แชร์

Bab 245

ผู้เขียน: Kak Han
last update วันที่เผยแพร่: 2026-05-12 20:22:37
Maudy tidak bisa melanjutkan kata katanya. Terkadang rasa tidak percaya itu memang muncul begitu saja di dalam dirinya.

“Sudahlah Maudy. Jangan bebani diri kamu sendiri. Ikuti saja alurnya. Ibu hanya bisa berdoa semoga kamu mendapat yang terbaik.”

Matahari mulai condong ke arah barat, membiarkan cahaya keemasan yang hangat menyelinap masuk melalui jendela ruang tamu rumah Maudy.

Setelah momen penuh emosi di makam sang Ayah, Maudy merasakan sebuah ketenangan yang selama ini hanya menjadi a
Kak Han

Halo pembaca semua… Sembari menunggu kisah Bayu dan Maudy, bisa baca novel rekomendasi Author. Judul : Cerai! Kakak Ipar Memanjakanku Karya Author : Er_Su Terima kasih.

| 3
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (1)
goodnovel comment avatar
Ananda Yanto
taekkkkkkkkk
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 354

    Tuan Baskoro mengangkat tangan kanannya ke udara, sebuah gestur mutlak yang seketika memotong perdebatan sengit antara Ani dan Silvy. Wajahnya yang sarat akan guratan otoritas sama sekali tidak tersentuh oleh drama air mata ibu dan anak di hadapannya.​"Cukup! Kami ke sini bukan untuk menonton kalian saling berteriak. Silvy, keputusan kami sudah bulat. Kamu kami anggap tidak mampu mengasuh Dara dengan baik. Selama kamu masih membiarkan ibumu mengontrol rumah ini dan menjadikan cucu kami sebagai alat sirkus, Dara tidak aman bersamamu!" seru Tuan Baskoro, suaranya menggelegar dingin di ruang tamu yang sempit itu.​Mendengar vonis tersebut, insting seorang ibu di dalam diri Silvy seketika berontak. Rasa takut kehilangan anak mengalahkan segala rasa malunya pada mertua. Silvy bangkit berdiri, lalu berlari seketika ke dalam kamar. Di sana, Dara yang baru saja terbangun dengan wajah bantalnya langsung didekap erat-erat oleh Silvy.​Silvy membawa Dara keluar ke ruang tamu, memegangi tubuh ke

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 353

    Ketegangan dari ruangan Bayu, beralih ke rumah Silvy. Jarum jam baru saja menunjukkan pukul delapan pagi ketika dua buah mobil sedan mewah berwarna hitam legam berhenti tepat di depan pagar rumah.​Pintu mobil terbuka, menampilkan sosok sepasang paruh baya berpenampilan sangat elegan dan berwibawa. Mereka adalah orang tua kandung dari mendiang Baron, kakek dan nenek dari Dara. Sebagai bagian dari dinasti pengusaha yang sangat kaya raya dan dihormati di kalangan jetset, kedatangan mereka yang mendadak tanpa pemberitahuan seketika membuat dada Silvy berdegup kencang. Firasat buruk langsung menyergap benaknya.​Silvy bergegas membukakan pintu depan, sementara Ani mengekor di belakang dengan tatapan mata yang penuh tanda tanya.​"Mama... Papa..." sapa Silvy, suaranya bergetar halus saat mencium tangan kedua mertuanya.​Namun, tidak ada kehangatan yang menyambutnya. Ibu kandung Baron, Nyonya Citra, hanya menarik tangannya dengan dingin. Wajahnya yang terawat kencang itu tampak kaku, meman

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 352

    Sementara di ruang kerja Bayu suasananya penuh akan rencana perhitungan, suasana di kediaman Paman Heru justru berbanding terbalik. Gelak tawa kemenangan Tasya menggema renyah di ruang tengah, meruntuhkan sisa-sisa ketegangan akibat insiden pelabrakan malam sebelumnya.​Sore itu, Tasya duduk di sofa utama dengan kaki yang tumpang tindih, memegang cangkir tehnya dengan gestur yang teramat anggun. Di hadapannya, Paman Heru dan istrinya, Mama Tasya sedang mendengarkan setiap bait cerita putri mereka dengan binar mata yang penuh rasa bangga.​"Papa, Mama, kalian harus lihat sendiri bagaimana muka Maudy tadi siang di koridor kantor! Begitu aku tunjukkan map kontrak kerja dengan jabatan manajer regional, mukanya langsung pucat pasi! Dia benar-benar membeku, tidak berkutik sama sekali. Pasti di dalam hatinya dia syok dan iri setengah mati melihat pencapaianku!” seru Tasya, disusul tawa puas yang sengaja dikeras-keraskan.​Mama Tasya, yang memang memiliki sifat sama kompetitifnya, langsung me

