Share

Bab 107

Author: Lailiela
last update publish date: 2026-09-18 10:20:29

“Mbah yakin ada sesuatu seperti itu di kaki saya?”

Dengan santai Damar menjawab,

“Tentu saja aku melihatnya. Jadi sekarang aku juga perlu untuk mengusirnya dari sana kan?”

Wiro tidak bisa mengelak. Ia segera maju lebih dekat sampai di tepi meja kemudian menarik kakinya dan memperlihatkannya lebih dekat lagi.

Sehingga Damar pun juga ikut mendekat.

Damar hanya membacakan sedikit mantra sehingga tanganya menyentuh area kaki Wiro, terlihat bercaha
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mbah Dukun Dambaan Wanita   Bab 125

    “Ya, aku harus mencari cara untuk mengeluarkannya. Apa sebaiknya aku gunakan artefak saja, ya?”“Uhm … bukankah maaf itu adalah milik para penyihir? Di zaman sekarang, bagaimana caranya kamu bisa mendapatkan benda itu dari para penyihir.”Wurip kembali melanjutkan, “Bahkan aku dengar keturunan penyihir itu sudah punah. Aku rasa tidak akan ada kesempatan bagimu untuk memiliki artefak itu.”Damar tidak bisa menyangkal ucapan Wurip karena benar adanya.“Itu benar, tetapi aku masih ingin mencoba untuk mencari. Jika tidak bisa dapat maka aku akan mengambil paksa jasad itu dari Gunung Lewi.” Damar sudah bertekad akan mengeluarkan jasad itu, maka hanya menunggu masalah waktu saja.----Beberapa hari berlalu semenjak kunjungan ke Gunung Lewi waktu itu. Damar juga sudah semakin berlatih keras untuk melepaskan benang kutukan yang masih berada di tangannya.Meski sudah retak, tapi kekuatan dari kutukan itu masih mengikat, menahan 9

  • Mbah Dukun Dambaan Wanita   Bab 124

    Demi menghindari beberapa murid dari para tetua gunung yang jumlahnya lumayan banyak.Damar sampai menggerutu saat melihat beberapa anak murid yang hampir saja memergokinya,“Sial, mereka ada di mana-mana!”Sampai akhirnya Damar mempercepat langkah sampai ia tiba di sebuah ruangan yang mana saat menerawang dari jarak dekat.Maka ia bisa melihat ada jalur masuk yang tersambung dari dalamnya sampai ke gua batu. Namun, saat mencoba menerawang lebih jauh Damar tidak melihat apa-apa selain warna hitam pekat.“Akhh … sial, aku tidak bisa melihat lagi! Tapi bagaimana caranya agar aku bisa masuk?”Melihat di depan pintu ada anak murid mereka yang menjaga di depannya. Hal itu membuat Damar agak kesusahan.Tapi untungnya pergantian jam waktu istirahat makan siang. Jadi mereka meninggalkan tempat itu dan mencari yang lainnya untuk mengganti posisi jaga sementara.Celah itu dimanfaatkan oleh Damar untuk masuk. Namun, t

  • Mbah Dukun Dambaan Wanita   Bab 123

    Saat mereka sudah berada dalam perjalanan, di jalan raya Damar mulai fokus untuk menyetir mobilnya.Namun, sesekali ia melirik ke arah Wurip.“Jadikan kamu kan, sudah sering pergi ke Gunung Lewi. Jadi sebaiknya tunjukkan saja arahnya.”“Eh, tadi bukannya kamu bilang Sekar sudah memberitahumu cara memakai GPS di ponsel itu?”Wurip menunjuk ke arah ponsel Damar yang sudah diletakkan di samping setir.Tetapi, jujur saja Damar sendiri masih bingung memahami peta di GPS.Karena itu Damar berniat untuk jujur saja pada Wurip,“Aku rasa tidak bisa, aku belum memahaminya.”“Begitu, baiklah aku akan menunjukkan tempatnya padamu …” Wurip mulai mengarahkan lokasi Gunung Lewi pada Damar.Sehingga dia hanya tinggal fokus menyetir saja sampai mereka berdua akhirnya sampai di bawah kaki gunung.Damar mencari tempat untuk parkir di sana dan akhirnya sampai di sebuah area lahan kosong di mana beberapa kenda

