke mana? Ga ikut makan?” Ivan terkejut melihat Olivia yang berjalan ke arah mobilnya, dan pria itu segera mengejarnya.“Engga, aku mau jemput Iel.”Ivan melihat jam tangannya, baru menunjukkan pukul lima sore. “Kamu tadi bilang Iel nonton bioskop sama Calvin.”“Iya, harusnya bentar lagi selesai. Aku juga ada janji makan malam dengan Calvin.”Ivan merasa kecewa namun dia mengangguk.“Kaki kamu uda ga papa? Bisa nyetir ga? Mau aku anter pulang?”Olivia tersenyum, “Uda ga papa koq, untung ga terkilir. Thanks ya.”Ivan tersenyum, “Yeah, sama-sama.”“Kak Ivan, ayo..” suara Nanda terdengar, mereka berdua menoleh pada sumber suara tersebut. Terlihat gadis cantik itu melambaikan tangan sambil tersenyum.“Uda ada yang nungguin tuh.” Ucap Olivia terdengar menggoda Ivan walau entah mengapa perasaannya sedikit sakit ketika mengatakan hal itu.“Ya uda, aku duluan ya. Ati-ati di jalan, Liv. Bye.”Olivia mengangguk dan melihat pria itu berlari sambil melambaikan tangan menuju Nanda. Olivi

  • Masih Menjadi Milikku   Bab 74 - Memilih mundur

    “Ivan? Kamu di sini juga?” Olivia tiba-tiba merasa gugup. Pria yang sudah seminggu tidak pernah muncul batang hidungnya, ternyata kini berada di tempat yang sama dengannya.Ivan tersenyum, “Yeah, sekarang aku selalu di sini.”Olivia mengangguk. Jadi ini alasan Ivan tidak pernah muncul lagi?“Iel ga ikut?”Olivia menggeleng, “Iel lagi jalan sama Calvin dan Ana. Katanya mau nonton bioskop dengan keponakan Ana.”Ivan mengangguk, “Kalau gitu kamu ada waktu dong buat tanding basket?”Olivia tersenyum sambil menggeleng.“Kenapa? Takut kalah?” Tantang Ivan mengangkat sebelah alisnya.“Aku ke sini pengen main sama anak-anak, bukan mau mencari siapa yang lebih hebat.”Ivan tertawa, “Pertandingan itu tidak selalu mencari siapa yang terhebat. Anggap saja ini pertandingan persahabatan. Yang kalah traktir anak-anak makan.”Olivia memandang Ivan kemudian tersenyum, “Oke kalo gitu, aku yang duluan pilih team.”Ivan mengulurkan tangannya sembari sedikit membungkuk, “Silahkan, tuan putri.”Pertandinga

  • Masih Menjadi Milikku   Bab 73 - Ga kangen aku?

    “Permisi, Bu. Pesanan makanannya sudah datang.” Lanny mengetuk pintu ruangan Olivia.Olivia meletakkan pulpennya dan mengkerutkan dahinya. “Makanan? Saya ga ada pesan makanan.”“Tapi nama dan alamatnya benar, Bu.” Ucap Lanny.“Ya uda, tolong taruh di meja sana aja, nanti saya lihat. Terima kasih, Lan.”Lanny mengangguk dan kemudian keluar ruangan setelah menaruh makanan tersebut. Olivia melihat jam di tangannya, sudah hampir pukul dua belas, entah mengapa jantungnya jadi berdebar kencang. Mungkinkah Ivan datang lagi? Ya Tuhan, kenapa aku jadi memikirkan dia?Olivia melangkah menuju box makanan, membuka plastiknya, dan ternyata ada sebuah kertas catatan di sana.Sibuk boleh, tapi sakit jangan.Jangan telat makan. Happy lunch.-Client paling nyebelin-Olivia membaca catatan tersebut, dia terkejut, namun bibirnya tidak mampu menahan senyuman. Olivia membuka kotak tersebut, Nasi dan soto ayam. Senyuman kembali terlukis di wajah cantik wanita itu. Namun di dalam hatinya ada tanda tanya, me

