LOGIN
Zaky menyewa apartemen tepat di bawah unitku. Dia seperti "aksesori" berukuran besar yang menempel padaku setiap hari. Dia mengikutiku ke kelas, tidur siang di studio lukis, dan menyodorkan cat saat aku sedang berkarya. Dia tidak pernah mengungkit masa lalu, aku pun tidak pernah bertanya tentang masa depan.Sore itu, saat aku sedang menggambar sketsa, Levi mengetuk pintu apartemenku. Dia tampak kurus dan layu, dengan lingkaran hitam pekat di bawah matanya."Diana, hari itu aku terlalu impulsif. Aku sangat menyesal."Aku menggelengkan kepala. "Aku sudah nggak peduli lagi."Levi maju selangkah. "Aku akhirnya sadar bahwa perasaan Neina melampaui batas perasaan saudara. Menunda pernikahan sebelumnya adalah kebodohanku.""Ikut aku pulang, kita akan segera mengadakan pernikahan paling megah. Setelah menikah hanya akan ada kita berdua, oke?"Aku tersenyum tipis. "Nggak perlu. Kita sudah putus."Saat aku hendak menutup pintu, Levi menahan gagang pintu dengan kuat. Pada saat itulah, Zaky mu
Mengenai luka-luka di tubuh Neina, opini publik terus memanas. Willy merasa terdesak hingga akhirnya merilis pernyataan resmi. Pernyataan itu dengan tegas menyatakan bahwa dia dan Neina tidak pernah memiliki hubungan lebih dari sekadar teman, apalagi melakukan tindakan kekerasan.Levi bertanya pada Neina, "Sebenarnya dari mana asalnya luka-luka di tubuhmu itu?"Tubuh Neina gemetar sesaat. "Aku sendiri yang melakukannya.""Kenapa?" Levi menekan amarahnya."Karena aku merasa sakit!" Neina menunjuk luka-luka di tubuhnya. "Sakit di sini nggak ada apa-apanya dibandingkan seperseribu rasa sakit di hatiku!""Setiap kali aku membayangkan Kakak nggak sayang aku lagi dan bersanding dengan wanita lain, hatiku rasanya seperti disayat pisau! Aku nggak mau!" teriaknya histeris.Levi terpaku menatap Neina yang tampak hampir gila. "Lalu di balkon hari itu, kenapa kamu memfitnah Diana?""Aku nggak memfitnahnya. Aku nggak pernah mengatakannya."Otak Levi berdengung hebat. Dia mengingat kembali kejadia
Satu bulan telah berlalu. Levi sedang menangani dokumen, tetapi matanya selalu melirik ke arah layar ponsel tanpa sadar. Setiap kali layar menyala, nama yang muncul bukanlah nama yang dia harapkan.Dengan gusar, dia melemparkan pulpennya ke meja. Diana benar-benar bisa menahan diri. Kejadian di balkon hari itu, di hadapan begitu banyak orang, sikapnya memang agak buruk. Levi mengakui bahwa dia tidak cukup adil pada Diana. Namun dengan kondisi Neina saat itu, apa yang bisa dia lakukan?Levi membatin, setelah Diana puas bermain di Negara Adaris dan amarahnya mereda, dia pasti akan pulang. Saat itu, dia akan bicara baik-baik pada Diana dan memberinya kompensasi. Hubungan mereka selama bertahun-tahun tidak mungkin putus begitu saja....Satu minggu berlalu lagi. Di dalam kantornya, Levi menatap layar ponsel, tidak bisa lagi duduk dengan tenang. Perasaan kehilangan kontak total ini membuat hatinya terasa kosong, sebuah kegelisahan asing mulai tumbuh perlahan.Dia membuka kolom perc
Sebelum pergi, aku membereskan barang-barang lama. Satu-satunya hal yang perlu diselesaikan antara aku dan Levi adalah sahamku di perusahaannya. Perusahaan itu kami dirikan bersama saat kuliah, aku mencurahkan seluruh tenaga dan harta bendaku di sana. Setelah kejadian di balkon itu, Levi tidak pernah mencariku lagi. Sehari sebelum keberangkatanku, aku pergi ke kantornya. Melihat kehadiranku, Levi menyunggingkan senyum tipis yang hampir tak terlihat."Akhirnya kamu sadar juga? Aku sengaja mendiamkanmu beberapa hari ini agar kamu benar-benar merenung." Dia mengira pengabaiannya selama beberapa hari terakhir telah membuatku menyerah."Nggak ada yang perlu kurenungkan, hari ini aku datang bukan untuk berbaikan, tapi untuk perhitungan." Aku meletakkan surat pengalihan saham yang sudah kusiapkan di atas meja, lalu mendorong surat itu ke hadapannya.Levi tampak tidak sabar. "Neina bahkan nggak berniat menuntutmu, bahkan selama beberapa hari ini dia nggak pernah menjelek-jelekanmu. Kamu
Setelah mengatakan itu, Levi membelah kerumunan dan berlari keluar aula seperti orang gila. Sebenarnya aku ingin memberitahunya bahwa tempat itu sama sekali bukan atap gedung. Itu hanya balkon mezanin hotel yang tingginya hanya dua meter lebih dari permukaan tanah. Aku bahkan sudah mengatur tim keamanan untuk berjaga-jaga, semuanya sudah sangat aman.Namun, Levi tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskan. Para tamu yang tadinya menatapku dengan iri kini mulai berbisik-bisik sinis."Lihat tatapan Levi tadi, rasanya seperti ingin melahapnya hidup-hidup! Hubungan mereka baik-baik saja? Pembohong!""Mampus! Dari wajahnya saja kelihatan kalau dia licik. Dia mau menyingkirkan adik angkat Levi demi posisi nyonya besar. Mimpi jadi orang kaya membuatnya jadi gila.""Kakak-adik? Setelah bertahun-tahun tinggal bersama, pasti tumbuh perasaan lain, ‘kan? Diana ini benar-benar diselingkuhi di depan mata!"Setiap kata yang mereka ucapkan terasa seperti pisau yang menyayat hati, membuatku merasa s
Keesokan harinya, konferensi pers gabungan Keluarga Karga dan Keluarga Ferona digelar.Proyek ini telah memeras seluruh tenaga dan pikiranku selama setahun penuh. Menahan sakit kepala akibat sisa mabuk semalam, aku menelan dua butir obat pereda nyeri dan memilih setelan rok berwarna merah.Lokasi konferensi pers dipenuhi tamu undangan, lampu kilat kamera media terasa menyilaukan mata.Neina tidak datang, dan itu membuatku sedikit bernapas lega.Konferensi pers berjalan lancar. Saat produk baru dipamerkan sebagai penutup, terdengar decak kagum dari para hadirin.Sesi tanya jawab media tiba, seorang wartawan bertanya, "Nona Diana, Anda dan Pak Levi sudah menjalin hubungan selama tujuh tahun. Kenapa hingga kini belum melangkah ke jenjang pernikahan?"Hatiku terasa perih. Aku mematung di tempat, tidak tahu harus menjawab apa.Saat ini, apa hubungan antara aku dan Levi masih bisa disebut cinta?Bisik-bisik mulai terdengar dari bawah panggung."Sudah tujuh tahun nggak menikah juga, masuk ke







