Home / Romansa / Masih Menjadi Milikku / Bab 69 - Rasa yang telah mati

Share

Bab 69 - Rasa yang telah mati

Author: Delf
last update Last Updated: 2026-01-07 21:38:12

Olivia tercengang, “Ivan…”

“Liv.. eh Kak Ivan?” Steffany tiba-tiba muncul. “Apakah aku menganggu kalian?” Steffany memandang kedua orang tersebut bergantian.

“En..engga.. Ivan baru aja mau balik koq.” Ucap Olivia.

“Sampe nanti malam, Liv. Aku balik dulu, Stef.” Ucap Ivan menepuk pundak adiknya lalu pergi meninggalkan Olivia yang kehilangan kata-kata.

“Kalian janjian ke mana malam ini?” tanya Steffany heran.

“Ga ada, Ivan asal bicara.”

“Kak Ivan ngapain di sini?” ucap Steffany menarik kursi yang ada di hadapannya.

“Nanya soal laporannya.” Ucap Olivia berbohong.

“Oh.. makan siang yuk, lapar nih.”

“Aku baru aja selesai makan. Oh iya ini ada 1 kotak lagi, ada tahu isi juga.”

“Wow.. kebetulan banget makan siang gratis.” Steffany tanpa sungkan langsung membuka kotak makan tersebut, “Enak nih, Liv. Beli di mana?”

“Ivan yang bawain.” Ucap Olivia ringan dan seketika Steffany hampir tersedak, namun dia cepat-cepat meminum airnya. Gerak cepat juga kakaknya.

“Tumben baik banget. Hati-hati, biasa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Masih Menjadi Milikku   Bab 75 - Kita hanya teman

    “Liv, mau ke mana? Ga ikut makan?” Ivan terkejut melihat Olivia yang berjalan ke arah mobilnya, dan pria itu segera mengejarnya.“Engga, aku mau jemput Iel.”Ivan melihat jam tangannya, baru menunjukkan pukul lima sore. “Kamu tadi bilang Iel nonton bioskop sama Calvin.”“Iya, harusnya bentar lagi selesai. Aku juga ada janji makan malam dengan Calvin.”Ivan merasa kecewa namun dia mengangguk.“Kaki kamu uda ga papa? Bisa nyetir ga? Mau aku anter pulang?”Olivia tersenyum, “Uda ga papa koq, untung ga terkilir. Thanks ya.”Ivan tersenyum, “Yeah, sama-sama.”“Kak Ivan, ayo..” suara Nanda terdengar, mereka berdua menoleh pada sumber suara tersebut. Terlihat gadis cantik itu melambaikan tangan sambil tersenyum.“Uda ada yang nungguin tuh.” Ucap Olivia terdengar menggoda Ivan walau entah mengapa perasaannya sedikit sakit ketika mengatakan hal itu.“Ya uda, aku duluan ya. Ati-ati di jalan, Liv. Bye.”Olivia mengangguk dan melihat pria itu berlari sambil melambaikan tangan menuju Nanda. Olivi

  • Masih Menjadi Milikku   Bab 74 - Memilih mundur

    “Ivan? Kamu di sini juga?” Olivia tiba-tiba merasa gugup. Pria yang sudah seminggu tidak pernah muncul batang hidungnya, ternyata kini berada di tempat yang sama dengannya.Ivan tersenyum, “Yeah, sekarang aku selalu di sini.”Olivia mengangguk. Jadi ini alasan Ivan tidak pernah muncul lagi?“Iel ga ikut?”Olivia menggeleng, “Iel lagi jalan sama Calvin dan Ana. Katanya mau nonton bioskop dengan keponakan Ana.”Ivan mengangguk, “Kalau gitu kamu ada waktu dong buat tanding basket?”Olivia tersenyum sambil menggeleng.“Kenapa? Takut kalah?” Tantang Ivan mengangkat sebelah alisnya.“Aku ke sini pengen main sama anak-anak, bukan mau mencari siapa yang lebih hebat.”Ivan tertawa, “Pertandingan itu tidak selalu mencari siapa yang terhebat. Anggap saja ini pertandingan persahabatan. Yang kalah traktir anak-anak makan.”Olivia memandang Ivan kemudian tersenyum, “Oke kalo gitu, aku yang duluan pilih team.”Ivan mengulurkan tangannya sembari sedikit membungkuk, “Silahkan, tuan putri.”Pertandinga

  • Masih Menjadi Milikku   Bab 73 - Ga kangen aku?

