LOGIN“Aku dengar semuanya,” suara Lunara pecah sebelum ia sempat menghentikannya. Ia menatap lantai tidak berani menantang. “Tentang Darian.”
Morrigan tidak segera menjawab. Ia melangkah masuk dan pintu menutup di belakangnya dan mengunci mereka dalam ruang yang terasa semakin kecil. “Dan?” tanyanya. Lunara menelan ludah. “Aku tidak memintanya.” “Tidak ada yang bilang kau meminta,” jawabnya datar. “Lalu kenapa?” Lunara mendongak, karena ketakutan sudah terlalu penuh untuk ditahan. “Kenapa sejauh itu?” Morrigan mendekat hingga ia berhenti tepat di depannya dan berlutut dan sejajar dengan tatapan Lunara. “Karena mereka lupa satu hal dan pack yang lupa perlu diingatkan," katanya dengan suara pelan. Jari Morrigan terangkat dan berhenti hanya sejengkal dari rantai di kaki Lunara. “Mulai hari ini, siapa pun yang menyebut namamu tanpa izinku akan kehilangan lidahnya dan siapa pun yang menyentuhmu akan kehilangan lebih dari sekadar tangan," lanjutnya dengan tenang. Lunara tersentak mundur dan punggungnya kembali membentur dinding. “Berhenti! Jangan lakukan itu lagi. Aku tidak ingin ...." “Kamu tidak ingin darah?” potong Morrigan lembut. “Atau kamu tidak ingin merasa berharga?” Pertanyaan itu membuat Lunara terdiam. Air mata mengalir tanpa ia sadari. “Aku tidak ingin menjadi alasan dan tidak ingin orang-orang mati atau dibuang hanya karena aku ada," katanya lirih. Morrigan menatapnya lama. “Sayangnya, keberadaanmu sudah menjadi alasan sejak kau lahir," ujarnya sambil berdiri dan bayangannya kembali menjulang. Ia melangkah pergi, lalu berhenti di pintu. “Tidurlah, Lunara Fenrirsson! Besok, pack akan belajar cara menyebut namamu dengan benar," katanya tanpa menoleh. Pintu kembali menutup disertai dengan suara kunci berputar. Lunara akhirnya mengerti satu hal yang membuat dadanya sesak oleh ketakutan yang jauh lebih besar daripada saat ia disiksa oleh Darian, karena di dunia serigala diperhatikan oleh Alpha bisa lebih mematikan daripada dibenci oleh pack. *** Terletak jauh di bawah tanah, lebih tua dari kediaman Alpha sendiri. Batu-batunya berlumut dengan simbol-simbol kuno terukir setengah terhapus oleh waktu. Api kecil menyala di tengah lingkaran cukup untuk menerangi wajah-wajah para tetua yang sekarang kehilangan tongkat dan gelar namun belum kehilangan pengaruh. “Alpha bertindak tanpa restu. Ini bukan sekadar pembangkangan. Ini ancaman," ujar seorang tetua dengan suara bergetar. “Bukan Alpha-nya, tapi Omega itu," sahut yang lain pelan. Seorang tetua perempuan yang duduk paling ujung bernama Sheltra dengan wajahnya yang tertutup bayangan menggerakkan jarinya perlahan di atas simbol kuno di lantai. “Anak itu seharusnya sudah mati sejak lahir.” “Dan segel itu sekarang mulai retak,” ujar salah satu dari mereka pelan. Tidak ada nama yang disebut, tapi semua tahu apa yang dimaksud. “Tidak mungkin,” sanggah yang lain, suaranya bergetar bukan karena ragu, melainkan rasa takut. “Selama pembawanya dilemahkan, dihancurkan perlahan, dan dibuat percaya bahwa dirinya tidak berarti, segel itu tidak akan retak." “Segel Sanguis Arkanum menahan darahnya. Jika itu retak, Alpha mana pun tidak akan mampu menundukkannya," ujar Varrek. “Sekarang Alpha melindunginya,” kata seorang tetua muda dengan rahang mengeras. “Aku merasakannya. Ikatan itu ...." “Sudah terbentuk,” potong yang lain cepat, nyaris berbisik. “Mate bond.” Beberapa tetua menggeram rendah dan yang lain memejamkan matanya seolah doa lama gagal total. “Itu tidak boleh terjadi,” desis tetua tertua lainnya. “Darah perempuan itu dan darah Alpha tidak boleh menyatu.” “Karena ibunya dulu hampir ...." “Cukup!" bentak Sheltra tajam. “Dia bukan sekadar