Inicio / Romansa Pria / Mau Lagi, Om? / Bab 23 Mau Lagi, Om?

Compartir

Bab 23 Mau Lagi, Om?

Autor: My Nona
last update Fecha de publicación: 2026-10-11 20:31:31

Bayangan Dina akhirnya lenyap di balik pagar, tapi celetukan menusuk soal Mbak Yanti yang rajin ngokop tiap pagi masih terngiang jelas di telinga Burhan.

Pria itu membuang napas kasar menatap gerbang besi yang melompong sambil geleng-geleng kepala menahan geli bercampur pening.

“Bocah ini bener-bener ya ... polosnya kebangetan tapi celetukannya bikin jantungan! Mana pakai cemberut begitu segala lagi.”

Di sampingnya, Mbak Yanti menghela napas panjang sambil mengelus dadanya yang montok. Napas ja
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Mau Lagi, Om?   Bab 56 Mau Lagi, Om?

    Berniat mencari Dina langsung ke dalam pasar, Burhan segera melompat turun dari mobil, melangkah panjang menyeberangi jalan aspal yang berdebu disengat terik siang.Kakinya berderap mantap menerobos gerbang pasar kecamatan yang becek. Suasana lorong utama mulai melompong, kios-kios sayur kecil banyak yang sudah tutup dan dibereskan pemiliknya, hanya tersisa kios-kios sayur berukuran besar yang memang buka sampai sore hari.Burhan menoleh ke kiri dan ke kanan. Pandangan matanya menyapu tajam setiap sudut lorong yang tersisa, memperhatikan lalu-lalang orang barang kali bersinggungan jalan dengan Dina. Tapi hasilnya masih nihil. Batang hidung gadis itu sama sekali tak tampak.Tak ingin membuang waktu, Burhan bergegas melangkah menuju lapak Bude Puji, tempat Dina menyuruhnya menitipkan karung-karung sayur tadi pagi. Hanya kios itu satu-satunya tempat yang mungkin bisa memberikan petunjuk.Namun saat tiba di depan lapak semi-permanen itu, sosok Bude Puji tidak terlihat. Meja kayu panjangn

  • Mau Lagi, Om?   Bab 55 Mau Lagi, Om?

    “Tumben-tumbenan nolak dianter pulang ...” gumam Burhan heran. “Biasanya kalau liat mobil ini bawaannya antusias mau nebeng, cengengesan minta disopirin. Jelas ada yang gak beres.”Firasat ganjil itu menolak pergi dari dadanya. Tanpa pikir panjang, Burhan memutuskan menunda agendanya ke kantor kecamatan. Kesepakatan tanah atau tanda tangan berkas bisa menunggu, tapi rasa mengganjal di hatinya ini harus tuntas sekarang juga.Burhan memilih tetap diam di dalam kabin mobil yang terparkir tepat di seberang pintu masuk pasar kecamatan. Matanya mengawasi lalu-lalang orang, berniat mencegat Dina begitu gadis itu melangkah keluar membawa keranjang kosongnya.Namun menit demi menit bergulir lambat. Panas matahari kian terik memanggang atap Jeep, dan jarum jam di dasbor sudah bergeser menunjuk pukul sepuluh siang. Batang hidung gadis itu tak kunjung terlihat di pintu gerbang.Tepat saat rasa resahnya kian memuncak, dering ponsel di saku celananya memecah keheningan kabin. Burhan merogoh benda p

  • Mau Lagi, Om?   Bab 54 Mau Lagi, Om?

    Burhan melempar tiga helai celana dalam katun itu ke atas etalase kaca kasir dengan napas yang agak memburu. Mbak-mbak kasir bertubuh tambun di balik meja berusaha keras menahan kedutan di sudut bibirnya, pura-pura sibuk menghitung total harga dengan kalkulator butut. “Udah ini aja, Din?” tanya Burhan heran sambil merogoh dompet kulit tebal dari saku celananya. “Ambil baju sekalian, atau daster kek. Sendal juga boleh. Om yang bayar.” Dina menggeleng pelan sambil tersenyum manis menatap pria kota di sampingnya. “Iya, Om, gak apa-apa. Secukupnya aja. Tiga udah cukup buat ganti-ganti, yang satu dipake, yang dua dicuci. Buat apa banyak-banyak, menuh-menuhin lemari reyot Dina aja.”Deg.Batin Burhan mendadak bergemuruh hebat mendengar celotehan sederhana yang meluncur begitu tulus itu. Burhan langsung teringat pada mantan istrinya di kota—wanita serakah yang tak pernah puas menguras kartu kreditnya, merengek minta tas bermerek dan liburan mewah tanpa pernah menghargai kerja kerasnya.Sed

  • Mau Lagi, Om?   Bab 53 Mau Lagi, Om?

