Share

Bab 123

Penulis: Lailiela
last update Tanggal publikasi: 2026-10-03 10:20:13

Saat mereka sudah berada dalam perjalanan, di jalan raya Damar mulai fokus untuk menyetir mobilnya.

Namun, sesekali ia melirik ke arah Wurip.

“Jadikan kamu kan, sudah sering pergi ke Gunung Lewi. Jadi sebaiknya tunjukkan saja arahnya.”

“Eh, tadi bukannya kamu bilang Sekar sudah memberitahumu cara memakai GPS di ponsel itu?”

Wurip menunjuk ke arah ponsel Damar yang sudah diletakkan di samping setir.

Tetapi, jujur saja Damar sendiri masih bingun
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Mbah Dukun Dambaan Wanita   Bab 123

    Saat mereka sudah berada dalam perjalanan, di jalan raya Damar mulai fokus untuk menyetir mobilnya.Namun, sesekali ia melirik ke arah Wurip.“Jadikan kamu kan, sudah sering pergi ke Gunung Lewi. Jadi sebaiknya tunjukkan saja arahnya.”“Eh, tadi bukannya kamu bilang Sekar sudah memberitahumu cara memakai GPS di ponsel itu?”Wurip menunjuk ke arah ponsel Damar yang sudah diletakkan di samping setir.Tetapi, jujur saja Damar sendiri masih bingung memahami peta di GPS.Karena itu Damar berniat untuk jujur saja pada Wurip,“Aku rasa tidak bisa, aku belum memahaminya.”“Begitu, baiklah aku akan menunjukkan tempatnya padamu …” Wurip mulai mengarahkan lokasi Gunung Lewi pada Damar.Sehingga dia hanya tinggal fokus menyetir saja sampai mereka berdua akhirnya sampai di bawah kaki gunung.Damar mencari tempat untuk parkir di sana dan akhirnya sampai di sebuah area lahan kosong di mana beberapa kenda

  • Mbah Dukun Dambaan Wanita   Bab 122

    “Dekatkan telingamu, maka aku akan membisikkan mantra yang harus kamu ucapkan ketika bertemu dengan adik iparmu nanti.”Joko pun akhirnya mendekatkan diri sampai ke meja, kemudian Damar mulai membisikkan mantra khusus itu kepadanya.Beberapa saat kemudian Joko mulai menghafalkan mantra yang baru saja dibisikkan ke telinganya. Namun, karena dia takut lupa akan mantra yang dihafalnya itu, jadi dia meminjam satu pulpen dan secarik kertas.“Tolong pinjamkan pulpen dan kertasnya, aku takut nanti setelah sampai di rumah malah melupakan mantra yang baru saja dikasih tahu.”Mendengar itu tentu saja Damar langsung menyodorkan kertas dan pulpen agar Joko bisa menulisnya.“Ini tulis saja di atas meja, jika ada yang salah maka aku akan memberitahu.”Joko pun mulai menulis di atas meja tempat di antara mereka berdua. Dengan menyingkirkan dua wadah sesajen agar ada tempat kosong untuk meletakkan kertas itu di meja.Dengan cepat Joko s

  • Mbah Dukun Dambaan Wanita   Bab 121

    “Aku rasa itu ide bagus. Kalau gitu tolong, ya.” Setelah Damar menyetujuinya, barulah Wurip pergi dalam sekejap mata. Sementara itu Damar lanjut merapikan meja tempat persembahan yang akan dibutuhkannya saat proses. Tangan Damar mengelap sampai bersih atas meja, kemudian ia menyusun beberapa wadah yang terbuat dari tanah liat. Dengan isi yang beragam di atasnya sehingga atas meja terlihat sangat banyak. Jari telunjuk Damar menunjuk satu per satu barang itu dan mulai menghitungnya dengan memastikan agar tidak ada yang terlupakan. Sehingga nanti Damar tidak perlu khawatir akan kekurangan benda untuk bahan ritual. Melihat sekeliling area halaman rumah dan juga dalam pendopo yang bersih. Itu semua pasti karena Sekar yang sudah membersihkannya. Damar duduk dengan santai di depan meja sambil merasa penasaran, sudah sampai mana Ririn berjalan memasuki hutan? Namun, tidak lama setelah itu Ririn akhirnya sampai juga di sana. Dengan napas yang tersengal-sengal, ia menatap masuk ke dalam

