Share

Bab 4

Author: Yina
Setelah mengatakan itu, Levi membelah kerumunan dan berlari keluar aula seperti orang gila.

Sebenarnya aku ingin memberitahunya bahwa tempat itu sama sekali bukan atap gedung. Itu hanya balkon mezanin hotel yang tingginya hanya dua meter lebih dari permukaan tanah.

Aku bahkan sudah mengatur tim keamanan untuk berjaga-jaga, semuanya sudah sangat aman.

Namun, Levi tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskan. Para tamu yang tadinya menatapku dengan iri kini mulai berbisik-bisik sinis.

"Lihat tatapan Levi tadi, rasanya seperti ingin melahapnya hidup-hidup! Hubungan mereka baik-baik saja? Pembohong!"

"Mampus! Dari wajahnya saja kelihatan kalau dia licik. Dia mau menyingkirkan adik angkat Levi demi posisi nyonya besar. Mimpi jadi orang kaya membuatnya jadi gila."

"Kakak-adik? Setelah bertahun-tahun tinggal bersama, pasti tumbuh perasaan lain, ‘kan? Diana ini benar-benar diselingkuhi di depan mata!"

Setiap kata yang mereka ucapkan terasa seperti pisau yang menyayat hati, membuatku merasa seolah jatuh ke dasar jurang.

Sebagai penanggung jawab utama konferensi pers ini, aku mengikuti kerumunan menuju balkon tersebut. Di sana sudah banyak orang berkumpul, mengarahkan ponsel mereka ke satu arah yang sama.

Levi sedang berlutut di hadapan Neina, merangkak maju inci demi inci.

"Neina, turunlah, Kakak mohon padamu!" Suaranya gemetar, dipenuhi ketakutan yang belum pernah kudengar sebelumnya.

"Kak, apa aku masih menjadi orang yang paling penting bagi Kakak?"

"Ya! Tentu saja!" Levi menjawab dengan cepat, nadanya sangat panik. "Neina, orang yang paling Kakak cintai selamanya adalah kamu. Nggak ada yang bisa melebihi posisimu. Nggak pernah ada!"

Neina akhirnya bersedia memalingkan wajah ke arah Levi. Dia memiringkan kepalanya, tampak seperti anak kecil yang polos.

"Lalu, bagaimana dengan wanita itu?" tanyanya sambil mencondongkan tubuhnya setengah senti lagi ke depan.

Wajah Levi memucat pasi karena ketakutan.

"Diana ... dia hanya mitra bisnisku!"

"Neina, kamulah hidupku!"

Mendengar kalimat itu, aku merasa jantungku seperti direnggut paksa. Rasa sakitnya begitu hebat hingga aku sulit bernapas.

Meski aku sudah memutuskan untuk melepaskannya, bagaimanapun juga, ini adalah hubungan yang terjalin selama tujuh tahun.

Baru saja dia bilang hubungan kami baik-baik saja, tapi sekarang? Huh, mitra bisnis dengan hubungan yang stabil.

Neina akhirnya tersenyum di balik tangisnya dan merentangkan tangan ke arah Levi. Levi segera menerjang maju, memeluknya erat, dan menghela napas lega panjang.

Neina membenamkan kepalanya di ceruk leher Levi, suaranya terdengar penuh keluh kesah seolah baru saja lolos dari maut. "Kak, biarkan aku tetap di sisimu. Jangan paksa aku pacaran lagi, ya?"

Lalu, di hadapan semua orang, dia menyingsingkan lengan bajunya. Di lengannya, deretan bekas luka tampak begitu mencolok dan mengerikan.

Mata Levi seketika memerah. "Apa ini ulah bocah dari Keluarga Kurniawan itu?"

Jantungku berdegup kencang. Tuan Muda Kedua Keluarga Kurniawan, Willy, adalah mantan pacar yang dikencani Neina selama tiga bulan, dan akulah yang mengenalkan mereka.

Detik berikutnya, Levi seperti orang kesurupan menerjang ke arahku dan menjambak rambutku.

"Diana, apa sebenarnya maumu?"

"Sejak kecil, aku bahkan nggak tega menyentuh ujung jarinya!"

