Share

Bab 4

Author: Miarosa
last update publish date: 2026-03-02 08:08:42

“Aku dengar semuanya,” suara Lunara pecah sebelum ia sempat menghentikannya. Ia menatap lantai tidak berani menantang. “Tentang Darian.”

Morrigan tidak segera menjawab. Ia melangkah masuk dan pintu menutup di belakangnya dan mengunci mereka dalam ruang yang terasa semakin kecil.

“Dan?” tanyanya.

Lunara menelan ludah. “Aku tidak memintanya.”

“Tidak ada yang bilang kau meminta,” jawabnya datar.

“Lalu kenapa?” Lunara mendongak, karena ketakutan sudah terlalu penuh untuk ditahan. “Kenapa sejauh itu?”

Morrigan mendekat hingga ia berhenti tepat di depannya dan berlutut dan sejajar dengan tatapan Lunara.

“Karena mereka lupa satu hal dan pack yang lupa perlu diingatkan," katanya dengan suara pelan.

Jari Morrigan terangkat dan berhenti hanya sejengkal dari rantai di kaki Lunara.

“Mulai hari ini, siapa pun yang menyebut namamu tanpa izinku akan kehilangan lidahnya dan siapa pun yang menyentuhmu akan kehilangan lebih dari sekadar tangan," lanjutnya dengan tenang.

Lunara tersentak mundur dan punggungnya kembali membentur dinding.

“Berhenti! Jangan lakukan itu lagi. Aku tidak ingin ...."

“Kamu tidak ingin darah?” potong Morrigan lembut. “Atau kamu tidak ingin merasa berharga?”

Pertanyaan itu membuat Lunara terdiam.

Air mata mengalir tanpa ia sadari. “Aku tidak ingin menjadi alasan dan tidak ingin orang-orang mati atau dibuang hanya karena aku ada," katanya lirih.

Morrigan menatapnya lama.

“Sayangnya, keberadaanmu sudah menjadi alasan sejak kau lahir," ujarnya sambil berdiri dan bayangannya kembali menjulang.

Ia melangkah pergi, lalu berhenti di pintu.

“Tidurlah, Lunara Fenrirsson! Besok, pack akan belajar cara menyebut namamu dengan benar," katanya tanpa menoleh.

Pintu kembali menutup disertai dengan suara kunci berputar. Lunara akhirnya mengerti satu hal yang membuat dadanya sesak oleh ketakutan yang jauh lebih besar daripada saat ia disiksa oleh Darian, karena di dunia serigala diperhatikan oleh Alpha bisa lebih mematikan daripada dibenci oleh pack.

***

Terletak jauh di bawah tanah, lebih tua dari kediaman Alpha sendiri. Batu-batunya berlumut dengan simbol-simbol kuno terukir setengah terhapus oleh waktu. Api kecil menyala di tengah lingkaran cukup untuk menerangi wajah-wajah para tetua yang sekarang kehilangan tongkat dan gelar namun belum kehilangan pengaruh.

“Alpha bertindak tanpa restu. Ini bukan sekadar pembangkangan. Ini ancaman," ujar seorang tetua dengan suara bergetar.

“Bukan Alpha-nya, tapi Omega itu," sahut yang lain pelan.

Seorang tetua perempuan yang duduk paling ujung bernama Sheltra dengan wajahnya yang tertutup bayangan menggerakkan jarinya perlahan di atas simbol kuno di lantai.

“Anak itu seharusnya sudah mati sejak lahir.”

“Dan segel itu sekarang mulai retak,” ujar salah satu dari mereka pelan.

Tidak ada nama yang disebut, tapi semua tahu apa yang dimaksud.

“Tidak mungkin,” sanggah yang lain, suaranya bergetar bukan karena ragu, melainkan rasa takut.

“Selama pembawanya dilemahkan, dihancurkan perlahan, dan dibuat percaya bahwa dirinya tidak berarti, segel itu tidak akan retak."

“Segel darah akan menahan darahnya. Jika itu retak, Alpha mana pun tidak akan mampu menundukkannya," ujar Varrek.

“Sekarang Alpha melindunginya,” kata seorang tetua muda dengan rahang mengeras. “Aku merasakannya. Ikatan itu ...."

“Sudah terbentuk,” potong yang lain cepat, nyaris berbisik. “Mate bond.”