  • Masih Menjadi Milikku   Bab 72 - Busur panah

    Ivan membuka pintu rumah dan terdengar suara gelak tawa Steffany dan Calvin. Ivan melangkah lunglai, merasa iri melihat kedua saudaranya dapat tertawa lebar penuh kebahagiaan, sedangkan dirinya merasa hancur ditolak berkali-kali oleh wanita yang dicintainya.“Jadi gimana uda first kiss belum?” suara Steffany terdengar.“Menurutmu?” Calvin terkekeh.Steffany tertawa, “Manis mana ma bibir Olivia?”Ivan yang mendengar nama Olivia disebut langsung mendekat, “Kalian omongin apa?”Steffany dan Calvin terkejut, “Ini loh pasangan baru, ceritain pengalaman first kissnya.” Ucap Steffany terkekeh.“Aku denger ada Olivia disebut.”“Eheeemm… ada yang langsung cemburu dengar nama Olivia disebut.”“Kak, uda makan belum? Mama ada masak semur tuh.”“Aku uda makan di rumah Oliv.” Ivan duduk di samping Steffany.Steffany dan Calvin terkejut, saling menatap namun kemudian tertawa, “Ciieeeh cieeehh… ada yang CLBK nih ceritanya.” Goda Steffany.“Emang mereka pernah jadian?” Calvin bertanya serius pada Stef

  • Masih Menjadi Milikku   Bab 71 - I like him so much

    Olivia melangkah duluan membuka pintu dan diikuti oleh Ivan.“Ivan..” Olivia tau bahwa dia harus mengatakan yang sejujurnya sebelum Ivan berharap terlalu jauh padanya.“Ya?” Ivan memasang senyum terindahnya.“Terima kasih uda memberikan Iel mainan, dan mau main dengannya.” ucap Olivia dengan tulus.Ivan tersenyum, “No problem, aku suka main dengan Iel.”Olivia terdiam kemudian melanjutkan, “Aku harap kamu jangan terlalu memanjakan dia, dan.. jangan terlalu sering bertemu dia. A..aku tidak ingin dia bergantung pada kamu.”Ivan terkejut, ingin mengucapkan sesuatu tapi lidahnya kelu. “Aku tidak ingin kamu menaruh harapan padaku.” Lanjut Olivia jujur.“Liv.. aku mencintai kamu. Dan itu bohong jika kamu tidak merasakan hal yang sama. Kita tidak bisa terus-terusan menyangkalnya Liv.” Ivan spontan memegang pundak Olivia.Olivia memejamkan matanya mencari kekuatan, “Sudah terlambat. Keadaannya kini sudah berbeda, Van.”“Apa bedanya?”“Aku sudah pernah menikah, aku janda, punya anak satu.”“I

  • Masih Menjadi Milikku   Bab 70 - Perasaan campur aduk

    “Mama.. hari ini Om Ivan datang ke rumah kan?” ucap Dariel menatap sang mama yang sedang menyetir.Olivia memandang sekilas ke arah Dariel, “Iel, Om Ivan sibuk.”“Tapi kemarin mama bilang, Om Ivan mau datang.” Protes Dariel kecewa.“Iel, Om Ivan kan juga ada kerjaan.”“Tapi mama kan uda janji. Iel mau main sama Om Ivan.” Dariel mulai merengek.“Dariel….” Ucap Olivia memberi penekanan.“Kan mama yang bilang kalau uda janji harus ditepati.”Olivia menarik nafas panjang, “Iya, tapi Om Ivan ga boleh sering-sering ke rumah, Nak.”“Kenapa, Ma? Kan Om Ivan teman mama. Papa Calvin juga sering ke rumah.”Seketika Olivia memijit keningnya, kepalanya tiba-tiba terasa cekot-cekot, ini anak koq pinter banget ngelesnya, seperti.. Ivan. Ya Tuhan, kenapa harus Ivan lagi.Olivia berdeham, “Om Calvin dan Om Ivan berbeda, sayang.” Olivia lebih nyaman menyebut Calvin sebagai Om daripada papa.“Bedanya apa, Ma? Kata Om Ivan, dia dan mama uda temanan lama, Cuma Om Ivan harus pergi jauh untuk belajar biar j

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status