مشاركة

45. Paman Jahat!

مؤلف: prasidafai
last update تاريخ النشر: 2026-04-14 18:02:28

Aveline mengangguk pelan. Wajah gadis kecil itu penuh rasa bersalah. Alis kecil Aveline bertaut dan bibirnya gemetar menahan isak tangis yang belum selesai.

“Aku bilang dia jahat, tapi dia dolong aku,” jawab Aveline terputus-putus. “Telus aku ambil lego, aku tidak sengaja sekelas itu, Ma ….”

Tangis Aveline kembali pecah.

Nicolle menarik putrinya lebih erat ke dalam pelukan. Dia mengusap rambut gadis kecil itu.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   46. Dia Belum Mati

    Perlahan, Nicolle menoleh ke belakang sambil tersenyum. Dante melirik sekilas, sebelum akhirnya kembali fokus pada jalanan di depannya. “Ada tugas membuat pohon kelualga dali Miss,” lanjut Aveline dengan polos. “Tapi pohon kelualgaku tidak lengkap sepelti punya Reno dan teman-teman.” Mata Aveline masih tampak sembab, tetapi rupanya rasa ingin tahu gadis kecil itu sudah mengalahkan sisa tangisnya. Nicolle memandang wajah kecil itu beberapa detik. “Menurut Aveline,” sahut Nicolle akhirnya, “siapa yang paling sayang sama Aveline?” “Hmm ….” Aveline mengernyitkan dahi. Bibir Aveline mengerucut ke depan, terlihat sangat imut dan manis. “Di pohon keluarga,” lanjut Nicolle pelan, “Aveline bisa menulis nama orang-orang yang selalu ada buat kita. Mereka yang meyayangi Aveline. Kira-kira siapa yang selalu ada untuk Aveline?” Aveline tidak butuh waktu lama untu

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   45. Paman Jahat!

    Aveline mengangguk pelan. Wajah gadis kecil itu penuh rasa bersalah. Alis kecil Aveline bertaut dan bibirnya gemetar menahan isak tangis yang belum selesai. “Aku bilang dia jahat, tapi dia dolong aku,” jawab Aveline terputus-putus. “Telus aku ambil lego, aku tidak sengaja sekelas itu, Ma ….” Tangis Aveline kembali pecah. Nicolle menarik putrinya lebih erat ke dalam pelukan. Dia mengusap rambut gadis kecil itu. Beberapa detik berlalu. Nicolle menarik napas panjang, lalu melepasnya pelan. “Anak saya memang salah karena memukul,” tukas Nicolle sambil menatap tiga orang dewasa di hadapannya. “Dan saya tidak akan membenarkan itu.” Di seberang, Iris tersenyum tipis penuh kemenangan. “Tapi,” lanjut Nicolle sambil menatap kedua orang tua Reno lebih tajam, “alasan di baliknya tidak bisa diabaikan begitu saja. Jika sejak awal anak Anda tidak merend

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   44. Anak Haram

    Lampu lalu lintas di persimpangan jalan menyala merah. Nicolle terlambat menyadari, setengah detik sebelum akhirnya kakinya menginjak rem dengan cukup keras untuk membuat tubuhnya terdorong ke depan. Dari belakang, klakson panjang langsung menyalak. “Maaf … maaf ….” Nicolle bergumam ke arah kaca spion, meski pengemudi di belakangnya tidak mungkin mendengarnya. Nicolle menggenggam setir lebih erat. Pesan dari guru kelas Aveline masih terngiang di kepala Nicolle. Berulang-ulang, seperti kaset yang tidak bisa dihentikan. [Aveline terlibat perkelahian hingga Reno dilarikan ke klinik sekolah.] Nicolle baru membaca pesan itu hampir setengah jam setelah dikirimkan. Dan sekarang, mobil Nicolle baru memasuki jalan menuju sekolah Aveline, hampir satu jam setelah panggilan pertama dari guru kelas putrinya masuk.

