Se connecterSpill bab berikutnya: Aku bakal jelasin sedikit soal kondisi Raiden kenapa semakin dia berusaha mengingat wajah Naomi, dia justru semakin lupa sama wajah Naomi, yaaaw (◠‿◕)
Lucy sedikit tersentak. Namun wanita itu cepat-cepat kembali memasang senyum lembutnya.“Ya … aku akan mengajar di sini,” jawab Lucy tanpa ragu. “Aku dengar mereka juga butuh tenaga pendidik.”Raiden tidak langsung menanggapi.Pria itu hanya menatap Lucy dalam diam selama beberapa detik. Tatapan yang membuat senyum Lucy perlahan mulai goyah.“Iya,” ujar Raiden akhirnya. “Itu betul.”Lucy tampak sedikit lega.“Tapi, Lucy,” lanjut Raiden tajam, “aku dan kamu tahu kalau pendidikan bukan hal yang kamu sukai.”Wajah Lucy membeku.Raiden perlahan berdiri dari kursinya. Tubuh tinggi pria itu membuat tekanan di ruangan mendadak berubah.“Daripada mengajar di kelas,” sambung Raiden dingin, “kamu lebih suka membuat konten media sosial bersama murid-muridmu tanpa izin orang tua mereka dan mengabaikan pelajaran.”“Kakak ….” Lucy menatap Raiden tidak percaya.“Itu fakta.”Lucy menggigit bibir bawahnya. “Itu bagian dari pelajaran juga. Sekarang anak-anak tidak akan suka jika hanya duduk dan mendeng
“Tunggu!”Langkah Nicolle berhenti.Selama sepersekian detik, Nicolle mengira topeng Lucy akhirnya retak.Wanita itu pasti akan marah, mencakar, atau setidaknya menunjukkan ekspresi asli yang dulu berkali-kali Nicolle lihat saat tidak ada orang lain di sekitar mereka.Namun saat Nicolle menoleh, Lucy justru tersenyum manis.“Terima kasih sudah memperhatikan calon suami saya dengan baik.” Suara lembut itu meluncur ringan, seolah tidak ada bara apa pun di baliknya.Lucy bahkan melangkah mendekat sambil mengulurkan tangan.“Perkenalkan,” ucap Lucy hangat, “saya Lucy Miller. Sebentar lagi akan menjadi Lucy Vargas.”Nicolle sedikit tertegun.Senyum, uluran tangan, dan tatapan mata polos yang tampak begitu tulus itu sama persis seperti gadis muda yang menjadi awal penderitaan Nicolle lima tahun lalu.Lucy yang berdiri di depan rumah Naomi sambil mengulurkan tangan dengan ceria, menyebarkan cerita bahwa Naomi menerima tamu laki-laki saat Raiden tidak dirumah, dan mengenakan jubah kelulusan s
“Mayor Raiden bicara apa?” sahut Nicolle ketus.Raiden justru terkekeh pelan.Nicolle mengernyitkan dahi melihat reaksi pria yang selama ini bahkan jarang menunjukkan senyum.Lagipula pria itu seharusnya tidak tertawa karena tidak ada yang lucu.Nicolle mengalihkan pandangan ke Aveline di sebelahnya.“Aveline duduk yang benar,” perintah Nicolle tegas. “Mama masih bisa percaya pada Ave, kan?”Aveline menoleh.“Hari ini Ave sudah meminta maaf. Walaupun Mama memaafkan Aveline, bukan berarti Ave bisa sengaja membuat kesalahan lagi,” sambung Nicolle.“Iya, Ma ….”Aveline memanyunkan bibir. Namun dia menurut dengan menggeser duduknya ke posisi yang benar dan melipat kedua tangan di depan dada.Dari kaca spion tengah, Raiden melirik sekilas ke belakang.Nicolle langsung membalasnya dengan tatapan yang cukup tajam untuk membuat pria itu mengalihkan pandangannya kembali ke jalan.Aveline tiba di depan rumah beberapa menit sebelum jadwal kelasnya dimulai.Mia sudah menunggu di depan pagar. Kete
Nicolle tidak langsung menjawab. Dia menatap mata putrinya beberapa detik, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Aveline dan berbisik.Aveline membulatkan kedua matanya. Tidak percaya, tetapi juga tidak bertanya lebih lanjut.Dua jam berlalu dengan rutinitas yang membuat Nicolle sedikit bisa bernapas normal.Nicolle membantu Aveline mandi, memilihkan baju, dan menyisir rambut hitam panjangnya. Hal-hal kecil yang biasanya diurus oleh Mia.Setelah Aveline kembali masuk ke ruangan Mikaela, Nicolle melangkah ke sudut koridor dan menghubungi Mia.“Halo, Bi,” sapa Nicolle begitu panggilannya diterima. “Sudah sampai mana? Aveline sudah siap dijemput.”“Bu Dokter, maaf saya masih di sekitar rumah,” jawab Mia terdengar sedikit tidak enak. “Saya coba cari tukang ojek atau taksi dari tadi, tidak ada yang lewat, Bu. Bagaimana ini?”Nicolle mendesah pelan.Seumur hidupnya yang lahir dan besar di ibu kota, kesulitan mendapatkan transportasi umum belum pernah benar-benar masuk dalam daftar masalah ya
Waktu terasa berhenti.Nicolle berdiri mematung di tengah jalan, dengan jantung yang berdegup terlalu keras.Dari jarak beberapa langkah, Nicolle bisa melihat dengan jelas Aveline memeluk kaki Raiden seperti dia mengenal pria itu.Sementara Raiden sendiri tidak bergerak.Mata Raiden membola saat anak kecil ini tersenyum ke arahnya. Satu kata itu keluar dari bibirnya dengan begitu mudah dan yakin.“Papa.”Ada sesuatu yang terjadi pada hati Raiden, tetapi dia tidak bisa menjelaskannya.Raiden berjongkok untuk menyamakan tinggi tubuh gadis kecil itu.“Kamu memanggil saya Papa?” tanya Raiden pelan.Gadis kecil itu memudarkan senyumnya. Keningnya berkerut.Raiden menatap wajah itu lebih lekat. Sesuatu pada gadis kecil itu, membuat Raiden ikut mengernyit tanpa sadar.Cara gadis kecil ini mengernyitkan dahi, dan bagaimana dia tersenyum persis seperti Raiden. Terlebih lagi, mata gadis kecil in
Mikaela perlahan menoleh. “Main apa?” Suaranya kecil dan serak. Namun sudah cukup untuk membuat Aveline langsung menarik kursi dan duduk di tepi ranjang seolah mereka sudah berteman sejak lama. “Tebak-tebakan!” jawab Aveline antusias. Aveline memang tidak pernah butuh waktu lama untuk membuat seseorang nyaman di dekatnya. Tebak-tebakan berganti menjadi permainan menghitung benda-benda di ruangan. Beberapa menit berlalu, mereka sudah beralih ke permainan sederhana dengan jari-jari tangan yang tidak memerlukan banyak gerakan. Mikaela mulai mau merespons, dan tersenyum meski hanya setipis kertas. Lalu, di tengah satu permainan yang entah aturannya sudah berubah berapa kali, Mikaela tiba-tiba berhenti. “Aku lapar.” Kedua mata Nicolle membola senang. Nicolle menoleh ke perawat di sampingnya dan mengangguk singkat. Perawat itu membalas anggukannya dan segera pergi, langsung memahami bahwa yang harus dia lakukan saat itu adalah memberikan makanan pada Mikaela. Aveline memandangi







