LOGINNamun raut terkejut pada Ibunya Maudy itu hanya untuk beberapa detik. Bukannya berterima kasih pada Bayu, atau menyesal telah merendahkan Bayu yang muncul di wajah Ibunya Maudy, melainkan gumpalan kebencian baru yang lebih pekat dan tudingan lebih buruk yang muncul."Bayu? Dari mana pelayan rendahan itu punya uang ratusan juta dalam sekejap? Maudy, kamu jangan mau dibodohi! Kalaupun benar dia yang membayar, Ibu justru makin ngeri. Itu pasti uang haram! Uang hasil kerja gelap atau hasil mencuri dari majikannya! Kamu mau nyawa Bapak diselamatkan pakai uang kotor seperti itu?" bentak Ibu Maudy, bibirnya bergetar karena emosi yang meluap."Ibu! Bayu tidak seperti itu!" bantah Maudy, suaranya melemah karena rasa lelah yang luar biasa."Halah! Jangan bela pencuri itu di depan Ibu! Ibu tidak sudi berterima kasih kalau memang dia pakai cara kotor untuk pamer di depan kita. Dia sengaja ingin membeli harga diri keluarga kita dengan uang haramnya! Setelah ini Ibu akan minta Rio mengembalikan
Maudy memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba menahan gejolak amarah yang hampir meledak di dadanya. Suara ibunya yang terus-menerus memuji Rio terasa seperti duri yang ditusukkan ke telinganya."Bukan Rio, Bu. Bukan dia," sela Maudy dengan suara bergetar, namun tetap berusaha rendah agar tidak memancing keributan di depan ruang operasi.Ibunya menoleh dengan tatapan meremehkan, satu alisnya terangkat tinggi. "Kalau bukan dia, lalu siapa? Malaikat turun dari langit? Jangan naif, Maudy. Di dunia ini tidak ada yang memberikan uang ratusan juta cuma-cuma tanpa alasan. Rio itu masih suamimu, dia punya tanggung jawab, dan dia punya uangnya. Ya sudahlah, yang jelas dia adalah dewa penyelamat bagi kita sekarang. Kita berhutang nyawa padanya!"Ibu Maudy mengibaskan tangannya seolah ingin mengusir perdebatan itu. "Dan yang jelas, pasti bukan pria sampah pujaanmu itu yang melunasi! Mana mungkin si Bayu itu punya uang sebanyak itu? Untuk makan besok saja dia mungkin harus menguras keringat le
Rio melempar senyum kemenangan yang sangat tipis, sebuah seringai yang hanya ditujukan untuk meruntuhkan mental Bayu. Sementara itu, Ibu Maudy terus menghujani Bayu dengan kata-kata kasar, menyanjung Rio setinggi langit seolah pria itu adalah pahlawan yang baru saja dibebaskan dari fitnah.Bayu tidak membalas. Ia memilih untuk menarik napas panjang dan memutar langkahnya. Namun, ia tidak pergi meninggalkan rumah sakit. Ia justru melangkah menuju bagian administrasi yang terletak di lantai dasar, jauh dari keributan di depan ruang ICU.Di depan loket administrasi, Bayu mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam legam yang selama ini ia simpan rapat-rapat."Lakukan pelunasan untuk seluruh biaya pasien di kamar Melati B1. Jika memang dibutuhkan tindakan medis seperti operasi atau apapun, lakukan. Saya yang akan menanggung biayanya," ucap Bayu dengan suara rendah kepada petugas administrasi. "Beberapa saat kemudian, Bayu kembali ke lantai atas. Ia melihat Ibu Maudy sedang sibuk berbic
Lantai beton penjara yang lembap menjadi saksi pertemuan yang menyesakkan antara ayah dan anak. Di balik jeruji besi yang dingin, Haris terduduk lesu di pojok sel, wajahnya tampak jauh lebih tua dengan rambut yang memutih tak teratur. Begitu mendengar suara langkah sepatu pantofel yang familier dan bunyi denting kunci sipir, Haris mendongak. Matanya membelalak tak percaya. Di sana, berdiri putra kebanggaannya, Rio, yang digiring masuk ke sel yang sama. "Rio? Kenapa kamu ada di sini? Harusnya kamu di luar sana mengurus pengacara untuk membebaskan Papa! Kenapa kamu malah ikut masuk ke lubang ini?" tanya Haris dengan suara bergetar, ia merangkak mendekat ke arah jeruji. Sementara Devi, dia berasa di sel khusus perempuan yang tak jauh dari sana. Mamanya Rio itu hanya bisa menangis tersedu-sedu sambil mencengkeram besi pembatas, meratapi nasib keluarganya yang kini benar-benar runtuh dan berkumpul di balik terali besi. Namun, reaksi Rio di luar dugaan. Tidak ada wajah ketakutan,
Pada saat yang hampir bersamaan, di lobi markas kepolisian pusat, Bayu melangkah dengan wajah yang sangat dingin. Ia mengenakan kemeja rapi yang kontras dengan kesehariannya sebagai pekerja kasar. Di tangannya, Bayu sudah membawa bukti kejahatan Rio.Bayu tidak lagi menunggu. Ia masuk ke ruangan penyidik senior yang sudah dikenalnya. Di atas meja, ia menebarkan bukti-bukti yang tidak bisa dibantah. Rekaman CCTV dan rekaman percakapan Rio dengan para eksekutor cukup untuk memenjarakan Rio."Saya ingin laporan ini diproses detik ini juga. Semua bukti digital sudah diverifikasi oleh ahli independen. Rio adalah dalang rencana pembunuhan itu,,” ucap Bayu dengan nada yang rendah namun berwibawa.Bayu merasa lega setelah menyerahkan bukti itu. Sudah tidak ada lagi yang perlu dia khawatirkan. Ia juga yakin dengan perlindungan tim keamanan yang ia sewa secara anonim di rumah Maudy, maka Maudy akan aman. Namun, satu hal yang luput dari kalkulasi Bayu adalah kegilaan Rio yang menyasar Bapak
“Berhenti mengatakan Bayu sebagai pria sampah! Keluarga Bayu pernah berjasa untuk keluarga kita. Kita berhutang budi pada dia. Beginilah caramu memperlakukan orang yang sudah menolong kita?” bentak Bapaknya Maudy.“Ibu ingat, tapi bukan berarti mengorbankan masa depan putri kita. Ibu nggak tega lihat Maudy tinggal di kontrakan pengap, kotor. Apalagi sebentar lagi dia akan melahirkan. Maudy lebih baik tidak bercerai dengan Rio karena Rio jauh lebih layak daripada mantan OB itu!” “Rio?Ibu lupa dengan apa yang sudah Rio lakukan pada putri kita. Menyuruh istrinya tidur dengan laki laki lain demi menutupi kekurangannya, itu sungguh di luar moral manusia!” Bapak Maudy pergi meninggalkan istrinya. Beliau tidak mau lama lama terpancing amarah dan tidak bisa mengendalikan emosi.Pada waktu yang bersamaan, pintu kamar rawat inap Maudy kembali tertutup. Kesunyian yang murni kembali menyelimuti ruangan itu. Bayu menarik napas panjang, membiarkan dadanya yang sempat tegang kembali rileks. Bay







