LOGIN“Sa, stop Sa..” Ivan merasa risih dengan kelakuan Alyssa yang terus menerus berusaha mencumbu dirinya, menempelkan dadanya di tubuh Ivan, mencoba menggoda pria tampan tersebut.
“Aku kangen banget sama kamu. Kamu koq ga bilang sih kalau kamu uda balik ke Indonesia?” ucap Alyssa dengan suara yang dibuat-buat seperti desahan.
“Sa.. please.. Aku lagi pingin sendiri.” suara tegas Ivan sambil mendorong lembut tubuh Alyssa.
Alyssa mengerutkan bibirnya lalu menghentakkan kakinya layaknya anak kecil yang tidak dikabulkan permintaannya, lalu beranjak pergi. Ivan menggelengkan kepalanya, kenapa bisa Alyssa sangat kekanakan sekali, padahal usianya sepantaran dengan Steffany.
Romi, teman jalan Ivan, tertawa melihat kelakuan temannya, “Apakah dia kurang nikmat?” ucapnya ringan sambil meneguk alkohol yang dipegangnya.
Ivan tersenyum tipis dan menggidikkan bahunya. “Aku belum pernah coba.”
“Serius??” Romi terbelalak tidak percaya.
“Dia teman adikku.”
“Lalu? Di mana letak kesalahannya?” tanya Romi bingung.
Ivan menggoyang-goyangkan wine di gelas yang dipegangnya, menyium aromanya, dan menyesapnya perlahan. “Aku tidak mau merusak anak di bawah umur.”
Romi terbahak, “Kamu memang cowo brengsek.”
Kemunculan Randy menghentikan tawa mereka, dan Romi cukup terkejut karena Randy membawa gadis yang baru dilihatnya.
“Wow.. Ran, pacar baru?” Mata Romi langsung berbinar melihat kemunculan seorang gadis cantik yang terlihat polos dengan dress cukup pendek, namun memakai jaket jeans dan juga topi.
“Teman.” Ucap gadis itu cepat.
“Romi..” Romi berdiri dan segera mengulurkan tangannya dengan wajah sumringah mengetahui bahwa gadis itu hanyalah teman Randy, bukan pacar, yang berarti dia memiliki kesempatan untuk mendekatinya.
“Olivia.” Olivia menerima jabatan tangan Romi tanpa senyum.
Ivan yang sedari tadi duduk, sangat terkejut bahkan hampir saja memuncratkan wine di dalam mulutnya jika tidak segera ditelannya. Dia tidak terkejut bertemu kembali dengan Olivia, namun yang membuatnya sangat terkejut jika harus bertemu gadis itu di tempat seperti ini, dan bersama Randy!
“Hei Bro, uda lama ga ketemu. Tambah keren aja.” Randy menepuk bahu Ivan dan kemudian merangkulnya.
Ivan dari tadi memperhatikan ketika Olivia berkenalan dengan Romi, matanya jeli melihat bagaimana Olivia merasa sangat risih ketika Romi mencium punggung tangannya, tapi gadis itu tetap terlihat tenang dan tegas tanpa senyuman.
Olivia mencoba menutupi rasa groginya ketika menatap mata Ivan, dia tidak tau harus bersikap bagaimana di hadapan pria yang paling menyebalkan ini.
Randy yang menyadari bahwa tatapan mata Ivan terus terarah pada Olivia langsung memperkenalkan gadis di sebelahnya, "Oh iya, kenalin ini Olivia."
“Ivan..” Ivan mengulurkan tangannya dengan senyuman paling manis yang membuat lutut Olivia terasa seperti jelly.
“Olivia.” Olivia cukup lega bahwa Ivan pura-pura tidak mengenalnya. Setidaknya dia tidak harus berdebat konyol dengan kakak sahabatnya.
Cukup lama Ivan menjabat tangan Olivia, menatap dalam gadis bermata indah tersebut. Mencoba menemukan jawaban atas rasa penasarannya, kenapa bisa gadis seperti Olivia berteman dengan Randy? Dan dua kali bertemu, Olivia selalu mengenakan pakaian casual bahkan terkesan tomboy, tapi malam ini penampilannya sangat berbeda. Dia sangat seksi, walaupun dia menutupinya dengan jaket jeans yang tetap melekat indah di tubuhnya.