Beberapa tetua menggeram rendah dan yang lain memejamkan matanya seolah doa lama gagal total.

“Itu tidak boleh terjadi,” desis tetua tertua lainnya.

“Darah perempuan itu dan darah Alpha tidak boleh menyatu.”

“Karena ibunya dulu hampir ...."

“Cukup!" bentak Sheltra tajam.

“Dia bukan sekadar anak pengkhianat,” kata salah satu dari mereka akhirnya.

“Dia juga tidak hanya omega terbuang," bisik tetua tertua.

"Karena jika pack mencintainya, kita tidak akan bisa menghentikannya," kata Varrek.

Api tidak terlihat bergetar di udara.

“Alpha Morrigan tidak tahu,” ujar seseorang, setengah berharap, dan setengah takut.

Sheltra tertawa pelan kering. “Alpha selalu tahu ketika sudah terlambat.”

“Lalu apa rencana kita?” tanya suara lain, rendah dan mendesak. “Jika ikatan itu disempurnakan ...."

“Keseimbangan runtuh,” jawab tetua tertua. “Pack tidak lagi tunduk pada hierarki yang kita jaga ratusan tahun.”

“Perempuan itu harus mati,” ucap seseorang akhirnya.

Tidak ada yang langsung menyahut, karena semua tahu membunuhnya sekarang akan memicu sesuatu yang jauh lebih buruk.

"Bukan dibunuh, tapi disingkirkan jika perlu dan dipatahkan ikatannya.”

“Bagaimana caranya?” tanya yang lain pahit. “Mate bond tidak bisa diputus.”

“Bisa dialihkan,” jawabnya.

Beberapa kepala terangkat.

“Alpha butuh Luna. Luna yang sah, Luna yang diterima pack, dan Luna yang akan mengikatnya pada takhta, bukan pada itu.”

“Kita carikan Luna baru,” kata tetua tertua memutuskan. “Dari garis darah kuat. Bersih yang bisa mengunci Alpha dalam peran yang benar.”

“Dan omega itu?”

Suara itu menggantung di ruang bawah tanah yang lembap. Sheltra mengangkat wajahnya perlahan. Cahaya api kecil memantulkan kilat tipis di matanya.

“Jika kita tidak bisa memutus ikatan, maka kita buat jarak," katanya tenang.

“Jarak tidak mematahkan mate bond,” geram salah satu tetua.

“Tidak,” sahut Sheltra. “Tapi jarak melemahkannya. Terutama jika disertai racun yang tepat.”

Beberapa tetua saling pandang.

“Segel darah tidak hanya menahan darahnya. Ia juga merespons kedekatan dengan darah kunci," lanjut Sheltra dan jemarinya menyusuri kembali simbol kuno di lantai.

“Alpha,” gumam Varrek.

Sheltra mengangguk. “Setiap kali Morrigan berada di dekatnya, segel bergetar. Kita tidak bisa membiarkan resonansi itu tumbuh.”

“Jadi?” tanya Orven.

“Kita pisahkan mereka secara fisik dengan ritual dan juga politik."

“Pertama, kita umumkan bahwa Alpha harus menjalani perjalanan kepimpinan.”

Beberapa tetua terdiam.

“Itu ritual kepimpinan kuno,” kata salah satu dengan hati-hati. “Uji kepemimpinan di wilayah perbatasan luar yang wajib dijalani Alpha untuk membuktikan bahwa ia pantas memegang dominasi tertinggi atas wilayah dan darah pack. Empat puluh hari jauh dari wilayah inti pack.”

“Tradisi lama yang tidak bisa ia tolak tanpa terlihat lemah,” tambah Varrek pelan.

Sheltra tersenyum tipis. “Dan selama ia pergi, omega itu tidak akan berada di kediaman Alpha.”

