تسجيل الدخول“Ke dunia manusia.”
Jawaban Sheltra membuat udara di ruang bawah tanah itu membeku. Beberapa tetua langsung menoleh tajam. “Mustahil. Ia darah murni," desis salah satu. “Justru karena itu, karena darah murni paling aman jika tidak seorang pun bisa mengenalinya," sahut Sheltra. Varrek menyipitkan mata. “Kau ingin membuangnya begitu saja?” “Bukan membuang,” koreksi Sheltra halus. “Tapi menghapus.” Ia berdiri perlahan dan berjalan ke tengah lingkaran simbol. Ujung jarinya menyentuh ukiran kuno yang hampir terhapus waktu. “Aku akan mengaktifkan Segel Tanda Pengabur Garis Darah." Nama itu membuat beberapa tetua menarik napas pelan. “Segel itu dilarang,” gumam Orven. “Segel itu efektif,” balas Sheltra. Api di tengah lingkaran bergetar saat ia melanjutkan. “Segel itu akan menghapus jejak garis keturunannya. Auranya akan memudar. Darahnya akan tampak biasa. Omega itu akan terlihat seperti manusia.” “Dan mate bond?” tanya Varrek. “Tidak hilang, tapi menjadi tumpul dan terhalang. Alpha akan merasakannya seperti bayangan jauh seperti mimpi yang tak bisa ia sentuh," jawab Sheltra. “Efek sampingnya?” tanya tetua tertua yang lain. Sheltra tersenyum tipis. “Ia akan lupa.” Api kecil itu seolah mengecil mendengar kata itu. “Tidak sepenuhnya, karena untuk benar-benar menghapus memori, kita harus menghancurkan jiwanya. Kita tidak akan sejauh itu," lanjutnya. Ia mengangkat tangan. “Kita gunakan Segel Retakan Ingatan.” Varrek mengerutkan kening. “Segel retakan ingatan?" Sheltra mengangguk. “Ingatannya tidak akan lenyap hanya pecah menjadi fragmen-fragmen tanpa akses. Ia mungkin bermimpi dan mungkin merasa kehilangan sesuatu, tapi ia tak akan tahu apa.” “Dan instingnya?” bisik seseorang. “Segel Tanda Pengabur Garis Darah akan melemahkannya. Instingnya akan menurun. Rentan dan tersesat.” Varrek menatap api lama. “Dan jika suatu hari Alpha menemukannya?” Sheltra menoleh pelan. “Tanpa ritual kuno untuk membaca darahnya, ia tak akan tahu siapa dia sebenarnya.” “Dan jika ia melakukan ritual itu?” Kali ini Sheltra tidak langsung menjawab. Api berderak kecil. “Kalau Alpha cukup gila untuk menembus hukum leluhur demi seorang omega yang bahkan tidak mengingat namanya sendiri, maka mungkin ia memang pantas kehilangan takhtanya.” *** Pagi belum benar-benar datang ketika bisikan-bisikan mulai bergerak lagi. Di dapur umum, di dekat kandang penjaga, di sudut-sudut gelap tempat serigala biasa berkumpul untuk berganti jaga, nama Lunara Fenrirsson disebut dengan suara pelan, lalu dihentikan tiba-tiba seolah nama itu sendiri bisa menggigit balik. “Alpha sudah gila,” bisik seorang beta muda dan rahangnya mengeras. “Satu omega terbuang dan dia menghancurkan struktur pack.” “Darian bukan malaikat, tapi perbatasan utara? Itu hukuman mati," sahut yang lain. “Dan Dewan Tetua dilucuti?” Seorang perempuan berambut abu-abu mencengkeram cangkirnya terlalu keras. “Itu melanggar keseimbangan. Alpha tidak boleh bertindak sendirian.” Di bawah gudang senjata lama, beberapa anggota pack berkumpul tidak banyak. “Ini bukan soal omega. Ini soal kita. Hari ini Darian. Besok siapa?” kata seorang bertubuh besar. “Alpha sudah kehilangan kendali. Kita butuh Dewan. Kita butuh aturan," timpal yang lain. “Dan jika Alpha tidak mau mendengar?” seseorang bertanya. “Kalau begitu, kita ingatkan dia bahwa pack bukan miliknya seorang.” Tiba-tiba lonceng besi di tengah wilayah pack dibunyikan dan itu merupakan panggilan resmi Alpha. Bisikan-bisikan berhenti. Pintu-pintu rumah terbuka. Mereka keluar dengan wajah tegang dengan aroma gelisah memenuhi udara pagi yang dingin. Lapangan pusat segera dipenuhi anggota pack. Morrigan berdiri di atas batu tinggi dengan mantel hitamnya tertiup angin pagi. Wajahnya keras dan matanya menyapu setiap kepala yang menunduk atau yang sengaja tidak. Aura dominannya cukup membuat udara terasa berat. Semua lutut menekuk sedikit bukan sepenuhnya tunduk, tapi cukup untuk mengakui hierarki. “Angkat kepala kalian! Dan dengarkan! suaranya menggema. Suasana menjadi sangat hening. “Aku mendengar namanya disebut dengan bisikan dengan ejekan dan dengan keraguan.” Tidak ada satu pun yang menjawab. Beberapa menunduk dan mengangkat dagu. “Mulai hari ini, kalian