“Olivia? Kamu di sini?” Alyssa kembali muncul dengan gelas di tangannya, cukup takjub dengan gadis yang berada di hadapannya.
Olivia hanya tersenyum, dan segera melepas jabatan tangannya pada Ivan ketika Alyssa tanpa sungkan merangkul mesra pria di hadapannya. Ternyata Alyssa pacar Ivan?
“Ya, diajak Randy.” Ucap Olivia gugup dan sekilas menoleh pada Randy.
“Baguslah, aku jadi punya teman. Ayo aku temenin ambil minum yuk.” Alyssa menarik tangan Olivia menuju mini bar yang terletak di pojok club. Dan Olivia langsung menerima ajakan Alyssa daripada pinggangnya terus dirangkul oleh Randy.
“Ran, kamu ga salah bawa cewek ke sini?” Romi langsung menyenggol lengan Randy ketika kedua gadis tersebut menjauh.
Ivan mendengar dengan seksama, dia penasaran dengan hubungan keduanya.
Randy menggidikkan bahunya, “Dia cukup cantik dan seksi kan? Kalian tau, dia tidak mau keluar rumah jika tidak memakai jaket itu. Dasar cewek kampungan. Dan liat topinya? Dia pikir mau ke pantai siang bolong?” Randy tertawa mengejek, dan entah mengapa candaan tersebut membuat Ivan mengepalkan tangannya. Walaupun Olivia menyebalkan, tapi dia tidak pantas untuk dibully seperti itu.
“Sepertinya dia cewe baik-baik.” Ucap Romi.
“Yoi, setauku masih perawan.”
“Wow, beruntung banget, dapat barang bagus loe, bro.” Romi menepuk pundak Randy.
“Mau? Abis gue coba ya.” Randy kemudian menyodorkan bungkusan kecil pada Romi, “Tolong bantuin gue.”
Mata Ivan terbelalak. Dia memang pria brengsek, tapi dia tidak pernah setuju dengan cara kotor menjebak seorang gadis untuk ditiduri. Dia hanya meniduri gadis-gadis yang dengan sukarela menyerahkan diri padanya.
Ivan berdeham, “Sorry, aku ke toilet dulu.”
Ivan meninggalkan kedua temannya yang masih serius membahas rencana kotor untuk menjebak Olivia, melangkah pasti mencari gadis bertopi itu.
“Alyssa…” ucap Ivan lembut.
“Ya, Sayang?” Alyssa kegirangan didekati oleh Ivan, suaranya mendesah, dan membuat Olivia cukup mual mendengarnya.
Ivan berbisik di telinga Alyssa, “Bisa tunggu aku di toilet?”
Wajah Alyssa merona memerah, “Sekarang?”
Ivan mengangguk dan Alyssa hampir saja melonjak kegirangan, dan tanpa berpikir, dia langsung berjalan menuju toilet.
Ivan segera memegang pergelangan tangan Olivia dan menariknya berdiri, dan sedikit menyeretnya keluar dari club tersebut dan menuju mobil Ivan.
“Kita pulang sekarang!”
“Apa-apaan sih?? Lepasin!!” Olivia berusaha melepaskan cengkraman tangan Ivan namun tenanganya sama sekali tidak sebanding dengan tenaga Ivan. “Lepasin ga? Atau….”
“Atau apa??” Langkah Ivan terhenti, dan menatap tajam mata Olivia.
Olivia menjadi gugup, “A..aku akan berteriak.”
Ivan melepaskan tangan Olivia dan menatapnya tajam dengan suara tegas, “Kamu pilih pulang sekarang atau pilih diperkosa oleh Randy?”
Mata Olivia terbelalak.
PLAKKK!!!
