FAZER LOGINOlivia Cristy, gadis tomboy berparas cantik yang memiliki sejuta rahasia kelam di hidupnya, harus merasakan nasib sial ketika semesta mempertemukannya dengan pemuda tampan super menyebalkan, Ivander Elio, yang tak lain adalah kakak kandung sahabatnya. Perdebatan dan pertengkaran yang sering mereka lakoni membuat mereka saling mengenal pribadi masing-masing, dan anehnya membuat mereka saling tertarik satu sama lain. Namun, cinta tidak semudah yang dikira. Kembalinya cinta masa lalu Ivander, dan juga sepupu Ivander yang ternyata telah menyimpan rasa pada Olivia sejak lama menjadi tembok besar di antara mereka. Apakah cinta yang akan menang, atau mereka harus merelakan hati mereka demi menjaga hati pihak lain?
Ver mais"Stef, aku uda sampai.” Olivia mematikan mesin mobilnya ketika selesai memarkir mobilnya di halaman rumah Steffany yang sangat megah.
“Oliv, aku masih di mini market nih. Kamu langsung ke kamarku aja ya. Hidupin deh langsung laptopku, tau passwordnya kan?” ucap Steffany dari seberang telpon.
“Oke. Titip chiki ya satu.” ucap Olivia terkekeh.
“Tenang aja, uda aku beliin.”
Olivia tertawa, “You’re the best.” Ucapnya kemudian menutup telponnya. Olivia kemudian turun dari mobilnya tanpa melepas topi yang selalu bertengger di kepalanya, menekan tombol lock pada kunci remote mobilnya, dan melangkah masuk ke dalam rumah sahabatnya.
“Hallo Mbak Sathi, Om dan Tante ada?" Tentu saja Olivia tidak boleh asal masuk rumah orang tanpa permisi pada si pemilik rumah.
"Bapak dan Ibu sedang keluar, Non."
Olivia mengangguk, "Stef nyuruh aku langsung naik ke kamar, Mbak.”
“Naik langsung aja, Non.” Jawab Mbak Sathi, asisten rumah tangga Steffany, dan Olivia mengangguk sambil tersenyum.
Olivia setengah berlari menaiki tangga mewah yang meliuk sambil bersiul mendendangkan sebuah lagu menuju kamar Steffany.
“Kamu mau mencuri?” sebuah tangan tiba-tiba menangkap pergelangan tangannya yang sedang mencoba menekan handle pintu.
Olivia tersentak, spontan dia menolehkan wajahnya ke arah sumber suara. Dan dia lebih terkejut lagi ketika pria yang menatapnya tajam dan terkesan sadis, berdiri sangat dekat dengannya, hingga deru nafasnya terdengar. Dan sialnya pria tersebut sangat tampan.
“A.. aku..” Olivia berusaha mencari suaranya yang entah menguap ke mana.
Pria tersebut tertawa sinis tanpa melepaskan tangan Olivia, bahkan semakin mempererat pegangannya, “Kamu mau beralasan apa?”
Jantung Olivia berdetak semakin kencang. Dia mengenali seluruh anggota keluarga rumah ini, tapi belum pernah melihat pria yang satu ini. Siapa dia?
Olivia berdeham, dan berusaha melepaskan tangannya. “Kamu siapa?”
Suara tawa terdengar, “Kamu tanya aku siapa? Kamu keluar sekarang sebelum aku melaporkanmu ke polisi!!” bentak pria tersebut.
“Oliv…” Nafas Olivia yang rasanya tercekik kini dapat bernafas dengan lega, untung Steffany datang tepat waktu.
Perlahan pria tersebut melepaskan tangan Olivia dan menatap wajah Steffany. Olivia lalu mengelus pergelangannya yang terasa sedikit sakit karena genggaman pria tersebut.
“Kak Ivan? Bukannya penerbangannya besok?” Steffany langsung memeluk pria di depannya, dan membuat mata Olivia terbelalak dan semakin bingung. Ivan? Itu kan nama...
“Aku reschedule, kangen banget ma rumah.” Ucap Ivan sambil memeluk dan mengecup kening sang adik.
“Kenalin ini Olivia, teman kuliah sekaligus sahabatku.” Ucap Steffany sambil tersenyum.
Ivan berdeham, mencoba menutupi rasa malunya, kemudian mengulurkan tangannya. “Ivan, kakak Stef.”
Wajah Olivia nampak kesal, tapi dia tetap harus menjaga sopan santunnya, dia menyambut uluran tangan pria tersebut dengan wajah masam, “Olivia Cristy, mahasiswi semester tiga jurusan akuntansi keuangan, bukan PENCURI.” Olivia mengucapkan kata PENCURI dengan tegas dan penuh penekanan.
