เข้าสู่ระบบ“Jadi bagaimana, apa kamu mau meminjamkan kekuatanmu?”“baiklah aku akan pinjamkan, tapi setelah itu aku akan menagihnya kembali. Oh ya, tapi ini tidak gratis.”Damar mengangkat alisnya saat tahu Hyang Wurip mencoba untuk bernegosiasi dengannya. “Tidak gratis?”“Yah, katakan pada garis kecil itu.”Wurip menunjuk ke arah Sekar yang sedang membersihkan area bawah pohon besar di halaman. “Dia harus membuatkan persembahan yang sangat lezat untukku besok. Gimana sepakat?”“Baiklah aku akan menyuruhnya untuk menyiapkan persembahan untukmu.”Sejenak Damar sempat bergeleng kepala dia tidak menyangka kalau Wurip akan ketagihan dengan apa yang dibuat Sekar. Harus ia aku juga kalau makanan ataupun minuman yang dibuat oleh Sekar itu rasanya memang sangat enak. “Bersiaplah untuk menerima sebagian spiritual milikku!”Cahaya berwarna biru, adalah esensi dari kekuatan spiritual yang dimi
Tangan Damar menghamburkan kembang tujuh rupa ke arah Soni, sambil membaca mantra khusus. Suara lonceng di tangannya berbunyi. “Lalu apa yang harus saya lakukan Mbah, untuk menghilangkan pelet ini?” Tubuh Soni semakin lemas, sambil batuk-batuk ia menahan sakit yang dirasakannya.“Kita akan mengadakan ritual, tapi sebelum itu sebaiknya untuk mengobati yang sudah terlanjur mengenaimu.”“Apa ada yang bisa saya lakukan untuk itu?”’“Kumpulkan 7 jenis daun suci (bidara, kelor, sirih, daun pandan wangi, daun jeruk purut, daun sirih gading, daun alpukat), kunyit tua, jahe merah, garam kasar/laut, air mata air atau air sumur tua.”Soni menyuruh bawahannya yang berada di samping untuk mencatat yang dikatakan Damar barusan.“Lalu setelah itu? Apa perlu di masak atau …?”“Ya, dengan cara: Rebus semua bahan, dibacakan mantra penawar & doa, ditiupkan. Padamu saat mandi dari kepala ke kaki saat subuh mendekat
“Maaf, aku baru ingat kalau ada air mineral di dalam tas. Ini minum dulu, biar segar dan nggak ngantuk.”“Akhirnya, tadi aku merasa haus. Terima kasih.”Damar meraih botol air mineral langsung membukanya dan meneguk sampai tiga kali tegukkan.“Ahh … rasanya lega!” Botol itu kembali disodorkannya pada Sekar. Sedangkan saat melihatnya minum Sekar juga jadi haus. Sisa air itu kini dihabiskan oleh Sekar, barulah botolnya ia buang pada tempat sampah yang tersedia di dalam bus.Damar minumnya keluar jendela ternyata hari sudah mulai sore. Warna jingga di langit sekarang sudah lebih dominan. Tepat setelah mereka sampai di desa, Damar berjalan kaki bersama Sekar saat itu matahari sudah hampir terbenam. “Bentar lagi malam, nginep di rumahku dulu?” tanya Sekar.“Kurasa tidak, aku harus segera pulang dan sebaiknya kamu berada di desa. Karena aku ada urusan penting yang ini aku bicarakan dengan Hyang Wurip
Tangan Sekar mencengkram kuat tangan Damar.Melihat Sekar yang terlihat tidak bisa bernafas dengan cepat Damar mengeluarkan miliknya dari dalam mulut Sekar.“Uhuk, uhuk!” Sekar sempat terbatuk, lalu menstabilkan nafasnya sejenak. “Apa kamu sudah tidak apa-apa?” tanya Damar.“Huh, iya aku sudah tidak apa!”Setelah itu Damar mengangkat tubuh Sekar naik ke atas tubuhnya. “Akhh …!” Sekar memegang di kedua sisi pundaknya. Damar membantunya bergerak di atas.Perlahan Sekar memasukkan milik Damar masuk ke dalam miliknya sampai terasa full di dalam.“Ahh, nggh! Ahh rasanya dalam sekali!”Seluruh tubuh Sekar sampai gemetar, ia merasakan milik Damar yang semakin membesar dan terasa penuh.Dengan cepat Damar menggerakkan pinggul Sekar sampai naik turun terus bergerak masuk. Sekar langsung memeluk Damar, menyandarkan wajahnya di pundaknya. “Apa rasanya seenak
Namun, agar mengkhawatirkan penampilannya jika rambutnya di sanggul seperti ini. Maka ia takut pipinya akan terlihat chubby karena memperlihatkan seluruh area wajahnya yang bulat. “Apa seperti ini aku terlihat cantik?”“Cantik, rambutmu cocok diikat seperti itu!”Jawaban Damar membuat Sekar ingin segera melihat cermin, jadi ia pun membuka ponselnya lalu menekan aplikasi kamera. Melihat bayangannya di dalam ponsel membuat Sekar tersenyum.Ternyata ia benar-benar terlihat sangat cantik. Apa yang dikatakan Damar barusan tidak bohong, jadi diam-diam ia terkekeh pelan.“Benar sekali, ternyata aku sangat terlihat cocok dengan model rambut seperti ini. Tapi sepertinya ini akan cepat lepas.”“Tidak apa, nanti aku sanggul lagi. Sekarang kamu fokus makan saja dulu.”Mendengar itu, Sekar tidak ingin membantahnya. Sebaliknya ia mulai makan dengan tenang sampai kenyang.Saat makan malam mereka sudah habis, Damar kali i
Di sana tidak terlalu ramai, tetapi sangat cocok bagi mereka berdua untuk duduk sejenak. Jadi Sekar pun ke salah satu tempat duduk. “Bagaimana kalau kita juga duduk di sinj?” Damar ikut melihat tempat yang ditunjuk oleh Sekar. “Aku rasa kita sebaiknya masuk dulu. Atau kamu mau duduk di sini sendiri, karena aku tidak bisa lihat sebentar lagi ….”Ucapan Damar menggantung masih mengandung maksud, tetapi ia menoleh ke arah matahari yang sudah akan tenggelam. Saat Sekar melihat ke arah matahari yang hampir terbenam, seketika itu ia jadi paham sehingga ia berlangsung menutup mulutnya lalu mengeratkan pegangan tangannya pada lengan Damar.“Astaga, aku hampir melupakan itu. Maaf, ayo cepat sekarang kita harus segera masuk ke dalam. Sebelum Mbah membuat semua orang di sini tiba-tiba heran.” Langkah mereka berdua pun jadi lebih cepat. Saat berjalan masuk menuju kamar di penginapan itu. Waktu Damar tidak cukup,







