로그인Lampu lalu lintas di persimpangan jalan menyala merah.
Nicolle terlambat menyadari, setengah detik sebelum akhirnya kakinya menginjak rem dengan cukup keras untuk membuat tubuhnya terdorong ke depan. Dari belakang, klakson panjang langsung menyalak. “Maaf … maaf ….” Nicolle bergumam ke arah kaca spion, meski pengemudi di belakangnya tidak mungkin mendengarnya. Nicolle menggenggam setir lebih erat.Perlahan, Nicolle menoleh ke belakang sambil tersenyum. Dante melirik sekilas, sebelum akhirnya kembali fokus pada jalanan di depannya. “Ada tugas membuat pohon kelualga dali Miss,” lanjut Aveline dengan polos. “Tapi pohon kelualgaku tidak lengkap sepelti punya Reno dan teman-teman.” Mata Aveline masih tampak sembab, tetapi rupanya rasa ingin tahu gadis kecil itu sudah mengalahkan sisa tangisnya. Nicolle memandang wajah kecil itu beberapa detik. “Menurut Aveline,” sahut Nicolle akhirnya, “siapa yang paling sayang sama Aveline?” “Hmm ….” Aveline mengernyitkan dahi. Bibir Aveline mengerucut ke depan, terlihat sangat imut dan manis. “Di pohon keluarga,” lanjut Nicolle pelan, “Aveline bisa menulis nama orang-orang yang selalu ada buat kita. Mereka yang meyayangi Aveline. Kira-kira siapa yang selalu ada untuk Aveline?” Aveline tidak butuh waktu lama untu
Aveline mengangguk pelan. Wajah gadis kecil itu penuh rasa bersalah. Alis kecil Aveline bertaut dan bibirnya gemetar menahan isak tangis yang belum selesai. “Aku bilang dia jahat, tapi dia dolong aku,” jawab Aveline terputus-putus. “Telus aku ambil lego, aku tidak sengaja sekelas itu, Ma ….” Tangis Aveline kembali pecah. Nicolle menarik putrinya lebih erat ke dalam pelukan. Dia mengusap rambut gadis kecil itu. Beberapa detik berlalu. Nicolle menarik napas panjang, lalu melepasnya pelan. “Anak saya memang salah karena memukul,” tukas Nicolle sambil menatap tiga orang dewasa di hadapannya. “Dan saya tidak akan membenarkan itu.” Di seberang, Iris tersenyum tipis penuh kemenangan. “Tapi,” lanjut Nicolle sambil menatap kedua orang tua Reno lebih tajam, “alasan di baliknya tidak bisa diabaikan begitu saja. Jika sejak awal anak Anda tidak merend
Lampu lalu lintas di persimpangan jalan menyala merah. Nicolle terlambat menyadari, setengah detik sebelum akhirnya kakinya menginjak rem dengan cukup keras untuk membuat tubuhnya terdorong ke depan. Dari belakang, klakson panjang langsung menyalak. “Maaf … maaf ….” Nicolle bergumam ke arah kaca spion, meski pengemudi di belakangnya tidak mungkin mendengarnya. Nicolle menggenggam setir lebih erat. Pesan dari guru kelas Aveline masih terngiang di kepala Nicolle. Berulang-ulang, seperti kaset yang tidak bisa dihentikan. [Aveline terlibat perkelahian hingga Reno dilarikan ke klinik sekolah.] Nicolle baru membaca pesan itu hampir setengah jam setelah dikirimkan. Dan sekarang, mobil Nicolle baru memasuki jalan menuju sekolah Aveline, hampir satu jam setelah panggilan pertama dari guru kelas putrinya masuk.
