Share

Bab 2

Author: Yina
Setibanya di rumah, Ayah dan Ibu sudah menungguku di ruang tamu.

Mendengar suara pintu terbuka, Ibu segera menyongsongku dengan senyum penuh harapan. "Gimana pengepasan gaunnya?"

Ayah, meski tidak bicara, juga meletakkan koran di tangannya.

Aku memaksakan senyum tipis dan memberi tahu mereka, "Pernikahannya batal lagi."

Aku terdiam sejenak sebelum menambahkan, "Aku dan Levi sudah putus."

"Jangan konyol!" Ibu langsung meninggikan suara. "Diana, kamu sudah dewasa, jangan bicara ikuti emosi. Levi sudah kesusahan besarkan adiknya, kamu harus mengerti."

"Ditunda bukan berarti dibatalkan. Bukannya hanya terlambat beberapa bulan? Tujuh tahun saja kamu sudah menunggu, apa salahnya menunggu beberapa bulan lagi?"

Aku menatap ibuku, air mata mengalir tanpa kendali.

Semua orang bilang aku harus memahaminya, lantas siapa yang memahamiku?

"Bu, tahun ini aku sudah 29 tahun!"

"Lagi pula, hubungan kakak-adik mereka itu sama sekali nggak wajar."

Ayah mengernyitkan dahi dan mendadak berdiri.

"Apanya yang nggak wajar? Mereka itu kakak-adik, wajar kalau dekat."

"Besok adalah konferensi pers gabungan Keluarga Ferona dan Keluarga Karga. Undangan sudah disebar, wartawan sudah diatur. Kamu bicara soal putus sekarang, apa kamu mau menghancurkan Keluarga Ferona?"

Aku membuka mulut, tetapi tenggorokanku begitu kering hingga tak ada suara yang keluar.

Apa mereka ini orang-orang terdekatku? Tak ada satu pun kata penghiburan untukku, yang ada hanyalah kecaman dingin.

Di mata mereka, kebahagiaanku bahkan tidak lebih berharga daripada sebuah konferensi pers.

Setelah keheningan yang lama, wajah Ayah sedikit melunak.

"Diana, Ayah sudah tua, kesehatan Ayah makin menurun. Ayah nggak tahu berapa tahun lagi bisa bertahan. Adikmu masih sangat kecil, siapa yang akan memikul beban keluarga sebesar ini?"

"Keluarga Karga sedang naik daun beberapa tahun terakhir ini. Kita butuh Levi."

Aku menatapnya dengan pandangan tidak percaya.

"Ayah, bukannya aku bisa memikul perusahaan keluarga kita?"

Aku memegang gelar ganda dalam manajemen dari luar negeri, dan proyek-proyek yang kutangani selama ini berjalan dengan sangat baik.

"Kamu?" Dia mencibir dan melambaikan tangan.

"Cepat atau lambat kamu akan menikah. Warisan Keluarga Ferona akan ditinggalkan untuk adikmu."

Aku memandanginya dengan perasaan tak menentu. "Ayah, apa Ayah lupa? Setelah lulus kuliah, siapa yang melepaskan pekerjaan mapan demi kembali dan membereskan kekacauan di Keluarga Ferona?"

"Proyek mangkrak di Utara kota, penagihan utang bank, hingga buruh yang datang melabrak. Aku sampai nggak tidur selama 72 jam berturut-turut!"

"Saat aku siang malam di lokasi proyek dan memantau alur kerja, apa yang Ayah katakan? Ayah bilang aku adalah pilar Keluarga Ferona, dan perusahaan paling aman berada di tanganku."

"Sekarang setelah kondisi stabil, Ayah bilang warisan keluarga itu untuk adikku. Ayah menganggapku ini apa?"

Wajah Ayah memerah padam, penuh dengan kemarahan karena merasa tersinggung.

Melihat suasana yang tegang, Ibu segera duduk di sampingku dan membujuk dengan lembut, "Diana, Ayahmu hanya sedang kalut, dia juga lakukan ini demi kamu."