  • Mbah Dukun Dambaan Wanita   Bab 120

    Tetapi diam-diam Ririn kembali menatap wajah Damar, karena itu dia langsung mengangkat wajahnya kembali. Namun, ternyata Damar juga sedang melihat ke arahnya hingga selama beberapa detik mereka jadi saling pandang satu sama lain. Hal itu membuat Ririn kembali mengalihkan pandangannya ke arah lain. Damar kembali bicara, “Jadi …” “Kamu pernah nggak ceritain kejadian itu sama orang lain atau orang terdekat? Misalnya adikmu atau siapapun itu?” “Tentu saja tidak, aku belum pernah mengatakan hal ini pada siapa pun. Aku belum pernah mengatakannya pada siapa pun, sekalipun itu adalah adikku sendiri.” Damar memperhatikan Ririn dengan saksama, untuk memastikan apakah yang dikatakannya itu benar atau hanya sebuah sandiwara saja. Akan tetapi, saat melihat wajah Ririn yang tidak memperlihatkan tanda berbohong sama sekali, Damar pun menghela napas lega. Ia juga me

  • Mbah Dukun Dambaan Wanita   Bab 119

    Permintaan Damar membuat Sekar hendak kembali berjinjit. Namun, kedua tangan Damar malah mengangkatnya sampai sepinggang hingga posisi mereka jadi sama tingginya.Mata Sekar fokus pada bibir Damar. Perlahan ia menundukkan wajahnya sampai bibirnya mulai mencium Damar.Ritme ciuman Sekar terlalu lambat dan terasa ringan sehingga Damar tidak tahan dan mengambil alih kendali.Ia memeluk tubuh Sekar, sembari menciumnya lebih dalam. Langkah Damar perlahan menuju ranjang, ia bahkan mendudukkannya.Tangan mereka bergerak sambil membukakan pakaian masing-masing, sampai tanggal dari tubuh.Keduanya sama-sama menginginkan satu sama lain sampai tengah malam.---Esok harinya ketika matahari sudah berada di atas kepala, terik yang menyilaukan hingga panas terasa menyengat.Damar mengantar Sekar sampai halte bus, membawakan satu buah koper dan juga tas jinjing milik Sekar.Saat sampai di depan bus, Sekar meraih

  • Mbah Dukun Dambaan Wanita   Bab 118

    “Ahh … kamu mengagetkanku saja!” Dian mengelus dadanya.“Maaf, aku sudah membuatmu terkejut. Sebenarnya Mbah Damar menyuruhku untuk tidak langsung masuk ke dalam.”Sekar diam-diam memperhatikan penampilan Dian yang terasa berbeda. Dari aura dan wajahnya, jelas dia jadi lebih cantik dari sebelumnya.Tapi bagaimana bisa seperti itu? Apa mungkin ini karena susuk yang dimasukkan tadi?“Ehm, jadi sedari tadi kamu nunggu di depan pintu?” tanya Dian.“Nggak dari tadi juga sih. Aku baru aja kok. Soalnya dari tadi aku ada urusan di luar. Terus saat Mbah keluar, aku masuk dan dia bilang jangan masuk ke kamar gitu aja.”Sekar sengaja mendekat ke samping Dian untuk melihat wajahnya lebih dekat.“Mbah bilang kamu dari tadi kesakitan karena pemasangan susuk, ya? Emang sesakit itu?”Mendengar ucapan Sekar membuat Dian langsung mengingat kejadian, di mana Damar yang menghujam keperkasaan menusuk lubang miliknya dengan sangat da

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status