تسجيل الدخولWaktu terasa berhenti.
Nicolle berdiri mematung di tengah jalan, dengan jantung yang berdegup terlalu keras.Dari jarak beberapa langkah, Nicolle bisa melihat dengan jelas Aveline memeluk kaki Raiden seperti dia mengenal pria itu.Sementara Raiden sendiri tidak bergerak.Mata Raiden membola saat anak kecil ini tersenyum ke arahnya. Satu kata itu keluar dari bibirnya dengan begitu mudah dan yakin.“Papa.”Ada sesuatu yang terjadi pada hati“Mayor Raiden bicara apa?” sahut Nicolle ketus.Raiden justru terkekeh pelan.Nicolle mengernyitkan dahi melihat reaksi pria yang selama ini bahkan jarang menunjukkan senyum.Lagipula pria itu seharusnya tidak tertawa karena tidak ada yang lucu.Nicolle mengalihkan pandangan ke Aveline di sebelahnya.“Aveline duduk yang benar,” perintah Nicolle tegas. “Mama masih bisa percaya pada Ave, kan?”Aveline menoleh.“Hari ini Ave sudah meminta maaf. Walaupun Mama memaafkan Aveline, bukan berarti Ave bisa sengaja membuat kesalahan lagi,” sambung Nicolle.“Iya, Ma ….”Aveline memanyunkan bibir. Namun dia menurut dengan menggeser duduknya ke posisi yang benar dan melipat kedua tangan di depan dada.Dari kaca spion tengah, Raiden melirik sekilas ke belakang.Nicolle langsung membalasnya dengan tatapan yang cukup tajam untuk membuat pria itu mengalihkan pandangannya kembali ke jalan.Aveline tiba di depan rumah beberapa menit sebelum jadwal kelasnya dimulai.Mia sudah menunggu di depan pagar. Kete
Nicolle tidak langsung menjawab. Dia menatap mata putrinya beberapa detik, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Aveline dan berbisik.Aveline membulatkan kedua matanya. Tidak percaya, tetapi juga tidak bertanya lebih lanjut.Dua jam berlalu dengan rutinitas yang membuat Nicolle sedikit bisa bernapas normal.Nicolle membantu Aveline mandi, memilihkan baju, dan menyisir rambut hitam panjangnya. Hal-hal kecil yang biasanya diurus oleh Mia.Setelah Aveline kembali masuk ke ruangan Mikaela, Nicolle melangkah ke sudut koridor dan menghubungi Mia.“Halo, Bi,” sapa Nicolle begitu panggilannya diterima. “Sudah sampai mana? Aveline sudah siap dijemput.”“Bu Dokter, maaf saya masih di sekitar rumah,” jawab Mia terdengar sedikit tidak enak. “Saya coba cari tukang ojek atau taksi dari tadi, tidak ada yang lewat, Bu. Bagaimana ini?”Nicolle mendesah pelan.Seumur hidupnya yang lahir dan besar di ibu kota, kesulitan mendapatkan transportasi umum belum pernah benar-benar masuk dalam daftar masalah ya
Waktu terasa berhenti.Nicolle berdiri mematung di tengah jalan, dengan jantung yang berdegup terlalu keras.Dari jarak beberapa langkah, Nicolle bisa melihat dengan jelas Aveline memeluk kaki Raiden seperti dia mengenal pria itu.Sementara Raiden sendiri tidak bergerak.Mata Raiden membola saat anak kecil ini tersenyum ke arahnya. Satu kata itu keluar dari bibirnya dengan begitu mudah dan yakin.“Papa.”Ada sesuatu yang terjadi pada hati Raiden, tetapi dia tidak bisa menjelaskannya.Raiden berjongkok untuk menyamakan tinggi tubuh gadis kecil itu.“Kamu memanggil saya Papa?” tanya Raiden pelan.Gadis kecil itu memudarkan senyumnya. Keningnya berkerut.Raiden menatap wajah itu lebih lekat. Sesuatu pada gadis kecil itu, membuat Raiden ikut mengernyit tanpa sadar.Cara gadis kecil ini mengernyitkan dahi, dan bagaimana dia tersenyum persis seperti Raiden. Terlebih lagi, mata gadis kecil in
