Home / Romansa / Masih Menjadi Milikku / Bab 3 - Tidak kenal

Share

Bab 3 - Tidak kenal

Author: Delf
last update Last Updated: 2025-07-15 22:50:37

“Sa, stop Sa..” Ivan merasa risih dengan kelakuan Alyssa yang terus menerus berusaha mencumbu dirinya, menempelkan dadanya di tubuh Ivan, mencoba menggoda pria tampan tersebut.

“Aku kangen banget sama kamu. Kamu koq ga bilang sih kalau kamu uda balik ke Indonesia?” ucap Alyssa dengan suara yang dibuat-buat seperti desahan.

“Sa.. please.. Aku lagi pingin sendiri.” suara tegas Ivan sambil mendorong lembut tubuh Alyssa.

Alyssa mengerutkan bibirnya lalu menghentakkan kakinya layaknya anak kecil yang tidak dikabulkan permintaannya, lalu beranjak pergi. Ivan menggelengkan kepalanya, kenapa bisa Alyssa sangat kekanakan sekali, padahal usianya sepantaran dengan Steffany.

Romi, teman jalan Ivan, tertawa melihat kelakuan temannya, “Apakah dia kurang nikmat?” ucapnya ringan sambil meneguk alkohol yang dipegangnya.

Ivan tersenyum tipis dan menggidikkan bahunya. “Aku belum pernah coba.”

“Serius??” Romi terbelalak tidak percaya.

“Dia teman adikku.”

“Lalu? Di mana letak kesalahannya?” tanya Romi bingung.

Ivan menggoyang-goyangkan wine di gelas yang dipegangnya, menyium aromanya, dan menyesapnya perlahan. “Aku tidak mau merusak anak di bawah umur.”

Romi terbahak, “Kamu memang cowo brengsek.”

Kemunculan Randy menghentikan tawa mereka, dan Romi cukup terkejut karena Randy membawa gadis yang baru dilihatnya.

“Wow.. Ran, pacar baru?” Mata Romi langsung berbinar melihat kemunculan seorang gadis cantik yang terlihat polos dengan dress cukup pendek, namun memakai jaket jeans dan juga topi.

“Teman.” Ucap gadis itu cepat.

“Romi..” Romi berdiri dan segera mengulurkan tangannya dengan wajah sumringah mengetahui bahwa gadis itu hanyalah teman Randy, bukan pacar, yang berarti dia memiliki kesempatan untuk mendekatinya.

“Olivia.” Olivia menerima jabatan tangan Romi tanpa senyum.

Ivan yang sedari tadi duduk, sangat terkejut bahkan hampir saja memuncratkan wine di dalam mulutnya jika tidak segera ditelannya. Dia tidak terkejut bertemu kembali dengan Olivia, namun yang membuatnya sangat terkejut jika harus bertemu gadis itu di tempat seperti ini, dan bersama Randy!

“Hei Bro, uda lama ga ketemu. Tambah keren aja.” Randy menepuk bahu Ivan dan kemudian merangkulnya.

Ivan dari tadi memperhatikan ketika Olivia berkenalan dengan Romi, matanya jeli melihat bagaimana Olivia merasa sangat risih ketika Romi mencium punggung tangannya, tapi gadis itu tetap terlihat tenang dan tegas tanpa senyuman.

Olivia mencoba menutupi rasa groginya ketika menatap mata Ivan, dia tidak tau harus bersikap bagaimana di hadapan pria yang paling menyebalkan ini.

Randy yang menyadari bahwa tatapan mata Ivan terus terarah pada Olivia langsung memperkenalkan gadis di sebelahnya, "Oh iya, kenalin ini Olivia."

“Ivan..” Ivan mengulurkan tangannya dengan senyuman paling manis yang membuat lutut Olivia terasa seperti jelly.

“Olivia.” Olivia cukup lega bahwa Ivan pura-pura tidak mengenalnya. Setidaknya dia tidak harus berdebat konyol dengan kakak sahabatnya.