"Ibu sudah lebih dulu makan asam garam, Ibu bisa melihat kalau Levi tulus padamu."

"Tahun lalu saat kamu sakit, dia memang nggak bisa datang tepat waktu. Tapi keesokan harinya dia langsung mengirimkan uang muka 20 miliar ke rekening keluarga kita tanpa memeriksa kontrak dengan saksama. Dia ingin kamu tenang saat masa pemulihanmu."

Uang 20 miliar.

Kutelan rasa pahit di lidahku. Tahun lalu karena sering lembur dan menjamu klien, sakit lambungku kambuh parah.

Aku menelepon Levi, tapi dia sedang menemani Neina merayakan ulang tahun dan tidak bisa diganggu.

Tiga puluh panggilan telepon, tak satu pun diangkat.

Setelahnya, dia mentransfer uang 20 miliar ke rekening Keluarga Ferona sebagai permohonan maaf.

Aku menghela napas panjang, tidak ingin berdebat lagi karena itu sia-sia.

Di mata orang tuaku, nilaiku hanyalah sebagai alat aliansi pernikahan.

Malam itu, aku pergi ke bar dan memesan minuman yang paling keras.

Setelah mabuk berat, aku membanting gelas kosong ke atas meja.

Sebuah tangan besar yang hangat menutupi mulut gelas itu.

Aku mendongak, pandanganku kabur.

Levi melepaskan mantelnya yang masih hangat dan menyampirkannya di bahuku.

"Kenapa tanganmu dingin sekali?"

Dia lalu berjongkok di hadapanku, meraup kedua tanganku dalam telapak tangannya, dan menggosoknya perlahan sambil meniupkan napas hangat.

Dalam keadaan linglung, seolah-olah aku melihat Levi tujuh tahun lalu.

Waktu itu, dia baru saja berselisih dengan keluarganya dan mulai merintis bisnis sendiri.

Musim dingin tahun itu sangat menggigit. Demi mengejar sampel baju sebelum pekan mode, aku memakai dua lapis mantel tebal dan berdiri di bengkel kerja yang berangin selama belasan jam.

Tanganku kaku hingga tidak bisa memegang gunting.

Levi berlari menghampiriku, memasukkan tanganku ke dalam kerah bajunya, dan menempelkan tanganku langsung pada dadanya yang panas membara.

Saat itu, hanya ada aku di matanya.

Levi merangkulku, menyodorkan air hangat ke bibirku.

"Diana, aku berjanji ini yang terakhir kalinya. Setelah konferensi pers selesai, kita akan mengadakan pernikahan yang megah."

Asalkan tidak menyebut nama Neina, dia adalah kekasih terbaik di dunia.

Aku begitu bodoh karena masih mendamba kelembutan ini, lalu memeluknya erat.

"Levi, setelah kita menikah, apa kita bisa pindah dan tinggal berdua saja?"

Gerakan tangan Levi yang sedang menghangatkan tanganku terhenti. Dia menghindari tatapanku dan menghela napas pelan.

"Itu urusan nanti."

Dia lalu berdiri untuk menggendongku, kerah bajunya menyentuh pipiku, dan aroma parfum langsung menyeruak masuk ke hidungku. Dior.

Itu parfum yang biasa dipakai Neina. Aku merasa mual seketika.

Lalu dengan sempoyongan, aku mendorong Levi menjauh.

"Nggak akan ada urusan nanti."

Levi terpaku sejenak. "Diana, kita ...."

Belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, layar ponselnya menyala, menampilkan foto profil Neina.

Beberapa detik kemudian, dia menyimpan ponselnya dan nada bicaranya berubah terburu-buru saat berkata, "Ada masalah di tempat Neina, aku harus ke sana sekarang."

"Aku sudah memesankan taksi untukmu, pulang dan istirahatlah yang cukup. Sampai jumpa di konferensi pers besok."

Dia merapatkan kembali mantel di tubuhku, lalu berbalik dan keluar dari bar.

Menatap punggung Levi, perlahan kulepaskan tanganku yang baru saja dihangatkan olehnya. Suhu di ujung jariku menghilang dengan cepat.

