Mag-log inMantemans, jangan lupa tetap rajin likes, komen, vote GEMS, dan kasih ulasan dengan bintang lima cerita Naomi-Raiden yaa. Keaktifan mantemans dalam berinteraksi akan sangat mempengaruhi keberlanjutan buku ini loh. Dengan begitu, aku juga semakin semangat dalam menulis. Mari berjuang bersama. Terima kasih dukungannya. Luvyuuuuu banget (。•̀ᴗ-)✧
Senyum mengejek Viktor tidak langsung menghilang.Pria itu bersandar santai di kursinya, seolah posisi sebagai narapidana yang menunggu hukuman mati tidak mengubah apa pun.Namun Naomi tetap tenang.“Tidak,” jawab Naomi pelan. “Ada hal lain yang ingin saya ketahui.”Viktor mendengkus.“Kamu pikir saya akan memberitahumu?” tanya Viktor sinis. “Apa pun yang ingin kamu ketahui itu, Naomi Frances?”Nada suaranya dipenuhi ejekan, seolah nama keluarga Frances adalah sesuatu yang menjijikkan.Naomi memejamkan mata sesaat. Wanita itu menarik napas panjang.Dia datang bukan untuk bertengkar. Apalagi membiarkan Viktor mengendalikan emosinya.Saat membuka mata kembali, Naomi langsung menatap pria itu.“Soal Lucy,” ucap Naomi. “Apa benar bukan Anda yang melakukannya?”Tatapan Viktor spontan menajam. Senyum mengejek di bibirnya perlahan memudar.“Seperti hasil persidangan.” Viktor akhirnya
Gideon berdeham pelan sambil menatap satu per satu orang yang masih berada di halaman belakang. Semua mata tertuju kepadanya, menunggu apa pun yang akan keluar dari mulutnya.Semua orang, kecuali Vance. Karena hanya mereka berdua yang selama ini mengetahui cerita itu.Gideon akhirnya menoleh pada bawahan paling setianya itu.“Bagaimana, Vance?” tanya Gideon pelan. “Ini cerita tentang kedua putrimu. Saya akan menghormati keputusanmu sebagai ayah mereka.”Seketika seluruh perhatian beralih kepada Vance.Pria itu diam cukup lama. Lalu mendengkus.“Rencananya, cerita ini tidak akan disembunyikan selama ini,” ucap Vance akhirnya. “Perasaan bersalah saya pada Naomi begitu besar. Sampai-sampai saya takut menceritakan kondisi kesehatan adiknya.”Vance menatap putrinya.Jantung Naomi berdegup lebih cepat.“Sekitar 28 tahun lalu,” lanjut Vance pelan, “saat Naomi berusia tiga tahun, Nicolle yang baru berusia satu
Naomi hampir saja berdiri mengikuti Vance dan Brandon ke dalam rumah. Namun sebuah tangan menahan pundaknya.“Jangan.” Suara Raiden terdengar tegas. “Kamu di sini saja. Jaga Aveline dan yang lain.”Naomi menoleh.Tatapan mereka bertemu sesaat.Pria itu sudah mengenakan ekspresi yang biasa Raiden pakai sebelum menghadapi sesuatu yang berpotensi berbahaya.Naomi mengangguk pelan.Raiden mengusap puncak kepala Naomi singkat sebelum berbalik.Begitu Raiden pergi, Alex langsung mengikuti dari belakang tanpa banyak bicara.Melihat itu, Naomi spontan menoleh ke arah putrinya.“Aveline, sini sayang.”Gadis kecil itu yang sejak tadi sibuk memperhatikan dekorasi pesta langsung berlari kecil mendekat.“Ada apa, Ma?”“Tidak ada apa-apa.” Naomi menarik Aveline berdiri di dekatnya. “Di sini saja dulu.”Aveline menurut tanpa membantah.Sementara itu, Olivia dan Henry saling
