Share

Bab 101

Author: Kak Han
last update publish date: 2026-04-01 21:48:56

​Seketika, kolom komentar pada siaran langsung itu meledak. Ribuan pasang mata terpaku pada wajah Rio yang mendadak pias.

​Rio tidak bisa menyembunyikan ekspresinya. Wajahnya memerah padam antara malu dan murka. Ia segera bersilat lidah, berteriak di depan ponselnya untuk menyelamatkan sisa-sisa harga dirinya.

"Bohong! Itu semua fitnah! Netizen, lihatlah bagaimana seorang penipu berbicara! Dia hanya ingin menghancurkan namaku karena dia tahu dia tidak punya hak atas Maudy! Aku punya surat dokt
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 103

    Malam itu, di dalam ruang kerja pribadinya yang terasa dingin, Bayu duduk di depan layar monitor yang memantulkan cahaya biru ke wajahnya yang kaku. Jemarinya diam mematung di atas tetikus, menatap sebuah dokumen digital yang selama ini ia simpan rapat-rapat sebagai saksi bisu penghinaan terhadap Maudy.​Ia tahu, mengungkap ini berarti membuka luka lama dan mempertaruhkan martabatnya sendiri sebagai pria yang pernah dibeli. Namun, melihat Maudy yang hancur lebur dihujat oleh warganet karena ulah Rio, Bayu tidak punya pilihan lain. Ia harus menghancurkan topeng Rio, meski tangannya sendiri harus ikut kotor.​"Ini untukmu, Maudy. Agar dunia tahu siapa iblis sebenarnya. Aku tidak peduli dengan nama baikku di masa lalu, asal nama baikmu di masa depan kembali bersih,” gumam Bayu pelan.​Dengan satu klik yang mantap, Bayu mengunggah serangkaian dokumen ke akun media sosial resminya yang kini diikuti jutaan orang.​Unggahan pertama adalah foto lembaran kertas bermeterai yang dia simpan baik

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 102

    Suasana di koridor rumah sakit itu mendadak hening. Namun keheningan yang menyakitkan. Bayu berdiri mematung di depan pintu ruang tindakan, tangannya mengepal hingga buku-buku jarinya memutih dan gemetar hebat. Rahangnya mengeras, menahan amarah yang meledak-ledak di dadanya. Ia ingin sekali menerjang Rio, menghancurkan wajah pria itu hingga tak berbentuk. Namun ia sadar akan satu kenyataan pahit: di atas kertas, ia kalah telak.​Secara hukum, Rio adalah suami sah yang memiliki hak penuh atas keputusan medis dan keberadaan Maudy di rumah sakit itu. Sementara Bayu hanyalah orang asing yang secara legal tidak memiliki ikatan apa pun dengan janin yang baru saja dinyatakan meninggal tersebut.​"Kau dengar itu, Bayu? Anak haram itu sudah tidak ada. Dan sekarang, kau tidak punya alasan lagi untuk berada di sini. Pergilah sebelum aku memanggil keamanan rumah sakit untuk mengusirmu karena mengganggu ketenangan keluarga kami!” seru Rio sambil melangkah mendekat, suaranya pelan tapi penuh racun

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 101

    ​Seketika, kolom komentar pada siaran langsung itu meledak. Ribuan pasang mata terpaku pada wajah Rio yang mendadak pias.​Rio tidak bisa menyembunyikan ekspresinya. Wajahnya memerah padam antara malu dan murka. Ia segera bersilat lidah, berteriak di depan ponselnya untuk menyelamatkan sisa-sisa harga dirinya. "Bohong! Itu semua fitnah! Netizen, lihatlah bagaimana seorang penipu berbicara! Dia hanya ingin menghancurkan namaku karena dia tahu dia tidak punya hak atas Maudy! Aku punya surat dokter yang menyatakan aku sehat!" seru Rio. Dia ingin segera mengakhiri live itu karena sudah merasa terpojok. Tapi, Bayu menghalangi.​Ibu Maudy pun tak tinggal diam. Ia menunjuk-nunjuk wajah Bayu dengan jari yang gemetar untuk membela menantunya."Kamu jangan mengarang cerita! Rio itu menantu idaman, dia tidak mungkin melakukan hal serendah itu. Kamu yang sudah menyihir anak saya, dan sekarang kamu mau memfitnah suaminya? Harta harammu itu benar-benar sudah meracuni otakmu!" bentak Ibunya Maudy d