Tujuh tahun.

Apa yang sebenarnya kupertahankan?

Sebenarnya Levi sudah lama menentukan pilihannya, hanya saja aku terus membohongi diri sendiri.

Karena Levi begitu peduli pada Adik Kecilnya, lebih baik aku saja yang mengalah.

Aku menghubungi asistenku, "Tolong pesankan aku tiket pesawat ke Kota Garsi untuk minggu depan. Sekali jalan."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mawar Kecil Beracun   Bab 8

    Zaky menyewa apartemen tepat di bawah unitku. Dia seperti "aksesori" berukuran besar yang menempel padaku setiap hari. Dia mengikutiku ke kelas, tidur siang di studio lukis, dan menyodorkan cat saat aku sedang berkarya. Dia tidak pernah mengungkit masa lalu, aku pun tidak pernah bertanya tentang masa depan.Sore itu, saat aku sedang menggambar sketsa, Levi mengetuk pintu apartemenku. Dia tampak kurus dan layu, dengan lingkaran hitam pekat di bawah matanya."Diana, hari itu aku terlalu impulsif. Aku sangat menyesal."Aku menggelengkan kepala. "Aku sudah nggak peduli lagi."Levi maju selangkah. "Aku akhirnya sadar bahwa perasaan Neina melampaui batas perasaan saudara. Menunda pernikahan sebelumnya adalah kebodohanku.""Ikut aku pulang, kita akan segera mengadakan pernikahan paling megah. Setelah menikah hanya akan ada kita berdua, oke?"Aku tersenyum tipis. "Nggak perlu. Kita sudah putus."Saat aku hendak menutup pintu, Levi menahan gagang pintu dengan kuat. Pada saat itulah, Zaky mu

  • Mawar Kecil Beracun   Bab 7

    Mengenai luka-luka di tubuh Neina, opini publik terus memanas. Willy merasa terdesak hingga akhirnya merilis pernyataan resmi. Pernyataan itu dengan tegas menyatakan bahwa dia dan Neina tidak pernah memiliki hubungan lebih dari sekadar teman, apalagi melakukan tindakan kekerasan.Levi bertanya pada Neina, "Sebenarnya dari mana asalnya luka-luka di tubuhmu itu?"Tubuh Neina gemetar sesaat. "Aku sendiri yang melakukannya.""Kenapa?" Levi menekan amarahnya."Karena aku merasa sakit!" Neina menunjuk luka-luka di tubuhnya. "Sakit di sini nggak ada apa-apanya dibandingkan seperseribu rasa sakit di hatiku!""Setiap kali aku membayangkan Kakak nggak sayang aku lagi dan bersanding dengan wanita lain, hatiku rasanya seperti disayat pisau! Aku nggak mau!" teriaknya histeris.Levi terpaku menatap Neina yang tampak hampir gila. "Lalu di balkon hari itu, kenapa kamu memfitnah Diana?""Aku nggak memfitnahnya. Aku nggak pernah mengatakannya."Otak Levi berdengung hebat. Dia mengingat kembali kejadia

  • Mawar Kecil Beracun   Bab 6

    Satu bulan telah berlalu. Levi sedang menangani dokumen, tetapi matanya selalu melirik ke arah layar ponsel tanpa sadar. Setiap kali layar menyala, nama yang muncul bukanlah nama yang dia harapkan.Dengan gusar, dia melemparkan pulpennya ke meja. Diana benar-benar bisa menahan diri. Kejadian di balkon hari itu, di hadapan begitu banyak orang, sikapnya memang agak buruk. Levi mengakui bahwa dia tidak cukup adil pada Diana. Namun dengan kondisi Neina saat itu, apa yang bisa dia lakukan?Levi membatin, setelah Diana puas bermain di Negara Adaris dan amarahnya mereda, dia pasti akan pulang. Saat itu, dia akan bicara baik-baik pada Diana dan memberinya kompensasi. Hubungan mereka selama bertahun-tahun tidak mungkin putus begitu saja....Satu minggu berlalu lagi. Di dalam kantornya, Levi menatap layar ponsel, tidak bisa lagi duduk dengan tenang. Perasaan kehilangan kontak total ini membuat hatinya terasa kosong, sebuah kegelisahan asing mulai tumbuh perlahan.Dia membuka kolom perc