Naomi tersenyum. Kali ini senyumnya benar-benar tulus.Kepergian dari Palvenia terasa berat. Namun mengetahui masih ada orang-orang yang peduli padanya membuat dada Naomi menghangat.“Saya akan rutin menghubungi Dokter Henry dan Perawat Olivia,” janji Naomi.Henry mengangguk pelan.“Saya akan menagihnya jika Dokter Nicolle lupa.” Pria paruh baya itu melirik ke arah Olivia yang masih berdiri membeku seperti patung. “Ah ya, berpamitan pada Perawat Olivia pasti lebih sulit.”Olivia langsung menoleh. “Dokter Henry!”“Semoga berhasil, Dokter Nicolle,” lanjut Henry tanpa rasa bersalah.Naomi tertawa kecil. Kemudian dia menoleh ke arah Olivia.“Ada waktu sebentar untuk mengopi?” tanya Naomi.Mata Olivia perlahan memerah.“Kalau mau pergi, pergi saja, Dokter,” sahut Olivia berusaha terdengar tegar. “Palvenia dan Lavel masih satu negara. Zaman sekarang,
Senyum di wajah Naomi sudah menghilang bahkan sebelum mereka tiba di depan ruang Direktur Utama RSPU.Kotak perhiasan kecil yang dibawanya terasa dingin di tangan kiri.Sementara itu, Raiden berjalan di sampingnya tanpa banyak bicara. Namun dari langkah pria itu, siapa pun bisa melihat bahwa suasana hatinya sama sekali tidak baik.Begitu mereka sampai di depan pintu ruangan, salah satu penjaga langsung mengangkat tangan.“Maaf, Mayor.” Pria itu tampak gugup. “Yang diizinkan masuk hanya Dokter Nicolle.”Naomi bahkan belum sempat bereaksi.Raiden sudah melangkah melewati penjaga itu.“Kalau begitu anggap saja saya tuli.”“Mayor–”Raiden sama sekali tidak berhenti.Pria gagah itu membuka pintu dan mempersilakan Naomi masuk lebih dulu.Di dalam ruangan, Dante sudah duduk santai di sofa. Di sebelahnya terdapat ayah dan ibunya. Ketiganya menoleh bersamaan saat Naomi dan Raiden masu
Naomi membuka mulut.Namun sebelum sempat menjawab, ponselnya berdering nyaring. Getaran itu memecah ketegangan yang menyelimuti koridor.Naomi menunduk.Nama yang muncul di layar membuat dahinya sedikit mengendur.[Mayor Raiden.]Olivia ikut melirik layar ponsel itu.“Dari Mayor Raiden?” tebak Olivia.“Iya.” Naomi mengangguk pelan.“Kalau begitu saya lanjut bekerja dulu, Dokter.”Tanpa menunggu jawaban, Olivia langsung berbalik.Beberapa langkah kemudian wanita itu masih sempat melambaikan tangannya.“Dokter berutang cerita pada saya!” teriak Olivia.“Ya, ya.” Naomi tidak bisa menahan senyum tipis.Naomi mengangkat ponselnya.“Ya, Raiden?” Naomi menempelkan ponsel ke telinga sambil menatap lobi rumah sakit yang terlihat ramai dari kejauhan.Namun senyum kecil yang sempat muncul itu lenyap hanya dalam hitungan detik.Wajah Naomi dengan cepat
Tubuh Nicolle membeku. Napasnya tertahan di tenggorokan. Untuk beberapa detik, dunia seolah berhenti berputar. Dengan jantung yang berdebar keras, Nicolle memutar tubuhnya perlahan. Di luar pagar, di bawah sorot lampu jalan yang temaram, Raiden berdiri tegak dalam seragam dinas lapangan yang mas
Di jok belakang, Aveline yang semula sibuk mewarnai langit biru di buku gambar perlahan menghentikan gerakan krayonnya. Kepala kecil gadis itu terangkat dan alis mungilnya berkerut penuh rasa ingin tahu. Dia mencuri dengar. Tatapan bulat Aveline berpindah d
Panggilan itu sudah terputus, tetapi suara Vance masih bergema di kepala Nicolle. “Aku akan segera mengirimkan Benteng untuk membawa Senja ke rumahku.” Nicolle masih berdiri membeku di sudut luar bengkel. Dia mencengkeram ponsel begitu erat hingga buku-buku jarinya memucat. Dada Nicolle naik tur
Vance pernah bilang kalau selalu ada kemungkinan telepon mereka disadap. Jadi baik Nicolle, maupun Vance, tidak boleh menyebut nama asli masing-masing jika memang harus berkomunikasi menggunakan telepon. Kode ‘Melati’ adalah untuk Nicolle.