Cukup lama Ivan menjabat tangan Olivia, menatap dalam gadis bermata indah tersebut. Mencoba menemukan jawaban atas rasa penasarannya, kenapa bisa gadis seperti Olivia berteman dengan Randy? Dan dua kali bertemu, Olivia selalu mengenakan pakaian casual bahkan terkesan tomboy, tapi malam ini penampilannya sangat berbeda. Dia sangat seksi, walaupun dia menutupinya dengan jaket jeans yang tetap melekat indah di tubuhnya.

“Olivia? Kamu di sini?” Alyssa kembali muncul dengan gelas di tangannya, cukup takjub dengan gadis yang berada di hadapannya.

Olivia hanya tersenyum, dan segera melepas jabatan tangannya pada Ivan ketika Alyssa tanpa sungkan merangkul mesra pria di hadapannya. Ternyata Alyssa pacar Ivan?

“Ya, diajak Randy.” Ucap Olivia gugup dan sekilas menoleh pada Randy.

“Baguslah, aku jadi punya teman. Ayo aku temenin ambil minum yuk.” Alyssa menarik tangan Olivia menuju mini bar yang terletak di pojok club. Dan Olivia langsung menerima ajakan Alyssa daripada pinggangnya terus dirangkul oleh Randy.

“Ran, kamu ga salah bawa cewek ke sini?” Romi langsung menyenggol lengan Randy ketika kedua gadis tersebut menjauh.

Ivan mendengar dengan seksama, dia penasaran dengan hubungan keduanya.

Randy menggidikkan bahunya, “Dia cukup cantik dan seksi kan? Kalian tau, dia tidak mau keluar rumah jika tidak memakai jaket itu. Dasar cewek kampungan. Dan liat topinya? Dia pikir mau ke pantai siang bolong?” Randy tertawa mengejek, dan entah mengapa candaan tersebut membuat Ivan mengepalkan tangannya. Walaupun Olivia menyebalkan, tapi dia tidak pantas untuk dibully seperti itu.

“Sepertinya dia cewe baik-baik.” Ucap Romi.

“Yoi, setauku masih perawan.”

“Wow, beruntung banget, dapat barang bagus loe, bro.” Romi menepuk pundak Randy.

“Mau? Abis gue coba ya.” Randy kemudian menyodorkan bungkusan kecil pada Romi, “Tolong bantuin gue.”

Mata Ivan terbelalak. Dia memang pria brengsek, tapi dia tidak pernah setuju dengan cara kotor menjebak seorang gadis untuk ditiduri. Dia hanya meniduri gadis-gadis yang dengan sukarela menyerahkan diri padanya.

Ivan berdeham, “Sorry, aku ke toilet dulu.”

Ivan meninggalkan kedua temannya yang masih serius membahas rencana kotor untuk menjebak Olivia, melangkah pasti mencari gadis bertopi itu.

“Alyssa…” ucap Ivan lembut.

“Ya, Sayang?” Alyssa kegirangan didekati oleh Ivan, suaranya mendesah, dan membuat Olivia cukup mual mendengarnya.

Ivan berbisik di telinga Alyssa, “Bisa tunggu aku di toilet?”

Wajah Alyssa merona memerah, “Sekarang?”

Ivan mengangguk dan Alyssa hampir saja melonjak kegirangan, dan tanpa berpikir, dia langsung berjalan menuju toilet.

Ivan segera memegang pergelangan tangan Olivia dan menariknya berdiri, dan sedikit menyeretnya keluar dari club tersebut dan menuju mobil Ivan.

“Kita pulang sekarang!”

“Apa-apaan sih?? Lepasin!!” Olivia berusaha melepaskan cengkraman tangan Ivan namun tenanganya sama sekali tidak sebanding dengan tenaga Ivan. “Lepasin ga? Atau….”

“Atau apa??” Langkah Ivan terhenti, dan menatap tajam mata Olivia.

Olivia menjadi gugup, “A..aku akan berteriak.”

Ivan melepaskan tangan Olivia dan menatapnya tajam dengan suara tegas, “Kamu pilih pulang sekarang atau pilih diperkosa oleh Randy?”

Mata Olivia terbelalak.