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 351

    Maudy melangkah cepat menuju lift khusus eksekutif. Rasa bingung yang bercampur aduk dengan kejengkelan membuat langkah kakinya terdengar ketus di atas lantai marmer. Begitu pintu lift terbuka di lantai teratas, ia langsung melewati meja Cindy yang sempat menyapanya dengan terkejut, dan langsung mendorong pintu ruang kerja Bayu tanpa mengetuknya terlebih dahulu.​BRAK.​Suara pintu yang terbuka agak kasar itu membuat Bayu yang sedang fokus membaca berkas di balik meja kerjanya mendongak terkejut. Begitu melihat sang istri masuk dengan wajah memerah menahan kesal sembari menjinjing kotak makanan, Bayu langsung meletakkan penanya. Ia bangkit berdiri dengan dahi berkerut, menyadari ada sesuatu yang tidak beres.​"Maudy? Ada apa, Sayang? Kenapa wajahmu sampai seperti itu?" tanya Bayu, melangkah cepat menghampiri istrinya.​Maudy meletakkan paper bag berisi makan siang itu di atas meja sofa dengan sedikit sentakan. Ia bersedekap, menatap suaminya lekat-lekat dengan napas yang masih sediki

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 350

    Keesokan harinya, matahari ibu kota bersinar terik, memantulkan kilau kemegahan gedung pencakar langit milik Bayu. Di dalam salah satu ruang rapat lantai eksekutif, Tasya duduk dengan posisi tegak, senyuman percaya diri tak pernah lepas dari wajahnya yang dipoles riasan tebal. Di hadapannya, tiga orang panelis dari pihak Human Resources Development (HRD) berkali-kali mengangguk kagum membaca rangkuman riwayat hidup dan ijazah kelulusan luar negeri milik Tasya.​Proses wawancara berjalan sangat mulus, persis seperti yang sudah diprediksikan Tasya semalam. Mengingat posisi Manajer Pemasaran Regional yang dilamarnya memang membutuhkan kualifikasi internasional, pihak HRD langsung memberikan lampu hijau. Hari itu juga, Tasya dinyatakan diterima bekerja dan diminta menandatangani kontrak kerja untuk mulai aktif di awal minggu depan.​“Pa, aku benar benar diterima,” tulis Tasya pada pesan singkat yang dia kirim untuk Papanya. Dan tidak butuh waktu lama, heru membalas pesan putrinya dengan

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 349

    Mendengar racunan dendam putrinya yang kian tak terkendali, Heru mengembus napas berat. Ia tahu betul watak Tasya yang keras kepala dan selalu kompetitif jika sudah menyangkut nama Maudy. Namun, ancaman dingin dari Bayu di ruang perjamuan tadi masih menyisakan efek jeri yang nyata di benak Heru. Ia tidak ingin posisi keluarganya yang baru saja menata kaki di ibu kota langsung hancur berantakan hanya karena obsesi Tasya.​Heru berdeham keras, mencoba mencairkan ketegangan yang pekat di ruang keluarga itu dengan mengubah topik pembicaraan ke arah yang lebih produktif.​"Sudah, Tasya. Simpan dulu semua kekesalanmu tentang Maudy. Lebih baik sekarang kita bicara tentang masa depanmu. Kamu sudah menganggur cukup lama sejak lulus kuliah di luar negeri kemarin. Rencana kepindahan kita ke rumah baru ini kan juga salah satunya agar kamu bisa mulai merintis karier di sini," potong Heru dengan nada suara yang lebih serius.​Mendengar kata karier, sorot mata Tasya yang semula penuh kebencian seket

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 140

    Setelah Cindy keluar, Maudy segera melangkah menjauh, menciptakan jarak yang cukup lebar di antara dirinya dengan Bayu. Maudy berdiri di dekat jendela besar, membelakangi Bayu, seolah berharap udara sejuk di luar jendela itu bisa membantunya mendinginkan kepala yang terasa panas. DIa cukup mengena

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 145

    Setelah berdebat kecil dengan Cindy, Maudy dan Bayu kemudian masuk ke ruang CEO tersebut. Keheningan mendadak menyelimuti ruangan luas itu. Maudy tidak segera melangkah menuju kursi kulit yang berada di balik meja kebesarannya. DIa hanya berdiri terpaku di tengah ruangan, memandangi setiap jengkal

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 137

    Matahari pagi menyinari lobi gedung perusahaan milik Bayu, memantulkan cahaya pada lantai marmer yang dulu sangat sering dipijak oleh Maudy. Melangkah masuk ke gedung ini bagi Maudy adalah perjalanan menyusuri lorong waktu. Meskipun papan nama perusahaan kini telah berganti kembali ke identitas asli

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 136

    Rio menarik napas panjang, mencoba membusungkan dadanya kembali di hadapan para tetangga yang terus berbisik-bisik sinis. Urat di lehernya menegang, tanda bahwa ego pria itu sedang terluka hebat. Bukan Rio namanya jika ia membiarkan dirinya terpojok begitu saja. Dengan licik, dia mengalihkan tatapan

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status