Se connecterKencangkan sabuk pengaman kalian, mantemans. Sebentar lagi tamaaaat (つ✧ω✧)つ
“Dokter Nicolle!” Suara panik perawat itu memantul di lorong rumah sakit, berusaha mengejar wanita di depannya. Naomi tidak menunggu penjelasan lebih lanjut. Begitu mendengar nama Clara disebut, langkahnya perlahan berubah menjadi lari. Jantung Naomi memompa begitu keras hingga napasnya terasa memburu. Berbagai kemungkinan buruk berputar di kepalanya. Jangan sampai terlambat lagi. Beberapa tenaga medis yang berpapasan spontan menyingkir ketika melihat Naomi berlari menuju ruang perawatan intensif. Brak! Pintu kamar terbuka. Naomi masuk dengan napas terengah-engah. Dadanya naik turun. Namun seluruh tubuhnya mendadak membeku. Di atas ranjang, Clara perlahan menoleh. Sepasang mata yang selama hampir setahun tertutup itu kini menatap lurus ke arahnya. Bibir Clara bergerak pelan. “Dokter ... Nicolle ... saya ..
“Ya.” Vance menjawab tanpa ragu sedikit pun. “Lihat saja nanti di persidangan, Nao. Insting Papa jarang meleset.” Naomi terdiam. Ucapan Vance membuat satu potongan ingatan yang selama ini terkubur tiba-tiba muncul kembali. “Dia lumayan hebat di ranjang, meski memiliki wajah yang polos. Tapi sayang, sekarang kami sudah tidak bisa melakukan itu lagi,” ungkap Dante saat itu. Mata Naomi perlahan membelalak. “Jadi, wanita yang dia maksud adalah Lucy?” gumam Naomi lirih. Ruangan mendadak sunyi. Naomi memejamkan mata sejenak. Semua kepingan yang selama ini tercerai-berai perlahan mulai menyatu. Dante mengetahui identitas aslinya sebagai Naomi, padahal informasi itu hampir tidak diketahui siapa pun. Naomi mengembuskan napas panjang. “Lucy yang memberitahunya,” bisik Naomi pelan. Vance menatap putrinya tanpa menyela. Kini semuanya terasa jauh lebih masuk akal. Hampir dua minggu setelah Naomi keluar dari rumah sakit, persidangan Dante akhirnya dimulai. Naomi datang
Sore itu, Raiden mengantar Tasya pulang ke rumah. Begitu mobil berhenti di halaman, Raiden turun lebih dulu. Dia membukakan pintu untuk ibunya, lalu berjalan mengantarnya sampai ke teras. “Aku harus berangkat lagi, Ma,” ujar Raiden sambil melirik mobilnya. Tasya yang sedang mencari kunci rumah menoleh. “Berangkat?” Kedua alis wanita paruh baya itu terangkat. “Bukannya kamu masih mendapat izin menjaga Nicolle?” “Masih.” Raiden mengangguk. “Tapi ada tugas pengganti di Markas Besar selama aku tidak berada di garis depan.” “Markas Besar?” “Iya.” Senyum tipis muncul di bibir Raiden. “Ada perintah langsung dari atasanku.” Raiden mengembuskan napas pelan. “Sepertinya ...” Pria itu terkekeh kecil. “Aku mulai dipercaya lagi. Kali ini tanpa bantuan siapa pun.” Tatapan Tasya melembut. Perlahan wanita paruh baya itu mengusap lengan putranya.