    Mobil Jeep Burhan akhirnya menepi di pangkalan tepi pasar kecamatan. Teriakan pedagang saling sahut dengan klakson angkot, pikulan kuli angkut, dan bau ikan asin yang bercampur dengan sayur segar. Selesai parkir, Burhan segera menarik tuas rem tangan, lalu melangkah turun ke bak belakang untuk membantu Dina menurunkan karung dan keranjang sayur. Dina sudah lebih dulu melompat turun dari jok depan, berjalan ke arah bak dengan langkah agak tertatih, kakinya sedikit mengangkang.“Jalannya kenapa, Din?” tanya Burhan, pura-pura polos.“Nggak usah pura-pura deh, Om. Ini juga gara-gara siapa coba?” sahut Dina enteng.“Gara-gara kamu suruh Om liatin apem bengkak kan? Terus minta nambah.”Wajah Dina langsung merona merah. “Kan Dina cuma suruh liatin, bukan malah dicucup terus disodok!”Burhan tergelak rendah, suara tawa beratnya beradu dengan riuh deru pasar. Ia menyambar satu karung goni berisi kentang basah dengan santai, otot lengannya menegang padat di balik kaos polo abu-abu ketat yang i

  • Mau Lagi, Om?   Bab 52 Mau Lagi, Om?

    Jemari Yanti meraba makin dalam ke dasar saku celana panjang Burhan. Ujung jarinya menjepit gumpalan kain tipis yang terasa licin dan agak lembap. Perlahan, ia menariknya keluar.Mata janda tiga puluh dua tahun itu seketika membelalak selebar piring. Napasnya tercekat kaku di kerongkongan.Di tangannya, terjuntai selembar celana dalam wanita berbahan kaos tipis warna merah muda cerah dengan renda kusam yang sudah agak mbrudul di pinggirannya. Ukurannya kecil, jelas tidak akan muat untuk pantat semok miliknya, dan mustahil juga kalau punya Endah.“Ya Gusti ... iki … suwal e sopo?!” Tangan Yanti gemetar hebat.Teka-teki beberapa menit lalu seketika berputar di kepalanya. Pemandangan Burhan yang telanjang dada dengan peluh membanjiri otot-otot kekarnya di udara dingin menusuk, serta wajah Dina yang merah padam dengan daster kusut acak-acakan, sampai cara jalan gadis itu yang meletat-meletot mengangkang lebar.Belum sempat Yanti mencerna semuanya, suara panggilan bapaknya mendadak terden

  • Mau Lagi, Om?   Bab 51 Mau Lagi, Om?

    Melihat mata menyelidik Yanti di teras semen, Burhan terlihat santai. Rahang tegasnya tetap tenang tanpa raut gugup.“Ini loh, Mbak, bantuin Dina angkat karung kentang. Berat banget ternyata,” sahut Burhan enteng.Mata Yanti menyipit tajam, jelas belum puas menatap pemandangan ganjil di depannya. “Nata sayur kok sampai buka baju to, Mas? Jam segini dinginnya nusuk tulang. Itu muka Dina juga merah banget.”Kali ini giliran Dina yang lekas maju. Gadis itu menepuk-nepuk debu di daster kusamnya dengan lagak sok sibuk.“Hoalah, ini tadi Dina sama Om angkatin keranjang sayur, Mbak. Tuh, dari depan sana ....” Dina menunjuk gerbang pekarangan, tempat sepedanya disandarkan. “Om Burhan kan mau ke kecamatan, jadi Dina nebeng sekalian ke pasar. Pas Om bantuin, keringetnya ngucur, Mbak. Jadi lepas kaos deh.”“Oalah, kamu ke sini pagi-pagi mau nebeng? Udah janjian to?” Dina nyengir polos tanpa beban. “Iya, Mbak. Janjian kemarin pagi itu lho.”Yanti manggut-manggut pelan. Ekor matanya sempat meliri

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status