anak pengkhianat,” kata salah satu dari mereka akhirnya. “Dia juga tidak hanya omega terbuang," bisik tetua tertua. "Karena jika pack mencintainya, kita tidak akan bisa menghentikannya," kata Varrek. Api tidak terlihat bergetar di udara. “Alpha Morrigan tidak tahu,” ujar seseorang, setengah berharap, dan setengah takut. Sheltra tertawa pelan kering. “Alpha selalu tahu ketika sudah terlambat.” “Lalu apa rencana kita?” tanya suara lain, rendah dan mendesak. “Jika ikatan itu disempurnakan ...." “Keseimbangan runtuh,” jawab tetua tertua. “Pack tidak lagi tunduk pada hierarki yang kita jaga ratusan tahun.” “Perempuan itu harus mati,” ucap seseorang akhirnya. Tidak ada yang langsung menyahut, karena semua tahu membunuhnya sekarang akan memicu sesuatu yang jauh lebih buruk. "Bukan dibunuh, tapi disingkirkan jika perlu dan dipatahkan ikatannya.” “Bagaimana caranya?” tanya yang lain pahit. “Mate bond tidak bisa diputus.” “Bisa dialihkan,” jawabnya. Beberapa kepala terangkat. “Alpha butuh Luna. Luna yang sah, Luna yang diterima pack, dan Luna yang akan mengikatnya pada takhta, bukan pada itu.” “Kita carikan Luna baru,” kata tetua tertua memutuskan. “Dari garis darah kuat. Bersih yang bisa mengunci Alpha dalam peran yang benar.” “Dan omega itu?” Suara itu menggantung di ruang bawah tanah yang lembap. Sheltra mengangkat wajahnya perlahan. Cahaya api kecil memantulkan kilat tipis di matanya. “Jika kita tidak bisa memutus ikatan, maka kita buat jarak," katanya tenang. “Jarak tidak mematahkan mate bond,” geram salah satu tetua. “Tidak,” sahut Sheltra. “Tapi jarak melemahkannya. Terutama jika disertai racun yang tepat.” Beberapa tetua saling pandang. “Segel Sanguis Arkanum tidak hanya menahan darahnya. Ia juga merespons kedekatan dengan darah kunci," lanjut Sheltra dan jemarinya menyusuri kembali simbol kuno di lantai. “Alpha,” gumam Varrek. Sheltra mengangguk. “Setiap kali Morrigan berada di dekatnya, segel bergetar. Kita tidak bisa membiarkan resonansi itu tumbuh.” “Jadi?” tanya Orven. “Kita pisahkan mereka secara fisik dengan ritual dan juga politik." “Pertama, kita umumkan bahwa Alpha harus menjalani perjalanan kepimpinan.” Beberapa tetua terdiam. “Itu ritual kepimpinan kuno,” kata salah satu dengan hati-hati. “Uji kepemimpinan di wilayah perbatasan luar yang wajib dijalani Alpha untuk membuktikan bahwa ia pantas memegang dominasi tertinggi atas wilayah dan darah pack. Empat puluh hari jauh dari wilayah inti pack.” “Tradisi lama yang tidak bisa ia tolak tanpa terlihat lemah,” tambah Varrek pelan. Sheltra tersenyum tipis. “Dan selama ia pergi, omega itu tidak akan berada di kediaman Alpha.” “Ke mana kita memindahkannya?” tanya seseorang.Diantara barisan yang mulai berpencar, satu sosok berdiri kaku dengan aura yang tidak lagi tunduk sepenuhnya. “Darian.” Suara Morrigan memotong langkahnya. Seluruh lapangan kembali sunyi. Darian menoleh perlahan. “Morrigan." Ia tetap menunduk hormat, tapi tidak lagi dengan kepatuhan yang sama. “Ke depan.” Ia melangkah dan setiap langkahnya berat, tapi mantap. Anggota pack tahu ini bukan percakapan biasa. “Perbatasan utara membutuhkan pengawasan tambahan. Kau berangkat sebelum matahari tenggelam," ucap Morrigan datar. Beberapa kepala langsung terangkat. Perbatasan utara bukan sekadar tugas jaga. Itu wilayah paling liar yang merupakan tempat buangan. Darian tersenyum tipis. “Sebagai beta senior, tanpa konsultasi Dewan?” “Sebagai beta yang melampaui batas,” jawab Morrigan. Desis kecil terdengar dari kelompok timur. Darian menahan tawa pendek. “Jadi ini karena omega itu.” Raungan rendah keluar dari dada Morrigan dan membuat beberapa anggota pack mundur refleks.