Jemari Raiden yang hangat mengusap perlahan punggung tangan Naomi yang bebas dari selang infus. “Tidak apa-apa,” jawab Raiden lembut. “Jangan terlalu dipikirkan. Kalau aku bisa kembali ke sini, berarti aku sudah mendapat izin.” “Benarkah?” Tatapan Naomi melembut. Raiden mengangguk. “Aku tidak akan meninggalkan tugasku sembarangan, Nao.” Sudut bibir Raiden terangkat tipis. Naomi tertawa pelan meski gerakan itu membuat sisi tubuhnya sedikit nyeri. “Baiklah,” jawabnya lirih. Raiden mengecup pelan punggung tangan Naomi sebelum kembali menggenggamnya. Malam itu akhirnya berlalu dengan tenang. Keesokan paginya, suara langkah kaki kecil berlari memenuhi lorong rumah sakit. “Mama!” Pintu kamar perawatan terbuka. Aveline langsung berlari menghampiri ranjang Naomi sebelum Raiden sempat mengejarnya. “P
Suara gaduh terdengar samar di telinga Naomi.“Tekanan darah turun. Cepat, pindahkan ke ruang operasi!”“Jalur infus kedua sudah terpasang!”Kelopak mata Naomi bergerak pelan.Cahaya lampu yang menyilaukan langsung menyambut Naomi. Pandangannya masih kabur. Langit-langit putih rumah sakit bergerak perlahan di atas kepalanya.Naomi merasa tubuhnya berguncang mengikuti laju brankar yang didorong cepat di sepanjang koridor.Wajah-wajah panik para tenaga kesehatan menjadi pemandangan pertama yang berhasil ditangkap matanya.“Bu? Bu, apa Anda bisa mendengar saya?”Seorang dokter berlari di samping brankar sambil menyorotkan senter kecil ke mata Naomi.Naomi berusaha menjawab. Bibirnya sedikit terbuka. Namun rasa nyeri luar biasa langsung menjalar hingga ke rahangnya.“Ugh ....”Suara yang keluar hanya erangan pelan.“Jangan dipaksa bicara,” ujar dokter itu cepat. “Kami akan menanga
Naomi menarik napas pendek.“Dante Emilio,” jawab Naomi.Di seberang telepon, Vance langsung terdiam.Beberapa detik kemudian terdengar suara kursi bergeser, seolah pria paruh baya itu baru saja menegakkan duduknya.“Putra pemilik RSPU yang kamu curigai sebagai dalang di balik kecelakaan Clara?” tanya Vance memastikan.“Iya, Pa,” jawab Naomi.Vance mengembuskan napas pelan.“Kalau soal itu, bersabarlah sekitar dua hari lagi,” pinta Vance.“Kenapa?” Naomi mengernyit.“Bukti terakhir sedang diverifikasi,” jawab Vance.Naomi langsung mendesah. “Bukannya tadi Papa bilang bisa menyelesaikannya sebelum aku sampai rumah? Perasaanku tidak enak, Pa. Dante sedang ada di Lavel.”“Dan ...” Naomi menggigit bibir bawahnya. “Dia sepertinya memiliki hubungan dengan Lucy.”Beberapa detik berikutnya tidak ada suara apa pun dari ujung telepon.Keheningan itu justru membuat Naomi semakin
Sentuhan tangan Lucy yang menuntun telapak Raiden ke dadanya justru membuat sesuatu yang lain berdenyut di benak pria itu.Bukan gairah atau pun hasrat, melainkan kenangan. Begitu cepat dan tajam hingga membuat napas Raiden tertahan.Dulu, Naomi juga seperti ini. Wanita itu tida
“Jawab aku, Lucy!” desak Raiden. Raiden berdiri di ambang pintu. Rahangnya mengeras seperti batu. Sementara sorot mata Raiden tidak berpaling dari Lucy, menembus wanita yang masih berdiri kaku beberapa langkah di hadapannya itu. Lucy menelan ludah. Jemari wanita itu tanpa sadar meremas ujung
Ujung pulpen Raiden masih menggantung di atas kertas, tepat di bawah catatan ketiga tentang Dokter Nicolle.Tatapan pria itu melekat pada tulisan itu seolah kata-kata tersebut bisa menjawab kekacauan yang berputar di kepalanya.[Tiga, Dokter Nicolle tahu kalau atasanku selain Je
Pintu rumah itu terbuka bahkan sebelum langkah Raiden menyentuh anak tangga terakhir. Lucy sudah berdiri di ambang, mengenakan gaun berwarna krem dengan renda halus di bagian bahu. Rambutnya diikat longgar, beberapa helai jatuh membingkai wajahnya. Senyum gadis itu m







