LOGINAroma mentega yang meleleh di atas wajan memenuhi dapur sejak matahari bahkan belum sepenuhnya naik.
Suara alat masak beradu pelan memecah keheningan pagi.Naomi berdiri di depan kompor dengan celemek sederhana yang dipinjam dari salah satu pembantu rumah tangga. Dia mengenakan bando, supaya rambutnya tidak ke mana-mana.Seorang pembantu yang sejak tadi memperhatikan akhirnya tidak tahan.“Nona, tidak perlu. Biar kami saja yang memasak.”“Dengan begitu, Mama dan Sera sama saja seperti membantuku.”Tasya bergerak lebih cepat dari siapa pun.Tangannya mencengkeram lengan Raiden sebelum pria itu sempat berbalik. “Tunggu dulu, Raiden. Apa maksudmu tadi?”Raiden berhenti. Dia menatap wajah ibunya, wajah yang sudah menua dengan garis-garis halus.“Jangan lagi percaya dengan apa yang Jenderal Viktor katakan, Ma. Dia hampir membunuhku,” jawab Raiden jujur.Wajah Tasya memucat seketika.Sera yang masih berdiri di sisinya juga membeku. Kemarahan di mata wanita itu belum sepenuhnya padam, tetapi untuk sesaat tergantikan oleh sesuatu yang lebih menyerupai ketakutan.Butuh lebih dari satu jam setelahnya.Satu jam Raiden berbicara dengan sabar, menjelaskan, menenangkan, mengulang kalimat yang sama dengan cara yang berbeda setiap kali Tasya mulai menangis atau Sera mulai memotong dengan bantahan. Namun akhirnya, perlahan
Raiden menatap lantai beberapa saat sebelum akhirnya mengangkat kepala.“Jenderal Viktor,” jawab Raiden.Vance mengangguk pelan.“Benar.” Tatapan pria tua itu mengeras. “Viktor yang paling diuntungkan.”Perjalanan menuju pemakaman berlangsung dalam suasana sunyi.Vance tidak ikut. Namun pria tua itu menyediakan mobil beserta sopir untuk mengantar mereka.Pria yang duduk di belakang kemudi itu juga merangkap sebagai pengawal.Naomi dan Raiden duduk berdampingan di kursi belakang.Jendela mobil memperlihatkan langit yang muram.Beberapa menit berlalu tanpa percakapan.Sampai akhirnya Naomi membuka suara. “Lucy sempat mengirimiku pesan.”Raiden menoleh.Naomi membuka ponselnya. Lalu menunjukkan layar tersebut kepada Raiden.“Maaf, Raiden.” Suara Naomi terdengar pelan. “Kalau aku tahu dia sungguh-sungguh dan mungkin sedang dalam keadaan terjepit, aku pasti akan menanggapi
Naomi menatap tangan Raiden yang masih menggenggam jemarinya.Entah karena suhu tubuh pria itu atau karena jantungnya sendiri yang mendadak berdetak lebih cepat, genggaman itu terasa hangat.Raiden mengangkat pandangan. Tatapan mereka bertemu.“Terima kasih juga sudah mengizinkanku menjalankan peranku sebagai papa Aveline,” lanjut Raiden.Naomi menelan ludah, berusaha menelan ketegangan yang tiba-tiba muncul tanpa diundang.“Aku sudah memaafkanmu,” balas Naomi. “Kamu juga sudah menunjukkan banyak perubahan yang membuatku yakin. Tapi lebih daripada itu semua, Aveline berhak tahu siapa ayahnya.”Raiden memperhatikan setiap kata yang keluar dari bibir wanita itu.Tatapan Naomi melembut saat mengingat putrinya.Raiden mengangguk perlahan. Wajahnya tampak serius.Naomi melanjutkan, “Sekarang, aku harap kamu berpikir jutaan kali jika akan melakukan sesuatu yang mungkin bisa menyakiti putrimu, Raiden.”
Raiden membeku.Untuk sesaat, pria itu merasa sedang melihat Naomi versi lima tahun.Tatapan tajam itu. Pipi yang menggembung karena kesal. Cara berdiri dengan kedua tangan bersedekap.Semuanya begitu mirip. Aveline benar-benar miniatur Naomi saat wanita itu masih berusia 21 tahun, masa awal-awal mereka pacaran.Dan entah kenapa, kesadaran itu membuat dada Raiden terasa hangat.“Aveline.” Raiden akhirnya melangkah mendekat. “Aveline, Paman tidak bermaksud ingkar janji. Maafkan Paman.”Pria itu berjongkok perlahan di depan gadis kecil tersebut. Tulang rusuknya masih terasa nyeri, tetapi Raiden mengabaikannya.Pria itu merentangkan kedua tangan, memberi kesempatan bagi Aveline untuk memilih.Aveline masih memanyunkan bibir. Matanya menyipit curiga, seolah sedang mempertimbangkan apakah permintaan maaf itu cukup tulus atau tidak.Beberapa detik berlalu. Lalu per
Naomi menoleh ke arah ranjang. Raiden masih terlelap. Dengkuran halus keluar dari bibir pria itu. Dadanya naik turun dengan tenang seolah dunia di luar kamar tidak sedang berusaha memburunya. Sementara ponsel di tangan Naomi terus bergetar. [Lucy Miller.] Nama itu berkedip di layar seperti peringatan. Naomi memandangi wajah Raiden beberapa saat. Memar di rahangnya terlihat semakin jelas dalam cahaya lampu kamar. Ada plester kecil di alisnya. Bekas luka yang membuat dada Naomi kembali terasa sesak. Baru beberapa jam lalu pria itu berhasil pulang dengan selamat. Sekarang Lucy menelepon. Naomi menghela napas panjang. Jarinya menekan tombol merah. Panggilan terputus. “Aku sedang tidak ingin berurusan denganmu malam ini,” gumamnya pelan. Saat ini Naomi tidak tahu Lucy menelepon sebagai siapa.
Begitu satpam membantu Raiden masuk ke kamar, wanita itu langsung menunjuk ranjang.“Dudukkan di sana, Pak.”Raiden bahkan belum sempat membuka mulut ketika Naomi sudah mendorong bahunya pelan agar bersandar di kepala ranjang.Pria itu meringis.“Pelan-pelan sedikit, Dokter.”“Ini sudah yang paling pelan,” sahut Naomi dingin.Raiden menurut.Lampu kamar yang hangat menerangi wajahnya dengan jelas sekarang.Sobekan di alis kanan, memar keunguan di rahang, dan bekas darah mengering di sisi leher. Belum lagi cara pria itu beberapa kali menahan napas setiap bergerak.“Lihat aku.” Tangan Naomi gemetar saat menyentuh wajahnya.Raiden mengangkat kepala.Naomi memeriksa luka di alisnya terlebih dahulu. Setelah itu jemarinya turun ke rahang pria tersebut.Raiden mendesis pelan.“Sakit?”“Sedikit.”