"Tapi kamu justru membiarkan orang lain melukainya seperti ini!"

Cengkeramannya sangat kuat, dia sama sekali tidak peduli betapa sakitnya aku dijambak.

"Dia hanya gadis kecil yang rapuh, dia bahkan nggak pernah menjelek-jelekanmu sekali pun!"

"Kenapa kamu selalu ingin mencelakainya? Hanya karena aku menunda pernikahan kita?"

"Bagaimana bisa kamu sejahat ini?"

Setelah memaki, dia mengempaskanku dengan keras hingga tersungkur.

Hatiku terasa sangat pahit. Willy adalah pemuda yang kulihat tumbuh besar. Dia pemuda yang lembut dan sopan, bahkan nada bicaranya selalu rendah.

Terlebih lagi, saat itu Levi sendiri yang merasa pemuda itu cukup baik, makanya dia memintaku menjembatani mereka.

Kini, di tengah kemarahannya, dia melimpahkan semua kesalahan padaku.

"Berlutut! Minta maaf pada Neina!"

Aku tertawa karena saking marahnya. "Kenapa aku harus minta maaf?"

"Aku nggak pernah melakukan apa pun yang merugikannya, kenapa aku harus minta maaf?"

Levi menggelengkan kepala, menyeretku ke hadapan Neina, lalu dengan kasar menendang lipatan lututku.

Aku jatuh berlutut tanpa kendali, lututku menghantam lantai yang berkerikil hingga berdarah.

Levi lalu menatapku dari atas dengan tatapan dingin. "Berjanjilah pada Neina, bahwa kamu nggak akan pernah lagi melakukan hal menjijikkan seperti ini!"

"Kalau nggak, jangan harap kau bisa jadi bagian Keluarga Karga!"

Kamera ponsel di sekeliling kami menyala, diiringi suara rana yang riuh. Aku berjuang untuk berdiri dan menatap matanya.

"Pintu rumah Keluarga Karga milikmu itu, aku nggak sudi untuk masuk!"

"Tapi, jangan harap kamu bisa memfitnahku!"

Plak!

Sebuah tamparan keras mendarat di wajahku. Rasa amis darah mulai memenuhi mulutku.

Mata Levi dipenuhi kekejaman dan rasa muak.

"Tamparan ini untuk membuatmu sadar."

Kukira, meski tidak bisa menjadi kekasih, setidaknya kami adalah orang yang paling saling memercayai.

Namun sekarang, demi satu tuduhan Neina yang entah benar atau tidak, dia tega main tangan padaku.

Belum sempat aku bereaksi, Ayah sudah menerjang maju. "Diana! Apa kamu sudah gila? Cepat minta maaf pada Neina!"

Ibu juga ikut menimpali, "Ya, Diana, jadilah anak penurut. Cepat minta maaf, jangan buat masalah ini semakin besar!"

Air mataku tumpah seketika. Kecemasan di wajah mereka bukan karena aku terluka, melainkan karena takut menyinggung Levi dan menghambat bisnis keluarga.

Mereka tahu jelas bahwa aku difitnah, tapi tak satu pun berani bersuara. Mereka justru memaksaku tunduk pada Neina.

Ibu terus membujukku tanpa henti, sementara Ayah memohon ampun sambil memperhatikan raut wajah Levi.

Tatapan orang-orang di sekitar terasa seperti jarum yang menusuk kulitku. Ada yang kasihan, ada yang menghina, dan ada pula yang bersemangat menonton drama ini.

Levi merasa tidak puas dengan keras kepalaku. Dia menggelengkan kepala, menggendong Adik Kecilnya, dan membelah kerumunan.

Saat melewatiku, Neina menatapku dalam-dalam dan menyunggingkan senyum penuh makna.

Orang-orang mulai bubar. Aku berdiri di balkon itu untuk waktu yang lama, sampai angin mengeringkan bekas darah di tubuhku.

Setibanya di rumah, Ayah dan Ibu tidak ada.

Aku mengemasi koper kecil dan pindah ke apartemen kecilku sendiri.

Saat mengusap luka dengan obat merah, rasa perihnya membuatku mendesis, tetapi pikiranku justru menjadi jernih secara luar biasa.