Olivia membekap mulutnya, dia hampir tidak percaya dengan apa yang diceritakan oleh Ivan. Dia menjatuhkan bokongnya di atas kasur. “Ka.. kamu..?”Ivan mengangguk, “Bisa dibilang, aku memperkosamu.. aku mengambil keperawananmu. Maafkan aku Olivia, aku..aku hanya tidak tahan melihatmu tersiksa..”Olivia masih menggelengkan kepalanya, mencoba menggali kenangan masa lalunya. Ya dia ingat bahwa dia merasakan kesakitan di inti tubuhnya namun kemudian kenikmatan yang bertubi-tubi. Dia merasa melakukannya dengan Ivan, dan dia sangat menikmati segala sentuhan lembut dari pria yang dicintainya itu. Dia tidak menyesal sama sekali. Tapi hari di saat dia terbangun keesokan paginya, yang sedang tertidur di sampingnya adalah Randy. Jadi Olivia berpikir bahwa dia hanya sedang bermimpi atau terlalu mabuk sehingga membayangkan Randy sebagai Ivan.“Ya Tuhan!!” hanya itu kata yang dapat diucapkan oleh Olivia.Ivan meraih tangan Olivia, “Maafkan aku Olivia.”“Jadi kamu melakukannya karena kasihan melihatk
Flashback empat tahun lalu…Resepsi pernikahan berlangsung meriah, para tamu undangan sangat terpukau dengan kecantikan pengantin wanita. Banyak yang mengatakan Randy begitu beruntung bisa memiliki Olivia. Namun kemeriahan pesta berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan oleh Olivia.Jika benar mengenal Olivia, maka akan jelas terlihat ratapan sedih di balik senyum manisnya. Apalagi sejak kehadiran Ivan membuat konsentrasi Olivia benar-benar berantakan, bahkan ketika harus mengucapkan janji pernikahan, barisan kalimat yang berusaha dihafalnya dalam seminggu terakhir benar-benar hilang tanpa jejak. Bahkan ketika pendeta bertanya bersediakah dia menerima Randy menjadi suaminya, Olivia bahkan tidak menyadari pertanyaan itu tertuju padanya. Karena yang ada dalam benaknya hanyalah Ivander Elio.“Liv, kamu jangan minum terlalu banyak.” Ucap Steffany mengingatkan sahabatnya pada saat after party, acara seusai resepsi, dimana yang tersisa hanya pengantin dan juga teman-teman dekat, menikma
Ivan memejamkan matanya, mencoba menenangkan dirinya. “Kamu pegang saja ini, kapan kamu siap, kamu bisa memakainya. Aku akan menunggumu.”Olivia menerima kotak tersebut, “Ivan.. boleh aku meminta sesuatu?”“Katakan.”“Aku ingin mencobanya denganmu, tapi..” suara Olivia bergetar, “Jika aku tidak bisa memuaskanmu.. tolong jujur padaku dan tinggalkan aku. Aku tidak ingin terjebak di situasi yang sama.”Ivan terkejut dengan perkataan Olivia, dia bukanlah pria brengsek yang memaksakan gairahnya pada seorang wanita. “Liv..” protes Ivan.“Please, Van.” Air mata Olivia mengalir, “Aku tidak ingin kamu membuang waktu menungguku.”“Kamu yakin?”Olivia mengangguk dengan tegas, ya dia telah memutuskan, mungkin ini satu-satunya cara yang harus dipilihnya agar Ivan menyerah. Mungkin juga ini menjadi kenangan terindah yang akan selalu dia kenang.Ivan menatap dalam mata Olivia, Ivan tidak ingin melakukannya dalam kondisi seperti ini, tapi toh Ivan akhirnya setuju, karena hanya dengan cara ini bisa me
Dariel yang memasuki musim liburan diculik oleh Steffany ke luar kota bersama orangtua Ivan, membuat Olivia leluasa mengurung diri di kamar. Sudah dua minggu berlalu dan Ivan tidak pernah muncul di hadapannya, hanya pesan singkat yang memberi kabar bahwa dia sedang sibuk mengerjakan suatu project.Olivia tidak bertanya banyak, karena baginya mungkin Ivan hanya mencari alasan untuk menghindarinya. Ivan bahkan tidak meminta penjelasan apapun padanya. Dan hati Olivia mulai berhenti berharap pada kebahagiaan impiannya.Knock knockSuara ketukan mengagetkan Olivia dari lamunannya. Siapa yang datang? Olivia menghapus air matanya dan berjalan ke depan rumah.“Ivan?”Ivan tersenyum menatap Olivia yang terkejut dengan mata sembab. Dua minggu mereka tidak bertemu, Olivia nampak semakin kurus dengan pipi tirusnya. Ivan sengaja tidak menemui Olivia, karena dia tau Olivia perlu menenangkan diri, pun juga dengan dirinya sendiri.“Sudah makan?” tanya Ivan dengan senyum manisnya dan Olivia menggeleng
