Share

124. Bicara Soal Ciuman

Penulis: prasidafai
last update Tanggal publikasi: 2026-05-13 21:06:52

Tatapan Raiden perlahan berubah.

Pria itu tidak langsung menjawab ucapan Olivia. Namun sorot matanya yang semula dingin mulai melemah sedikit demi sedikit, seolah ada sesuatu yang berhasil menembus pertahanannya.

Olivia menarik napas pelan sebelum kembali bicara.

“Saya tidak bermaksud lancang, Mayor. Namun menurut saya, menjalankan perintah dan memperjuangkan seseorang yang Mayor cintai bukanlah dua hal yang harus saling mengalahkan.”

Al
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
wh1teF1sh
pasti garq² si Lucyfer...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   144. Akhirnya Kamu Mengerti

    Naomi membuka mulutnya. Namun tidak ada kata yang keluar.Pertanyaan itu, yang pernah Naomi lempar begitu saja di hari peresmian gedung RSPU II seperti batu yang dibuang ke sungai tanpa tahu ke mana arahnya, sekarang kembali ke permukaan.“Menurutmu kenapa saya sampai memilih mati?”“Apa kamu pikir seseorang akan mengubur identitasnya sendiri kalau dia masih punya alasan untuk bertahan?”Saat itu Naomi tidak mengira Raiden akan benar-benar memikirkan pertanyaan itu.Malam ini, di ruangan yang berbau antiseptik dan hanya diterangi lampu tidur yang redup, pria itu menjawabnya.Suasana ruangan mendadak hening setelah Raiden akhirnya mengakui kegagalannya sebagai suami.Naomi perlahan menundukkan pandangan ke sisi ranjang yang kini digenggamnya tanpa sadar, ujung jarinya memutih.“Dulu, aku terlalu sibuk menyalahkanmu. Tidak pernah sekalipun aku bertanya, seberapa menderitanya

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   143. Jawaban Raiden

    Naomi berhenti mengangguk.Lucy, Sera, dan Tasya akan ke sini?“Dokter Nicolle.”Suara Henry membuat Naomi kembali.“Ya.” Naomi menjawab. “Saya mengerti, Dokter Henry. Saya akan menyampaikannya.”Panggilan itu sudah berakhir. Namun Naomi tidak bergerak.Punggung Naomi masih menempel di dinding lorong yang dingin, matanya tertuju pada layar yang sudah mati di tangannya.Di dalam kepalanya, kalimat terakhir Henry bergema.“Ibu, adik, dan mantan calon istrinya.”Naomi mengembuskan napas panjang.“Sesaat, aku lupa kalau Raiden punya tiga wanita menyebalkan yang mengelilinginya,” gumam Naomi pelan.“Dokter!”Olivia tiba-tiba muncul di ambang pintu.Sebelum Naomi sempat bereaksi, perawat itu langsung menarik tangannya.“Ikut saya!”“Tunggu!”Namun Olivia tidak memberi

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   142. Bukan Salah Aveline

    “Mayor Raiden membutuhkan penanganan secepatnya,” sahut Henry akhirnya dengan rahang mengeras. “Ini bukan waktunya memilih dokter.” “Dokter Henry.” Olivia tiba-tiba menyela. Semua orang menoleh ke arah perawat itu secara bersamaan, termasuk Henry yang tatapannya langsung mengeras. Olivia menelan ludah sebelum melanjutkan dengan nekat. “Dokter Nicolle yang mengoperasi bahu Mayor Raiden waktu itu. Jika harus ada operasi ulang, lebih baik Dokter Nicolle yang melakukannya lagi.” Tatapan Henry langsung berubah tajam. Perawat itu memamerkan giginya dengan canggung. “T-tentu saja, itu semua bisa dilakukan dalam pengawasan Dokter Henry.” “Saya sudah mempelajari seluruh riwayat operasi Mayor Raiden sebelumnya.” Naomi menambahkan tanpa ragu. “Kondisi bahunya bukan sesuatu yang asing bagi saya. Jika ada perubahan sekecil apa pun saat operasi berlangsung, saya bisa langsung mengenalinya lebih cepat dari siapa pun.” Henry mendengkus pelan. Matanya berpindah dari Olivia, ke Naomi