Aku menyalakan laptop, mencari surel yang dikirim dosen pembimbingku bulan lalu. Surat undangan dari Royal Academy of Art di Negara Adaris.

Saat itu, aku masih cukup bodoh untuk membalas ke dosen pembimbingku.

[Hari pernikahan sudah dekat, untuk sementara aku tidak akan mempertimbangkannya.]

Melihat barisan kata itu, aku menarik napas dalam-dalam, jemariku mulai menari di atas papan ketik.

[Profesor, saya menerima undangan tersebut. Saya akan mulai masuk minggu depan.]

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mawar Kecil Beracun   Bab 8

    Zaky menyewa apartemen tepat di bawah unitku. Dia seperti "aksesori" berukuran besar yang menempel padaku setiap hari. Dia mengikutiku ke kelas, tidur siang di studio lukis, dan menyodorkan cat saat aku sedang berkarya. Dia tidak pernah mengungkit masa lalu, aku pun tidak pernah bertanya tentang masa depan.Sore itu, saat aku sedang menggambar sketsa, Levi mengetuk pintu apartemenku. Dia tampak kurus dan layu, dengan lingkaran hitam pekat di bawah matanya."Diana, hari itu aku terlalu impulsif. Aku sangat menyesal."Aku menggelengkan kepala. "Aku sudah nggak peduli lagi."Levi maju selangkah. "Aku akhirnya sadar bahwa perasaan Neina melampaui batas perasaan saudara. Menunda pernikahan sebelumnya adalah kebodohanku.""Ikut aku pulang, kita akan segera mengadakan pernikahan paling megah. Setelah menikah hanya akan ada kita berdua, oke?"Aku tersenyum tipis. "Nggak perlu. Kita sudah putus."Saat aku hendak menutup pintu, Levi menahan gagang pintu dengan kuat. Pada saat itulah, Zaky mu

  • Mawar Kecil Beracun   Bab 7

    Mengenai luka-luka di tubuh Neina, opini publik terus memanas. Willy merasa terdesak hingga akhirnya merilis pernyataan resmi. Pernyataan itu dengan tegas menyatakan bahwa dia dan Neina tidak pernah memiliki hubungan lebih dari sekadar teman, apalagi melakukan tindakan kekerasan.Levi bertanya pada Neina, "Sebenarnya dari mana asalnya luka-luka di tubuhmu itu?"Tubuh Neina gemetar sesaat. "Aku sendiri yang melakukannya.""Kenapa?" Levi menekan amarahnya."Karena aku merasa sakit!" Neina menunjuk luka-luka di tubuhnya. "Sakit di sini nggak ada apa-apanya dibandingkan seperseribu rasa sakit di hatiku!""Setiap kali aku membayangkan Kakak nggak sayang aku lagi dan bersanding dengan wanita lain, hatiku rasanya seperti disayat pisau! Aku nggak mau!" teriaknya histeris.Levi terpaku menatap Neina yang tampak hampir gila. "Lalu di balkon hari itu, kenapa kamu memfitnah Diana?""Aku nggak memfitnahnya. Aku nggak pernah mengatakannya."Otak Levi berdengung hebat. Dia mengingat kembali kejadia

  • Mawar Kecil Beracun   Bab 6

    Satu bulan telah berlalu. Levi sedang menangani dokumen, tetapi matanya selalu melirik ke arah layar ponsel tanpa sadar. Setiap kali layar menyala, nama yang muncul bukanlah nama yang dia harapkan.Dengan gusar, dia melemparkan pulpennya ke meja. Diana benar-benar bisa menahan diri. Kejadian di balkon hari itu, di hadapan begitu banyak orang, sikapnya memang agak buruk. Levi mengakui bahwa dia tidak cukup adil pada Diana. Namun dengan kondisi Neina saat itu, apa yang bisa dia lakukan?Levi membatin, setelah Diana puas bermain di Negara Adaris dan amarahnya mereda, dia pasti akan pulang. Saat itu, dia akan bicara baik-baik pada Diana dan memberinya kompensasi. Hubungan mereka selama bertahun-tahun tidak mungkin putus begitu saja....Satu minggu berlalu lagi. Di dalam kantornya, Levi menatap layar ponsel, tidak bisa lagi duduk dengan tenang. Perasaan kehilangan kontak total ini membuat hatinya terasa kosong, sebuah kegelisahan asing mulai tumbuh perlahan.Dia membuka kolom perc