akan menyebutnya dengan benar," kata Morrigan perlahan. Ia menatap tajam ke arah sekelompok beta di sisi kiri. “Namanya Lunara Fenrirsson dan aku memilihnya." Desisan kecil terdengar dan seseorang berani bersuara, “Dia hanya omega ...." Raungan Alpha memotong udara seperti sambaran petir dan tanah seolah bergetar. “Dia bukan ‘hanya’ apa pun,” geramnya. “Ia darah murni. Ia bagian dari garis leluhur kita dan selama namanya masih menjadi bagian dari sejarah pack ini, kalian akan menghormatinya.” Raungan Alpha memotong udara seperti sambaran petir dan tanah seolah bergetar. Dari barisan kanan, seorang gamma bernama Matthew melangkah maju. “Dengan segala hormat, Alpha, satu omega tidak boleh mengguncang struktur pack. Darian dihukum tanpa Dewan. Itu yang kami tentang.” Morrigan turun dari panggung dan setiap langkahnya lambat, tapi pasti, lalu ia berhenti tepat di depannya. “Kau menentang hukumanku?” tanyanya. “Aku mempertanyakan,” jawab meski rahangnya menegang. “Pertanyakan di ruang tertutup,” suara Morrigan turun setengah nada. “Bukan dengan merendahkan anggota pack.” “Dia bukan ...." Matthew tidak sempat menyelesaikan kalimatnya. Ia jatuh berlutut dan satu tangan menahan tanah. Nafasnya terasa berat. Beberapa dari kelompok timur ikut terdorong mundur satu langkah. Morrigan menunduk sedikit hingga mata mereka sejajar. “Apa namanya?" Matthew menggertakkan gigi. “Apa namanya?” ulang Morrigan. “Lunara Fenrirsson,” desisnya akhirnya. Morrigan kembali menghadap seluruh pack. “Dengar baik-baik! Siapa pun yang menyebutnya tanpa hormat berarti merendahkan keputusan Alpha.” Ia berhenti sejenak. “Dan siapa pun yang merendahkan keputusanku berarti merusak fondasi pack.” Beberapa kepala tertunduk dan tetap kaku. Kelompok Darian berdiri dengan tatapan penuh amarah terpendam. Kelompok pendukung Morrigan berdiri lebih rapat dan lebih solid. Pack terbelah, tapi tidak sepenuhnya “Aku tidak memimpin budak. Aku memimpin manusia serigala. Jika ada yang merasa tidak bisa berjalan di bawah kepemimpinanku, pintu perbatasan terbuka.” Tidak ada satu pun yang bergerak. Angin berdesir pelan melewati lapangan. “Sebut namanya.” Kali ini suara datang lebih kompak. “Lunara Fenrirsson.” Bahkan dari sisi timur terdengar meski dengan enggan. “Lunara Fenrirsson.” Nama itu menggema di antara dinding batu dan pepohonan hutan. Morrigan menutup matanya sesaat. Di dadanya, mate bond itu berdenyut.Rasa sakit yang luar biasa menjalar di sepanjang tulang belakangnya dan darah hangat merembes dari sela-sela bibirnya yang mengatup rapat. Mereka berguling beberapa meter melewati cadas yang tajam dan menimbulkan suara deburan keras hingga akhirnya berhenti tepat di tepi aliran sungai berbatu yang dingin.Napas Morrigan memburu panas, menguar menjadi uap di udara pagi yang membeku. Meskipun seluruh tubuhnya didera rasa sakit yang teramat sangat, lengannya sama sekali tidak melonggarkan pelukan pada wanita di dekapannya. Dengan tubuh yang masih bergetar menahan sisa benturan, Morrigan perlahan merendahkan kepalanya, menatap wajah wanita yang mendekam di dadanya dengan tatapan penuh kecemasan dan rasa takut yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.Sang Alpha memejamkan matanya dan mengecup dahi wanita itu dengan kelembutan yang teramat sangat."Kau aman bersamaku, Ravenna, aku bersumpah tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu lagi," bisik Morrigan.Morrigan dengan perlahan m
Manik mata perak wanita itu menatap lurus ke dalam manik mata Ravenna dan mengunci kesadaran gadis itu. "Dia adalah manusia serigala yang suka lepas kendali. Saat wujud serigalanya mengambil alih, Morrigan berubah menjadi binatang buas yang haus darah. Dia tidak segan-segan membunuh manusia dan mencabik mereka tanpa belas kasihan hanya untuk memuaskan insting liarnya.""Aku tidak percaya," ujar Ravenna lirih. Kata-kata wanita berambut perak itu Ketakutan meracuni pikirannya."Dan tahukah kamu apa yang paling menjijikkan?" Wanita berambut perak itu mengulas senyum tipis yang mematikan, lalu ia mengulurkan tangannya yang sedingin es dan menyentuh dagu Ravenna dengan lembut, namun sentuhan itu mengirimkan sengatan aneh langsung ke otak Ravenna."Morrigan dan kaumnya sedang menyalahkanmu atas semua pembunuhan itu."Ravenna terbelalak. "Apa?!""Mereka menimpakan semua kesalahan itu kepadamu, Ravenna," timpal Darian dari belakang, ikut memanaskan situasi sesuai rencana mereka. "Kamu h