Ivan menggidikkan bahunya, “Bukan salahku jika tiba-tiba kamu mau membuka pintu kamar Stef. Wajar jika aku curiga.”
“Tapi kan kamu bisa bertanya dulu, ga langsung menuduh.” Mata Olivia melotot.
“Ya kenapa juga kamu ga bilang langsung kalau kamu teman Stef?”
“Udah.. udah.. Kak, aku ke kamar dulu sama Oliv, mau buat tugas.” Ucap Steffany sambil menarik tangan Olivia memasuki kamarnya.
***
“Stef..”
“Hmmm…” Steffany tetap fokus pada game yang sedang dimainkannya.
“Hmm teman kamu uda balik?”
“Udah dari tadi.”
“Oh..” jawab Ivan singkat.
“Cantik kan? Tapi jangan coba-coba mendekatinya.”
Ivan mengangkat sebelah alisnya menatap heran ke arah Steffany, menurutnya kata-kata adiknya sangat konyol.
“Dia berbeda dengan Alyssa.” lanjut Steffany.
Dahi Ivan semakin berkerut dalam.
“Ga usa menyangkal, aku tau apa yang kalian perbuat di belakangku dulu."
"Aku tidak pernah berniat mendekatinya. Dia yang mengejarku. Lagi pula itu masa lalu."
"Tapi kamu tetap meladeninya." Steffany memutar bola matanya dengan malas, "Pokoknya Olivia tidak boleh disentuh, titik!!!”
“Jadi dia biarawati berkedok mahasiswi?” ejek Ivan setengah tertawa.
Steffanny melotot, “Dia belum mau pacaran.”
“Beda aliran dong dengan kamu yang sebulan sekali ganti pacar?” Ejek Ivan sambil menjitak kepala adiknya.
"Ouucchh sakit! Dasar kakak sirik. Harusnya kamu tuh bangga adekmu tercantik ini laris manis.” Stefanny menjulurkan lidahnya.
Pria tampan tersebut tertawa dan merangkul adiknya, “Jangan mempermainkan hati cowo terus, ntar kakakmu ini yang kena karmanya.”
Steffany terbahak, “Mana mungkin sih ada cewe yang bisa mematahkan hati Ivander Elio? Yang ada mereka yang patah hati.”
Ivan tersenyum tipis, ya dalam hidupnya, dia tidak pernah sekalipun patah hati, karena dia tidak pernah jatuh cinta.
Olivia membekap mulutnya, dia hampir tidak percaya dengan apa yang diceritakan oleh Ivan. Dia menjatuhkan bokongnya di atas kasur. “Ka.. kamu..?”Ivan mengangguk, “Bisa dibilang, aku memperkosamu.. aku mengambil keperawananmu. Maafkan aku Olivia, aku..aku hanya tidak tahan melihatmu tersiksa..”Olivia masih menggelengkan kepalanya, mencoba menggali kenangan masa lalunya. Ya dia ingat bahwa dia merasakan kesakitan di inti tubuhnya namun kemudian kenikmatan yang bertubi-tubi. Dia merasa melakukannya dengan Ivan, dan dia sangat menikmati segala sentuhan lembut dari pria yang dicintainya itu. Dia tidak menyesal sama sekali. Tapi hari di saat dia terbangun keesokan paginya, yang sedang tertidur di sampingnya adalah Randy. Jadi Olivia berpikir bahwa dia hanya sedang bermimpi atau terlalu mabuk sehingga membayangkan Randy sebagai Ivan.“Ya Tuhan!!” hanya itu kata yang dapat diucapkan oleh Olivia.Ivan meraih tangan Olivia, “Maafkan aku Olivia.”“Jadi kamu melakukannya karena kasihan melihatk
Flashback empat tahun lalu…Resepsi pernikahan berlangsung meriah, para tamu undangan sangat terpukau dengan kecantikan pengantin wanita. Banyak yang mengatakan Randy begitu beruntung bisa memiliki Olivia. Namun kemeriahan pesta berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan oleh Olivia.Jika benar mengenal Olivia, maka akan jelas terlihat ratapan sedih di balik senyum manisnya. Apalagi sejak kehadiran Ivan membuat konsentrasi Olivia benar-benar berantakan, bahkan ketika harus mengucapkan janji pernikahan, barisan kalimat yang berusaha dihafalnya dalam seminggu terakhir benar-benar hilang tanpa jejak. Bahkan ketika pendeta bertanya bersediakah dia menerima Randy menjadi suaminya, Olivia bahkan tidak menyadari pertanyaan itu tertuju padanya. Karena yang ada dalam benaknya hanyalah Ivander Elio.“Liv, kamu jangan minum terlalu banyak.” Ucap Steffany mengingatkan sahabatnya pada saat after party, acara seusai resepsi, dimana yang tersisa hanya pengantin dan juga teman-teman dekat, menikma