“Ke dunia manusia.” Jawaban Sheltra membuat udara di ruang bawah tanah itu membeku. Beberapa tetua langsung menoleh tajam. “Mustahil. Ia darah murni," desis salah satu. “Justru karena itu, karena darah murni paling aman jika tidak seorang pun bisa mengenalinya," sahut Sheltra. Varrek menyipitkan mata. “Kau ingin membuangnya begitu saja?” “Bukan membuang,” koreksi Sheltra halus. “Tapi menghapus.” Ia berdiri perlahan dan berjalan ke tengah lingkaran simbol. Ujung jarinya menyentuh ukiran kuno yang hampir terhapus waktu. “Aku akan mengaktifkan Segel Tanda Pengabur Garis Darah." Nama itu membuat beberapa tetua menarik napas pelan. “Segel itu dilarang,” gumam Orven. “Segel itu efektif,” balas Sheltra. Api di tengah lingkaran bergetar saat ia melanjutkan. “Segel itu akan menghapus jejak garis keturunannya. Auranya akan memudar. Darahnya akan tampak biasa. Omega itu akan terlihat seperti manusia.” “Dan mate bond?” tanya Varrek. “Tidak hilang, tapi menjadi tumpul
“Aku dengar semuanya,” suara Lunara pecah sebelum ia sempat menghentikannya. Ia menatap lantai tidak berani menantang. “Tentang Darian.” Morrigan tidak segera menjawab. Ia melangkah masuk dan pintu menutup di belakangnya dan mengunci mereka dalam ruang yang terasa semakin kecil. “Dan?” tanyanya. Lunara menelan ludah. “Aku tidak memintanya.” “Tidak ada yang bilang kau meminta,” jawabnya datar. “Lalu kenapa?” Lunara mendongak, karena ketakutan sudah terlalu penuh untuk ditahan. “Kenapa sejauh itu?” Morrigan mendekat hingga ia berhenti tepat di depannya dan berlutut dan sejajar dengan tatapan Lunara. “Karena mereka lupa satu hal dan pack yang lupa perlu diingatkan," katanya dengan suara pelan. Jari Morrigan terangkat dan berhenti hanya sejengkal dari rantai di kaki Lunara. “Mulai hari ini, siapa pun yang menyebut namamu tanpa izinku akan kehilangan lidahnya dan siapa pun yang menyentuhmu akan kehilangan lebih dari sekadar tangan," lanjutnya dengan tenang. Lunara ters
“Kau hidup dan itu bukan hadiah, tapi itu keputusan," potong Morrigan dingin. Kalimat itu membuat jantung Lunara berdebar cepat. Ia bukan diselamatkan, tapi dipilih untuk ditahan. “Kenapa aku di sini?” tanyanya lirih, suaranya hampir tidak terdengar. Morrigan melangkah mendekat satu langkah, namun cukup untuk membuat aroma Alpha membungkus Lunara sepenuhnya. Naluri di dalam dirinya meronta, menarik, dan menolak pada saat yang bersamaan. “Karena pack tidak boleh menyentuhmu dan karena aku belum memutuskan apa yang akan kulakukan denganmu," jawab Morrigan. Lunara menatap rantai di kakinya. “Jadi aku tawanan.” “Ya," jawabnya dingin. “Kamu akan tetap di ruangan ini. Dijaga tidak keluar tanpa izinku dan tidak bicara dengan siapa pun kecuali aku," lanjut Morrigan. Ia berhenti sejenak dan matanya menyipit. “Dan kamu tidak akan menyebut apa pun tentang ikatan itu.” Tubuh Lunara bergetar hebat. “Ikatan?” bisiknya. Morrigan menoleh tajam dan getaran berat memenuhi ruangan.
Tiang hukuman berdiri di tengah lapangan dan tiang itu berupa kayu tua penuh bekas darah. Lunara diikat dengan rantai besi dingin dan lengannya terangkat paksa. Setiap tarikan rantai membuat sendi-sendinya berderak nyeri. Darian mengambil cambuk kulit berduri. “Untuk pengingat. Omega tidak punya tempat di pack ini," katanya pelan dan nyaris berbisik di telinga Lunara. CRAAAK! Cambukan pertama merobek punggungnya. Lunara menjerit dan teriakannya yang langsung ditelan oleh tawa anggota pack lainnya. Cambukan kedua dan ketiga, pandangan Lunara mulai kabur. Dunia mengecil hanya tersisa rasa panas dan denyut nyeri yang tidak berujung. Cambukan keempat membuat lututnya lemas. “Lanjutkan! Sampai dia tidak bergerak," kata Varrek. Darian mengangkat cambuk untuk kelima kalinya dan udara tiba-tiba berubah. Tekanan berat menyapu arena membuat beberapa manusia serigala tersentak dan berlutut tanpa sadar. Langkah kaki terdengar perlahan, berat, dan penuh otoritas. “Berhenti!" Nam
Darah Lunara Fenrirsson jatuh ke tanah lebih dulu sebelum tubuhnya. Ia tersungkur di halaman batu Pack Blackmoon dan lututnya menghantam tanah basah yang dingin. Napasnya tercekik bukan hanya oleh rasa sakit, tapi oleh tawa yang pecah di sekelilingnya, tawa para manusia serigala yang merasa berhak menginjaknya. “Bangun, Omega sialan!" bentak seseorang. Rambut perak Lunara ditarik kasar dari belakang. Kepalanya terhentak ke atas dan memaksa matanya menatap lingkaran wajah-wajah yang penuh hinaan. Mereka bukan hanya sekadar membencinya, tapi mereka juga menikmati penderitaannya. Darian Bloodclaw berdiri paling depan, musuh lamanya dan putra tetua pack. Serigala beta yang merasa dunia berutang padanya. “Kau lambat,” kata Darian sambil menendang tulang kering Lunara. “Alpha memerintahkan kayu bakar dikumpulkan sebelum matahari terbit, tapi lihat dirimu selalu gagal dan selalu membawa sial." Ia berdecak jijik. Lunara menggigit bibirnya sampai darah terasa asin di lidahnya. “Aku