“Ada renovasi kecil dan Tuan Dante ikut membantu para tukang bangunan.” Olivia tersenyum lebar, matanya berbinar. “Pertunjukan pagi hari yang bagus, Dokter Nicolle harus melihatnya. Ayo!” “Nanti, Olivia, aku harus–” Sebelum Nicolle sempat menolak, tangan Olivia sudah menggenggam pergelangan tangannya dan menariknya. “Permisi, permisi,” ucap Olivia sambil tersenyum manis. Olivia menarik Nicolle untuk membelah kerumunan. Beberapa orang menoleh, memberi jalan. Dan dalam hitungan detik, Nicolle sudah berdiri di barisan paling depan. Nicolle melihatnya. Dante tengah mengaduk semen dengan kedua tangannya, tubuhnya condong ke depan, keringat mengalir di sisi lehernya. Kaus longgar yang Dante kenakan tidak cukup menyembunyikan lekukan otot lengannya setiap kali dia menggerakkan pengaduk semen. Pemandangan itu terlalu kontras dengan sosok Dante yang biasanya
“Apa?!” Nicolle tidak bisa menahan diri untuk tidak memekik. Nicolle langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan. Meski terlambat, karena reaksi spontan tanpa filter itu sudah terdengar. Sama sekali tidak mencerminkan seorang dokter yang menerima laporan kondisi pasien. Lebih mirip seorang istri yang baru saja mendapat kabar buruk tentang suaminya. Nicolle mengerjapkan mata beberapa kali. Dia berusaha mengontrol dan merapikan raut wajahnya kembali menjadi lebih datar. Henry melirik ke arah Nicolle sebentar sambil mengernyitkan dahi heran, sebelum melanjutkan, “Dokter di sana sedang dalam perjalanan mendekati titik lokasi Mayor. Saat ini kita yang bisa memandu Mayor untuk melakukan pertolongan pertama pada dirinya sendiri.” Sebelum Nicolle sempat menjawab, suara dari sisi lain layar akhirnya terdengar. “Dokter Henry,” panggil Raiden, “saya menelepon Anda karena tahu Anda bisa
“Nicolle ….” panggil Dante dengan suara berat. Jarak mereka tinggal seinci. Hangat napas Dante menyapu wajah Nicolle, membuat bulu halus di tengkuknya berdiri. Ujung jari pria itu masih menopang dagunya, hanya butuh sedikit dorongan lagi untuk menutup jarak yang tersisa. Namun sebelum itu terjadi, Nicolle berbisik pelan, “Jangan seperti ini, Dante.” Dante terhenti seketika. Padahal hanya sepersekian detik lagi, keinginannya yang selama ini dia tahan akan benar-benar terwujud. Dante menahan napas. Bibir mereka masih sangat dekat, tetapi kini tidak lagi bergerak mendekat. Nicolle bisa merasakan panas tubuh Dante, bisa mendengar detak jantungnya yang tidak kalah cepat dari miliknya. Wanita itu menelan ludah dengan susah payah, tenggorokannya terasa kering. “Kamu tahu aku tidak akan ke mana-mana bersamamu,” lanjut Nicolle. Dante sedikit menjauh. Tidak sepenuhnya, tetapi cukup untuk bisa melihat wajah Nicolle dengan jelas. Tatapan Nicolle menghindarinya. Bibir wanita itu masih s
“Bagaimana, Mayor?” Nicolle mengernyitkan dahi perlahan. “Mayor tidak mengirim apa?” Otak Nicolle mendadak berhenti berfungsi dengan semestinya. Seperti mesin yang dipaksa bekerja terlalu keras lalu tiba-tiba mati total. Nicolle tahu dia baru saja mendengar sesuatu,
“Saya hanya berdiri di sini.” Raiden tidak mengubah posisinya sedikit pun. “Kenapa Dokter Nicolle marah-marah?” Nicolle menatap Raiden tidak percaya. Alis Nicolle langsung bertaut. Beberapa detik wanita itu hanya menatap Raiden tanpa berkata apa-apa. D
“Oke … ini nyaman,” ucap Nicolle yang tengah duduk di depan cermin meja riasnya. Wanita itu sedikit membungkuk, mendekatkan dirinya dengan cermin. Sebuah lensa kontak baru sudah terpasang di mata kiri Nicolle. Di meja rias itu, botol kecil cairan antibakteri masih te
Aveline melambai dari balik pintu kelas sampai tubuh kecilnya tidak terlihat lagi di antara kerumunan anak-anak lain. Nicolle berdiri di luar pagar sebentar, memastikan Aveline sudah masuk ke kelas, sebelum akhirnya berbalik ke mobilnya. Di dalam mobil, Nicolle melir