  • Mawar Kecil Beracun   Bab 5

    Sebelum pergi, aku membereskan barang-barang lama. Satu-satunya hal yang perlu diselesaikan antara aku dan Levi adalah sahamku di perusahaannya. Perusahaan itu kami dirikan bersama saat kuliah, aku mencurahkan seluruh tenaga dan harta bendaku di sana. Setelah kejadian di balkon itu, Levi tidak pernah mencariku lagi. Sehari sebelum keberangkatanku, aku pergi ke kantornya. Melihat kehadiranku, Levi menyunggingkan senyum tipis yang hampir tak terlihat."Akhirnya kamu sadar juga? Aku sengaja mendiamkanmu beberapa hari ini agar kamu benar-benar merenung." Dia mengira pengabaiannya selama beberapa hari terakhir telah membuatku menyerah."Nggak ada yang perlu kurenungkan, hari ini aku datang bukan untuk berbaikan, tapi untuk perhitungan." Aku meletakkan surat pengalihan saham yang sudah kusiapkan di atas meja, lalu mendorong surat itu ke hadapannya.Levi tampak tidak sabar. "Neina bahkan nggak berniat menuntutmu, bahkan selama beberapa hari ini dia nggak pernah menjelek-jelekanmu. Kamu

  • Mawar Kecil Beracun   Bab 4

    Setelah mengatakan itu, Levi membelah kerumunan dan berlari keluar aula seperti orang gila. Sebenarnya aku ingin memberitahunya bahwa tempat itu sama sekali bukan atap gedung. Itu hanya balkon mezanin hotel yang tingginya hanya dua meter lebih dari permukaan tanah. Aku bahkan sudah mengatur tim keamanan untuk berjaga-jaga, semuanya sudah sangat aman.Namun, Levi tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskan. Para tamu yang tadinya menatapku dengan iri kini mulai berbisik-bisik sinis."Lihat tatapan Levi tadi, rasanya seperti ingin melahapnya hidup-hidup! Hubungan mereka baik-baik saja? Pembohong!""Mampus! Dari wajahnya saja kelihatan kalau dia licik. Dia mau menyingkirkan adik angkat Levi demi posisi nyonya besar. Mimpi jadi orang kaya membuatnya jadi gila.""Kakak-adik? Setelah bertahun-tahun tinggal bersama, pasti tumbuh perasaan lain, ‘kan? Diana ini benar-benar diselingkuhi di depan mata!"Setiap kata yang mereka ucapkan terasa seperti pisau yang menyayat hati, membuatku merasa s

  • Mawar Kecil Beracun   Bab 3

    Keesokan harinya, konferensi pers gabungan Keluarga Karga dan Keluarga Ferona digelar.Proyek ini telah memeras seluruh tenaga dan pikiranku selama setahun penuh. Menahan sakit kepala akibat sisa mabuk semalam, aku menelan dua butir obat pereda nyeri dan memilih setelan rok berwarna merah.Lokasi konferensi pers dipenuhi tamu undangan, lampu kilat kamera media terasa menyilaukan mata.Neina tidak datang, dan itu membuatku sedikit bernapas lega.Konferensi pers berjalan lancar. Saat produk baru dipamerkan sebagai penutup, terdengar decak kagum dari para hadirin.Sesi tanya jawab media tiba, seorang wartawan bertanya, "Nona Diana, Anda dan Pak Levi sudah menjalin hubungan selama tujuh tahun. Kenapa hingga kini belum melangkah ke jenjang pernikahan?"Hatiku terasa perih. Aku mematung di tempat, tidak tahu harus menjawab apa.Saat ini, apa hubungan antara aku dan Levi masih bisa disebut cinta?Bisik-bisik mulai terdengar dari bawah panggung."Sudah tujuh tahun nggak menikah juga, masuk ke

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status