    “Permisi, Bu. Pesanan makanannya sudah datang.” Lanny mengetuk pintu ruangan Olivia.Olivia meletakkan pulpennya dan mengkerutkan dahinya. “Makanan? Saya ga ada pesan makanan.”“Tapi nama dan alamatnya benar, Bu.” Ucap Lanny.“Ya uda, tolong taruh di meja sana aja, nanti saya lihat. Terima kasih, Lan.”Lanny mengangguk dan kemudian keluar ruangan setelah menaruh makanan tersebut. Olivia melihat jam di tangannya, sudah hampir pukul dua belas, entah mengapa jantungnya jadi berdebar kencang. Mungkinkah Ivan datang lagi? Ya Tuhan, kenapa aku jadi memikirkan dia?Olivia melangkah menuju box makanan, membuka plastiknya, dan ternyata ada sebuah kertas catatan di sana.Sibuk boleh, tapi sakit jangan.Jangan telat makan. Happy lunch.-Client paling nyebelin-Olivia membaca catatan tersebut, dia terkejut, namun bibirnya tidak mampu menahan senyuman. Olivia membuka kotak tersebut, Nasi dan soto ayam. Senyuman kembali terlukis di wajah cantik wanita itu. Namun di dalam hatinya ada tanda tanya, me

  • Masih Menjadi Milikku   Bab 72 - Busur panah

    Ivan membuka pintu rumah dan terdengar suara gelak tawa Steffany dan Calvin. Ivan melangkah lunglai, merasa iri melihat kedua saudaranya dapat tertawa lebar penuh kebahagiaan, sedangkan dirinya merasa hancur ditolak berkali-kali oleh wanita yang dicintainya.“Jadi gimana uda first kiss belum?” suara Steffany terdengar.“Menurutmu?” Calvin terkekeh.Steffany tertawa, “Manis mana ma bibir Olivia?”Ivan yang mendengar nama Olivia disebut langsung mendekat, “Kalian omongin apa?”Steffany dan Calvin terkejut, “Ini loh pasangan baru, ceritain pengalaman first kissnya.” Ucap Steffany terkekeh.“Aku denger ada Olivia disebut.”“Eheeemm… ada yang langsung cemburu dengar nama Olivia disebut.”“Kak, uda makan belum? Mama ada masak semur tuh.”“Aku uda makan di rumah Oliv.” Ivan duduk di samping Steffany.Steffany dan Calvin terkejut, saling menatap namun kemudian tertawa, “Ciieeeh cieeehh… ada yang CLBK nih ceritanya.” Goda Steffany.“Emang mereka pernah jadian?” Calvin bertanya serius pada Stef

  • Masih Menjadi Milikku   Bab 71 - I like him so much

    Olivia melangkah duluan membuka pintu dan diikuti oleh Ivan.“Ivan..” Olivia tau bahwa dia harus mengatakan yang sejujurnya sebelum Ivan berharap terlalu jauh padanya.“Ya?” Ivan memasang senyum terindahnya.“Terima kasih uda memberikan Iel mainan, dan mau main dengannya.” ucap Olivia dengan tulus.Ivan tersenyum, “No problem, aku suka main dengan Iel.”Olivia terdiam kemudian melanjutkan, “Aku harap kamu jangan terlalu memanjakan dia, dan.. jangan terlalu sering bertemu dia. A..aku tidak ingin dia bergantung pada kamu.”Ivan terkejut, ingin mengucapkan sesuatu tapi lidahnya kelu. “Aku tidak ingin kamu menaruh harapan padaku.” Lanjut Olivia jujur.“Liv.. aku mencintai kamu. Dan itu bohong jika kamu tidak merasakan hal yang sama. Kita tidak bisa terus-terusan menyangkalnya Liv.” Ivan spontan memegang pundak Olivia.Olivia memejamkan matanya mencari kekuatan, “Sudah terlambat. Keadaannya kini sudah berbeda, Van.”“Apa bedanya?”“Aku sudah pernah menikah, aku janda, punya anak satu.”“I

  • Masih Menjadi Milikku   Bab 70 - Perasaan campur aduk

    “Mama.. hari ini Om Ivan datang ke rumah kan?” ucap Dariel menatap sang mama yang sedang menyetir.Olivia memandang sekilas ke arah Dariel, “Iel, Om Ivan sibuk.”“Tapi kemarin mama bilang, Om Ivan mau datang.” Protes Dariel kecewa.“Iel, Om Ivan kan juga ada kerjaan.”“Tapi mama kan uda janji. Iel mau main sama Om Ivan.” Dariel mulai merengek.“Dariel….” Ucap Olivia memberi penekanan.“Kan mama yang bilang kalau uda janji harus ditepati.”Olivia menarik nafas panjang, “Iya, tapi Om Ivan ga boleh sering-sering ke rumah, Nak.”“Kenapa, Ma? Kan Om Ivan teman mama. Papa Calvin juga sering ke rumah.”Seketika Olivia memijit keningnya, kepalanya tiba-tiba terasa cekot-cekot, ini anak koq pinter banget ngelesnya, seperti.. Ivan. Ya Tuhan, kenapa harus Ivan lagi.Olivia berdeham, “Om Calvin dan Om Ivan berbeda, sayang.” Olivia lebih nyaman menyebut Calvin sebagai Om daripada papa.“Bedanya apa, Ma? Kata Om Ivan, dia dan mama uda temanan lama, Cuma Om Ivan harus pergi jauh untuk belajar biar j

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status