“Ke mana kita memindahkannya?” tanya seseorang.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mate Terlarang Sang Alpha   Bab 77

    ​Kata-kata Ella membuat jantungnya serasa berhenti berdetak dan wajahnya yang semula pucat sekarang menjadi seputih kapas.​"Manusia serigala?" bisik Ravenna.Ia menggelengkan kepalanya."Tidak, kamu bohong! Morrigan manusia! Dia hanya pria biasa!"​"Dia membohongimu sejak awal demi insting binatangnya!" bentak Ella.Matanya sesaat berkilat ungu pekat dan menekan mental Ravenna hingga gadis itu mencengkeram sprei tempat tidur dengan gemetar. "Dan sekarang, kaum manusia serigala miliknya sedang menuntut darah. Mereka mengira kamuatau lebih tepatnya klon sihir yang kuciptakan menggunakan wajahmu telah membunuh salah satu dari kawanan mereka di pinggiran kota."​Ravenna menatap Ella dengan pandangan kosong, otaknya menolak memercayai semua kegilaan ini. Namun, aura mengerikan dari Ella dan semua kejadian supranatural ini membuat pertahanannya runtuh. "Klon? Pembunuhan? Apa yang akan kamu lakukan padaku?"​Ella tersenyum penuh kemenangan dan senyuman yang membuat bulu kuduk Ravenna mere

  • Mate Terlarang Sang Alpha   Bab 76

    "Jika itu satu-satunya cara untuk membersihkan nama baik pack, mereka akan menuntutnya, Alpha!" jawab Larry dengan tegas, meskipun napasnya memburu menahan tekanan aura Morrigan yang semakin berat memenuhi ruangan.Larry menatap map hitam yang meremukkan kertas laporan medis di atas meja kerja Morrigan, lalu perlahan menegakkan postur tubuhnya. Aura dingin dan berat di dalam ruangan itu terasa seolah bisa mematahkan tulang, namun sebagai prajurit tertinggi Silver-Claw, ia tahu tugasnya di halaman luar jauh lebih mendesak.​"Saya rasa tidak ada lagi yang bisa saya laporkan malam ini, Alpha," ucap Larry dengan suara baritonnya yang rendah."Gelombang hasutan Darian di halaman luar harus segera saya redam sebelum fajar menyingsing. Saya tidak akan membiarkan satu pun mereka menerobos masuk ke dalam gedung ini."​Morrigan tidak menoleh. Sepasang mata keemasannya masih menatap tajam menembus kegelapan malam dari balik kaca jendela besar ruang kerjanya hanya anggukan kepala samar yang dibe

  • Mate Terlarang Sang Alpha   Bab 75

    ​"Aku akan mengawal mereka sendiri, Alpha," sahut Larry. Ia merasa bertanggung jawab penuh atas keamanan sampel biologis tersebut. ​"Pergilah, Larry! Pastikan tidak ada satu pun tangan luar yang menyentuh tabung itu," perintah Morrigan. ​Begitu Larry dan tim medis pergi, koridor bawah tanah kembali sunyi. Morrigan menatap Ezra yang masih bersandar di dinding dengan wajah gelisah. ​"Ezra, kembali ke atas. Awasi pergerakan Putri Isolde dan Tetua Varrek di ruang tamu agung. Jangan biarkan mereka tahu kita sedang melakukan pemeriksaan domestik seperti ini," ucap Morrigan. ​"Bagaimana denganmu, Alpha?" tanya Ezra ragu. ​"Aku akan menunggu hasil laboratorium di sini. Pergilah!" ​Waktu terus bergulir. Larry berdiri kokoh seperti patung di depan pintu laboratorium dengan tangan melekat pada senjata. ​Di dalam ruangan steril, kepala dokter Blackmoon pack sedang memasukkan beberapa tetes darah Ravenna ke dalam mesin pemindai spektrum biologis. Mesin tersebut berdegung halus, memp

  • Mate Terlarang Sang Alpha   Bab 74

    "Gunakan sisa energi dari pecahan Batu Gerhana Abadi yang kusisipkan di balik pakaianmu," bisik Ella dengan senyum penuh kelicikan. "Ubah resonansi biologis raga tiruan itu. Saat jarum suntik mereka menembus kulitmu besok pagi, pastikan sel-sel yang mereka ambil terdistorsi menjadi darah manusia normal. Biarkan Alpha itu mengira indra serigalanya yang mulai gila bukan raga kita."​Ella kemudian pergi menembus bayangan malam bawah tanah, menyisakan Jaxon dan para penjaga yang masih tergeletak tidak sadarkan diri.​Malam harinya, ketegangan internal Blackmoon pack yang tersimpan di bawah tanah mendadak terinterupsi oleh sebuah kedatangan yang telah lama direncanakan.Di jalanan Starfield, deretan mobil sedan mewah berwarna hitam legam membelah jalanan, menuju markas utama pack.​Konvoi dari Moonshadow pack telah tiba.​Di halaman depan markas, Tetua Varrek berdiri tegak dengan jubah adatnya yang megah. Di sampingnya, Larry dan barisan kehormatan prajurit Blackmoon memasang postur kaku