  • Mawar Kecil Beracun   Bab 5

    Sebelum pergi, aku membereskan barang-barang lama. Satu-satunya hal yang perlu diselesaikan antara aku dan Levi adalah sahamku di perusahaannya. Perusahaan itu kami dirikan bersama saat kuliah, aku mencurahkan seluruh tenaga dan harta bendaku di sana. Setelah kejadian di balkon itu, Levi tidak pernah mencariku lagi. Sehari sebelum keberangkatanku, aku pergi ke kantornya. Melihat kehadiranku, Levi menyunggingkan senyum tipis yang hampir tak terlihat."Akhirnya kamu sadar juga? Aku sengaja mendiamkanmu beberapa hari ini agar kamu benar-benar merenung." Dia mengira pengabaiannya selama beberapa hari terakhir telah membuatku menyerah."Nggak ada yang perlu kurenungkan, hari ini aku datang bukan untuk berbaikan, tapi untuk perhitungan." Aku meletakkan surat pengalihan saham yang sudah kusiapkan di atas meja, lalu mendorong surat itu ke hadapannya.Levi tampak tidak sabar. "Neina bahkan nggak berniat menuntutmu, bahkan selama beberapa hari ini dia nggak pernah menjelek-jelekanmu. Kamu

  • Mawar Kecil Beracun   Bab 4

    Setelah mengatakan itu, Levi membelah kerumunan dan berlari keluar aula seperti orang gila. Sebenarnya aku ingin memberitahunya bahwa tempat itu sama sekali bukan atap gedung. Itu hanya balkon mezanin hotel yang tingginya hanya dua meter lebih dari permukaan tanah. Aku bahkan sudah mengatur tim keamanan untuk berjaga-jaga, semuanya sudah sangat aman.Namun, Levi tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskan. Para tamu yang tadinya menatapku dengan iri kini mulai berbisik-bisik sinis."Lihat tatapan Levi tadi, rasanya seperti ingin melahapnya hidup-hidup! Hubungan mereka baik-baik saja? Pembohong!""Mampus! Dari wajahnya saja kelihatan kalau dia licik. Dia mau menyingkirkan adik angkat Levi demi posisi nyonya besar. Mimpi jadi orang kaya membuatnya jadi gila.""Kakak-adik? Setelah bertahun-tahun tinggal bersama, pasti tumbuh perasaan lain, ‘kan? Diana ini benar-benar diselingkuhi di depan mata!"Setiap kata yang mereka ucapkan terasa seperti pisau yang menyayat hati, membuatku merasa s

  • Mawar Kecil Beracun   Bab 3

    Keesokan harinya, konferensi pers gabungan Keluarga Karga dan Keluarga Ferona digelar.Proyek ini telah memeras seluruh tenaga dan pikiranku selama setahun penuh. Menahan sakit kepala akibat sisa mabuk semalam, aku menelan dua butir obat pereda nyeri dan memilih setelan rok berwarna merah.Lokasi konferensi pers dipenuhi tamu undangan, lampu kilat kamera media terasa menyilaukan mata.Neina tidak datang, dan itu membuatku sedikit bernapas lega.Konferensi pers berjalan lancar. Saat produk baru dipamerkan sebagai penutup, terdengar decak kagum dari para hadirin.Sesi tanya jawab media tiba, seorang wartawan bertanya, "Nona Diana, Anda dan Pak Levi sudah menjalin hubungan selama tujuh tahun. Kenapa hingga kini belum melangkah ke jenjang pernikahan?"Hatiku terasa perih. Aku mematung di tempat, tidak tahu harus menjawab apa.Saat ini, apa hubungan antara aku dan Levi masih bisa disebut cinta?Bisik-bisik mulai terdengar dari bawah panggung."Sudah tujuh tahun nggak menikah juga, masuk ke

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status