  • Mbah Dukun Dambaan Wanita   Bab 122

    “Dekatkan telingamu, maka aku akan membisikkan mantra yang harus kamu ucapkan ketika bertemu dengan adik iparmu nanti.”Joko pun akhirnya mendekatkan diri sampai ke meja, kemudian Damar mulai membisikkan mantra khusus itu kepadanya.Beberapa saat kemudian Joko mulai menghafalkan mantra yang baru saja dibisikkan ke telinganya. Namun, karena dia takut lupa akan mantra yang dihafalnya itu, jadi dia meminjam satu pulpen dan secarik kertas.“Tolong pinjamkan pulpen dan kertasnya, aku takut nanti setelah sampai di rumah malah melupakan mantra yang baru saja dikasih tahu.”Mendengar itu tentu saja Damar langsung menyodorkan kertas dan pulpen agar Joko bisa menulisnya.“Ini tulis saja di atas meja, jika ada yang salah maka aku akan memberitahu.”Joko pun mulai menulis di atas meja tempat di antara mereka berdua. Dengan menyingkirkan dua wadah sesajen agar ada tempat kosong untuk meletakkan kertas itu di meja.Dengan cepat Joko s

  • Mbah Dukun Dambaan Wanita   Bab 121

    “Aku rasa itu ide bagus. Kalau gitu tolong, ya.” Setelah Damar menyetujuinya, barulah Wurip pergi dalam sekejap mata. Sementara itu Damar lanjut merapikan meja tempat persembahan yang akan dibutuhkannya saat proses. Tangan Damar mengelap sampai bersih atas meja, kemudian ia menyusun beberapa wadah yang terbuat dari tanah liat. Dengan isi yang beragam di atasnya sehingga atas meja terlihat sangat banyak. Jari telunjuk Damar menunjuk satu per satu barang itu dan mulai menghitungnya dengan memastikan agar tidak ada yang terlupakan. Sehingga nanti Damar tidak perlu khawatir akan kekurangan benda untuk bahan ritual. Melihat sekeliling area halaman rumah dan juga dalam pendopo yang bersih. Itu semua pasti karena Sekar yang sudah membersihkannya. Damar duduk dengan santai di depan meja sambil merasa penasaran, sudah sampai mana Ririn berjalan memasuki hutan? Namun, tidak lama setelah itu Ririn akhirnya sampai juga di sana. Dengan napas yang tersengal-sengal, ia menatap masuk ke dalam

  • Mbah Dukun Dambaan Wanita   Bab 120

    Tetapi diam-diam Ririn kembali menatap wajah Damar, karena itu dia langsung mengangkat wajahnya kembali. Namun, ternyata Damar juga sedang melihat ke arahnya hingga selama beberapa detik mereka jadi saling pandang satu sama lain. Hal itu membuat Ririn kembali mengalihkan pandangannya ke arah lain. Damar kembali bicara, “Jadi …” “Kamu pernah nggak ceritain kejadian itu sama orang lain atau orang terdekat? Misalnya adikmu atau siapapun itu?” “Tentu saja tidak, aku belum pernah mengatakan hal ini pada siapa pun. Aku belum pernah mengatakannya pada siapa pun, sekalipun itu adalah adikku sendiri.” Damar memperhatikan Ririn dengan saksama, untuk memastikan apakah yang dikatakannya itu benar atau hanya sebuah sandiwara saja. Akan tetapi, saat melihat wajah Ririn yang tidak memperlihatkan tanda berbohong sama sekali, Damar pun menghela napas lega. Ia juga me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status