  • Mate Terlarang Sang Alpha   Bab 73

    ​"Jiwa seorang Alpha tertinggi memiliki resonansi energi yang sangat kuat dengan wilayah kekuasaannya," jelas Silas. Silas menatap Morrigan dengan serius. "Selama ini, kamu tidak bisa merasakan pancaran kekuatan energi dari batu itu meskipun letaknya sangat dekat dan jujur, aku pun tidak menyadarinya, karena aku berpikir anomali energi di sekitarmu hanyalah refleksi dari rasa benci yang meluap dan kekosongan batinmu pasca kepergian Lunara. Kebencianmu begitu dalam hingga bertindak sebagai tameng emosional, ia mendominasi seluruh indra serigalamu dan membutakan radar instingmu terhadap getaran sihir hitam luar yang mencoba menyusup."​Morrigan terdiam dan mencerna penjelasan Silas yang sangat masuk akal. Emosi seorang Alpha yang tidak stabil memang bisa mengacaukan kepekaan indra penciuman dan spiritualnya sendiri. ​Namun, ketegangan mendadak saat Morrigan melangkah lebih dekat ke ranjang dan tatapannya menuntut jawaban yang lebih banyak.​"Jika kamu sudah tahu keberadaan artefak t

  • Mate Terlarang Sang Alpha   Bab 72

    "Bawa dia lewat pintu belakang gedung Stellaris Industries," perintah Morrigan kepada Larry begitu mereka tiba di area parkir bawah tanah. "Jangan biarkan ada anggota lain yang melihatnya dalam kondisi seperti ini. Kamar penthouse terlalu terbuka, bawa dia langsung ke lantai isolasi bawah tanah." ​"Dimengerti, Alpha," jawab Larry sigap. "Pasukan Silver-Claw akan menutup akses lift privat sementara waktu." ​Namun, evakuasi senyap itu tidak berjalan sesempurna yang Morrigan harapkan. Di sudut koridor remang basement, sepasang mata milik salah satu prajurit kasta bawah yang merupakan mata-mata Darian telah mengawasi sejak ban SUV menderu masuk dan hanya dalam hitungan menit setelah pintu jeruji besi ruang isolasi berdentang menutup, prajurit tersebut langsung memanfaatkan Pack Link (telepati antar anggota pack) untuk menyebarkan informasi secara batin ke seluruh jaringan manusia serigala. Pesan berantai melalui pack link telah menyebar seperti api menyiram minyak ke anggota pack

  • Mate Terlarang Sang Alpha   Bab 3

    “Kau hidup dan itu bukan hadiah, tapi itu keputusan," potong Morrigan dingin. Kalimat itu membuat jantung Lunara berdebar cepat. Ia bukan diselamatkan, tapi dipilih untuk ditahan. “Kenapa aku di sini?” tanyanya lirih, suaranya hampir tidak terdengar. Morrigan melangkah mendekat satu langkah,

  • Mate Terlarang Sang Alpha   Bab 2

    Tiang hukuman berdiri di tengah lapangan dan tiang itu berupa kayu tua penuh bekas darah. Lunara diikat dengan rantai besi dingin dan lengannya terangkat paksa. Setiap tarikan rantai membuat sendi-sendinya berderak nyeri. Darian mengambil cambuk kulit berduri. “Untuk pengingat. Omega tidak punya

  • Mate Terlarang Sang Alpha   Bab 1

    Darah Lunara Fenrirsson jatuh ke tanah lebih dulu sebelum tubuhnya. Ia tersungkur di halaman batu Pack Blackmoon dan lututnya menghantam tanah basah yang dingin. Napasnya tercekik bukan hanya oleh rasa sakit, tapi oleh tawa yang pecah di sekelilingnya, tawa para manusia serigala yang merasa berhak

  • Mate Terlarang Sang Alpha   Bab 8

    Di kedalaman aula pertemuan di bawah tanah yang jauh dari kamar batu itu, keheningan malam telah pecah oleh kemarahan yang suci. Para tetua dewan berjubah abu-abu yang telah hidup lebih lama dari sejarah pack itu sendiri mendadak bangkit dari kursi batu mereka. Mereka tidak butuh mata untuk melihat,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status