PLAKKK!!!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Masih Menjadi Milikku   Bab 75 - Kita hanya teman

    “Liv, mau ke mana? Ga ikut makan?” Ivan terkejut melihat Olivia yang berjalan ke arah mobilnya, dan pria itu segera mengejarnya.“Engga, aku mau jemput Iel.”Ivan melihat jam tangannya, baru menunjukkan pukul lima sore. “Kamu tadi bilang Iel nonton bioskop sama Calvin.”“Iya, harusnya bentar lagi selesai. Aku juga ada janji makan malam dengan Calvin.”Ivan merasa kecewa namun dia mengangguk.“Kaki kamu uda ga papa? Bisa nyetir ga? Mau aku anter pulang?”Olivia tersenyum, “Uda ga papa koq, untung ga terkilir. Thanks ya.”Ivan tersenyum, “Yeah, sama-sama.”“Kak Ivan, ayo..” suara Nanda terdengar, mereka berdua menoleh pada sumber suara tersebut. Terlihat gadis cantik itu melambaikan tangan sambil tersenyum.“Uda ada yang nungguin tuh.” Ucap Olivia terdengar menggoda Ivan walau entah mengapa perasaannya sedikit sakit ketika mengatakan hal itu.“Ya uda, aku duluan ya. Ati-ati di jalan, Liv. Bye.”Olivia mengangguk dan melihat pria itu berlari sambil melambaikan tangan menuju Nanda. Olivi

  • Masih Menjadi Milikku   Bab 74 - Memilih mundur

    “Ivan? Kamu di sini juga?” Olivia tiba-tiba merasa gugup. Pria yang sudah seminggu tidak pernah muncul batang hidungnya, ternyata kini berada di tempat yang sama dengannya.Ivan tersenyum, “Yeah, sekarang aku selalu di sini.”Olivia mengangguk. Jadi ini alasan Ivan tidak pernah muncul lagi?“Iel ga ikut?”Olivia menggeleng, “Iel lagi jalan sama Calvin dan Ana. Katanya mau nonton bioskop dengan keponakan Ana.”Ivan mengangguk, “Kalau gitu kamu ada waktu dong buat tanding basket?”Olivia tersenyum sambil menggeleng.“Kenapa? Takut kalah?” Tantang Ivan mengangkat sebelah alisnya.“Aku ke sini pengen main sama anak-anak, bukan mau mencari siapa yang lebih hebat.”Ivan tertawa, “Pertandingan itu tidak selalu mencari siapa yang terhebat. Anggap saja ini pertandingan persahabatan. Yang kalah traktir anak-anak makan.”Olivia memandang Ivan kemudian tersenyum, “Oke kalo gitu, aku yang duluan pilih team.”Ivan mengulurkan tangannya sembari sedikit membungkuk, “Silahkan, tuan putri.”Pertandinga

  • Masih Menjadi Milikku   Bab 73 - Ga kangen aku?

    “Permisi, Bu. Pesanan makanannya sudah datang.” Lanny mengetuk pintu ruangan Olivia.Olivia meletakkan pulpennya dan mengkerutkan dahinya. “Makanan? Saya ga ada pesan makanan.”“Tapi nama dan alamatnya benar, Bu.” Ucap Lanny.“Ya uda, tolong taruh di meja sana aja, nanti saya lihat. Terima kasih, Lan.”Lanny mengangguk dan kemudian keluar ruangan setelah menaruh makanan tersebut. Olivia melihat jam di tangannya, sudah hampir pukul dua belas, entah mengapa jantungnya jadi berdebar kencang. Mungkinkah Ivan datang lagi? Ya Tuhan, kenapa aku jadi memikirkan dia?Olivia melangkah menuju box makanan, membuka plastiknya, dan ternyata ada sebuah kertas catatan di sana.Sibuk boleh, tapi sakit jangan.Jangan telat makan. Happy lunch.-Client paling nyebelin-Olivia membaca catatan tersebut, dia terkejut, namun bibirnya tidak mampu menahan senyuman. Olivia membuka kotak tersebut, Nasi dan soto ayam. Senyuman kembali terlukis di wajah cantik wanita itu. Namun di dalam hatinya ada tanda tanya, me