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   43. Bukan Kabar yang Ingin Nicolle Dengar

    “Ada renovasi kecil dan Tuan Dante ikut membantu para tukang bangunan.” Olivia tersenyum lebar, matanya berbinar. “Pertunjukan pagi hari yang bagus, Dokter Nicolle harus melihatnya. Ayo!” “Nanti, Olivia, aku harus–” Sebelum Nicolle sempat menolak, tangan Olivia sudah menggenggam pergelangan tangannya dan menariknya. “Permisi, permisi,” ucap Olivia sambil tersenyum manis. Olivia menarik Nicolle untuk membelah kerumunan. Beberapa orang menoleh, memberi jalan. Dan dalam hitungan detik, Nicolle sudah berdiri di barisan paling depan. Nicolle melihatnya. Dante tengah mengaduk semen dengan kedua tangannya, tubuhnya condong ke depan, keringat mengalir di sisi lehernya. Kaus longgar yang Dante kenakan tidak cukup menyembunyikan lekukan otot lengannya setiap kali dia menggerakkan pengaduk semen. Pemandangan itu terlalu kontras dengan sosok Dante yang biasanya

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   42. Raiden Tertembak

    “Apa?!” Nicolle tidak bisa menahan diri untuk tidak memekik. Nicolle langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan. Meski terlambat, karena reaksi spontan tanpa filter itu sudah terdengar. Sama sekali tidak mencerminkan seorang dokter yang menerima laporan kondisi pasien. Lebih mirip seorang istri yang baru saja mendapat kabar buruk tentang suaminya. Nicolle mengerjapkan mata beberapa kali. Dia berusaha mengontrol dan merapikan raut wajahnya kembali menjadi lebih datar. Henry melirik ke arah Nicolle sebentar sambil mengernyitkan dahi heran, sebelum melanjutkan, “Dokter di sana sedang dalam perjalanan mendekati titik lokasi Mayor. Saat ini kita yang bisa memandu Mayor untuk melakukan pertolongan pertama pada dirinya sendiri.” Sebelum Nicolle sempat menjawab, suara dari sisi lain layar akhirnya terdengar. “Dokter Henry,” panggil Raiden, “saya menelepon Anda karena tahu Anda bisa

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   41. Tantangan Dante

    “Nicolle ….” panggil Dante dengan suara berat. Jarak mereka tinggal seinci. Hangat napas Dante menyapu wajah Nicolle, membuat bulu halus di tengkuknya berdiri. Ujung jari pria itu masih menopang dagunya, hanya butuh sedikit dorongan lagi untuk menutup jarak yang tersisa. Namun sebelum itu terjadi, Nicolle berbisik pelan, “Jangan seperti ini, Dante.” Dante terhenti seketika. Padahal hanya sepersekian detik lagi, keinginannya yang selama ini dia tahan akan benar-benar terwujud. Dante menahan napas. Bibir mereka masih sangat dekat, tetapi kini tidak lagi bergerak mendekat. Nicolle bisa merasakan panas tubuh Dante, bisa mendengar detak jantungnya yang tidak kalah cepat dari miliknya. Wanita itu menelan ludah dengan susah payah, tenggorokannya terasa kering. “Kamu tahu aku tidak akan ke mana-mana bersamamu,” lanjut Nicolle. Dante sedikit menjauh. Tidak sepenuhnya, tetapi cukup untuk bisa melihat wajah Nicolle dengan jelas. Tatapan Nicolle menghindarinya. Bibir wanita itu masih s

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   26. Lima Alasan Mayor Raiden

    “Mobil layanan dereknya sudah sampai mana?” tanya Raiden sambil menutup kap mesin mobil. Raiden menyeka telapak tangannya sekali, lalu berbalik menatap Nicolle. Nicolle membuka layar ponselnya. Titik biru di peta bergerak pelan menyusuri jalan yang tidak jauh dari po

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   24. Menutup Pintu

    Beberapa detik pertama, tidak ada yang bersuara. Di kejauhan, tawa anak-anak yang belum pulang masih terdengar samar. Nicolle tidak langsung menjawab. Wanita itu masih menatap Iris dengan tenang, tetapi kali ini lebih dingin dari sebelumnya. Sudah sejak lama, Nicolle tidak menyukai perkumpulan

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   23. Komite Orang Tua

    “Iris Cooper, B.A.,” jawab wanita itu sambil menyibakkan rambutnya ke belakang bahu. Deretan gelang emas di pergelangan tangannya bergerincing pelan. Cahaya matahari siang memantul pada logam kuning itu, membuat kilauannya semakin mencolok. Dua huruf t

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   22. Dua Tahun Lagi

    Abu terakhir surat itu mengendap di dasar asbak. Nicolle menarik napas panjang. Dia mengambil selembar kertas kosong dan sebuah pena. Kemudian tangannya mulai bergerak. “Papa jangan khawatir. Aku bisa menjaga diri di sini. Memang yang terpenting untukku adalah tidak lagi bertemu dengan Raiden. A

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status