Ivan memejamkan matanya, mencoba menenangkan dirinya. “Kamu pegang saja ini, kapan kamu siap, kamu bisa memakainya. Aku akan menunggumu.”Olivia menerima kotak tersebut, “Ivan.. boleh aku meminta sesuatu?”“Katakan.”“Aku ingin mencobanya denganmu, tapi..” suara Olivia bergetar, “Jika aku tidak bisa memuaskanmu.. tolong jujur padaku dan tinggalkan aku. Aku tidak ingin terjebak di situasi yang sama.”Ivan terkejut dengan perkataan Olivia, dia bukanlah pria brengsek yang memaksakan gairahnya pada seorang wanita. “Liv..” protes Ivan.“Please, Van.” Air mata Olivia mengalir, “Aku tidak ingin kamu membuang waktu menungguku.”“Kamu yakin?”Olivia mengangguk dengan tegas, ya dia telah memutuskan, mungkin ini satu-satunya cara yang harus dipilihnya agar Ivan menyerah. Mungkin juga ini menjadi kenangan terindah yang akan selalu dia kenang.Ivan menatap dalam mata Olivia, Ivan tidak ingin melakukannya dalam kondisi seperti ini, tapi toh Ivan akhirnya setuju, karena hanya dengan cara ini bisa me
Dariel yang memasuki musim liburan diculik oleh Steffany ke luar kota bersama orangtua Ivan, membuat Olivia leluasa mengurung diri di kamar. Sudah dua minggu berlalu dan Ivan tidak pernah muncul di hadapannya, hanya pesan singkat yang memberi kabar bahwa dia sedang sibuk mengerjakan suatu project.Olivia tidak bertanya banyak, karena baginya mungkin Ivan hanya mencari alasan untuk menghindarinya. Ivan bahkan tidak meminta penjelasan apapun padanya. Dan hati Olivia mulai berhenti berharap pada kebahagiaan impiannya.Knock knockSuara ketukan mengagetkan Olivia dari lamunannya. Siapa yang datang? Olivia menghapus air matanya dan berjalan ke depan rumah.“Ivan?”Ivan tersenyum menatap Olivia yang terkejut dengan mata sembab. Dua minggu mereka tidak bertemu, Olivia nampak semakin kurus dengan pipi tirusnya. Ivan sengaja tidak menemui Olivia, karena dia tau Olivia perlu menenangkan diri, pun juga dengan dirinya sendiri.“Sudah makan?” tanya Ivan dengan senyum manisnya dan Olivia menggeleng
Ivan senyum-senyum sendiri di dalam kamarnya, mengingat kejadian barusan. Tepat ketika dia menunggu jawaban Olivia, suara Dariel mengagetkan mereka berdua.“Mama dan Om Ivan lagi ngapain?” tanya Dariel polos.Wajah Olivia memerah, tiba-tiba merasa gugup dan salah tingkah.“Om Ivan dan Mama tadi kej
Flashback OnIvan sibuk memainkan handphonennya, sibuk mengetik pada layar datar tersebut dengan tampang serius.“Kak Ivan ga makan? Koq minum aja? Nanti lapar loh.” tanya Nanda dengan sedikit manja.“Aku belum lapar. Aku nanti ada janjian makan malam juga.” Ucap Ivan sambil tetap mengetik di layar
“Ya ampun Dariel, kamu lebih imut daripada di foto. Kamu ganteng sekali, Nak. Gemesin banget.” Ucap Bu Sari ketika melihat Dariel datang bersama Ivan dan Olivia, dia tidak tahan untuk tidak mencubit pipi bulat Dariel yang sangat montok.Olivia tersenyum, “Terima kasih, Bu.”"Boleh Ibu gendong?"Dar
Ivan membuka pintu rumah dan terdengar suara gelak tawa Steffany dan Calvin. Ivan melangkah lunglai, merasa iri melihat kedua saudaranya dapat tertawa lebar penuh kebahagiaan, sedangkan dirinya merasa hancur ditolak berkali-kali oleh wanita yang dicintainya.“Jadi gimana uda first kiss belum?” suara












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
avaliaçõesMais