  • Masih Menjadi Milikku   Bab 72 - Busur panah

    Ivan membuka pintu rumah dan terdengar suara gelak tawa Steffany dan Calvin. Ivan melangkah lunglai, merasa iri melihat kedua saudaranya dapat tertawa lebar penuh kebahagiaan, sedangkan dirinya merasa hancur ditolak berkali-kali oleh wanita yang dicintainya.“Jadi gimana uda first kiss belum?” suara Steffany terdengar.“Menurutmu?” Calvin terkekeh.Steffany tertawa, “Manis mana ma bibir Olivia?”Ivan yang mendengar nama Olivia disebut langsung mendekat, “Kalian omongin apa?”Steffany dan Calvin terkejut, “Ini loh pasangan baru, ceritain pengalaman first kissnya.” Ucap Steffany terkekeh.“Aku denger ada Olivia disebut.”“Eheeemm… ada yang langsung cemburu dengar nama Olivia disebut.”“Kak, uda makan belum? Mama ada masak semur tuh.”“Aku uda makan di rumah Oliv.” Ivan duduk di samping Steffany.Steffany dan Calvin terkejut, saling menatap namun kemudian tertawa, “Ciieeeh cieeehh… ada yang CLBK nih ceritanya.” Goda Steffany.“Emang mereka pernah jadian?” Calvin bertanya serius pada Stef

  • Masih Menjadi Milikku   Bab 71 - I like him so much

    Olivia melangkah duluan membuka pintu dan diikuti oleh Ivan.“Ivan..” Olivia tau bahwa dia harus mengatakan yang sejujurnya sebelum Ivan berharap terlalu jauh padanya.“Ya?” Ivan memasang senyum terindahnya.“Terima kasih uda memberikan Iel mainan, dan mau main dengannya.” ucap Olivia dengan tulus.Ivan tersenyum, “No problem, aku suka main dengan Iel.”Olivia terdiam kemudian melanjutkan, “Aku harap kamu jangan terlalu memanjakan dia, dan.. jangan terlalu sering bertemu dia. A..aku tidak ingin dia bergantung pada kamu.”Ivan terkejut, ingin mengucapkan sesuatu tapi lidahnya kelu. “Aku tidak ingin kamu menaruh harapan padaku.” Lanjut Olivia jujur.“Liv.. aku mencintai kamu. Dan itu bohong jika kamu tidak merasakan hal yang sama. Kita tidak bisa terus-terusan menyangkalnya Liv.” Ivan spontan memegang pundak Olivia.Olivia memejamkan matanya mencari kekuatan, “Sudah terlambat. Keadaannya kini sudah berbeda, Van.”“Apa bedanya?”“Aku sudah pernah menikah, aku janda, punya anak satu.”“I

  • Masih Menjadi Milikku   Bab 70 - Perasaan campur aduk

    “Mama.. hari ini Om Ivan datang ke rumah kan?” ucap Dariel menatap sang mama yang sedang menyetir.Olivia memandang sekilas ke arah Dariel, “Iel, Om Ivan sibuk.”“Tapi kemarin mama bilang, Om Ivan mau datang.” Protes Dariel kecewa.“Iel, Om Ivan kan juga ada kerjaan.”“Tapi mama kan uda janji. Iel mau main sama Om Ivan.” Dariel mulai merengek.“Dariel….” Ucap Olivia memberi penekanan.“Kan mama yang bilang kalau uda janji harus ditepati.”Olivia menarik nafas panjang, “Iya, tapi Om Ivan ga boleh sering-sering ke rumah, Nak.”“Kenapa, Ma? Kan Om Ivan teman mama. Papa Calvin juga sering ke rumah.”Seketika Olivia memijit keningnya, kepalanya tiba-tiba terasa cekot-cekot, ini anak koq pinter banget ngelesnya, seperti.. Ivan. Ya Tuhan, kenapa harus Ivan lagi.Olivia berdeham, “Om Calvin dan Om Ivan berbeda, sayang.” Olivia lebih nyaman menyebut Calvin sebagai Om daripada papa.“Bedanya apa, Ma? Kata Om Ivan, dia dan mama uda temanan lama, Cuma Om Ivan harus pergi jauh untuk belajar biar j

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status