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   141. Dilarang Keras Kepala

    “Mundur!” Suara Raiden menggema keras di tengah koridor yang dipenuhi asap hitam. Namun sebelum Naomi sempat membalas, pria itu sudah lebih dulu menerobos masuk ke area runtuhan. “Mayor!” teriak Naomi panik. Langkah Raiden menghantam pecahan kaca di lantai. Asap tebal membuat mata pria itu perih, tetapi tatapannya tetap lurus tertuju pada tubuh kecil Aveline yang terjebak di balik lemari roboh. Brak! Lemari besar itu bergeser lagi akibat getaran dari langit-langit yang mulai runtuh sedikit demi sedikit. “Paman ….” Aveline menangis semakin keras. Raiden langsung menahan sisi lemari itu dengan tubuhnya sendiri sebelum benda berat tersebut menimpa Aveline sepenuhnya. Otot di bahunya langsung menegang hebat. “Nggh!” Rahang Raiden mengeras saat rasa nyeri menusuk dari bekas operasi di bahu kirinya. Luka yang bahkan belum pulih sempurna itu terasa seperti disobek dari dalam. “Mayor!” Naomi refleks maju satu langkah. “Jangan bergerak!” bentak Raiden. Suara pria itu terdengar be

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   140. Di Mana Aveline?

    Suara ledakan masih berdenging di telinga Naomi saat kesadarannya perlahan kembali. Semuanya terasa kacau. Pandangannya buram. Kepalanya seperti dihantam palu berkali-kali, sementara bau asap memenuhi paru-parunya setiap kali dia mencoba bernapas. Di sekelilingnya terdengar jeritan, suara benda runtuh, tangisan, juga langkah kaki orang-orang yang berlari panik tanpa arah. Lampu di langit-langit berkedip tidak stabil. Separuh unit gawat darurat sudah hancur. Kaca berserakan di lantai bersama bercak darah dan alat medis yang terlempar dari tempatnya. “Aaah ….” Naomi mengerang pelan sambil memaksakan tubuhnya bangkit. Cairan hangat masih mengalir dari pelipisnya. Begitu berhasil duduk, insting pertama yang muncul di kepalanya hanya satu. “Aveline!” Napas Naomi langsung memburu. Wanita itu buru-buru berdiri meski tubuhnya limbung hebat. “Aveline!” Suara Naomi pecah di tengah kepulan asap. Tidak ada jawaban. Naomi mulai berjalan tertatih keluar dari area unit gawat darurat yang

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   139. Kembali Lebih Cepat

    Malam itu rumah terasa jauh lebih hangat dibanding kepala Naomi yang dipenuhi kekacauan.Pintu rumah baru saja tertutup ketika langkah tergesa terdengar dari ruang tengah.“Bu Dokter, akhirnya pulang juga.”Mia berjalan mendekat sambil menggendong Aveline yang sudah setengah mengantuk.Rambut anak kecil itu berantakan, pipinya sedikit memerah karena terlalu banyak bermain.Begitu melihat Naomi, mata Aveline langsung terbuka lebih lebar.“Mama ….”Kedua tangan kecil itu langsung terulur.Beban yang sejak tadi membebani dada Naomi luruh seketika.Naomi segera meraih putrinya dari gendongan Mia. Pelukannya sedikit lebih erat dari biasanya.Aveline tidak protes. Gadis kecil itu justru membenamkan kepalanya ke lekukan leher Naomi.Naomi mengusap rambut putrinya perlahan lalu mengecup kepalanya lama.Mia yang sejak tadi mem

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status