Mikaela perlahan menoleh. “Main apa?” Suaranya kecil dan serak. Namun sudah cukup untuk membuat Aveline langsung menarik kursi dan duduk di tepi ranjang seolah mereka sudah berteman sejak lama. “Tebak-tebakan!” jawab Aveline antusias. Aveline memang tidak pernah butuh waktu lama untuk membuat seseorang nyaman di dekatnya. Tebak-tebakan berganti menjadi permainan menghitung benda-benda di ruangan. Beberapa menit berlalu, mereka sudah beralih ke permainan sederhana dengan jari-jari tangan yang tidak memerlukan banyak gerakan. Mikaela mulai mau merespons, dan tersenyum meski hanya setipis kertas. Lalu, di tengah satu permainan yang entah aturannya sudah berubah berapa kali, Mikaela tiba-tiba berhenti. “Aku lapar.” Kedua mata Nicolle membola senang. Nicolle menoleh ke perawat di sampingnya dan mengangguk singkat. Perawat itu membalas anggukannya dan segera pergi, langsung memahami bahwa yang harus dia lakukan saat itu adalah memberikan makanan pada Mikaela. Aveline memandangi
“Mikaela?!” panggil Nicolle tidak percaya.Gadis kecil itu berbaring dengan mata terpejam dan wajah pucat. Rambut hitamnya tergerai berantakan di atas bantal, dan di tangannya masih ada bekas tanah.“Dokter?” Olivia menoleh cepat. “Anda kenal pasien ini?”“Ya,” jawab Nicolle cepat. “Ini Mikaela.”Tidak salah lagi, gadis kecil di hadapannya adalah Mikaela. Anak perempuan yang pernah Nicolle temui di desa Sektor Timur dan memberikannya bunga.Anak perempuan polos yang menganggap seorang dokter sebagai malaikat. Kini dia terbaring kaku dengan kaki yang nyaris tidak bisa dikenali bentuknya.Nicolle mengepalkan tangannya di dalam sarung tangan, lalu melangkah maju.“Tekanan darah?” tanya Nicolle cepat.“Turun. Kita harus segera bertindak,” jawab Olivia.“Siapkan ruang operasi sekarang,” perintah Nicolle tanpa menoleh. “Kita tidak punya waktu.”Nicolle sudah mulai memeriksa luka Mikaela dengan cekatan. Darah masih merembes dan serpihan kecil tertanam di jaringan kulit.“Mikaela,” panggil Ni
Mobil berhenti, dan Nicolle sudah membuka pintu bahkan sebelum Brandon sempat mematikan mesin.“Aveline!” panggil Nicolle begitu kakinya menyentuh paving halaman depan. Dia menoleh ke arah Vance yang turun dengan langkah jauh lebih santai. “Ayo, Pa. Cepat!”Vance mendengkus. “Kamu tiba-tiba bersemangat sekali?”Nicolle tidak menjawab. Dia sudah menarik tangan Vance menuju pintu depan.“Mamaaa!” Aveline muncul dari balik pintu, rambutnya sedikit berantakan.Wajah Aveline langsung berbinar begitu melihat Nicolle. Dia berhenti mendadak saat matanya jatuh pada sosok tinggi di samping Nicolle.Nicolle tersenyum lebar. “Sini, Sayang. Ini–”“Aku tahu!” potong Aveline cepat, menunjuk Vance dengan penuh keyakinan polos. “Ini Kakek Tentala!”Vance membeku sepersekian detik. Lalu, tanpa bisa ditahan tawanya pecah.“Ten-ta-ra,” koreksi Nicolle pelan.Aveline menggeleng keras. “Tentala!”Vance kemb