“Ana… tunggu.” Ana menghempaskan tangan Calvin yang mengejar dan menarik tangannya ketika berada di parkiran cafe.“Apa lagi?” tatap Ana dengan mata berkaca-kaca pada sosok pria tampan di hadapannya.“Aku bisa menjelaskan semua.” Ucap Calvin mengenggam tangan Ana dengan wajah penuh harap.Ana menghapus air matanya, “Kalau kamu memang dekat dengan Olivia, kenapa kamu harus mendekati aku??”“Aku dan Olivia sudah bersahabat sejak lama.” “Selingkuhan bertopeng sahabat?” ucap Ana sarkas.“Aku tidak berselingkuh. Kamu jangan percaya kata-kata Randy! Dia itu hanya mencoba menghancurkan kita semua. Dia sakit hati karena Olivia menceraikannya.”Ana tertawa sinis, “Randy mungkin berbohong, tapi Mama Ivan tidak mungkin berbohong kan?”“Maksud kamu?” Calvin mengangkat sebelah alisnya, tidak mengerti dengan ucapan Ana.“Kamu lupa pas ulang tahun Papa Ivan, Mama Ivan bilang dulu mereka pikir kalau Olivia akan menikah dengan kamu. Maksudnya apa? Apa yang kalian sembunyikan? Sebenarnya kalian ada hu
Olivia sedang menikmati makan malamnya bersama Ivan, Steffany, dan juga Calvin bersama pasangan mereka masing-masing di sebuah cafe. Tiga pasangan ini sering keluar bareng untuk sekedar makan atau pun nonton bioskop bersama.“Wah.. lagi ngumpul, koq ga ajak-ajak sih?” sebuah suara mengagetkan mereka saat sedang menikmati makan malam bersama.“Randy?” Olivia terkejut melihat kemunculan mantan suaminya yang menghilang bagai ditelan bumi.“Kenapa terkejut? Dariel di mana?”“Iel lagi di rumah Ivan.” Jawab Olivia singkat.Randy tersenyum sinis, “I see. Kalian seperti sedang triple dating.”Ivan tersenyum, “Perkiraanmu benar.” Ivan merangkul bahu Olivia seakan mengklaim bahwa wanita itu kini adalah miliknya.Randy tersenyum, tidak terpengaruh dengan tindakan provokasi Ivan. Pria itu kemudian menatap Ana dan Andrew dan kemudian memperkenalkan diri."Pacar Steffany?" tanyanya ketika menjabat tangan Andrew. Belum sempat Andrew mengiyakan, Ivan melanjutkan, "Sudah lebih dari sebulan belum? Bias
“Hei, Liv.. Ganggu ga?” Sosok gadis cantik muncul dari balik pintu ruangan Olivia.Olivia membereskan semua dokumen yang ada di hadapannya, merapikannya, kemudian menutup laptopnya sambil tersenyum.“Hei Stef. Ga dong. Aku malah seneng banget kamu datang. Dari tadi pusing lihat angka-angka melulu.”
“Kak Ivan tolong anterin Oliv ya. Kak Ivan masih ingat kan rumahnya?” Steffany melepaskan sepatu Calvin setelah dibantu oleh Ivan merebahkan tubuh sepupunya di atas kasur setelah mabuk berat.“Kenapa harus aku?” sebelah alis Ivan terangkat.“Ya tinggal kamu cowo satu-satunya. Mama ga mungkin mengij
Ivan berdiri di depan mobilnya, menanti Steffany di depan kampus. Sorot mata para mahasiswi kampus berfokus pada pria tampan yang sibuk berbicara dengan orang di seberang telponnya.Steffany yang berjalan bersama Olivia cukup terkejut melihat kehadiran Ivan di kampusnya. Mereka kemudian berjalan me
"Stef, aku uda sampai.” Olivia mematikan mesin mobilnya ketika selesai memarkir mobilnya di halaman rumah Steffany yang sangat megah.“Oliv, aku masih di mini market nih. Kamu langsung ke kamarku aja ya. Hidupin deh langsung laptopku, tau passwordnya kan?” ucap Steffany dari seberang telpon.“Oke.