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 100

    Suasana di dalam ruang perawatan itu mendadak berubah menjadi panggung sandiwara yang menjijikkan. Rio, yang sempat pucat karena cengkeraman tangan Bayu, tiba-tiba menyeringai licik. Dengan gerakan tangkas, dia merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel pintar model terbaru miliknya. Hanya dengan beberapa ketukan cepat, ia menyalakan fitur siaran langsung di akun media sosialnya yang memiliki ribuan pengikut.​"Lihat ini semua! Lihat wajah pria yang katanya miliarder baru ini! Dunia harus tahu siapa Bayu sebenarnya. Dia bukan pahlawan! Dia hanyalah mantan OB rendahan di perusahaanku yang lancang telah meniduri istri bosnya sendiri. Yakni istriku!” seru Rio dengan nada suara yang sengaja dikeraskan, mengarahkan kamera ponselnya tepat ke wajah Bayu yang sedang murka​Bayu tidak melepaskan cengkeramannya, tapi matanya menatap lensa kamera itu dengan sorot yang dingin dan mematikan. Para pengawal Bayu bergerak maju. Namun Rio justru semakin berani, ia sengaja memutar sudut pandang ka

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 99

    Belum sampai Rio dan Ibu mertuanya pergi, terdengar derap langkah kaki yang mantap dan berwibawa di koridor rumah sakit. Pintu ruangan terbuka lebar dengan sentakan kasar, memperlihatkan sosok Bayu yang berdiri tegak dengan setelan jas hitam rapi yang membalut tubuh tegapnya. Di belakangnya, beberapa pria berbadan besar dengan ekspresi wajah dingin berjaga dengan waspada, menciptakan aura intimidasi yang seketika membungkam ruangan tersebut.​Bayu memang tidak pernah benar-benar pergi. Meski Maudy tidak diperkenankan bertemu dengannya sejak pemakaman ayahnya, Bayu tetap menempatkan orang-orang terbaiknya untuk mengawasi setiap gerak-gerik di sekitar rumah itu dari kejauhan. Begitu Bayu mendapat laporan jika Maudy keluar dengan terburu-buru menuju rumah sakit, Bayu langsung memacu mobilnya, menembus kemacetan demi memastikan wanita yang ia cintai baik-baik saja.​Melihat Bayu yang tiba-tiba hadir seperti pahlawan di tengah keputusasaannya, pertahanan Maudy runtuh sepenuhnya. Tanpa meme

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 98

    Bau karbol yang menyengat di ruang pemeriksaan UGD seolah mencekik pernapasan Maudy. Ia terbaring lemah di atas brankar dengan wajah sepucat kertas, sementara dokter spesialis kandungan yang menanganinya baru saja meletakkan stetoskop dan melepas sarung tangan karetnya. Suasana ruangan itu sunyi, hanya diiringi suara detak jam dinding yang terasa menghujam jantung Maudy.​"Bagaimana, Dokter? Bagaimana dengan kondisi Anak saya…?" tanya Maudy dengan suara bergetar, dan nyaris tidak terdengar.​Dokter paruh baya itu menghela napas panjang, menatap Maudy dengan tatapan prihatin yang mendalam. "Pendarahannya cukup serius, Bu Maudy. Beruntung janin Anda masih bisa dipertahankan. Namun kondisinya sangat lemah.” jawab sang Dokter. Maudy terdiam. Pikirannya tidak karuan. Lalu dia kembali bertanya pada Dokter tersebut.“Apa penyebabnya Dok?” tanya Maudy untuk meyakinkan pikirannya. Meski dia sudah menduga itu terjadi karena ulah Rio semalam.“Dari hasil pemeriksaan, pendarahan ini dipicu oleh

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status