Aroma kayu basah dan debu menjadi hal pertama yang merayap masuk ke indra penciuman Ravenna dan disusul oleh rasa pening luar biasa yang seolah menghantam bagian belakang kepalanya.Perlahan Ravenna membuka matanya Pandangannya kabur sebelum akhirnya terfokus pada langit-langit kayu yang dipenuhi sarang laba-laba.Ravenna tersentak bangun, namun tubuhnya langsung limbung kembali ke atas dipan tua yang keras. Seluruh persendiannya terasa lemas, seolah-olah seluruh energinya telah dihisap habis oleh kekuatan tak kasatmata. Dengan tangan gemetar, ia mencengkeram tepi dipan, berusaha duduk, dan mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan."Aku ada di mana?" gumamnyaSetelah kesadarannya kembali sepenuhnya, ia baru menyadari sedang berada di dalam sebuah kabin kayu tua yang terbengkalai di tengah hutan. Cahaya pagi menerobos masuk melalui celah-celah dinding papan yang rapuh dan membawa serta hawa dingin yang menusuk tulang. Ravenna melihat keluar melalui jendela kecil yang berdebu dan
Medan di depan mereka perlahan mulai berubah menjadi ekstrem. Jalur tanah hutan yang semula landai sekarang berganti menjadi tanjakan terjal berbatu yang dikelilingi oleh jajaran pohon pinus raksasa yang tumbuh rapat. Akar-akar pohonnya menyembul ke permukaan.Morrigan tidak memperlambat langkahnya sama sekali. Ravenna berada di atas sana dan semakin dekat, namun bahaya yang mengancamnya juga kian memuncak.Sepasang mata emas Morrigan menyala terang menembus pekatnya kabut pagi yang menuntun kakinya melompati batasan batu-batu licin dengan kecepatan yang sangat tinggi."Alpha! Kecepatan Anda terlalu tinggi! Kabut ini mengacaukan radar pasukan di belakang!" teriak Silas yang bersusah payah mengimbangi langkah kilat Morrigan sembari memastikan beberapa prajurit Silver Claw tidak tertinggal jauh di belakang."Aku tidak bisa menunggu, Silas! Baunya semakin pekat, dia ada di atas tebing ini!" raung MorriganSerigala di dalam dirinya meronta liar.Tiba-tiba dari balik gumpalan kabut teb
"Apa kamu bilang?!" suara Morrigan meninggi.Morrigan melangkah maju dengan kecepatan kilat, mencengkeram kerah mantel Darian, dan mengangkat tubuh pria itu beberapa senti ke udara. Napasnya memburu panas tepat di depan wajah Darian."Kenapa kamu memberitahuku soal Ravenna yang diculik Lunara?"Darian tidak meronta. Ia justru terkekeh rendah dan tatapannya menantang lurus ke sepasang mata emas Morrigan tanpa rasa takut."Tentu saja aku tidak melakukannya demi menyelamatkan manusiamu, Morrigan. Selama ini aku terus mengawasimu dan wanita manusiamu itu," jawab Darian sinis dan seulas senyum licik terukir di wajahnya. "Aku melakukan ini semua hanya untuk mempertemukanmu dengan Lunara. Bukankah kamu sedang mencari pengkhianat itu. Aku ingin melihat bagaimana sang Alpha tertinggi pack Blackmoon hancur berdarah-darah di tangan seorang pengkhianat."Morrigan menggeram rendah, lalu melempar tubuh Darian ke atas aspal dengan kasar hingga pria itu terbatuk. "Di mana dia menyekap Ravenna? K
Roda-roda besi gerbong kereta mendadak menjerit nyaring dan memuntahkan percikan api yang bergesekan ekstrem dengan rel. BRAAAK! Tubuh para penumpang terlempar ke depan akibat rem darurat yang dihantam paksa. Jeritan histeris, tangisan anak-anak, dan dentingan barang-barang bawaan yang jatuh berserakan seketika memenuhi seisi gerbong yang pengap. Kereta itu berhenti mendadak di tengah hutan pinus yang sunyi dan jauh dari stasiun mana pun. Ravenna mencengkeram erat sandaran kursi di depannya dan jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Di sampingnya, Marva berusaha menstabilkan posisinya sembari memandang sekeliling dengan kerutan dalam di dahi. "Ada apa ini? Kenapa keretanya berhenti di tengah jalan?" tanya Marva. "Aku tidak tahu, Nek," sahut Ravenna lirih. Perasaan buruk seketika merayap di tengkuknya. Bau karbol dan oli di mantelnya mendadak kalah telak oleh aroma anyir yang asing dan dingin yang tiba-tiba berembus masuk menembus celah jendela. Tiba-tiba lampu-lampu neon







